Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Tulisan’

revolusi mental

Dua tulisan berjudul revolusi mental dengan nama penulis yang berbeda

Ramai diberitakan media-media, artikel opini berjudul sama ‘Revolusi mental” dimuat di dua media koran nasional yakni Kompas dan Sindo yang diterbitkan pada edisi Sabtu (10/5) namun dengan nama penulis yang berbeda.

Tulisan yang satu atas nama Jokowi dan dimuat di halaman opini Kompas,sementara tulisan lainnya beratas namakan Romo Benny, sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), dimuat koran Sindo pada rubrik yang sama.

Romo Beny Susetyo membantah ada kesamaan dalam tulisan artikelnya yang disebut-sebut plagiat artikel Jokowi. Apalagi dikaitkan dengan teori konspirasi

“Jangan dikait-kaitkan, jelas subtansi berbeda dalam tulisan saya cenderung sisi pendidikan sementara Jowowi sisi politik,” ujar Beny Susetyo.

Lebih lanjut Romo Beny Susetyo menjelaskan. Menurutnya, tulisan Revolusi Mental yang ia tulisnya sudah dikirim tiga minggu sebelum diterbitkan.

“Tulisan saya sudah dikirim tiga minggu sebelumnya, tidak tahu kok baru keluar Sabtu kemarin dan berbarengan dengan tulisan Jokowi di Kompas,” tegas Romo Beny.

Beny juga menekankan bahwa penulisan dengan judul revolusi mental di Sindo merupakan ide gagasan dari Romo Mangun.

Sedangkan menurut pengakuan Jokowi–sapaan Joko Widodo dalam berita pada http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/05/11/269576885/p-Tulisan-Revolusi-Mental-Jokowi-Tim-yang-Menulis bahwa dia sendirilah yang membuat struktur tulisan tersebut. “Poin-poinnya saya yang buat, strukturnya saya yang buat,” kata Jokowi di Makassar, Sabtu, 10 Mei 2014.

Namun Jokowi mengatakan yang menulis opini berjudul “Revolusi Mental” tersebut adalah timnya. Jokowi mengatakan, setelah membuat poin-poin dan struktur dari tulisan tersebut, dirinya menyerahkan poin-poin tulisan itu kepada tim yang kemudian menulisnya. Jokowi enggan menyebutkan siapa timnya.

Pengakuan Jokowi tersebut terkena bully di twitter sebagaimana contoh berita pada http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/05/11/revolusi-mental-jokowi-kena-bully-di-twitter

Lain pula keterangan Pepih Nugraha (wartawan Kompas) yang diberitakan pada  http://www.teraslampung.com/2014/05/duduk-perkara-opini-revolusi-mental.html

***** awal kutipan ******
Saya membuka percakapan dengan Kepala Desk Opini Harian Kompas, Tati Samhadi, Senin 12 Mei 2014. Tujuannya untuk memperoleh fakta atau kebenaran atas isu yang beredar di publik. Percakapan saya lakukan secara tertulis melalui surat elektronik agar pertanyaan-jawaban tercatat sebagai bukti faktual.

Apa yang saya tanyakan kepada Mbak Tat, demikian saya biasa memanggilnya, tidak lebih dari pertanyaan publik juga yakni

Apakah benar itu tulisan asli Joko Widodo, Apakah benar “pengakuan” Joko Widodo sebagaimana dikutip sejumlah media online, bahwa tulisan itu karya “tim penulis”-nya sedangkan ia hanya memberi garis-garis besarnya saja ?.

Atas pertanyaan saya kepada penanggung jawab Rubrik Opini Harian Kompas itu, beberapa menit kemudian saya memperoleh jawaban tertulis dari Mbak Tat sebagai berikut:

“Pepih, saya sudah tanya lagi, itu artikel Jokowi sendiri yang nulis. Gagasan dia, buah pikiran dia dan dia sendiri juga yang nyusun poin2nya, nggak bener dia pernah bilang bukan dia yg nulis”.

Semoga saja tulisan ringkas ini ada manfaatnya, setidak-tidaknya memberi penjelasan dari sisi Harian Kompas yang telah memuat opini Joko Widodo dan menjadi perbincangan khalayak luas. Soal Anda tidak percaya atas penjelasan atau pengakuan Joko Widodo mengenai opini yang ditulisnya, itu sama-sekali bukan urusan saya, silakan saja. Urusan saya sebatas menjelaskan duduknya perkara.
****** akhir kutipan *******

Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Zaki Mubarak mengkritik pencantuman nama Joko Widodo dalam tulisan berjudul “Revolusi Mental”. Karena, bukan berasal dari gagasan mantan wali kota Solo itu sendiri.

Berikut kutipan selanjutnya yang bersumber dari http://www.republika.co.id/berita/pemilu/menuju-ri-1/14/05/12/n5fyff-bukan-hasil-pemikiran-jokowi-tulisan-revolusi-mental-dikritik

****** awal kutipan *****
“Harusnya penulisnya Jokowi dan tim. Karena Jokowi hanya tulis garis besar dan yang menulis orang lain,” ujar Zaki Mubarak di Jakarta, Ahad (10/5).

Menurut dia, kalau Jokowi mengklaim bahwa tulisan berjudul “Revolusi Mental” yang diterbitkan di kolom opini Surat Kabar Nasional pada Sabtu (10/5) itu pelanggaran akademik dan tidak etis.

“Kalau yang menulis beberapa orang, tulis tim Jokowi. Kalau hanya ada nama Jokowi seolah-olah itu tulisan dia semua dan hal tersebut patut dipersoalkan,” ujar dia.

Jokowi, lanjutnya, hanya menulis poin-poinnya saja sementara yang menulis itu orang lain sehingga hanya sedikit berkontribusi.

“Kalau judulnya Revolusi Mental tapi modelnya sudah melanggar seperti itu, jadi kita menjadi bertanya-tanya. Retorika atau apa. Jokowi harusnya merevolusi mentalnya sendiri supaya jujur,” kata dia.
******* akhir kutipan ******

Begitupula pengamat komunikasi politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo kepada beritajatim.com, Selasa (13/5/2014) menilai, seharusnya Jokowi tidak perlu over expansive masuk ke ruang wilayah akademisi. Selama ini, kolom opini atau artikel di media massa menjadi ruang kalangan akademisi.

Berikut kutipan selanjutnya yang bersumber dari http://beritajatim.com/menuju_pemilu_2014/206885/pengamat:_jokowi_tak_etis,_masuki_ruang_akademisi.html

***** awal kutipan ******
“Kalau memang Jokowi yang menulis sendiri tidak jadi masalah. Tapi ini kan tidak etis dan tidak mengedepankan aspek moralitas. Ini telah terjadi plagiatisme dalam tulisan. Lebih elok kalau yang menulis dan mencantumkan namanya di artikel adalah akademisi yang jadi tim sukses Jokowi,” katanya.

Suko sebagai akademisi merasa tersinggung dengan tulisan Jokowi tersebut. “Kalau Jokowi mengklaim tulisannya sendiri, itu pelanggaran akademik. Tidak etis. Dia menulis kan bukan gagasannya sendiri. Tanpa perlu menulis di artikel seperti itu yang bukan ide orisinilnya, Jokowi kan berpotensi terpilih dalam pilpres,” tegasnya.
****** akhir kutipan *******

Seorang wartawan, Nanik S Deyang dalam tulisan pada http://nasional.inilah.com/read/detail/2099832/salahkah-kalau-romo-benny-otak-ide-ide-jokowi mengatakan bahwa tentu saja tak ada masalah, seandainya kedua tulisan itu memaparkan soal yang secara esensial berbeda

Namun nenurut dia, kedua tulisan itu sama. Tentu saja keduanya tidak mesti kongruen.

Berikut kutipan selanjutnya

******* awal kutipan ******
“Saat membaca opini di koran Sindo yang ditulis Romo Benny,saya kembali kaget, karena bertajuk dan beresensi sama, kendati ada perbedaan dalam struktur kalimat yang disusun,” kata Nanik.

Berdasarkan penelusuran sang wartawan pula, terkuak bahwa Romo Benny Susetyo adalah anggota Tim Sukses Jokowi. “Saya iseng telepon kawan yang masih ada di seputar Jokowi, dan dapat kabar, ternyata Romo Benny Susetyo itu Tim Sukses Jokowi,” tulis Nanik di laman facebook miliknya.

Secara tersirat, Nanik meyakini kedua penulis itu sama. Dan bukan Jokowi, karena,” Selain waktunya tidak ada, rasanya dia bukan orang yang pandai menyusun kalimat. Tapi entahlah, mungkin setelah saya tidak bertemu 8 bulan ini, pak Gubernur yang sekarang Capres ini, bisa jadi sudah lihai menulis. Tapi sudahlah, soal menulis kan bisa saja dituliskan oleh orang di sekitarnya termasuk Anggit, kawan karibnya yang jadi think tank-nya selama ini. Seperti dulu, kalau menjawab pertanyaan wartawan secara tertulis,” tulis Nanik kembali.

Bila Nanik mempertanyakan keberadaan Romo Benny sebagai anggota Tim Jokowi, bukan itu yang kami persoalkan. Sejatinya, kami mungkin tak akan mempersoalkan apa pun.

Bagi kami, hak Jokowi sepenuhnya untuk menggandeng siapa pun sebagai bagian dari tim suksesnya. Tak hanya Romo Benny, bahkan seandainya Kardinal Mgr Julius Riyadi Darmaatmadja masih punya waktu untuk membantu Jokowi, mengapa tidak?

Bukankah itu lebih baik, agar Jokowi yang Muslim itu berkenalan dengan pola pikir lain berasaskan nilai-nilai agama selain yang ia anut?

Dalam hubungannya dengan calon pemilih Jokowi, setidaknya agar mereka tahu Jokowi begitu bersikap terbuka dengan menyilakan ide-ide baru selain yang berakar dari pemikiran yang selama ini menjadi bagian hidupnya. Itu karena kami meyakini satu hal: manusia punya pandangan hidup yang mengarahkan langkah kakinya.

Artinya, manakala Jokowi—kalaupun benar demikian, mempercayakan Romo Benny menjadi think thank-nya, Jokowi percaya ketidaksamaan pola pikirnya dengan Romo Benny itu akan memperkaya cara tindaknya. Memperbanyak jalan, menambah peluang pilihan. Asal tentu, semua jangan membuatnya bingung.

Umumnya orang percaya, tingkah laku dan perbuatan seseorang dimotivasi dan diarahkan pandangan hidupnya. Barangkali karena itulah kita mengenal epistemology alias filsafat ilmu. Kadang orang membaginya lagi kepada ortodoksi, alias ajaran-ajaran fundamental yang abstrak, dan ortopraksi, ajaran tindak yang bisa diaktualkan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Tingkah laku dan perbuatan orang, kabarnya, didasari ortopraksi ini.

Bila Jokowi mempercayai seseorang dengan latar belakang pandangan hidup yang berbeda dengan dirinya, itu bisa berarti banyak. Setidaknya, secara sederhana, itu bisa jadi karena Jokowi menganggap pandangan hidup (pandangan dunia) orang yang ia percaya itu tak masalah. Atau, mungkin saja Jokowi pun meyakini kebenaran pandangan hidup tersebut.

Salah? Kami tak punya otoritas untuk menghakimi pilihan sikap seseorang.
******* akhir kutipan ******

Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin dalam tulisan pada http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/05/12/sigma-revolusi-mental-jokowi-kering-ide menilai konsep ‘Revolusi Mental’ yang diumbar capres PDIP Jokowi hanya berisi tentang uneg-uneg Jokowi dan tim pendukungnya.

“Itu (Revolusi Mental) sesuatu yang sudah biasa kita dengar. Mahasiswa semester I pun fasih kalau sekedar mereview masalah, mengutarakan kegalauan, dan mengutip pemikiran orang lain,” cetus Said dalam keterangannya, Senin (12/5/2014).

Menurutnya gagasan besar Jokowi dari tema ‘Revolusi Mental’ justru tidak keluar. Karena jika yang dimaksud adalah soal perlunya paradigma, budaya politik, dan komitmen pemimpin, hal tersebut dinilainya sudah lama dibicarakan orang dan sudah sering didengar.

“Soal cara melakukannya dimulai dari diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, dan terus ke lingkungan negara, itu pun sudah khattam,” tuturnya.

“Konsep ‘Revolusi Mental’ Jokowi itu kering ide. Cuma keren di judulnya saja. Tidak ada pemikiran yang ‘maknyos’ disitu dari seorang calon pemimpin bangsa,” katanya.

Muhammad Ruslan menuliskan pada http://polhukam.kompasiana.com/politik/2014/05/12/revolusi-mental-golden-ways-ala-jokowi-655951.html bahwa revolusi mental menjadi ‘’mantra politik’’ Jokowi dalam menjawab kompleksitas persoalan kebangsaan yang mengemuka. Dari kemiskinan yang mencekik, kesenjangan sosial yang lebar, perampasan tanah yang massif, pendidikan dan setumpuk persoalan kesehatan, diidentifikasi sebagai persoalan mental. Hanya saja pertanyaan adalah mental siapa yang harus di revolusi?

Berikut kutipan selanjutnya

***** awal kutipan *****
Bagi Jokowi persoalan ekonomi telah membaik hal ini diindikatori dengan masuknya Indonesia dalam 10 besar pertumbuhan ekonomi dunia dan stabilitas demokrasi politik semakin membaik, lantas menurut Jokowi protes-protes yang muncul riak dalam publik baik oleh masyarakat sipil hingga media menjadi fenomena apa yang harus dipahami?

Dalam hal itulah Jokowi menempatkan ‘’mental’’ sebagai lakon pokok persoalan. Ketika ekonomi dan politik semakin membaik, maka protes-protes yang muncul tiada lain adalah adanya kesalahan mental, kalau bukan kesadaran yang keliru hingga hal itu dipersepsi sebagai prilaku yang amoral. Disini menjadi relevan atas revolusi mental/kesadaran.

Meski disisi lain ‘’mental’’ yang diterjemahkan sebagai suatu kesadaran moral, juga diasosiasikan dengan kecenderungan prilaku korup, rakus oportunis yang diidentikkan sebagai prilaku sosial orde baru, kesemuanya penyebabnya adalah mental.

Singkatnya untuk menciptkan masyarakat Indonesia merdeka, adil dan makmur maka jawabannya bagi Jokowi adalah ‘’rubah mental’’ atau perbaiki moral. Kemiskinan dilokalisasi sebagai sebuah persoalan moral, bukan hanya menjadi lokomitif moral pejabat tapi juga orang miskin itu sendiri. Pertanyaannya apakah kesejahteraan dan keadilan dalam mengakses faktor produksi adalah persoalan moral?

Meski istilah revolusi mental ini masih terkesan abstrak untuk diartikukasikan dalam kebijakan politik, apa lagi memahami relevansinya dengan slogan Trisakti Soekarno.

Penguatan nation building yang dimunculkan sebagai wujud pembangunan moral, sebenarnya merupakan slogan politik yang terkesan sudah ‘’kadarluarsa’’, sejak orde baru hingga sekarang, nation building sudah menjadi dagangan politik. Bukan hanya nation building menjadi abstrak untuk diartikulasikan dalam kebijakan politik rill, juga terkesan dangkal untuk memahami mengguritanya liberalisme/kapitalisme sebagai sebuah prilaku moral.

Keluar dari Analisa Struktural

Konsep revolusi mental ala jokowi yang ditulis di kompas (10/05) masih abstrak untuk dipahami secara rill, konsep pesan yang disampaikan terkerangkeng dalam bahasa universal, tak ada yang mencolok sebagai sebuah gagasan ideologis, seperti halnya dengan visi kandidat-kandidat lainnya.

Kesan sebagai produk gagasan politik instan lebih mengemuka, apalagi untuk mengaitkan relevansinya dengan gagasan revolusi Soekarno, cenderung dipaksakan. Sebab gagasan soekarno dan revolusi mental lahir dari cara berpikir yang sangat jauh berbeda. Gagasan Soekarno tentang keberdaulatan politik, ekonomi dan budaya adalah gagasan kompleks untuk melihat keterkaitannya dengan posisi struktural kekuasaan yang bersifat objektif, penghadangan terhadap kapitalisme menjadi gerakan politik struktural hingga politik global.

Sedangkan revolusi mental mendiversfikasi objek-objek politik masuk pada tatanan subjek sebagai sebuah kesadaran. Sehingga kata Jokowi ‘’perubahan harus dari diri sendiri, keluarga hingga Negara’’, terkesan sekadar menjadi utopia, gagasan yang umumnya muncul dikalangan parpol agamais, yang ironisnya diadopsi secara politik oleh partai nasionalis.

Ruang struktural dalam pembacaan Jokowi hanya berada pada ranah demokrasi birokratis, yang mengandalkan ‘’kebaikan-kebaikan moral’’ pejabat sebagai mesin utama bekerjanya visi revolusi mental. Penguatan birokrasi aparatur Negara sudah menjadi mesin politik yang telah dijalankan Jokowi di kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, ini mengesankan bahwa sosok Jokowi lebih cenderung sebagai sosok dengan tipikal pekerja ‘’administratif’’ ketimbang konseptual ideologis.

Dalam konteks jabatan sebagai RI 1 dengan model pemerintahan desentralisasi (sebagian otonomi), peran politik administratif hingga blusukan menjadi tidak terlalu relevan, pembacaan politik ideologis yang menyeluruh dan global menjadi kebutuhan ketimbang bergelut dengan reformasi aparatur birokrasi internal.

Jokowi dan Segmen Politik

Gagasan yang bertumpu pada analisa moral Jokowi tidak lepas dari posisi politik Jokowi. Secara politik Jokowi mengesankan diri berada ditengah-tengah dua poros kekuatan yang bersikukuh antara borjuis dan rakyat kecil (buruh dan pekerja). Sehingga sebagian orang menganggapnya sebagai ‘’borjuis kecil’’ yang bermodalkan populisme sebagai taktik politis para borjuis yang dimunculkan untuk tetap bertahan pada posisi politiknya dimata rakyat yang telah jenuh menelan pahit.

Sehingga upaya untuk menunggu gagasan progresif dan radikal sebagai visi politik Jokowi menjadi absurd, sebab hal tersebut dipengaruhi oleh posisi politik dan segmen politik Jokowi. Meski Jokowi terkesan lahir dari luar lingkar politik elit, tetapi tak pula ia terkesan lahir ditingkat kelas bawah, posisi sebagai kelas menengah lebih mencolok.

Begitupun kalau kita membaca peta analisa politik diperhelatan gurbernur DKI Jakarta sebelumnya, Jokowi terbilang muncul lewat dukungan kelas menengah dan elit yang dominan, oleh karenaya kebijakan-kebijakan politik Jokowi dominan tak lepas dari eksistensi kelas menengah-elit Jakarta ketimbang merepresentasikan kepentingan kelas buruh dan pekerja.

Hal ini dapat dilihat dari linglung-nya Jokowi untuk menentukan sikap politik tegas atas tuntutan-tuntutan buruh yang selalu mengisi perhelatan massa untuk mendapatkan keterbebasan dari penghisapan (may day).

Begitupun kebijakan-kebijakan penertiban kota (pasar) yang menjadikannya populis, tak lain merupakan ‘’penggusuran-penggusuran’’’ rakyat kecil yang tampakannya lebih terkesan shaleh ketimbang rezim-rezim yang lain. Memperindah tata ruang kota jauh lebih menjadi kebijakan elitis mercusuar ketimbang menjadi kebijakan popular dimata kelas pekerja dan buruh.

Begitupun naiknya harga saham secara drastis atas resminya pencapresan Jokowi sebelumnya, merupakan semiotika penegasan dari popularitas posisi politik Jokowi di mata borjuis, yang tak lepas dari kepentingan survivalitas kepentingan borjuis, kacamata kelas borjuis memposisikan Jokowi sebagai sosok ideal tawar penawar perantara kepentingan, yang bisa lebih mudah untuk menenangkan buruh dan pekerja, berdasarkan kecenderungan politik perasaan yang ‘’dimainkan’’ Jokowi mengantarkannya sebagai figur populis.
***** akhir kutipan ****

Iklan

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »