Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘syariat islam’


Phobia syariat Islam karena ditakut-takuti dengan rajam dan potong tangan

Pada hakikatnya perintah penegakkan hukum pidana Islam (jinayah) bukan kewajiban bagi seluruh umat Islam namun wewenang dan kewajiban bagi penguasa negeri yang dibantu oleh para fuqaha (ahli fiqih)

Rasulullah bersabda , “Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. (HR Bukhari).

Perintah penegakkan hukum pidana Islam (jinayah) berlaku bagi penguasa negeri yang sudah mempunyai kemampuan sebagai pemimpin penegak hukum (chief of law enforcement).

Selama pemimpin belum mempunyai kemampuan maka tugas umat Islam pada hakikatnya hanyalah menjalani kewajiban seperti sholat 5 waktu dan menjauhi semua yang telah dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah.

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS al-Hasyr [59]:7)

Contohnya penerapan hukum potong tangan bagi pencuri.

Dahulu Khalifah sangat merasa bersalah kalau ada rakyatnya kelaparan.

Bagaimana mungkin menerapkan hukum potong tangan kalau penguasa negeri masih bisa cengengesan di singgasananya ketika rakyatnya masih ada yang kelaparan.

Sebagai contoh khalifah Umar ra ada melakukan perjalanan diam-diam, keluar-masuk kampung untuk mengetahui keadaan rakyat dalam kepemimpinannya. Khalifah Umar ra khawatir jika ada hak-hak rakyatnya yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Suatu waktu tibalah Khalifah Umar pada satu kampung yang berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah gubuk yang reyot, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis. Umar bergegas mendekati gubuk itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.

Setelah dekat, Khalifah melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

Khalifah Umar bertanya, “Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?”

Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

Khalifah tertegun, dan mereka masih tetap duduk di depan gubuk sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Khalifah tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Khalifah berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”

Khalifah Umar menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut.

Sambil masih terbelalak tak percaya, Khalifah Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.

“Buat apa?”

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum.

Lihatlah aku. Aku seorang janda miskin. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak.

Sesudah petang tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Khalifah Umar tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Dengan air mata berlinang Khalifah Umar bangkit dan mengajak Sahabatnya untuk kembali ke kota. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.

Karena Khalifah Umar terlihat keletihan, Sahabatnya berkata, “Wahai Khalifah Umar, biarlah aku saja yang memikul karung itu….”

Dengan wajah merah padam, Khalifah Umar menjawab “Jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Jadi dapat kita simpulkan bahwa memang ada resiko besar menjadi pemimpinan negeri karena kesalahan dalam kepemimpinan dapat menjerumuskan ke dalam neraka.

Begitupula bagaimana dapat menerapkan hukum rajam bagi pezina kalau penguasa negeri masih membiarkan zina yang dilakukan suka sama suka (tanpa paksaan) atau membiarkan wanita berbusana “setengah telanjang” atau membiarkan video porno dan lain-lainnya.

Jadi kewajiban bagi umat Islam selama penguasa negeri belum mempunyai kemampuan hanyalah menjauhi zina, mencuri dan apa yang telah dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah.

Pada hakikatnya dosa sebesar apapun akan diampuni dengan bertaubat kepada Allah kecuali syirik.

Begitupula dahulu Rasulullah tidak serta merta menerapkan hukum rajam kepada pelaku zina namun memberikan kesempatan bagi pelaku zina untuk bertaubat kepada Allah dan tidak mengulanginya.

Sebaiknya janganlah menganggap sadis terhadap hukuman rajam karena pada hakikatnya hukum rajam adalah kesempatan atau sarana bagi pelaku zina untuk menjadi ahli surga.

Dikisahkan pada jaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada seorang wanita yang telah melakukan perzinahan dan ingin bertaubat. Dia sangat menyesal telah melakukan dosa besar ini. Lalu dia menghadap Rasulullah untuk mengakui perbuatannya dan untuk meminta hukuman yang setimpal. Hukuman untuk seorang pezina yang sudah pernah menikah adalah rajam sampai mati. Saat menghadap Rasulullah, wanita itu sedang hamil.

Rasulullah berkata, “kau sedang hamil, jadi kita tunggu sampai kau melahirkan, karena yang menerima hukuman hanya kau, bayimu tidak harus ikut mati karena perbuatanmu. Setelah kau melahirkan kembalilah menemuiku.”

Wanita itupun kembali ke rumahnya.
Setelah wanita itu melahirkan, dia kembali menemui Rasulullah untuk menerima hukuman rajam. “Ya Rasulullah, aku telah melahirkan anak ini. Jadi aku sudah bisa untuk menerima hukumanku”, kata wanita itu.
“Bayimu itu masih harus kau susui sampai saatnya, yaitu selama 2 tahun. Susuilah anak itu sampai 2 tahun, lalu kembalilah kepadaku”, jawab Rasulullah.

Wanita itupun kembali ke rumahnya.
Selama 2 tahun wanita itu menyusui anaknya sampai anaknya tumbuh sehat dan besar. Wanita itu kembali menemui Rasulullah. “Ya Rasulullah, aku telah memenuhi kewajibanku menyusui anakku selama 2 tahun”, kata wanita.
“Anak itu masih perlu diurus, sampai dia dewasa. Kalau menerima hukuman itu sekarang siapa yang akan menanggung hidup anak ini?”, tanya Rasulullah.
“Akan ada pamanku yang mengurusnya nanti”, kata wanita itu. Lalu pamannya dibawa menemui Rasulullah.
“Apakah kau bersedia mengurus anak ini sampai dewasa kelak?”, tanya Rasulullah.
“Ya saya bersedia, Ya Rasulullah”, jawab pamannya yakin.

Akhirnya Rasulullah memberi keputusan, “Baiklah kalau begitu. Kau akan menerima hukumanmu itu sekarang”.

Lalu tubuh wanita itu ditimbun, sehingga yg tersisa hanya kepalanya yang mencuat keluar dari gundukan tanah. Lalu setiap orang melemparinya dengan batu. Siapa pun boleh melemparinya. Itulah hukuman bagi seorang pezina. Rajam sampai mati. Diantara yg melempari batu, yang paling bersemangat adalah Khalid bin Walid. Dia melemparkan sebuah batu sebesar genggaman tangan orang dewasa. Batu itu dia lemparkan dari jarak yang sangat dekat dengan kepala wanita itu. Darah pun bermuncratan ke pakaian Khalid bin Walid.

Lalu Rasulullah mendekati Khalid bin Walid dan berkata, “Hai Khalid bin Walid, lemparlah dia sepantasnya, jangan perlakukan wanita ahli surga seperti itu.”

Begitupula pada hakikatnya kerusakan di sebuah negeri seperti merajalela zina, narkoba, persekusi atau main hakim sendiri di tengah masyarakat adalah akibat penguasa negeri belum menjadi pemimpin penegak hukum (chief of law enforcement).

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemimpin penegak keadilan (chief of law enforcement). di dalam pemerintahannya.

Penguasa-penguasa yang zalim (tidak adil) dipecat dan digantikan dengan orang yang lebih layak untuk memperbaiki keadaan masyarakat.

Salah seorang gubernur menulis surat kepada Beliau, “Wahai amirul mukminin, negeri kami ini telah rusak, alangkah baiknya jika tuan memberi jalan untuk memulihkan negeri kami”.

Khalifah Umar menjawab surat itu dengan berkata, “Apabila engkau membaca suratku ini hendaklah engkau memagari negerimu dengan keadilan dan bersihkanlah jalan-jalannya dari kezaliman. Sesungguhnya itulah pemulihannya”

Penguasa negeri tidak boleh membiarkan ketidakadilan terjadi selama masa pemerintahannya.

Contohnya jika rakyat sudah seringkali menggaungkan ketidakadilan yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari karena hukum tidak lagi dipergunakan untuk mengatur supaya kehidupan menjadi tertib dan teratur.

Rakyat merasakan ketidakadilan terjadi karena rakyat melihat hukum disalahgunakan untuk memenjarakan rakyat, hukum digunakan sebagai alat untuk mengunci mulut-mulut rakyat yang kritis terhadap pemerintahannya.

Rakyat merasakan ketidakadilan terjadi karena rakyat melihat hukum disalahgunakan untuk MENEKAN dan MERANGKUL.

Dari Ka’ab bin Ujroh radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar mendekati kami, lalu bersabda:

“Akan ada setelahku nanti para pemimpin (penguasa) yang berdusta. Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan mendukung KEZALIMAN (KETIDAKADILAN) mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak bisa mendatangi telagaku (di hari kiamat).

Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (pemimpin/penguasa dusta) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung KEZALIMAN (KETIDAK ADILAN) mereka, maka dia adalah bagian dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telagaku (di hari kiamat).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Pengertian ZALIM (Arab: ظلم, Dzholim) adalah meletakkan sesuatu (perkara) bukan pada tempatnya.

Lawan kata ZALIM adalah ADIL yakni meletakkan sesuatu (perkara) pada tempatnya, proporsional, berada ditengah-tengah, tidak berat sebelah, jujur, memberikan atau menerima sesuatu sesuai haknya.

Contohnya menghargai yang baik maupun menghukum yang jahat sesuai haknya, menghukum yang jahat sesuai dan kesalahan dan pelanggarannya.

Dengan demikian keadilan berarti bertindak atas dasar kebenaran, bukan mengikuti kehendak hawa nafsu atau kepentingan.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia. Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa ; 135)

Oleh karenanya sebaiknya kita membenci atau minimal sedih dan prihatin terhadap kemungkaran penguasa (umaro) yakni kezaliman atau ketidakadilan penguasa (umaro).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim).

Al Imam Al Hafizh An Nawawi mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak berdosa semata-mata karena dia tinggal diam, akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti kemungkarannya.” (Syarh Muslim [6/485])

Selain itu negeri kita akan diazab Allah jika membiarkan kemungkaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan khusus (yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang) hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka, mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika itu yang mereka lakukan, Allah mengazab yang umum maupun yang khusus. (HR Ahmad).

Jadi membiarkan kemungkaran akan mengakibatkan kerusakan atau azab.

Kerusakan atau azab yang terjadi akibat perbuatan maksiat atau munkar itu tidak hanya menimpa pelakunya, namun juga orang lain yang tidak terlibat langsung.

Realitas ini digambarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sabdanya:

Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, “Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.” Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa; jika mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya. (HR al-Bukhari).

Bagi yang ingin mengganti PENGUASA NEGERI yang dianggap ZALIM yakni TIDAK MENEGAKKAN KEADILAN maka lakukanlah dengan cara-cara yang baik mengikuti hukum konstitusi yang berlaku dan tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi.

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS Al Baqarah [2]:11)

Rasulullah membolehkan umat Islam untuk mengingkari kebijakan penguasa negeri (umara) yang menurut pendapat para fuqaha (ahli fiqih) bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits namun dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

Dari Ummu Salamah radliallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.).” Maka para sahabat berkata : “Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya).

Penguasa yang zalim adalah salah satu akibat meninggalkan atau tidak mentaati ulil amri sebenarnya yakni para fuqaha (ahli fiqih), para ulama yang faqih (berkompetensi) dalam memahami dan menggali hukum dari Al Qur’an dan Hadits sebagaimana sabda Rasulullah yang disampaikan oleh asy‐Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al‐Bantani Rahimahullah Ta’ala, di dalam kitabnya, Nasha‐ihul Ibad fi bayani al‐Faadzi al‐Munabbihaat ‘alal Isti’daadi Li Yaumil Ma’adi.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan datang satu zaman atas umatku dimana mereka lari (menjauhkan diri) dari (ajaran dan nasihat) ulama’ dan fuqaha’, maka Allah Taala menimpakan tiga macam musibah atas mereka, yaitu

1. Allah mengangkat (menghilangkan) keberkahan dari rizki (usaha) mereka.

2. Allah menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka.

3. Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »