Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Poros AMHP-LBP’


Wikileaks – Agenda Demokrat AS – Komunis China mensekulerkan muslim di Indonesia

Rakyat yang mayoritas muslim harus cerdas membaca kenyataan bahwa “perselisihan” politik di antara kubu capres 01 Jokowi maupun kubu capres 02 Prabowo adalah karena perbedaan pendapat di antara kedua kubu.

Kubu capres 01 Jokowi mengaku sebagai nasionalis namun pada kenyataannya adalah mereka yang condong kepada paham Sekularisme yakni mereka berpendapat bahwa agama dan politik harus dipisah karena kalau disatukan akan menimbulkan perselisihan dan ancaman bagi keutuhan NKRI sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2019/04/21/rakyat-harus-cerdas/

Dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 definisi SEKULARISME AGAMA adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Contohnya presiden Jokowi ketika di Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara mengakui masih ada gesekan kecil yang terjadi saat pemilihan kepala daerah. Hal ini tak terlepas dari persoalan suku hingga agama. Ia pun menegaskan persoalan politik dan agama harus dipisah, tidak boleh disatukan.

“Inilah yang harus kita hindarkan. Jangan sampai dicampuradukkan antara politik dan agama, dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik,” katanya sebagaimana contoh berita pada http://news.detik.com/berita/d-3456602/jokowi-politik-dan-agama-harus-dipisah-betul

Sedangkan kubu capres 02 Prabowo adalah mereka yang berpendapat bahwa politik dan agama tidak dapat dipisahkan.

Oleh karenanya siapapun presiden yang terpilih harus mempertimbangkan pendapat para ulama dan pemuka agama lainnya dalam memecahkan masalah yang menyangkut kemaslahatan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tercantum dalam Pakta Integritas sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2019/04/17/siapapun-presiden-terpilih/

Begitupula rakyat yang mayoritas muslim harus cerdas membaca kenyataan bahwa “perselisihan” politik terkait pula dengan perbedaan pendapat (pandangan politik) di kalangan TNI.

Contohnya kubu Prabowo seperti Mayjen TNI Purnawirawan, Kivlan Zein menilai bahwa pemisahan agama dari politik tidak bisa dibenarkan. Menurutnya, Islam bukan hanya agama yang memperhatikan ibadah saja, tapi juga kehidupan dunia sebagaimana yang diberitakan pada https://www.kiblat.net/2017/03/28/kivlan-zein-pemisahan-agama-dan-politik-tidak-dibenarkan/

Berikut kutipan berita selanjutnya

***** awal kutipan *****
“Jadi agama Islam ini bukan agama hanya untuk akhirat. Pernyataan itu adalah pernyataan blunder, kalau agama harus dipisah dari politik,” katanya dalam diskusi bertema ‘Mewaspadai Ideologi Anti Islam’ di Bekasi, Selasa (28/03).

Kivlan menjelaskan dalam Islam juga diatur bagaimana berpolitik yang baik. Bagaimana mengatur negara adil, musyawarah, ekonomi, bahkan hubungan antar individu.

“Politik, ekonomi, politik, budaya, masuk dalam Islam. Jadi Islam dan politik jangan dipisahkan. Islam berjuang untuk dunia dan akhirat,” tuturnya.

Ia juga menolak pernyataan bahwa masjid dilarang untuk kegiatan politik. Zaman Nabi, kata dia, masjid digunakan untuk segala urusan.

“Nabi Muhammad hijrah pertama membangun masjid. Di situ mengatur politik, militer, pengajian. Itu Islam,” tandasnya.
***** akhir kutipan *****

Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dengan akun Twitter @Nurmantyo_Gatot mengingatkan agar anak bangsa,

Jangan lupakan sejarah dan jangan mau dipecah belah sama orang2 yang haus kekuasaan !!!!

Cuitannya pada http://twitter.com/Nurmantyo_Gatot/status/1111517604923883520

Cuitan tersebut menanggapi pernyataan Hendropriyono bahwa pemilu Kali Ini yang Berhadapan Ideologi Pancasila dengan Khilafah sebagaimana yang diberitakan pada http://m.merdeka.com/politik/hendropriyono-pemilu-kali-ini-yang-berhadapan-ideologi-pancasila-dengan-khilafah.html

Gatot Nurmantyo mengingatkan penegasan Jenderal A.H. Nasution bahwa salah satu cara PKI untuk memecah belah rakyat dengan membenturkan antara Pancasila dengan Islam sebagaimana yang disampaikan pada http://twitter.com/Nurmantyo_Gatot/status/1111517613115338753

Kutipan penegasan Jenderal A.H. Nasution dapat dibaca pada http://news.moslemcommunity.net/2019/03/ah-nasution-mempertentangkan-pancasila.html

Gatot Nurmantyo menyampaikan, Mayoritas masyarakat Islam ini dengan para ulamanya sejak sebelum kemerdekaan sampai dengan kemerdekaan tidak pernah memaksakan sebagai umat yang mayoritas dengan kaidah-kaidah agama dalam pemerintahan.

Pancasila adalah hadiah dari umat Islam. Konsekwensinya dan sudah dibuktikan bahwa siapapun yang bertentangan dengan Pancasila pasti masyarakat akan mencegahnya bersama-sama dengan TNI sebagaimana yang dapat disaksikan dialog dengan TV One pada http://www.youtube.com/watch?v=7ZpnOeLNPnk

Pidato beliau lainnya dapat disaksikan pada http://www.youtube.com/watch?v=G0wWtW3Tgc0

Berikut kutipan cuitan akun twitter @ireneviena

Cuitan dari http://twitter.com/IreneViena/status/1047319066527064064?s=19

***** awal kutipan *****
Ketika AS-China sepakat untuk menjalankan agenda sekulerisasi (Islam) di Indonesia 11 Maret 2007, Ahok belum muncul sebagai proksi.

AM Hendropriyono – Luhut Binsar Panjaitan yang mengusulkan Jokowi kepada ke James Tjahaja Riady, untuk diteruskan ke AS-China sebagai proksi. Usul disetujui, namun China-J Riady akan menentukan proksi sendiri.
***** akhir kutipan *****

Cuitan dari http://twitter.com/IreneViena/status/1047316931324379137?s=19

***** awal kutipan *****
Ahok adalah faktor penting karena dia adalah figur utama yang akan dijadikan Presiden RI berdasarkan rencana dan kesepakatan Partai Demokrat AS – Partai Komunis China. Bukan Jokowi.

Jokowi hanya target antara. Untuk mengantar Ahok, The First China to be President of Indonesia. Skenario ini gagal.
***** akhir kutipan *****

Cuitan dari http://twitter.com/IreneViena/status/1047323793520283648?s=19

***** awal kutipan *****
Kebangkitan umat Islam sebagai respon dari penindasan dan agenda sekulerisasi yg dilancarkan Ahok, selama menjabat wakil dan Gub DKI jakarta, menyeret Ahok ke penjara (?)
***** akhir kutipan *****

Cuitan dari http://twitter.com/IreneViena/status/1047326921590284289?s=19

***** awal kutipan *****
Kembali duet PDIP-NU (Jokowi-Maruf), diusung menghadapi Prabowo-Sandi.

AS di bawah Trump BUKAN sekutu China. Trump bukan Clinton yang adalah sahabat karib James Riady.

Jokowi-Maruf hanya didukung China, Komitern-Elit Demokrat AS (Clinton, Obama cs).
***** akhir kutipan *****

Cuitan dari http://twitter.com/IreneViena/status/1047327413024317443?s=19
***** awal kutipan ******
Itu sebab kita tidak lagi menyaksikan para petinggi AS dan negara sekutunya bolak-balik ke Jakarta seperti menjelang pilpres 2014 lalu.

Jokowi sudah kempes. China juga tidak bisa diharapkan full support karena lagi babak belur disikat Trump.

Adios Jokowi !
Welcome Home …
***** akhir kutipan ******

Agenda Partai Demokrat AS dengan Partai Komunis China mensekulerkan muslim di Indonesia terungkap oleh WikiLeaks

WikiLeaks merilis sebuah kawat rahasia Kedubes AS di Beijing yang berisi pertemuan Kemlu China dan AS.

Dalam kawat disebutkan China berencana untuk membuat umat Muslim Indonesia menjadi sekuler sebagaimana yang diberitakan pada http://news.detik.com/berita/1525176/wikileaks-china-berencana-sekulerkan-muslim-ri

***** awal kutipan *****
WikiLeaks seperti dilansir dari situsnya, Rabu (15/12/2010), merilis sebuah kawat rahasia dari Kedubes AS di Beijing tertanggal 5 Maret 2007 dengan kode referensi Beijing 1448.

Saat itu dilakukan pertemuan antara Wakil Menlu China Cui Tiankai dan Dirjen Urusan Asia Kemlu China Hu Zhengyue, dengan pejabat Kemlu AS Eric John.

Pertemuan mereka untuk membahas sejumlah negara Asean. Indonesia termasuk mendapat porsi utama. John bertanya pada Hu, bagaimana pemerintah China melihat pemerintah Indonesia yang sekarang.

Menurut Hu, China memantau betapa ada peningkatan gesekan antar etnis dan agama di Indonesia. Pemerintah China pun ingin mendorong sekularisasi muslim di Indonesia.

“Beijing ingin mempromosikan Islam sekuler di Indonesia,” kata Hu kepada John.

Bagaimana cara Beijing menyekulerkan muslim di Tanah Air?

Menurut Hu, hal itu dilakukan dengan mendorong interaksi muslim Indonesia dengan muslim China. Dengan demikian, muslim Indonesia bisa tertular sifat muslim yang di China memang sekuler karena kontrol ketat pemerintah Komunis.

“Dengan mendorong interaksi dengan 20 juta muslim di China,” jelas Hu.

Hu pun bersepakat dengan John, menjalin hubungan baik dengan Indonesia paling mudah dilakukan dengan memberikan bantuan saat bencana alam.

China dan AS dalam beberapa tahun terakhir memberikan bantuan ketika Indonesia tertimpa bencana alam.

“Dalam beberapa tahun terakhir, AS dan China berkoordinasi dalam memberikan bantuan untuk Indonesia terkait dengan bencana alam. Beijing melihat hal semacam ini bisa menjadi model untuk kerja sama regional,” kata Hu.
***** akhir kutipan *****

James Riady (putra dari Mochtar Riady) yang merupakan sahabat Clinton, dibantu oleh Ted Sioeng, dan dengan dukungan penuh oleh Intelijen Militer Tiongkok (CMI) membentuk sebuah jaringan bernama “China Connection”, jaringan yang menghubungkan para pengusaha keturunan Tionghoa. Di dalam jaringan tersebut juga terdapat pengusaha-pengusaha lainnya seperti Yah Lin Trie, Johnny Chung, dan Maria Hsia sebagaimana yang dikabarkan pada http://id.wikipedia.org/wiki/Kontroversi_dana_kampanye_Amerika_Serikat_1996

***** awal kutipan *****
Menurut hasil penyelidikan pada tanggal 11 Januari 2001, jaringan ini sudah gencar mendanai Partai Demokrat Amerika Serikat sejak 1988 hingga 1994, terutama dalam rangka menghadapi pemilu 1989 dengan mengusung Clinton sebagai calon presiden.

Walaupun akhirnya, Partai Demokrat kalah, dan pemilu tersebut dimenangkan kembali oleh Partai Republik melalui George H. W. Bush, ayah dari George W. Bush, yang berpasangan dengan Dan Quayle, untuk masa bakti 1989-1993.

John Huang adalah salah seorang karyawan lama di Lippo Group, kelompok usaha milik keluarga Riady, dengan membuka cabang Bank Lippo di California. Huang pernah bertemu dengan Clinton pada seminar keuangan di Little Rock, Arkansas, pada tahun 1980. Huang kemudian menjadi penghimpun dana di Komite Nasional Demokrat (DNC) pada tahun 1995.

Menurut United States Secret Service, Huang mengunjungi Gedung Putih sebanyak 78 kali sebagai penghimpun dana di DNC, untuk mengikuti rapat rahasia dengan Pentagon, CIA, dan NSA, walaupun Huang sempat dipecat ketika terjadi penyelidikan terhadap modus operandi James Riady sejak 1997.

Sumber : “The Democratic Fund-Raising Flap” – cnn.com, 1 Juli 1997 http://edition.cnn.com/ALLPOLITICS/1997/gen/resources/infocus/fundraising.flap/time9610.html

Penyelidikan tersebut diprakarsai melalui Campaign Financing Task Force oleh jaksa agung Janet Reno sejak 1996.

Selama ini, hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok sering memanas karena dipimpin oleh presiden dari Partai Republik.

Sejak demonstrasi aktivis mahasiswa di Lapangan Tiannamen, Tiongkok, pada tahun 1989, yang menewaskan 7.000 aktivis mahasiswa, Amerika Serikat menjatuhkan hukuman kepada Tiongkok berupa sanksi dagang dan politik.

Namun, sejak Clinton menjabat sebagai presiden pada 1993, AS memperbaiki hubungan internasionalnya dengan Tiongkok melalui pencabutan sanksi tersebut.

Tidak mengherankan, apabila setelah lebih dari 215 tahun, baru kali ini AS mampu membuka hubungan dengan Tiongkok.

Bahkan, kemenangan Partai Demokrat di pemilu 1993 dengan mengusung Clinton dan Al Gore, tidak terlepas dari intervensi Tiongkok melalui para pengusaha “kelas paus dan hiu”, baik pengusaha asli Tiongkok itu sendiri maupun pengusaha keturunan Tionghoa di luar Tiongkok, termasuk James Riady.

Belakangan diketahui (berdasarkan hasil penyelidikan pada tahun 2001 tersebut), James Riady meminta para karyawannya di AS, termasuk John Huang, untuk menyumbang dana kampanye semaksimal mungkin untuk Clinton sejak 1988 hingga 1994, dan uang karyawan yang telah disumbang tersebut akan diganti dengan “transfer bonus” berkali-kali lipat, bahkan jabatan strategis di dalam pemerintahan AS.

Hingga akhirnya, Huang dipercaya menjadi penghimpun dana di DNC, dua tahun setelah Clinton dilantik sebagai presiden baru AS. Bahkan, Huang diangkat sebagai deputi menteri perdagangan AS.

James Riady juga merupakan salah satu tokoh yang paling bertanggung jawab terhadap kejatuhan presiden Soeharto pada tahun 1998.

Sebagaimana ketika beliau membangun “China Connection” dengan dukungan CMI bersama Ted Sioeng, serta pengusaha-pengusaha Tionghoa lainnya seperti Yah Lin Trie, Johnny Chung, dan Maria Hsia, yang berhasil memenangkan Clinton hingga dua masa bakti berturut-turut.

James, yang pada saat itu juga merupakan presiden direktur Bank Central Asia (BCA), juga menggandeng tokoh-tokoh CSIS seperti Jacob Soetoyo, Sofyan Wanandi, dan Jusuf Wanandi, serta para tokoh kiri anti-Islam untuk melengserkan presiden Soeharto pada tahun 1998.

Motif menjatuhkan presiden Soeharto tersebut dilatarbelakangi oleh dipecatnya L.B. Moerdani sebagai Menteri Pertahanan, Keamanan dan Panglima Angkatan Bersenjata, kemudian menggantinya dengan para perwira dari kalangan muslim taat.

Mereka melakukan berbagai macam cara seperti merekayasa peristiwa 27 Juli 1996, seolah-olah penunjukan Suryadi sebagai ketua dewan tahfiz Partai Demokrasi Indonesia (PDI) merupakan intervensi pemerintah, belakangan pula diketahui hubungan antara Sofyan Wanandi dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Selain itu, mereka juga memobilisasi massa pada awal 1998 dari berbagai universitas seperti Universitas Atmajaya dan Universitas Trisakti untuk mendesak pengunduran diri Presiden Soeharto.

Clinton pernah melakukan kunjungan kenegaraannya ke Indonesia pada tahun 1994, untuk meminta presiden Soeharto agar mengembalikan jabatan Moerdani di ABRI. Clinton bahkan mengancam akan melakukan blokade ekonomi jika jabatan Moerdani tidak dikembalikan seperti semula kepada ABRI

Sumber berita : Sri Bintang Pamungkas – “Indonesia Dicaplok China?” http://www.youtube.com/watch?v=gnn40Or-Kac

Rekayasa kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga mencapai Rp 10.000 memang dirancang untuk menggulingkan Soeharto.

Keberhasilan James Riady dalam merekayasa kemelut perekonomian dan perpolitikan nasional Indonesia ternyata tidak sebanding dengan kemampuannya dalam mendongkrak citra Clinton sebagai presiden AS dua kali berturut-turut.

Setelah pergantian rezim baru di AS dengan hadirnya George W. Bush dari Partai Republik, dibongkarlah modus operandi yang menyangkut bantuan pengusaha Tionghoa kepada Clinton, yang di dalamnya terdapat nama James Riady.

Dalam hasil penyelidikan berjudul “James Riady Pleads Guilty Will Pay Largest Fine In Campaign Finance History For Violating Federal Election Law”, James Riady berkomplot dengan karyawan lamanya, John Huang, untuk mendanai kampanye Partai Demokrat AS yang dianggap “ilegal” sejak 1988 hingga 1994.

Atas kasus ini, James Riady didenda sebesar 8,6 juta dolar AS atau sekitar Rp 60.200.000.000 (kurs rupiah terhadap dolar AS pada saat itu adalah Rp 7.000)
Sumber: http://www.washingtonpost.com/wp-srv/aponline/20010111/aponline200940_000.htm

James juga dicegah masuk ke AS selama 2 tahun sebagaimana yang ditulis he Washington Post, 5 Januari 2010

Sumber: http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2010/01/04/AR2010010403106.html
***** akhir kutipan *****

James Riady pengusaha yang membantu pembangunan kantor pusat PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat sebagaimana yang diberitakan pada http://www.beritasatu.com/nasional/400101/james-riady-pengusaha-ikut-membantu-nu

James Riady pula melalui Lippo Group membentuk usaha patungan bersama PBNU untuk mendirikan rumah sakit umum di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah sebagaimana yang diberitakan pada http://ekonomi.bisnis.com/read/20180320/12/752002/nu-lippo-bikin-usaha-patungan-dirikan-rumah-sakit

Jadi berdasarkan kenyataan yang terungkap oleh Wikileaks, tampaknya agenda mensekulerkan umat Islam di Indonesia ditengarai (diduga) terkait dengan mereka yang mengaku sebagai ABRI “Merah Putih” yakni para perwira yang mengaku sebagai nasionalis namun pada kenyataannya adalah mereka yang condong kepada paham Sekularisme.

Mereka menggelari “lawan” atau saingan mereka sebagai ABRI “Hijau” yakni perwira yang dekat dengan Islam dan pesantren sebagaimana contoh kajian pada http://tirto.id/abri-merah-putih-vs-abri-hijau-sentimen-agama-di-tubuh-tentara-c1cl

***** awal kutipan *****
Menurut Salim Said, “[…] mereka yang disingkirkan Soeharto [pada era 1990-an] menyebut diri mereka ABRI Merah Putih dan menggelari lawannya, yakni mereka yang dipakai Soeharto, sebagai ABRI Hijau” (hlm. 154).

Menurut Kivlan, apa yang disebut ABRI Merah-Putih adalah “tentara yang dianggap nasionalis dan tidak membawa bendera agama.”

Sementara yang disebut ABRI Hijau adalah “tentara yang berasal dari subkultur Islam dan dekat dengan tokoh-tokoh Islam seperti ulama, kyai dan pemimpin ormas Islam” (hlm. 77).

Pendapat Kivlan diperkuat Fadli Zon dalam Politik Huru-Hara Mei 1998 (2004). Menurutnya, “Istilah ABRI Hijau ini dipakai untuk MENYUDUTKAN mereka yang dekat dengan kalangan Islam, BERARTI TIDAK MERAH PUTIH” (hlm. 21).

Di zaman Benny Moerdani begitu berkuasa, kelompok yang disebut ABRI Hijau ini dianggap terzalimi.

Mereka yang dianggap terzalimi itu di antaranya Mayor Jenderal Feisal Tanjung (yang lebih dari tiga tahun jadi Komandan Seskoad di Bandung) dan Mayor Jenderal Raden Hartono (yang jadi Panglima Brawijaya di Jawa Timur).
***** akhir kutipan ****

Rachmawati Soekarnoputri mempertanyakan kakaknya, mengapa Megawati bersekutu dengan Benny Moerdani sehingga terlibat faksi faksi yang bertikai ditubuh TNI sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/06/15/ada-yang-anti-islam/

Dahulu tokoh sekuler dari kalangan TNI seperti mantan Pangab Benny Moerdani MENGANGGAP NKRI Bersyariah seperti yang tampak dalam perubahan keber-agama-an yang terjadi pada Soeharto yang semakin simpatik terhadap ajaran Islam dipandangnya sebagai telah membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara sehingga HARUS DITURUNKAN !!!!

“Sejarah” ini terungkap contohnya dalam buku berjudul “Dari Gestapu ke Reformasi – Serangkaian Kesaksian” karya Salim Said seorang peneliti peran politik tentara yang berprofesi sebagai wartawan sehingga dapat mewawancarai langsung para petinggi TNI

Salim Said pada hal 319 menuliskan

***** awal kutipan *****
Terhadap kepergian Soeharto ke Tanah Suci itu, Benny cemas. “Wah, kalau Bapak Serius, bakal repot kita.” katanya.

Soeharto ternyata kemudian memang tidak main-main ke Makkah. Selain menyempurnakan namanya menjadi Haji Mohammad Soeharto, sikap politiknya terhadap Islam juga terlihat semakin simpatik.

Apa pun alasan dan motifnya, Benny dan sejumlah jenderal tidak bisa mengerti, apalagi menerima perubahan sikap dan kebijakan Soeharto tersebut.

Raja intel itu bersama sejumlah golongan anti-Soeharto akhirnya melanjutkan crusading mereka terhadap kebijakan baru Bapak Presiden terhadap Islam, terutama terhadap ICMI. Akibatnya, Benny akhirnya yang menerima tuduhan sebagai anti-Islam.

Sehubungan dengan ketegangan hubungan antara Soeharto dan mantan panglima ABRI itu, menarik untuk memperhatikan satu dari sejumlah cerita dalam memoar Jusuf Wanandi mengenai Moerdani dan Soeharto.

Ini mengenai pertemuan Soeharto dengan Moerdani yang lolos dari pengamatan pers dan para musuh Benny. Kepada Wanandi, Moerdani bercerita bahwa atas usaha Tutut, mantan pangab itu berhasil jumpa Soeharto. Konon itu adalah perjumpaan pertama Benny dengan Soeharto sejak Ibu Tien Soeharto meninggal dunia.

Sejumlah hal dibicarakan kedua mantan pembesar Republik tersebut. Salah satu hal penting yang disampaikan Benny kepada Soeharto dalam pertemuan di rumah Sigit Harjojuanto (salah seorang putra mantan Presiden) adalah informasi mengenai lima dari 10 Pangdam waktu itu adalah mereka yang disebut Moerdani sebagai jenderal “hijau”

Menurut Jusuf Wanandi, Benny menuliskan nama-nama Pangdam yang dinilainya “hijau” itu dan menyerahkannya kepada Soeharto. Soeharto mengirimkan daftar nama tersebut kepada Wiranto, Panglima Abri di bawah Presiden B.J. Habibie.

Wiranto menurut Wanandi, memerlukan waktu hanya sebulan untuk melengserkan lima Pangdam yang ada dalam daftar Moerdani tersebut.

Selain soal pelengseran para Pangdam yang dianggap “hijau” berdasarkan informasi Moerdani. Jusuf Wanandi juga mencatat kontak Wiranto lainnya dengan Benny. Menurut petinggi CSIS tersebut, beberapa saat setelah dilantik sebagao KSAD pada juni 1997, Wiranto menemui Moerdani untuk minta bantuan. Respons Benny,

“Jangan berilusi. Orang tua itu tidak senang pada saya, tidak percaya kepada saya. Jadi kau harus tetap di situ sebab kau satu-satunya orang kita di situ. Jangan berbuat salah dan jangan dekat dengan saya sebab kau akan dihabisi Soeharto jika dia tahu”
****** akhir kutipan *****

Salim Said sempat berjumpa dengan Jenderal Wiranto, di Studio Metro TV pada 22 Oktober 2012 dan menuliskan

****** awal kutipan *****
“Tidak benar semua cerita itu,” komentar Wiranto mengenai apa yang ditulis Jusuf Wanandi mengenai hubungannya dengan Benny. Kata Wiranto selanjutnya.

“Demi Allah, sayat tidak pernah berhubungan dengan Pak Benny secara pribadi. Saya jumpa hanya pada acara-acara resmi. Dan tidak ada lima Panglima Kodam yang saya ganti waktu itu. Dalam soal ABRI “Hijau” dan “Merah Putih” saya memang selalu kena fitnah.”

Pada mulanya barangkali Benny memang hanya menjalankan kebijakan Soeharto. Tapi mengingat sikap dan latar belakangnya yang secara prinsipil dari awal memang kurang bersahabat kepada Islam, maka masyarakat Islam Indonesia akhirnya cenderung melupakan bahwa Soeharto-lah sebenarya yang mula-mula menggariskan kebijakan sikap keras terhadap Islam.

Benny dan Ali Murtopo hanya menafsirkan serta melaksanakannya. Tentu menurut penafsiran dan selera masing-masing kedua tokoh intel tersebut.
****** akhir kutipan ******

Jadi dapat kita ketahui bahwa pada waktu itu ada istilah ABRI “Hijau” yang diisi perwira yang dekat dengan Islam dan pesantren dan ABRI “Merah Putih” yang diisi perwira nasionalis yang condong kepada paham Sekularisme.

Pada hal 315, Salim Said menyampaikan

***** awal kutipan *****
”Perubahan keber-agama-an yang terjadi pada Soeharto kemungkinan besar bisa juga dimengerti jika melihatnya dari segi latar belakangnya yang abangan itu.

Tapi dari titik pandang politik, yang saya duga ikut mendorong perubahaan itu adalah keberhasilan Soeharto melumpuhkan kekuatan Islam politik. Artinya kekuatan Islam politik bukan ancaman lagi bagi kekuasaan sang Presiden.

Masih dari sudut politik, perubahan itu juga kemungkinan muncul dari kecemasan terhadap berbaliknya kekuatan-kekuatan yang dulu dipelihara dan dimanfaatkan Soeharto- antara lain menggunakan Murtopo dan Moerdani – untuk memojokkan kekuatan Islam politik.

Menarik untuk diingat bahwa pada awal tahun sembilan puluhan, kekuatan-kekuatan yang pada awalnya merupakan pendukung penting Soeharto, terutama dalam menghadapi Islam, secara perlahan mulai “berbalik gagang” bersamaan dengan berubahnya sikap Soeharto terhadap Murtopo dan Benny. Gejala perubahaan politik ini semakin mencolok setelah ICMI terbentuk.
***** akhir kutipan ******

Salim Said kemudian menuliskan,

Nama Benny, Edi Sudrajat, dan Try Sutrisno disebut-sebut sebagai dekat dengan kekuasaan anti-ICMI (baca:anti-Soeharto) tersebut.

Harry Tjan menampik kedekatan Benny kepada aktivis-aktivis yang kritis terhadap Soeharto itu. “Benny tidak berani melawan Soeharto”, kata Harry.

Moerdani memang tidak berani secara frontal melawan Soeharto, juga ketika masih menduduki posisi penting. Kendati demikian, sebagai pengagum Jendral Sudirman, sebagai seorang patriot, Moerdani juga tidak bisa tinggal diam ketika Soeharto sudah dipandangnya sebagai telah membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Dengan sikap itulah saya duga, Moerdani bersedia hadir dalam sebuah diskusi terbatas Yayasan Pembangunan Pemuda Indonesia (YPPI) di rumah Fahmi Idris pada suatu malam pada paruh pertama 1991

Dalam pertemuan itu, Salim Said menuliskan bahwa

***** awal kutipan *****
Benny Moerdani mengusulkan mengenai “gerakan massa” sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto. Firdaus menanggapi, “Kalau menggunakan massa, yang pertama dikejar adalah orang-orang Cina dan kemudian gereja.” Cara lebih aman, kata Firdaus, “Kuasai MPR. Lewat MPR, Soeharto bisa dengan lebih aman diturunkan.”

Pertemuan di rumah Fahmi itu bocor dan dilaporkan kepada Soeharto. Sebuah sumber menyebutkan laporan mencapai Presiden lewat Azwar Anas. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat pada waktu itu. Atas dasar laporan itulah, Soeharto dan para pembantunya, termasuk Tutut, putrinya, mempersiapkan daftar calon sebagai antisipasi terhadap daftar calon anggota MPR dari pimpinan Golkar yang dicurigai Soeharto dan orang sekelilingnya sebagai kemungkinan telah berada di bawah pengaruh Moerdani

Map yang berisi daftar calon yang disampaikan Ketua Umum Golkar, Wahono dan Sekjennya, Rahmat Witoelar, diterima Soeharto untuk seterusnya dimasukkan ke laci meja kerjanya di kediaman jalan Cendana. Dan dari laci itu dikeluarkan map yang berisi daftar yang telah disusun atas petunjuk Bapak Presiden. “Pakai ini saja”, kata Soeharto kepada Wahono. Daftar itulah yang kemudian menghasilkan anggota DPR dan MPR yang waktu itu dikenal sebagai “ijo royo-royo”
***** akhir kutipan ****

Istilah “ijo royo-royo” atau “santrinisasi” adalah sebuah istilah yang pernah populer sebagai proses “penghijauan” di lembaga DPR/MPR. Terbawa arus kuat kelompok santri yang semakin terbuka dan bertambah luas secara kuantitas, kelompok abangan pun semakin lama semakin terpengaruh mengalami proses santrinisasi.

Sejak pertengahan tahun 1980an, dominasi kelompok abangan mulai menurun dan hegemoni kaum santri mulai menguat. Lonceng kematian dominasi kaum abangan Jawa dalam birokrasi Orde Baru kemudian “dibunyikan” oleh Presiden Soeharto sendiri –yang sebelumnya dikenal sebagai abangan dan jauh dari tradisi Islam.

Perubahan ditandai dengan lahirnya kebijakan Soeharto yang membolehkan jilbab dipakai murid-murid sekolah yang sebelumnya dilarang oleh Menteri Pendidikan Daud Jusuf. Soeharto juga mendukung dan memfasilitasi berdirinya Bank Muamalat serta dibentuknya organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), sebuah organisasi modern yang paling representatif mempresentasikan telah hadirnya sebuah kelas sosial baru di tengah-tengah umat Islam Indonesia yaitu kelas menengah Muslim.

Pada halaman 318 , Salim Said menuliskan

****** awal kutipan *****
Daud Jusuf, salah seorang pendiri dan tokoh CSIS, tidak mendukung kebijakan Soeharto yang “bersahabat” terhadap Islam Syariah, karena itu tidak lagi duduk di kabinet.

Daud adalah seorang doktor didikan Prancis yang sangat kagum pada sekularisme yang dipraktikkan negara tempatnya belajar.

Berbeda dengan sekularisme Amerika yang toleran terhadap agama, sekularisme Prancis yang memusuhi agama (anti-cleric).

Jenderal Mustafa Kemal dari Turki adalah tokoh yang juga penganut sekularisme Prancis. Maka setelah berhasil menghapuskan Kesultanan Ottoman – Kemal sebagai Presiden pertama Turki menerapkam sekularisme Prancis di negara yang dipimpinnya.
***** akhir kutipan ******

Berikut penuturan Kivlan Zein menjelaskan bahwa peristiwa jatuhnya Soeharto dan naiknya Habibie menjadi presiden, sebenarnya merupakan pertarungan antara kanan dan kiri.

“Yang kiri itu Kristen, yang kanan itu Islam. Ada yang mengatakan kiri itu nasionalis (baca: pengikut paham Sekularisme), yaitu kubu Benny Moerdani (kiri) dan Pak Harto (kanan),” ujar Kivlan

“Para perwira muda ini berharap janganlah Orde Baru ini anti Islam, paling tidak netral. Maka berkumpullah para perwira yang eks-PII (Pelajar Islam Indonesia) dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Prabowo, walaupun dia sempat ikut KAPPI, ya ikut saya. Kemudian Adityawarman, kemudian Sjafrie Sjamsoeddin. Ini kita yang perwira mudalah, kita yang Akabri 70 ke atas. Kemudian ada Muchdi PR dan Syamsul Maarif. Semua perwira-wira muda itu,” jelas dia sebagaimana yang termuat pada http://news.detik.com/berita/d-688872/kivlan-dan-prabowo-dukung-habibie-cegah-benny-jadi-presiden-

Berikut kutipan selanjutnya

***** awal kutipan *****
Beberapa saat kemudian di tahun 1984, Kivlan bertemu Prabowo di Malang. “Prabowo yang sakit hati dikeluarkan dari Den 81, ketemulah sama kita, saya, Sjafrie Sjamsoeddin, Ismet Huzairi, dan banyak yang lain, sampai terbentuklah grup 7 untuk melawan Benny Moerdani,” terang dia.

Gerakan penolakan terhadap gerakan Benny ini terus berjalan hingga pada tahun 1988. Bagaimana cara menyaingi grup Benny?

“Kita naikkanlah Pak Wiranto yang saat itu Asisten Operasi Timor Timur dan batalyon yang dipimpin Prabowo, serta Ismet Huzairi. Terus bagaimana caranya Prabowo bisa sukses? Kita kasih perlengkapan tempur, helikopter yang bagus, peralatan yang lengkap.

Pak Wiranto diusulkan sama Prabowo disusupkan sebagai ajudan Pak Harto. Okelah, kata saya. Jadilah dia (Wiranto) sebagai ajudan Soeharto,” kata dia.

Namun, Kivlan dan Prabowo cs kok melihat Wiranto semakin lama semakin dekat dengan Benny. Akhirnya, pihaknya mencari jenderal baru yang bisa mengimbangi Benny Moerdani. Dapatlah nama ZA Maulani, yang rencananya akan diusahakan sebagai KSAD terlebih dulu. Tapi, ZA Maulani tidak berani. “Lantas, kita carilah yang lain, ketemu nama Feisal Tanjung. Saya diminta Prabowo menemui Feisal Tanjung untuk menyampaikan pesannya. Saat itu, Feisal masih di Timor Timur. Setelah pesan Prabowo saya sampaikan, Feisal terkejut: masak letkol dan mayor menawarkan saya (jabatan panglima). Feisal yang saat itu Dan Seskoad yang telah dimasukkan kotak oleh grup Benny Moerdani, kita angkat,” terang Kivlan.

Pada bulan Januari 1989, Kivlan dkk berencana mempertemukan Feisal Tanjung dengan Habibie.

“7 Perwira naik pesawat terbang dari Halim sekitar 28 Januari 1989 untuk ketemu Habibie. Sunarto (angkatan 68), saya, Ismet Huzairi, Prabowo, Sjafrie Sjamsoeddin, Ampi Nur Kamal, Suaedy Marasabesy. 7 Perwira itu terbang ke IPTN Bandung malam-malam,” ujar dia.

Habibie yang saat itu masih menjabat sebagai Menristek menerima mereka. “Kita sampaikan kepada Pak Habibie bahwa Pak Harto ingin ada yang bisa mengimbangi Benny, dan Feisal Tanjung yang kita majukan. Kita mengatakan hal itu agar Feisal diangkat,” kata dia. Setelah itu, Kivlan dkk mempertemukan Habibie dan Feisal Tanjung dalam acara Seskoad tahun 1989. Tapi, setelah pertemuan itu hingga tahun 1992, tidak ada kabar dari Habibie kalau Feisal Tanjung punya peluang untuk diangkat sebagai Panglima TNI.

Akhirnya, Feisal Tanjung pun menanyakan hal itu kepada Habibie. “Nah, pada tahun 1991, muncullah peristiwa Dili. Kejadian ini merupakan kesempatan kita untuk mengajukan Feisal Tanjung sebagai Ketua Dewan Kehormatan (untuk memeriksa pelanggaran TNI itu). Bertemulah dengan Pak Harto. Di situ, Prabowo meminta agar Feisal ditunjuk sebagai ketua DK. Nah di DK itulah, dicopotlah Sintong Panjaitan sebagai Pangdam. Sakit hatinya Sintong Panjaitan,” ujar dia. Hingga 3 Juni 1992, tidak ada kabar bahwa Feisal Tanjung bisa naik menjadi panglima.

Tanggal 5 Juni 1992, kubu Kivlan menghadap Pak Harto saat acara peresmian Stasiun Gambir. “Saya dihubungi Pak Azwar Anas, disetujui bahwa Feisal Tanjung akan naik. Jam 09.00 dia dilantik menjadi letjen, dilantiklah dia jadi bintang 3. Kemudian, tanggal 11 Juni 1992, ketemulah dengan Habibie, naiklah dia jadi Kasum ABRI,” ujar dia.

Upaya untuk menaikkan Feisal Tanjung terus dilakukan. Saat Sidang Umum MPR tahun 1993, Feisal belum juga dilantik menjadi panglima. Saat itu, jabatan Panglima ABRI masih dirangkap oleh Jenderal Edi Sudradjat yang menjabat sebagai KSAD dan Menhankam. “Tapi, itulah pintarnya Pak Harto. Tanggal 15 Juni, diangkatlah Feisal Tanjung sebagai Panglima ABRI, dan jabatan KSAD diberikan kepada Wismoyo Arismunandar,” jelas dia. Setelah itu hubungan Feisal Tanjung dengan Habibie semakin dekat. Januari 1998, terjadilah pertemuan tokoh-tokoh masyarakat dengan Kopassus untuk menaikkan Habibie sebagai wakil presiden.

“Reaksi dari Singapura ribut, perwira yang tak senang yang berada di grup Benny juga ribut,” tutur dia. Dan akhirnya, tanggal 2 Maret 1998, dengan dukungan Fraksi ABRI dan Panglima ABRI, Habibie diangkat sebagai wakil presiden.

“Saya sampaikan di kantor Habibie tanggal 2 Maret 1998. Saya yang menjadi penghubung. Itulah kejadiannya mengapa dia menjadi wakil presiden. Dia menjadi wakil presiden, karena dirancang oleh perwira-perwira muda ini,” jelas mayjen purnawirawan mantan Kepala Staf Kostrad ini.

Dengan fakta ini, Kivlan mempertanyakan mengapa Habibie malah melupakan para perwira muda ini. “Kalau mau dicopot, copotlah. Jangan dibilang kudeta. Jadi, memang Habibie ini naiknya oleh perwira muda.

Pengangkatan Feisal Tanjung kita rancana untuk menghadang Benny, karena Benny sejak 1988 ingin jadi wapres, tapi terus kita gagalkan,” tegas dia.

Tentang Gerakan Benny Kivlan menceritakan bahwa pada tahun 1988, ada kabar Benny Moerdani ingin jadi presiden. Isu panas ini dibahas oleh Kivlan dan Prabowo cs di Restoran Rindu Alam, 12 Februari 1988. “Saya bilang, Wo (Prabowo-Red), kamu hadap Pak Harto, (minta) copot Benny jadi Pangab sebelum SU MPR tanggal 1 November 1988,” kata Kivlan kepada Prabowo saat itu.

“Wah bahaya, nanti dia kudeta,” ujar Prabowo. “Kalau dia kudeta, kita balas dengan kudeta. Saya pegang satu batalyon, si Ismet satu batalyon, Sjafrie satu batalyon, kau satu batalyon. Kalau dia kudeta, kita kontrakudeta. Kita rebut semua ini,” kata Kivlan saat itu.

Tidak berapa lama kemudian, terbuktilah semua ini. Isu keinginan Benny menjadi presiden didengar Soeharto. “Setelah pulang dari Yugoslavia, Pak Harto bilang biar menteri, biar jenderal, kalau dia inkonstitusional akan saya gebuk. Itu laporan saya, karena dia (Benny) mau melakukan kudeta. Tahun 1989, Benny pun diberhentikan,” ungkap dia. Kasus Benny ini, kata Kivlan, berlanjut saat Habibie naik menjadi wakil presiden.

“Habibie naik jadi wakil presiden, maka tidak senanglah Singapura. Dirancanglah bagaimana supaya Soeharto jatuh, Habibie ikut jatuh. Koalisi Nasional pimpinan Barnas, di belakangnya Benny Moerdani, di depan ada Ratna Sarumpaet. Itulah duduk soalnya mengapa terjadi kerusuhan,” kata dia.
***** akhir kutipan ******

Kivlan Zein dalam penjelasan di atas menyatakan bahwa “Singapura Link” yang merancang kejatuhan Suharto salah satunya karena ketidak-senangan terhadap Habibi menjadi wakil presiden dari kalangan cendekiawan Islam adalah wujud Islam Phobia

“Singapura Link” yang merancang kejatuhan Suharto menjawab sebuah analisa yang mengatakan bahwa kejatuhan Suharto (semula “a good boy” Amerika) karena adanya kemungkinan jika kekuasaan Suharto “diperpanjang” maka akan terjadi kebangkitan Islam di Indonesia. Untuk itu Rakyat Indonesia harus “diusik” dengan sesuatu.

Amerika tampaknya “terusik” oleh kelakuan Suharto yang berubah dari pola antagonistik menjadi pola akomodatif yakni penyerapan (akomodasi) berbagai aspirasi Islam ke dalam sistem dan kehidupan kenegaraan

Amereika semakin “terusik”, diawali pada tahun 1992, gerakan Non Blok putuskan untuk mengirim utusan Palestina ke negara-negara Arab adalah untuk langsung terlibat dalam negosiasi-negosiasi yang mendukung usaha Palestina memperoleh haknya kembali.

Keputusan diambil oleh Ketua GNB – Presiden Soeharto dan mendapat dukungan dari Menlu Palestina Farouk Kaddoomi seusai sidang Komite Palestina GNB di Bali yang dalam hal ini menurutnya keputusan tersebut menunjukkan dukungan Gerakan Non Blok kepada rakyat Palestina dalam memperoleh haknya kembali dan akan berusaha membuat warga Israel mundur dari kawasan yang diduduki.

Komite Palestina GNB terdiri dari Aljazair, India, Bangladesh, Senegal, Gambia, Zimbabwe, Palestina dan Indonesia, komisi GNB untuk Palestina diketuai oleh Indonesia.

Para Futurolog memprediksikan pada abad ke-21 Islam akan bangkit mendunia yang diawali dari timur (Indonesia/Malaysia).

Oleh karena Soeharto (selaku kepala negara mayoritas muslim terbesar di dunia) merangkul Islam maka sesegera mungkin sebelum memasuki abad ke-21 rezim Orba harus diturunkan.

Langkah pertama yang diambil adalah menciptakan krisis moneter, lalu krisis ekonomi, lalu merembet pada krisis kepercayaan, lalu menggelombang menjadi krisis politik nasional yang mendesak untuk dilakukannya penjatuhan rezim dan reformasi total. Fakta krisis ini disetting dalam konteks kawasan, bukan semata Indonesia, sehingga tampak gelombang krisis ini bukan karena skenario tapi gelombang internasional yang bersifat natural.

Ada pihak yang berpendapat lebih spesifik dari sekedar “Soeharto jatuh karena krisis ekonomi”. Mereka berpendapat “Soeharto jatuh karena IMF?”

Pendapat ini antara lain dikemukakan Prof. Steve Hanke, penasehat ekonomi Soeharto dan ahli masalah Dewan Mata Uang atau Currency Board System (CBS) dari Amerika Serikat.

Menurut ahli ekonomi dari John Hopkins University itu, Amerika Serikat dan IMF-lah yang menciptakan krisis untuk mendorong kejatuhan Soeharto. Ini dibuktikan dari pengakuan Direktur Pelaksana IMF Michael Camdessus sendiri.

Dalam wawancara “perpisahan” sebelum pensiun dengan The New York Times, Camdessus yang bekas tentara Prancis ini mengakui IMF berada di balik krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

“Kami menciptakan kondisi krisis yang memaksa Presiden Soeharto turun,” ujarnya. Pengakuan ini tentu saja menyambar kesadaran banyak orang. Tak dinyana, krisis di Indonesia ternyata bukan semata kegagalan kebijakan ekonomi Soeharto, tapi juga berkat “bantuan” IMF. Sumber: http://www.antara.co.id/print/1210836368

“Singapura Link” tampaknya berkeinginan NKRI dipimpin oleh orang yang “baik” seperti SBY atau Jokowi namun kurang “kuat” untuk mewujudkan angan-angan kemakmuran rakyat Indonesia. Sehingga “Singapura link” menjadikan NKRI sebagai pasar dan investasi bagi kemakmuran mereka

Sebagaimana contoh berita pada http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/05/21/pengamat-kondisi-politik-penyebab-melemahnya-rupiah bahwa analisa pengamat pasar uang terhadap pelemahan rupiah terhadap dollar AS sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memerah karenanya adanya kondisi politik yang membuat keraguan para investor. Investor condong kepada Jokowi daripada ke Prabowo.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »