Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Salim tidak diperbolehkan’


Perintah susuilah bukan berarti perintah meNENENinya secara langsung

Mereka dengan mudahnya menuduh umat Islam mengingkari atau memperolok-olok hadits shahih.

Padahal yang kita ingkari dan pertanyakan adalah cara mereka menterjemahkan dan memahami hadits shahih tersebut.

Haditsnya memang shahih namun pemahaman mereka atau itjihad dan istinbat (penetapan hukum) mereka yang keliru dan pada umumnya mereka belum mempertimbangkan dengan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang lainnya.

Berikut kutipan dari tulisannya ustadz Ahmad Sarwat,Lc,.MA

***** awal kutipan *****
Mereka kurang pandai dalam mengambil metode penggabungan dua dalil atau lebih (thariqatul-jam’i).

Contoh bila ada dalil-dalil yang sama shahihnya, tetapi secara dzhahir nampak agak bertentangan.

Lalu mereka semata-mata cuma pakai pertimbangan mana yang derajat keshahihannya menurut mereka lebih tinggi.

Kemudian nash yang sebenarnya shahih, tapi menurut mereka kalah shahih pun dibuang.

Padahal setelah dipelajari lebih dalam, klaim atas keshahihan hadits itu keliru dan kesalahannya sangat fatal.

Cuma apa boleh buat, karena fatwanya sudah terlanjur keluar, ngotot bahwa hadits itu tidak shahih.

Maka digunakanlah metode men-shahih-kan hadits yang aneh bin ajaib alias keluar dari pakem para ahli hadits sendiri.

Dari metode kritik haditsnya saja sudah bermasalah, apalagi dalam mengistimbath hukumnya.

Semua terjadi karena belum apa-apa sudah keluar dari pakem yang sudah ada.

Seharusnya, yang namanya ulama itu, belajar dulu yang banyak tentang metode kritik hadits, setelah itu belajar ilmu ushul agar mengerti dan tahu bagaimana cara melakukan istimbath hukum.

Lah ini belum punya ilmu yang mumpuni, lalu kok tiba-tiba bilang semua orang salah, yang benar cuma saya seorang.
****** akhir kutipan ******

Contohnya dalam sebuah diskusi di jejaring atau media sosial Facebook , sebagaimana yang terungkap dalam gambar di atas , tampaknya salah seorang dari mereka menyatakan

“kalau kamu mau tobat dan ingin menjadi muhrim dari keluarga saya. Saya ikhlaskan kamu NENEN sama Ibu saya”

Mereka berijtihad dan beristinbat yakni menetapkan hukum sehingga meng-“ikhlas”-kan pria dewasa untuk NENEN dengan ibu atau istri mereka berdalilkan hadits shahih Sunan Nasaa’i

Telah mengabarkan kepada kami Yunus bin Abdul A’la, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Makhramah bin Bukair dari ayahnya, ia berkata; saya mendengar Humaid bin Nafi’, ia berkata; saya mendengar Zainab binti Abu Salamah berkata; saya mendengar ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; Sahlah binti Suhail menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; wahai Rasulullah, saya melihat kemarahan di wajah Abu Hudzaifah karena Salim masuk kerumahku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Susuilah dia, ” ia menjawab ia sudah memiliki jenggot, beliau bersabda: “Susuilah ia dan akan pergi kemarahan yang ada diwajah Abi Hudzaifah, ” ia berkata demi Allah aku tidak mengetahuinya diwajah Abi Hudzaifah setelah itu.

Haditsnya shahih namun pemahaman mereka yang keliru sehingga mereka terjerumus memfitnah Rasulullah menghalalkan zina.

Para ulama terdahulu menyampaikan bahwa perintah “Susuilah dia” bukanlah perintah untuk me-NENEN-i atau me-NETEK-i secara langsung.

Salah satu alasan Sahlah mengadu kepada Nabi berkaitan dengan kecemburuan Abu Hudzaifah terhadap Salim yang masuk kedalam rumahnya, padahal Salim bukanlah mahram dari Sahlah.

Hanya dengan masuknya Salim ke dalam rumahnya saja Abu Hudzaifah sudah cemburu, maka bagimana mungkin ia memperbolehkan Sahlah untuk menyusui Salim secara langsung?

Pada saat Salim akan me-NENEN atau me-NETEK pada Sahlah statusnya belumlah sepenyusuan.

Proses ditetapkan hukum sepenyusuan bagi Salim membutuhkan waktu yang lama.

Begitupula setelah hukum sepenyusuan bagi Salim berlaku setelah diminumkan air susu yang dituangkan dalam sebuah wadah BUKANLAH untuk menghalalkan dia me-NENEN atau me-NETEK pada Sahlah.

NAMUN SEKEDAR untuk dapat bertemu Sahlah tanpa menggunakan tutup kepala (jilbab), sebagai keringanan yang diberikan Rasulullah kepada Sahlah

Dalam Kitab Tabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad menyebutkan sebuah riwayat, dari Muhammad bin Abdillah bin Az-Zuhri, dari ayahnya, ia berkata: (Ketika Sahlah ingin memberikan air susunya kepada Salim) Sahlah menuangkan air susunya pada sebuah wadah, lalu Salim meminum air susu tersebut dari tempatnya setiap hari. Setelah lima hari Salim meminum susu tersebut dari tempatnya setiap hari. Setelah lima hari Salim meminum susu itu maka ia diperbolehkan untuk bertemu Sahlah walaupun Sahlah tanpa menggunakan tutup kepala (jilbab), sebagai keringanan yang diberikan Nabi kepada Sahlah. (Kitab Thabaqat Al-Kubra 8/271 dan Kitab Al-Ishabah karya Ibnu Hajar 7/716).

Jadi para ulama terdahulu telah sepakat bahwa prosesnya bukan di”nenen”kan secara langsung namun air susu ditaruh di sebuah wadah lalu baru diminumkan.

Contohnya Imam Nawawi dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim (10/13):Al-Qadhi mengatakan:”Sepertinya Sahlah mengeluarkan air susunya terlebih dahulu, barulah setelah itu diminum oleh Salim, sehingga Salim tidak perlu menyentuh apapun dan kulit tubuh mereka tidak ada yang bersentuhan, karena tidak halal seorang laki-laki melihat organ susu seorang wanita yang bukan mahramnya ataupun menyentuhnya.”

Abu Umar mengatakan: Metode menyusui seorang pria dewasa adalah dikeluarkan air susu ibunya terlebih dahulu, kemudian ia meminumnya dari tempat lain. Dan tidak satupun ulama yang memperbolehkan pria dewasa disusui secara langsung oleh ibu susuannya. Dan pendapat inilah yang diunggulkan oleh Al-Qadhi dan Imam An-Nawawi. (Kitab Syarhu Az-Zarqani 3/316).

Para ulama sepakat bahwa hadits shahih tersebut hanya khusus diberlakukan untuk Salim saja dengan tujuan untuk menyelesaikan persoalan rumah tangga Sahlah yang agak bermasalah pada waktu itu.

Oleh karenanya tidaklah tepat pengukuhan hadits A’isyah sebagai legalisasi boleh dan menjadi mahramnya menyusui laki-laki dewasa

Para fuqaha (ahli fiqih) berpendapat bahwa paling tidak, ada tiga alasan pengkhususan tersebut.

Pertama, adanya pembatasan umur menyusui yang bisa menyebabkan kemahraman antara yang menyusui dan yang disusui, yaitu dua tahun. Hal itu sebagaimana diisyaratkan oleh surah al-Baqarah ayat 233 dan Luqman ayat 14.

Kedua, menyusui yang bisa menyebabkan terjadinya mahram itu adalah menyusui yang bisa menumbuhkan daging dan menguatkan tulang. Hal itu pasti didapatkan ketika yang disusui itu masih kecil (berumur dua tahun kebawah) dan pada saat maja’ah (lapar). Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi riwayat al-Tirmidzi yang berasal dari Ummu Salamah:

لا يحرم من الرضاعة إلا ما فتق الأمعاء في الثدي وكان قبل الفطام

Artinya: Persusuan tidak bisa menjadikan mahram, kecuali (susuan) yang mengenyangkan dan terjadi sebelum disapih.

Dan hadis riwayat Muslim yang berasal dari A’isyah:

فإنما الرضاعة من المجاعة

Artinya: Sepersusuan itu hanya diperoleh lantaran lapar

Selain itu, hadis riwayat Abu Dawud yang berasal dari Ibnu Mas’ud juga perlu dipertimbangkan:

لاَ رِضَاعَ إِلاَّ مَا شَدَّ الْعَظْمَ وَأَنْبَتَ اللَّحْمَ

Tidak (dianggap) sesusuan melainkan susuan yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging.

Ketiga, terdapat pengkhususan secara sharih dari hadis riwayat Muslim yang berasal dari Ummu Salamah terhadap hadis Sahlah di atas. Hadis tersebut adalah:

أَبَى سَائِرُ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم أنْ يُدْخِلْنَ عَلَيْهِنَّ أَحَدًا بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ وَقُلْنَ لِعَائِشَةَ وَاللَّهِ مَا نَرَى هَذَا إِلاَّ رُخْصَةً أَرْخَصَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِسَالِمٍ خَاصَّةً فَمَا هُوَ بِدَاخِلٍ عَلَيْنَا أَحَدٌ بِهَذِهِ الرَّضَاعَةِ وَلاَ رَائِينَا.

Artinya: Para istri Nabi shallallahu alaihi wasallam enggan memberi kebebasan masuk rumah mereka bagi anak-anak yang telah dijadikan mahram karena susuan. Dan kami berkata kepada Aisyah, “Demi Allah kami tidak melihat hal ini, kecuali hanya sekedar keringanan yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam khusus untuk Salim, oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang mahram karena susuan yang boleh masuk ke rumah kami dan melihat kami.”

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »