Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘transformasi takut menjadi cinta’

Cara meraih cintaNya

 

Dalam sebuah hadit qudsi, Rasulullah bersabda “Allah berfirman, hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amal kebaikan maka Aku mencintai dia” (HR Bukhari 6021)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa ibadah ada dua macam yakni perkara syariat dan amal kebaikan.

Perkara syariat atau segala perkara yang telah disyariatkanNya atau diwajibkanNya yakni wajib dijalankan dan wajib dijauhi meliputi menjalankan kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi apa yang telah dilarangNya dan diharamkanNya yang jika dilanggar/dikerjakan berdosa

Perkara syariat harus sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Amal kebaikan ada dua macam yakni

Amal kebaikan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Amal kebaikan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam namun tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits seperti Sholawat Nariyah, Sholawat Badar, Ratib Al Haddad, Maulid Barzanji, Maulid Nabi selama pengisian acaranya tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits , dll

Amal kebaikan adalah sarana untuk meraih cintaNya.

Kita tidak cukup hanya menjalankan perkara syariat, perlu amal kebaikan untuk meraih cintaNya sehingga jika telah meraih cintaNya maka Allah ta’ala telah menjanjikan akan dimasukkan ke surga sebagaimana firmanNya yang artinya

“….Dan barangsiapa mengerjakan amal kebaikan baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab”. (QS Al Mu’min [40]:40 )

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal kebaikan baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (QS An Nisaa’ [4]:124)

Perkara syariat adalah suatu keharusan, mau tidak mau harus dilaksanakan sedangkan amal kebaikan adalah suatu kesadaran diri yang akan tumbuh dari keberlangsungan hubungan antara hambaNya dan Sang Khaliq. Pengalaman dan perkembangan hubungan ini akan mentransformasi rasa takut menjadi rasa cinta yang ditimbulkan dari kedekatan antara hambaNya dan Sang Khaliq.

Kedekatan akan menumbuhkan kesadaran pada HambaNya bahwa perintahNya dan laranganNya adalah wujud dari Ar Rahmaan dan Ar Rahiim nya Sang Khaliq sehingga menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya penuh keikhlasan dan kecintaan kepada Sang Khaliq

Kelanjutan dari hadits qudsi pada awal tulisan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah berfirman, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan Aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (HR Bukhari 6021)

Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) mengatakan bahwa hubungan yang tercipta antara Allah dengan al-awliya (para wali / kekasih) adalah hubungan al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cinta kasih), dan al-inayah (pertolongan)

Bertitik tolak pada al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cintakasih), dan al-inayah (pertolongan) Allah kepada al-awliya (para wali / kekasih); al-Tirmidzi sampai pada kesimpulannya bahwa al-awliya (para wali / kekasih) dan orang-orang beriman bersifat ‘ishmah, yakni memiliki sifat keterpeliharaan dari dosa; meskipun ‘ishmah yang dimiliki mereka berbeda.

Bagi umumnya orang-orang beriman ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi al-awliya (para wali) ‘ishmah berarti mahfudz (terjaga) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya.

Al-Tirmidzi meyakini adanya tiga peringkat ‘ishmah, yakni
‘ishmah al-anbiya (‘ishmah Nabi),
‘ishmah al-awliya (‘ishmah para wali),
‘ishmah al-’ammah (‘ishmah kaum beriman pada umumnya).

Kesimpulannya jika Allah telah mencintai hambaNya maka akan terpelihara dari dosa atau terhindar dari dosa.

Jika seorang muslim yang dekat dengan Allah,  mereka berbuat dosa maka akan dikomunikasikanNya atau disegerakan teguranNya sehingga diberi kesempatan untuk bertaubat. Tanda seorang manusia yang tidak dekat dengan Allah, jika mereka berbuat kesalahan, Allah Azza wa Jalla membiarkannya dan menjadi penyesalan di akhirat kelak

Semakin dekat dengan Allah sehingga menjadi wali Allah (kekasih Allah) maka akan bersifat mahfudz (terjaga) dari kesalahan.

Firman Allah ta’ala yang artinya: ”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

Firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik”. (QS Shaad [38]:46-47)

Muslim yang dekat dengan Allah atau muslim yang telah meraih cintaNya atau muslim yang meraih maqom disisiNya yakni muslim yang telah dikaruniakan ni’mat oleh Allah Azza wa Jalla sehingga selalu berada dalam kebenaran, selalu berada pada jalan yang lurus.

Firman Allah ta’ala yang artinya,

Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:6-7)

Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)

Muslim yang terbaik untuk bukan Nabi dan meraih maqom disisiNya sehingga menjadi kekasih Allah (wali Allah) dengan mencapai shiddiqin, muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat. Bermacam-macam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah/

Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya

Abu Yazid al Busthami mengatakan “Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya”.

Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Maukah kalian saya beritahu orang yang terbaik di antara kalian?” mereka menjawab: “mau wahai Rasulullah” beliau bersabda: “yaitu orang-orang yang bila kalian melihatnya, mereka itu selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Subhanau wa ta’ala“.
Seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka.
Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: “Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.
Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka, mudah-mudahan kami menyukainya“.
Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus [10]:62 )

 

Wassalam

 

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »