Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘peristiwa pembakaran bendera’


Polemik cuitan Duta Besar Arab Saudi

Cuitan Duta Besar Arab Saudi, Osamah Muhammad Al Shuaibi menuai polemik dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait reuni akbar 212 sebagaimana yang diberitakan pada http://jateng.tribunnews.com/2018/12/04/kronologi-cuitan-dubes-arab-saudi-osamah-tentang-reuni-akbar-212-yang-diprotes-pbnu.

Berikut cuitan Osamah kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia

***** awal kutipan *****
Berkumpulnya jutaan manusia dalam rangka persatuan Islam

Sebagai reaksi atas pembakaran bendera atau panji tauhid dari sekelompok orang yang sesat (jama’ah al munharifah) sebulan lalu.

Dihadiri oleh Gubernur Jakarta Anies Baswedan, calon Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon

Untuk tidak mendekati keramaian dan kemacetan yang berada di wilayah Monas tersebut.
***** akhir kutipan *****

Apakah cuitan atau penyampaian berita atau pendapat dari Dubes Osamah terhadap reuni akbar 212 termasuk mencampuri urusan politik Indonesia ?

Bukankah wartawan atau media massa di luar negeri boleh memberitakan dan berpendapat terhadap peristiwa reuni akbar 212 ?

Justru banyak media massa dalam negeri atau pers Indonesia yang enggan memberitakan dan memberikan pendapat mereka atas peristiwa reuni akbar 212 sebagaimana yang diberitakan pada http://www.hersubenoarief.com/artikel/bunuh-diri-massal-pers-indonesia-jilid-ii/

Boleh jadi Dubes Osamah mengaitkannya dengan pelarangan sehingga pembakaran bendera berlafaz tauhid adalah karena Beliau melihat bebasnya atau tidak terlarang dikibarkannya bendera berlafaz tauhid dalam acara reuni akbar 212 sebagaimana contoh berita pada http://news.detik.com/video/181116063/sejuta-bendera-tauhid-akan-dikibarkan-di-reuni-akbar-212 dan http://news.detik.com/video/181202012/warna-warni-bendera-tauhid-hiasi-reuni-212

Begitupula Dubes Osamah tidak menyebutkan secara spesifik ormas Banser namun Jama’ah al munharifah yang dapat diartikan sekelompok orang yang sesat dan kenyataannya yang membakar adalah oknum Banser.

Jadi boleh saja Jama’ah al munharifah diterjemahkan sekelompok orang yang sesat dari ormas Banser dan secara singkat biasa disebut oknum Banser.

Oknum Banser memang berbeda pendapat terhadap bendera berlafaz tauhid dan dianggapnya sebagai bendera firqah HTI.
Namun oknum Banser dengan membakarnya secara terbuka memperlihatkan mereka tidak menghormati lafaz tauhid.

Kalaupun mereka ingin memusnahkannya sebaiknya dilakukan di tempat lain secara tertutup.

Khalifah Ali bin Abi Thalib mengurungkan perang karena menghormati mushaf Al Qur’an di ujung tombak pasukan Gubernur Syam Muawiyyah bin Abu Sofyan.

Semoga keadaan ini tidak termasuk yang dinamakan fitnah sarra’ yakni orang-orang yang terlena dengan kenikmatan, kekayaaan, kesenangan dunia sehingga tidak ada sedikitpun terdetik di hatinya ketika melihat sebuah penghinaan seperti oknum banser yang tidak menghormati lafaz tauhid yakni membakar bendera secara terbuka NAMUN jika dirinya, keluarganya, kelompoknya merasa atau dianggap dihina maka mereka akan cepat naik darah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak berdosa semata-mata karena dia tinggal diam, akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti kemungkarannya.” (Syarh Muslim [6/485])

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »