Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘timbul perselisihan’


Akibat tarjih lintas mazhab dan tarjih ala firqah Liberal

Kita prihatin dengan perbedaan pendapat di antara warga ormas NU dengan warga ormas Muhammadiyah sehingga berakibat pemindahan tempat kegiatan dari rencana semula di Masjid Gedhe Kauman Keraton Yogyakarta sebagaimana contoh berita pada https://www.beritasatu.com/nasional/605435/ditolak-muhammadiyah-harlah-nu-yogya-dipindah

Sebaiknya warga NU maupun warga Muhammadiyah kembali istiqomah mengikuti apa yang telah diteladani dan diamalkan oleh para pendiri kedua ormas yakni mengikuti fiqih mazhab Syafi’i.

Dengan begitu maka tidak ada lagi istilah Masjid NU atau Masjid Muhammadiyah.

Perbedaan pendapat sehingga menimbulkan perselisihan adalah akibat tarjih lintas mazhab dan tarjih ala firqah Liberal.

TARJIH lintas mazhab sama dengan memecah belah umat Islam karena akan saling salah-menyalahkan.

TARJIH hanya berlaku dalam SATU MAZHAB dan tidak terkait dengan mazhab lainnya.

Ulama yang BERHAK melakukan TARJIH terhadap pendapat-pendapat dalam mazhab harus BERKOMPETENSI sebagai MUJTAHID FATWA (MUJTAHID TARJIH).

Contohnya dalam mazhab Syafi’i adalah Imam Ar Rafi’i dan Imam An Nawawi.

TARJIH LINTAS MAZHAB dengan barometer atau MERUJUK langsung kepada kitab Al Qur’an dan kitab-kitab hadits maka pada hakikatnya telah terjerumus KESOMBONGAN karena seolah-olah ulama-ulama mazhab terdahulu “TIDAK MENEMUKAN” atau tidak membaca atau tidak paham dengan RUJUKAN yang “DITEMUKAN”, dibaca dan dipahami oleh PEN-TARJIH.

Contohnya ada PEN-TARJIH dengan sombongnya mengatakan bahwa ia “MENEMUKAN” hadits-hadits untuk “meralat kesalahan” KH Ahmad Dahlan masa lalu.

PEN-TARJIH “menghakimi” dengan barometer kitab Al Qur’an dan kitab-kitab hadits sehingga berkesimpulan bahwa pendapat (pemahaman) PEN-TARJIH lebih kuat (arjah atau tarjih) dari pendapat (pemahaman) ulama mazhab terdahulu yang diikuti oleh KH Ahmad Dahlan.

Bahkan yang lebih ekstrim PEN-TARJIH yang mengatakan bahwa pendapat (pemahaman) mereka yang BENAR dan pendapat (pemahaman) ulama mazhab terdahulu yang diikuti oleh KH Ahmad Dahlan adalah SALAH.

Perbedaan pendapat di antara Imam Mazhab yang empat tidak dapat dikatakan pendapat mazhab yang satu lebih kuat (arjah atau tarjih) dari pendapat mazhab yang lainnya atau bahkan yang lebih ekstrim mereka yang mengatakan pendapat mazhab yang satu yang benar dan pendapat mazhab yang lainnya salah.

Perbedaan di antara mazhab yang empat dan turunannya (tarjih dalam satu mazhab) adalah yang dimaksud perbedaan pendapat itu rahmat bukan perkara tercela atau tidak akan berdampak negatif kalau kita berbeda didalamnya KARENA perbedaan di antara mereka semata-mata dikarenakan terbentuk setelah adanya furu’ (cabang), sementara furu’ tersebut ada disebabkan adanya sifat zanni dalam nash. Oleh sebab itu, pada sisi zanni inilah kebenaran bisa menjadi banyak (relatif), mutaghayirat disebabkan pengaruh bias dalil yang ada. Boleh jadi nash yang digunakan sama, namun cara pengambilan kesimpulannya berbeda.

Prof. Dr. Yunahar Ilyas MENGAKUI bahwa setelah berdirinya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan Kyai Haji Mas Mansyur, terjadilah “revisi –revisi” setelah melakukan kajian mendalam, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktikkannya do’a qunut di dalam shalat subuh dan jumlah rakaat shalat tarawih yag sebelas rakat.

Apakah majelis tarjih MENGHAKIMI, “MENYALAHKAN” dan MEREVISI sehingga tidak mau mengikuti apa yang diteladani dan diamalkan oleh KH Ahmad Dahlan yang pada masa hidupnya banyak menganut fiqih mahzab Syafi’i?

Padahal ormas Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan bukan untuk MENGHAKIMI dan MENYALAHKAN fiqih mazhab Syafi’i yang telah diamalkan oleh KH Ahmad Dahlan.

Begitupula KH Ahmad Dahlan “tertarik” dengan “pemikiran” Rasyid Ridha maupun Muhammad Abduh bukanlah untuk MENGHAKIMI atau MENYALAHKAN fiqih mazhab Syafi’i yang telah diamalkan oleh KH Ahmad Dahlan namun Beliau “tertarik” pada perkara sosial kemasyarakatan seperti feeding (panti asuhan), healing (rumah sakit), dan schooling (sekolah).

Sedangkan dalam perkara ilmu agama memang sebaiknya jumud, kaku, tradisional atau istiqomah sebagaimana yang dicontohkan/diwariskan oleh para ulama terdahulu sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/02/11/dalami-ilmu-agama/

Justru kita prihatin dengan istilah-istilah seperti modernisasi agama, enlightenment (pencerahan), age of rasionalisme atau PEMBAHARUAN dan “MERASA” (like) MUJADDID (pseudo mujaddid) dalam arti pembawa “ajaran baru”, “pendapat baru” atau “pemahaman baru” terhadap Al Qur’an dan Hadits.

Jadi hal yang baru, modern atau kekinian hanyalah PEMBAHASAN (Bahtsul) PERMASALAHAN (Masail) kekinian seperti yang menjadi concern KH Ahmad Dahlan yakni sosial kemasyarakatan berdalilkan Al Qur’an dan Hadits mengikuti metode atau pendapat/pemahaman yang diwariskan oleh para ulama terdahulu.

Pengertian MUJADDID (setiap seratus tahun) sejatinya adalah MENGINGATKAN KEMBALI atau MERUNUT KEMBALI kepada ajaran, pendapat atau pemahaman ulama-ulama terdahulu yang bersanad ilmu atau bersanad guru tersambung kepada lisannya Rasulullah.

Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Imam Malik ~rahimahullah berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu) dan dari orang yang mendustakan perkataan manusia (ulama) meskipun dia tidak mendustakan perkataan Rasulullah (hadits).”

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan”

Para ulama mengingatkan bahwa TANPA SANAD seseorang bisa berkata apa saja berdalilkan Al Qur’an dan Hadits menurut akal pikiran mereka sendiri.

Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )

Dalam Lisan Al-Arab misalnya disebutkan: “Isnad dari sudut bahasa terambil dari fi’il “asnada” (yaitu menyandarkan) seperti dalam perkataan mereka,

”Saya sandarkan perkataan ini kepada si fulan”.

Artinya, menyandarkan sandaran, yang mana ia diangkatkan kepada yang berkata.

Maka makna atau pengertian MENYANDARKAN PERKATAAN adalah mengangkatkan perkataan, mengembalikan perkataan kepada orang yang berkata dengan perkataan tersebut“

Jadi dapat kita simpulkan bahwa dalam ilmu agama, “jika ada ulama KHALAF (ulama zaman kemudian) yang menyampaikan sesuatu perkataan, pendapat atau pemahamannya terhadap Al Qur’an dan Hadits yang TIDAK DAPAT DISANDARKAN kepada ulama sebelumnya secara turun-temurun tersambung kepada lisannya Rasulullah MAKA perkataannya, pendapatnya atau pemahamannya tersebut semata-mata menurut akal pikirannya sendiri”.

Sunnah Rasulullah dalam mendalami ilmu agama adalah melalui 2 cara dengan skala prioritas yakni,

Prioritas pertama, AKAL tunduk pada NAQLI (Kitabullah dan Sunnah Rasulullah) yang dijelaskan dan disampaikan (qola) Akaabir yakni para ulama yang sanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2017/11/24/ilmu-agama-dari-akaabir/

عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : البركة مع أكابرهم

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah bersabda “Barakah itu bersama Akaabir”

Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [QS. an-Nahl : 43]

Oleh karenanya para ulama Salaf (terdahulu) justru berpegang pada sami’na wa ato’na (kami dengar dan kami taat) bukan kami baca dan kami taat.

Prioritas kedua, setelah tidak ditemukan Qola Akaabir maka AKAL tunduk kepada ILMU yang terkait bahasa Arab untuk memahami NAQLI (Kitabullah dan Sunnah Rasulullah) .

Rasulullah bersabda, “ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan” (HR Bukhari 98)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)

Jadi untuk memahami Al Qur’an dan Hadits tidak cukup dengan arti bahasa saja dan apalagi hanya berbekal MAKNA DZAHIR saja.

Oleh karena Hadits dan “bacaan Al Qur’an dalam bahasa Arab” (QS Fush shilat [41]:3) maka diperlukan kompetensi menguasai ilmu-ilmu yang terkait bahasa Arab atau ilmu tata bahasa Arab atau ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’) ataupun ilmu untuk menggali hukum secara baik dan benar dari al Quran dan as Sunnah seperti ilmu ushul fiqih sehingga mengetahui sifat lafad-lafad dalam al Quran dan as Sunnah seperti ada lafadz nash, ada lafadz dlahir, ada lafadz mijmal, ada lafadz bayan, ada lafadz muawwal, ada yang umum, ada yang khusus, ada yang mutlaq, ada yang muqoyyad, ada majaz, ada lafadz kinayah selain lafadz hakikat. ada pula nasikh dan mansukh dan lain-lain.

Kalau tidak menguasai ilmu-ilmu tersebut kemudian berpendapat, berfatwa atau beristinbat, menggali hukum dari Al Qur’an dan Hadits maka akan sesat dan menyesatkan.

Begitupula PERSELISIHAN yang timbul akibat tarjih ala liberal.

Dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 definisi Liberalisme agama adalah mereka yang memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Hadits) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran mereka semata.

Jadi firqah atau kelompok yang mengaku muslim namun mengikuti SPILIS yakni paham Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme adalah orang-orang yang memahami Al Qur’an dan Hadits menyesuaikan dengan perkembangan zaman mengikuti paham liberal alias pemahaman dengan semangat kebebasan tidak mengikuti metode pemahaman dan istinbath yang telah dibakukan dan dicontohkan oleh Imam Mazhab yang empat sebagaimana contoh uraian pada http://tamamblog-sayang.blogspot.com/2013/10/islam-liberal-dalam-kajian-islam.html

Charles Cruzman mengemukakan teori tentang asal muasal kaum liberal dan fundamentalis yang berakar pada pemikiran yang sama dengan pemikiran Ibnu Taimiyyah (W 728H).

Bedanya adalah bahwa jika kaum liberal melakukan perubahan dengan menatap ke depan sambil membawa masa lalu yang relevan, sementara kaum fundamentalis sepenuhnya kembali ke masa lalu.

Dalam Tadarus Ramadan Jaringan Islam Liberal 2008 hari kedua (9 September 2008) ketika mengupas pemikiran Ibnu Taimiyyah yang tertuang dalam buku al-Siyãsah al-Syar’iyyah, salah satu tokoh Liberal, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia menyampaikan bahwa Ibnu Taimiyyah tidak pernah mengklaim diri sebagai ulama Hanbali.

Musdah Mulia kemudian mengatakan bahwa dalam buku berjudul Araddu ‘ala al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah, Ibnu Taimiyyah mengungkapkan keinginannya untuk membersihkan pemikiran-pemikiran yang taqlid dan mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad.

Para ulama terdahulu tidak menggolongkan Ibnu Taimiyyah sebagai ahli istidlal namun sebagai ahli hadits dalam arti ahli (membaca) hadits.

Begitupula mereka yang merasa atau mengaku-ngaku sebagai ahlussunnah dalam arti ahli (membaca) sunnah alias ahli (membaca) hadits secara
otodidak (shahafi) menurut akal pikiran mereka sendiri dan KEKELIRUAN terjadi akibat METODE PEMAHAMAN mereka SELALU dengan MAKNA DZAHIR.

Ibnu Taimiyyah menggunakan METODE PEMAHAMAN SELALU dengan MAKNA DZAHIR dan mengingkari MAKNA MAJAZ (Ma’alim Ushulil Fiqh hal. 114-115).

Bahkan Ibnu Qoyyim al Jauziyah (w 751 H) murid dari Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa majaz adalah thaghut yang ketiga (Ath thaghut Ats Tsalits), karena dengan adanya majaz, akan membuka pintu bagi ahlu tahrif untuk menafsirkan ayat dan hadist dengan makna yang menyimpang (As Showa’iqul Mursalah 2/632)

Jadi mereka secara TERANG-TERANGAN melanggar larangan Rasulullah yakni mereka MENTERJEMAHKAN dan MEMAHAMI DALIL (Al Qur’an dan Hadits) atau “Kembali kepada Al Qur’an dan Hadits” secara otodidak (shahafi) menurut AKAL PIKIRAN mereka sendiri dan KEKELIRUAN terjadi karena METODE PEMAHAMAN mereka SELALU dengan MAKNA DZAHIR.

Rasulullah bersabda “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya sendiri menurut akal pikirannya sendiri.

Boleh kita menggunakan segala macam wasilah atau alat atau sarana dalam menuntut ilmu agama seperti buku, internet, audio, video dan lain lain namun kita harus mempunyai guru untuk tempat kita bertanya karena syaitan tidak berdiam diri melihat orang memahami Al Qur’an dan Hadits

“Man la syaikha lahu fasyaikhuhu syaithan” yang artinya “barang siapa yang tidak mempunyai guru maka gurunya adalah syaitan

Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203.

Jadi pengikut syaitan atau wali syaitan dapat diakibatkan karena salah memahami Al Qur’an dan Hadits seperti orang-orang yang mengaku muslim namun pengikut radikalisme dan terorisme.

Contohnya pelaku bom bunuh diri yang mengaku muslim adalah orang-orang yang mempunyai keyakinan atau prinsip bahwa POKOKNYA jika TIDAK SESUAI dengan apa yang mereka baca, terjemahkan dan pahami dari kitab Al Qur’an dan Hadits maupun kitab atau perkataan (pendapat) ulama terdahulu secara otodidak (shahafi) menurut akal pikiran mereka sendiri maka mereka menyalahkan, menganggap sesat dan bahkan mengkafirkan sehingga menghalalkan darah umat Islam.

Begitupula orang-orang yang mengaku muslim (oknum muslim) yang terjerumus RADIKALISME yakni mereka yang mempergunakan cara-cara kekerasan (ekstrim/radikal) seperti MENTAHDZIR dengan CELAAN dan TUDUHAN (ANGGAPAN) syubhat, bid’ah, sesat, bahkan kafir terhadap SIAPAPUN yang tidak sepemahaman/sependapat dengan mereka.

Kekerasan yang radikal adalah kekerasan yang memperturutkan hawa nafsu sehingga menzhalimi orang lain karena salah memahami Al Qur’an dan Hadits

Kekerasan yang tidak radikal adalah kekerasan yang dilakukan berdasarkan perintah ulil amri sebenarnya yakni para fuqaha (ahli fiqih)

Salah satu solusi mempersatukan umat Islam khususnya di Palestina maupun umat Islam pada umumnya adalah sebagaimana yang diusulkan oleh mantan mufti agung Mesir Syeikh Ali Jum’ah yakni,

dengan menyatukan lembaga fatwa di seluruh dunia untuk membentuk majelis permusyawaratan ulama tingkat dunia yang terdiri dari perwakilan para fuqaha (ahli fiqih) dari setiap negara.

Pihak yang dapat mengeluarkan fatwa sebuah PEPERANGAN adalah JIHAD (mujahidin) atau JAHAT (teroris) sehingga dapat diketahui apakah MATI SYAHID atau MATI SANGIT adalah “ulil amri di antara kamu” (QS An Nisaa [4]:59) yakni para fuqaha (ahli fiqih) di negara setempat karena ulama di luar negara tidak terbebas dari fitnah.

Selain itu PERSELISIHAN TIMBUL karena Ibnu Taimiyyah MELABELI KEBID’AHANNYA dengan label MAZHAB SALAF atau MANHAJ SALAF sehingga mereka merasa pasti benar atau mereka merasa berada di atas kebenaran.

Berikut kutipan fatwa Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa 4/149

***** awal kutipan *****
Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan mazhab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena MAZHAB SALAF itu PASTI BENAR
***** akhir kutipan *****

Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi menjelaskan bahwa “istilah salaf itu bukanlah suatu mazhab dalam Islam, sebagaimana yang dianggap oleh sebagian mereka yang mengaku sebagai salafi, tetapi istilah salaf itu sendiri merujuk kepada suatu zaman awal umat Islam“.

Istilah mazhab Salaf adalah keliru karena penisbatan nama mazhab adalah kepada nama perorangan bukan pada suatu kelompok atau nama generasi.

Penisbatan nama mazhab adalah kepada fuqaha (ahli fiqih) atau ahli istidlal yang telah meraih kompetensi sebagai Mujtahid Mutlak atau Mufti Mustaqil

Pertanyaannya adalah siapakah yang menyodorkan kitab-kitab Ibnu Taimiyyah (setelah wafat lebih dari 350 tahun) kepada ulama Najed dari bani Tamim, Muhammad bin Abdul Wahhab sehingga diberi julukan “duplikat (salinan) Ibnu Taimiyyah” sebagaimana contoh informasi dari kalangan mereka sendiri yang mengakui bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai imam mereka.

***** awal kutipan *****
Untuk itu, beliau mesti mendalami benar-benar tentang aqidah ini melalui kitab-kitab hasil karya ulama-ulama besar di abad-abad yang silam.

Di antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah.

Demikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat (salinan) Ibnu Taimiyah.

Lengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembangkan sendiri melalui metode otodidak (belajar sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh yang bersangkutan
***** akhir kutipan *****

Pertanyaan ini perlu disampaikan karena para ulama terdahulu justru telah melarang untuk membaca kitab-kitab Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya.

Contohnya Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, ” Maka berhati-hatilah kamu, jangan kamu dengarkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dan selain keduanya dari orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkannya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjadikan penghalang atas pandangannya. Maka siapakah yang mampu memberi petunjuk atas orang yang telah Allah jauhkan?”. (Al-Fatawa Al-Hadithiyyah : 203)

Begitupula pendiri ormas Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asyari telah mengingatkan kita untuk menghindari meneruskan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahab al-Najdi, pendiri firqah Wahabi dan penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyah sebelum bertaubat serta kedua muridnya, Ibnul Qoyyim Al Jauziah dan Abdul Hadi, sebagaimana yang termuat dalam Risalatu Ahlissunnah wal Jama’ah halaman 5-6

******* awal kutipan *******
Diantara mereka (sekte yang muncul pada kisaran tahun 1330 H.), terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka melaksanakan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, Ahmad bin Taimiyah serta kedua muridnya, Ibnul Qoyyim dan Abdul Hadi.

Al-‘Allamah Syaikh Muhammad Bakhit al-Hanafi al-Muth’i menyatakan dalam kitabnya Thathhir al-Fuad min Danas al-I’tiqad (Pembersihan Hati dari Kotoran Keyakinan) bahwa: “Kelompok ini sungguh menjadi cobaan berat bagi umat Muslim, baik salaf maupun khalaf. Mereka adalah duri dalam daging (musuh dalam selimut) yang hanya merusak keutuhan Islam.”

Maka wajib menanggalkan/menjauhi (penyebaran) ajaran mereka agar yang lain tidak tertular. Mereka laksana penyandang lepra yang mesti dijauhi. Mereka adalah kelompok yang mempermainkan agama mereka. Hanya bisa menghina para ulama, baik salaf maupun khalaf
****** akhir kutipan *******

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »