Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘tujuan tasawuf’

Kegunaan tasawuf

 

Silahkan periksa kurikulum atau silabus di perguruan tinggi Islam, tasawuf adalah tentang ihsan atau tentang akhlak , akhlak kepada Allah ta’ala dan akhlak kepada sesama ciptaanNya .

Tasawuf adalah jalan untuk menjadi kekasih Allah.

Jika Allah ta’ala mencintai hambaNya maka

Dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman “jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (HR Bukhari 6021)

Kaum Zionis Yahudi sangat takut dan benci kepada kaum muslim yang mengamalkan tasawuf karena mereka takut jika kaum muslim menjadi kekasih Allah, jika memohon kepada Allah pastilah akan dikabulkanNya. Inilah “senjata” yang paing ditakuti oleh kaum Zionis Yahudi

Pada hakikatnya upaya kaum Zionis Yahudi menjauhkan kaum muslim dari tasawuf adalah dalam rangka merusak akhlak kaum muslim sebagaimana mereka menyebarluaskan pornografi, gaya hidup bebas, liberalisme, sekulerisme, pluralisme, hedonisme dan lain lain.

Salah satu contoh penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf.

Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.

Tekanan ekonomi, sosial dan psikologis yang dialami oleh masyarakat, salah satu penyebabnya adalah tidak tersosialisasikan tasawuf atau tentang ihsan baik ditingkat pemerintahan dan masyarakat

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu“. (HR Muslim 11).

Jika pemerintahan dan masyarakat , meyakini selalu dalam pengawasan Allah ta’ala tentulah mereka dalam menghadapi segala situasi yang merupakan dalam pengaturan Allah Azza wa Jalla akan menghadapinya dengan sikap dan perbuatan yang dicintai oleh Allah ta’ala pula.

Jika pejabat pemerintahan meyakini selalu dalam pengawasan Allah ta’ala tentulah akan menjalankan pemerintahan secara adil.

Jika pejabat pemerintahan meyakini selalu dalam pengawasan Allah ta’ala tentuah akan menjauhi korupsi dan perbuatan lain yang merugikan masyarakat dan diri mereka sendiri

Jika masyarakat meyakini selalu dalam pengawasan Allah ta’ala tentulah akan bersikap zuhud dan qona’ah

Jika masyarakat meyakini selalu dalam pengawasan Allah ta’ala tentulah jika melakukan demonstrasi atau menyampaikan aspirasi kepada pemerintahan tidak melakukannya dengan menimbulkan kerusakan di muka bumi

Salah satu pelopor tasawuf dari kalangan Tabi’in adalah AL-HASAN AL-BASRI (Madinah,21H/642M – Basrah,110 H/728M) seorang ulama besar dalam beberapa bidang Ilmu, seperti: Hadis, Fikih dan Tafsir, juga seorang pendidik dan sufi. Nama lengkapnya Abu Sa’id al-Hasan bin Abi Hasan Yasar al-Basri. Ayahnya bernama Yasar al-Basri Maula Zaid bin Sabit al Ansari, sedangkan ibunya bernama Khairah Maulat Ummu Salamah. Keluarga al-Hasan al-Basri adalah keluarga yang berilmu dan menaruh perhatian terhadap ilmu terutama Al Qur’an dan Hadis. Ibunya sendiri sangat dekat dengan Ummu Salamah, salah seorang istri Rasulullah , tergolong orang berilmu. Ibunya adalah penghapal dan periwayat hadis, yang menerima dan meriwayatkan banyak hadis dari Ummu Salamah.

Pendidikan awal Al Hasan al-Basri diperoleh dari keluarganya sendiri terutama dari Ibunya. Ibunya memberikan pengaruh yang besar tehadap perkembangan dan pertumbuhan al Hasan al-Basri dan saudaranya Sa’id bin Abi Hasan Yasar al-Basri. Ia banyak mendengar riwayat hadits dari ibunya, para Sahabat dan para Tabiin dan pada usianya 14 Tahun ia sudah menghapal al Qur’an. Ia banyak belajar dan berada dalam asuhan ilmu dari Ali bin Abi Talib, terutama ilmu tentang kerohanian dan dari Huzaifah bin Yaman.

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa al Hasan al Basri, selain sempat bertemu Ali bin Abi Talib, ia juga sempat bertemu Talhah bin Ubaidillah, dan Aisyah binti Abu Bakar. Ia menerima hadis riwayat beberapa sahabat dan para perawi hadis lainnya seperti: Ubay bin Ka’b (w.19H), Sa’id bin Ubadah, Umar bin Khattab, Ammar bin Yasir, Abu Hurairah, Usman bin Affan, Abdullah bin Umar, Hamid at-Tawil, Yazid bin Abi Maryam, dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Menurut Ahmad Ismail al-Basit, seorang ulama Yordania, membagi masa kehidupan al Hasan atas tiga periode yaitu:

(1) periode Tahun 21-42 H;
(2) periode tahun 43-53H; dan
(3) periode 53-110H.

Periode pertama merupakan periode kehidupannya di Madinah, ia banyak menimba ilmu bukan hanya dari ibunya tetapi dari sebagian sahabat.

Pada periode kedua, ia melibatkan diri dalam peperangan dan penaklukan wilayah-wilayah baru. Pada saat yang bersamaan ia banyak bertemu dengan para sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menimba ilmu dari mereka. Pada periode ini juga ia menjadi sekretaris Rabi` bin Ziyad al-Harisi (w.53), seorang amir Sijistan Khurasan (Persia).

Periode ke tiga ia habiskan waktunya di Basra untuk menyampaikan dan mengajarkan ilmunya. Ia membuka madrasah al Hasan al-Basri, Ia menyampaikan pesan-pesan pendidikannya melalui 2 Cara:

1. Ia mengajak murid-muridnya menghidupkan kembali kondisi masa salaf, seperti yang terjadi pada masa para sahabat nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, terutama masa umar bin Khattab, yang selalu berpegang teguh kepada kitabullah dan sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;

2. Ia menyerukan kepada murid-muridnya untuk bersikap

Zuhud dalam menghadapi kemewahan dunia, zuhud dalam pengertiannya adalah tidak tamak terhadap kemewahan dunia dan tidak pula lari dari persoalan dunia, tetapi selalu merasa cukup dengan apa yang ada

Tentang tasawuf al Hasan al-Basri berkata:

Barangsiapa yang memakai tasawuf karena tawaduk (kepatuhan) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan Hatinya, dan barang siapa yang memakai tasawuf karena kesombongan kepadanya akan dicampakkan kedalam neraka”.

Al Hasan al-Basri masyhur dengan kezuhudannya yang berlandaskan Khauf (Takut kepada kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan diiringi dengan rajā (senantiasa mengharapkan Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala). Saking takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ia selalu membayangkan bahwa neraka itu seakan-akan diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata hanya untuk dirinya. Oleh sebab itu al Hasan al-Basri mengatakan: ”Jauhilah dunia ini karena ia sebenarnya serupa dengan ular, licin pada perasaan tangan, tetapi racunnya mematikan.”

Kedalaman pengetahuan al-Hasan al-Basri mengenai tasawuf cenderung untuk mengartikan beberapa istilah dalam agama Islam menurut pendekatan tasawuf.

Islam, misalnya, diartikan penyerahan hati dan jiwa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keselamatan seseorang muslim dari gangguan muslim lain.

Orang beriman, menurutnya adalah orang yang mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu pula yang harus dia katakan.

Orang mukmin ialah orang yang paling baik amalannya dan paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sekalipun ia menafkahkan hartanya setinggi gunung ia seakan-akan tidak dapat melihatnya (tidak menceritakannya).

Para sufi menurut pengertiannya adalah orang yang hatinya selalu bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memiliki ciri al: berbicara benar, menepati janji, mengadakan silaturahmi, menyayangi yang lemah, tidak memuji diri dan mengerjakan yang baik-baik.

Fakih, menurutnya adalah orang yang zahid terhadap dunia dan senang terhadap akhirat, melihat dan memahami agamanya, senantiasa beribadah kepada tuhannya, bersikap warak, menjaga kehormatan kaum muslimin dan harta benda mereka dan menjadi penasihat dan pembimbing bagi masyarakatnya.

Wassalam

 

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Read Full Post »