Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Ulama panutan Wahabi’

Menyangkal fatwa

Ulama mereka menyangkal fatwanya yang mengajak meninggalkan panggilan sayyidina kepada Rasulullah

Dalam tulisan sebelumnya telah disampaikan fatwa atau pendapat salah satu ulama panutan bagi para pengikut paham Wahabisme penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyyah sebelum bertaubat yang dibiayai dan disebarluaskan oleh kerajaan dinasti Saudi tentang ajakan untuk para pengikutnya meninggalkan panggilan sayyidina kepada Rasulullah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2016/07/05/melarang-sayyidina/

Beberapa waktu kemudian muncullah video yang menyangkal adanya fatwa tersebut sebagaimana yang dapat disaksikan pada http://www.youtube.com/watch?v=HHK8jG661jo

Ulama panutan mereka, Khalid Basalamah melarang (mengharamkan) atau mengajak orang lain untuk meninggalkan panggilan sayyidina kepada Rasulullah bukan berdasarkan(berdalilkan) Al Qur’an dan Hadits namun hanya berdasarkan akal pikirannya sendiri atau pendapatnya sendiri bahwa kata sayyidina bisa diucapkan kepada siapa saja sehingga dianggap merendahkan atau menurunkan derajat Rasulullah

Tampaknya ulama panutan mereka lupa bahwa panggilan sayyidina diucapkan kepada siapa saja dalam rangka penghormatan.

Begitupula Allah Ta’ala menggunakan panggilan Sayyid untuk memuliakan NabiNya sebagaimana firmanNya

annaallaaha yubasysyiruka biyahyaa mushaddiqan bikalimatin minaallaahi wasayyidaw wahashuura wanabiyyan minashshaalihiin

“Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi sayyid (panutan), menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang sholeh”. (QS Ali Imran [3] : 39)

Firman Allah Ta’ala di atas yang artinya “seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang sholeh” sekaligus membantah pernyataan Khalid Basalamah lainnya dalam sebuah video pada http://www.youtube.com/watch?v=4FIZCE3Tmx8

Pada menit ke 37:20 ketika menjawab pertanyaan “apakah Ayah dan Ibu Nabi shallallahu alaihi wasallam termasuk orang kafir ?”

Beliau menjawab “Ya, Ayah dan Ibu Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggal dalam keadaan menyembah berhala”

Pernyataan tersebut adalah sebuah kedustaan karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah bersabda bahwa Ayah dan Ibunya menyembah berhala sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2016/05/23/menyakiti-rasulullah/

Terkait kedua orang tua Rasulullah, As Suyuthi menjelaskan bahwa beberapa hadits dengan redaksi (matan) berbeda namun intinya sama menjelaskan bahwa orang tua dan kakek-nenek Nabi shallallahu alaihi wasallam suci dari kotoran syirik dan kekafiran, tidak ada di antara mereka yang kafir karena orang kafir tidak laik disebut manusia terbaik, suci atau bersih, orang kafir disebut najis.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai oran-orang yang beriman, sesungguhnya, orang-orang yang musyrik itu najis (QS At Taubah : 28)

Ibnu Hajar Al Makki menjelaskan, hadits-hadits secara redaksi dan inti dengan tegas menjelaskan bahwa kakek nenek Nabi shallallahu alaihi wasallam sampai ke Adam alaihissalam adalah manusia-manusia terbaik dan mulia. Orang kafir tidak bisa disebut manusia terbaik, mulia ataupun suci tapi najis.

Seperti itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan RasulNya dengan menjaganya di balik tulang-tulang punggung dan rahim-rahim suci, seperti itu juga saat masih kecil, beranjak remaja hingga dewasa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyucikannya dengan kenabian.

Rasulullah bersabda, Allah telah memindahkan aku dari sulbi-sulbinya para lelaki yang suci ke dalam rahim wanita-wanita yang suci yang tidak mencemariku sama sekali noda-noda jahiliah yaitu syirik dan menyembah berhala

Rasulullah bersabda, Aku senantiasa dipindahkan dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci ke dalam rahim-rahim wanita-wanita yang suci.

Rasulullah juga bersabda “ Allah Subahanhu wa Ta’ala menempatkanku di kelompok yang terbaik lalu aku terlahir di antara kedua orang tuaku, aku tidak pernah tersentuh oleh perzinahan jahiliyah, aku terlahir dari pernikahan bukan perzinahan sejak Nabi Adam hingga sampai pada ayah dan ibuku, karena itu aku adalah yang terbaik nasab dan ayahnya di antara kalian”

Ibnu Abbas berkata, “Di antara Adam dan Nuh bersela sepuluh abad, mereka semua berada di atas syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, setelah itu mereka berselisih lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Nabi”

As- Suyuthi dalam Al-Hawi dan Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya menyebutkan, antara Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Adam alaihissalam terdapat empat puluh sembilan keturunan”

Firman Allah Ta’ala yang artinya, “dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan” (QS Ash Shaffat : 77)

Selanjutnya As-Suyuthi menyebutkan serangkain atsar yang secara keseluruhan bisa diketahui bahwa keturunan Nabi shallallahu alaihi wasallam mulai dari Nabi Adam alaihissalam semuanya beriman, selanjutnya tauhid terus berlanjut pada keturunan Ibrahim dan Ismail alahissalam.

Kesimpulannya kedua orang tua Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai kepada Nabi Adam alaihissalam senantiasa terjaga oleh Allah Azza wa Jalla, senantiasa berada di atas fitrah, selalu menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala walaupun pada masa fatrah (masa kosong dari kenabian).

Berikut contoh riwayat yang menginformasikan bagaimana Ibunda Rasulullah Sayyidah Aminah terjaga dari kekufuran sebagaimana informasi dari http://www.facebook.com/note.php?note_id=189857864382154

***** awal kutipan *****
Diriwayatkan oleh Ibn Saad dan Baihaqi dari Ibn Ishak, dia berkata: “Aku mendengar bahwa di saat Aminah hamil, ia berkata: Aku tidak merasa bahwa aku hamil dan aku tidak merasa berat sebagaimana dirasakan oleh wanita hamil lainnya, hanya saja aku tidak merasa haid dan ada seseorang yang datang kepadaku. Apakah engkau merasa hamil? Aku menjawab: Tidak tahu. Kemudian orang itu berkata: Sesungguhnya engkau telah mengandung seorang pemuka dan Nabi dari umat ini, dan hal itu pada hari Senin, dan tandanya dia akan keluar bersama cahaya yang memenuhi istana Basrah di negeri Syam, apabila sudah lahir berilah nama Muhammad?

Aminah berkata: “Itulah yang membuatku yakin kalau aku telah hamil. Kemudian aku tidak menghiraukannya lagi hingga di saat masa melahirkan dekat, dia datang lagi dan mengatakan kata-kata yang pernah aku utarakan? Aku memohon perlindungan untuknya kepada Dzat yang Maha Esa dari kejelekan orang yang dengki?”

“Kemudian aku menceritakan semua itu kepada para wanita keluargaku, mereka berkata: Gantunglah besi di lengan dan lehermu? Kemudian aku mengerjakan perintah mereka, tidak lama besi itu putus dan setelah itu aku tidak memakainya lagi.”
****** akhir kutipan ******

Dalam riwayat tersebut Sayyidah Aminah memohon perlindungan hanya kepada Dzat yang Maha Esa.

“Besi itu putus” adalah salah satu bentuk penjagaan dari Allah Azza wa Jalla agar Sayyidah Aminah terhindar dari kekufuran.

Jadi mereka yang salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah karena mereka selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahaman mereka selalu dengan makna dzahir dapat berakibat dilaknat oleh Allah sehingga amal ibadah sepanjang hidupnya tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla.

Telah berkata sebagian ulama: “Telah ditanya Qodhi Abu Bakar bin ‘Arobi, salah seorang ulama madzhab Maliki mengenai seorang laki-laki yang berkata bahwa bapak Nabi berada di dalam neraka. Maka, beliau menjawab bahwa orang itu terlaknat, karena Allah Ta’ala berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan melaknat mereka di dunia dan akherat dan menyiapkan bagi mereka itu adzab yang menghinakan”. (QS. Al-Ahzab: 57).

Dan tidak ada perbuatan yang lebih besar dibandingkan dengan perkataan bahwa bapak Nabi berada di dalam neraka.

Betapa tidak! Sedangkan Ibnu Munzir dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa seseorang berkata: “Engkau anak dari kayu bakar api neraka’, maka berdirilah Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan marah, kemudian berkata yang artinya: “Bagaimana keadaan kaum yang menyakiti aku dalam hal kerabatku, dan barangsiapa menyakiti aku maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.

Salah seorang pengikut paham Wahabisme penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyyah sebelum bertaubat berpendapat bahwa kesalahan fatwa ulama panutan mereka Khalid Basalamah yang mengajak para pengikutnya untuk meninggalkan panggilan sayyidina kepada Rasulullah adalah masalah kecil , tidak perlu dibesar-besarkan dan masih ada urusan umat Islam yang lebih penting.

Sedangkan Rasulullah telah bersabda bahwa kejahatan paling besar dosanya terhadap kaum muslimin lainnya adalah melarang atau mengharamkan hanya karena pertanyaan saja bukan berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah

Rasulullah bersabda “Orang muslim yang paling besar dosanya (kejahatannya) terhadap kaum muslimin lainnya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diharamkan (dilarang) bagi kaum muslimin, tetapi akhirnya sesuatu tersebut diharamkan (dilarang) bagi mereka karena pertanyaannya.” (HR Bukhari 6745, HR Muslim 4349, 4350)

Akibatnya mereka dapat terjerumus mengikuti salafnya adalah mengikuti orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah penduduk Najed dari bani Tamim sehingga kelak diusir dari telaga Rasulullah

Dari Abu Hurairah bahwasanya ia menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Pada hari kiamat beberapa orang sahabatku mendatangiku, kemudian mereka disingkirkan dari telaga, maka aku katakan; ‘ya rabbi, (mereka) sahabatku! ‘ Allah menjawab; ‘Kamu tak mempunyai pengetahuan tentang yang mereka kerjakan sepeninggalmu. Mereka berbalik ke belakang dengan melakukan murtad, bid’ah dan dosa besar. (HR Bukhari 6097).

Dalam riwayat di atas Rasulullah bersabda “Pada hari kiamat beberapa orang sahabatku mendatangiku, kemudian mereka disingkirkan dari telaga, maka aku katakan; ‘Ya Rabbi, (mereka) sahabatku”

Dzul Khuwaishirah tokoh penduduk Najed dari bani Tamim juga termasuk salaf atau sahabat dalam arti bertemu dengan Rasulullah namun tidak mendengarkan dan mengikuti Rasulullah melainkan mengikuti pemahaman atau akal pikirannya sendiri yang berakibat menjadikannya sombong dan durhaka kepada Rasulullah yakni merasa lebih pandai dari Rasulullah sehingga berani menyalahkan dan menghardik Rasulullah dan oleh karenanya kelak akan diusir dari telaga.

Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil. (HR Bukhari 3341)

Abu Sa’id berkata; Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. kata mereka, kenapa pemimpin-pemimpin Najd yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tidak dibaginya? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu, untuk membujuk hati mereka. Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul. Ia berkata, Wahai Muhammad! Takutlah Anda kepada Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa pulakah lagi yang akan mentaati Allah, jika aku sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah memberikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kamu tidak mau memberikan ketenangan bagiku?

Abu Sa’id berkata; Setelah orang itu berlaku, maka seorang sahabat (Khalid bin Al Walid) meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuh orang itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti ORANG-ORANG YANG PANDAI MEMBACA AL QUR’AN TETAPI TIDAK SAMPAI MELEWATI KERONGKONGAN MEREKA, bahkan MEREKA MEMBUNUH ORANG-ORANG ISLAM, dan MEMBIARKAN PARA PENYEMBAH BERHALA; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad. (HR Muslim 1762)

Dalam sabda di atas Rasulullah telah memfatwakan bahwa orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah penduduk Najed dari bani Tamim telah murtad (keluar dari Islam) “bagaikan anak panah meluncur dari busurnya”. Mereka diberi julukan “anak muda” atau “orang-orang muda” yakni orang-orang yang belum memahami agama dengan baik, mereka seringkali mengutip ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, tapi itu semua dipergunakan untuk mencela, menuduh, menyalahkan, menyesatkan, mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka bahkan menghalalkan darahnya atau membunuhnya sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2016/06/12/salafnya-dzul-khuwaishirah/

Begitupula umat Islam pada masa sekarang prihatin dengan mereka yang mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka akibat pemahaman mereka selalu dengan makna dzahir sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2016/07/09/takfir-dan-makna-dzahir/

Jadi orang-orang yang kelak diusir dari telaga Rasulullah adalah orang-orang seperti Dzul Khuwashirah penduduk Najed dari bani Tamim yakni orang-orang melakukan murtad, bid’ah dan dosa besar.

Imam Mujtahid telah mengingatkan jangan sampai salah dalam berijtihad dan beristinbat (menggali hukum) dari Al Qur’an dan as Sunnah sehingga melarang (mengharamkan) yang tidak dilarangNya (tidak diharamkanNya) atau mewajibkan yang tidak diwajibkanNya karena hal itu termasuk perbuatan menyekutukan Allah sehingga termasuk dosa besar

Firman Allah yang artinya, “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf [7]: 33)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: ‘Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal, Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya,dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya”. (HR Muslim 5109)

Jadi mereka yang melarang (mengharamkan) panggilan Sayyidina kepada Rasulullah, mereka yang melarang (mengharamkan) peringatan Maulid Nabi, mereka yang melarang (mengharamkan) sedekah tahlil (tahlilan) adalah mereka yang terjerumus “BID’AH dalam URUSAN AGAMA” atau “BID’AH dalam ISLAM” yakni mereka yang menganggap buruk sesuatu sehingga melarang (mengharamkan) yang tidak dilarang (diharamkan) oleh Allah Ta’ala dan RasulNya atau mereka yang menganggap baik sesuatu sehingga mewajibkan yang tidak diwajibkan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2016/06/18/arti-bidah-dalam-islam/

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barang siapa yang membuat PERKARA BARU (BID’AH) dalam URUSAN AGAMA yang tidak ada sumbernya (tidak diturunkan keterangan padanya) maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

URUSAN AGAMA atau perkara agama meliputi perkara kewajiban (jika ditinggalkan berdosa) maupun larangan (jika dilanggar berdosa) yang berasal dari Allah Azza wa Jalla bukan menurut akal pikiran manusia

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS al-Hasyr [59]:7)

Rasulullah mengatakan, “Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. (HR Bukhari).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Imam Malik berkata “Barangsiapa yang membuat BID’AH dalam ISLAM yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah. Hal itu dikarenakan Allah telah berfirman : ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”. Maka apa saja yang pada hari itu bukan merupakan bagian dari agama, maka begitu pula pada hari ini bukan menjadi bagian dari agama”

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maaidah: [5] : 3)

Ibnu Katsir ketika mentafsirkan (QS. al-Maidah [5]:3) berkata, “Tidak ada sesuatu yang halal melainkan yang Allah halalkan, tidak ada sesuatu yang haram melainkan yang Allah haramkan dan tidak ada agama kecuali perkara yang disyariatkan-Nya.”

Imam Jalaluddin As Suyuti dalam kitab tafsir Jalalain ketika mentafsirkan “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu” yakni hukum-hukum halal maupun haram yang tidak diturunkan lagi setelahnya hukum-hukum dan kewajiban-kewajibannya.

Jadi melarang yang tidak dilarangNya, mengharamkan yang tidak diharamkanNya atau mewajibkan yang tidak diwajibkanNya termasuk BID”AH dalam ISLAM atau BID’AH dalam URUSAN AGAMA dan merupakan PERKARA BARU atau muhdats atau BID’AH yang SAYYIAH (buruk)

Oleh karenanya pelaku BID’AH dalam ISLAM atau BID’AH dalam URUSAN AGAMA seperti mereka yang melarang (mengharamkan) panggilan Sayyidina untuk Rasulullah , mereka yang melarang (mengharamkan) peringatan Maulid Nabi, mereka yang melarang (mengharamkan) sedekah tahlil (tahlilan) lebih disukai Iblis daripada pelaku maksiat karena mereka menjadikan sembahan-sembahan selain Allah dan karena para pelaku tidak menyadarinya sehingga mereka sulit bertaubat.

Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertaubat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan tapi tidak ada dalam hati orang melakukan BID’AH dalam ISLAM atau BID’AH dalam URUSAN AGAMA.

Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 )

Firman Allah Ta’ala yang artinya, “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS Asy Syuura [42]:21)

Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31)

Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?” Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“

Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi).

Begitupula pelaku BID’AH dalam ISLAM atau BID’AH dalam URUSAN AGAMA seperti mereka yang melarang (mengharamkan) panggilan Sayyidina untuk Rasulullah , mereka yang melarang (mengharamkan) peringatan Maulid Nabi, mereka yang melarang (mengharamkan) sedekah tahlil (tahlilan) terjerumus bertasyabbuh dengan kaum Nasrani yakni mereka melampaui batas (ghuluw) dalam beragama.

Kaum Nasrani melampaui batas (ghuluw) dalam beragama tidak hanya dalam menuhankan al Masih dan ibundanya namun mereka melampaui batas (ghuluw) dalam beragama karena mereka melarang yang sebenarnya tidak dilarangNya, mengharamkan yang sebenarnya tidak diharamkanNya atau mewajibkan yang sebenarnya tidak diwajibkanNya

Firman Allah Ta’ala yang artinya , “Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. (QS. al Hadid [57]: 27)

Hal yang dimaksud dengan Rahbaaniyyah ialah tidak beristeri atau tidak bersuami dan mengurung diri dalam biara. Kaum Nasrani melakukan tindakan ghuluw (melampaui batas) dalam beragama yakni melarang yang tidak dilarangNya, mengharamkan yang tidak diharamkanNya atau mewajibkan yang tidak diwajibkanNya

Para Sahabat juga hampir melakukan tindakan ghuluw (melampaui batas) dalam beragama seperti

1. Mewajibkan dirinya untuk terus berpuasa dan melarang dirinya untuk berbuka puasa
2. Mewajibkan dirinya untuk sholat (malam) dan melarang dirinya untuk tidur
3. Melarang dirinya untuk menikah

Namun Rasulullah menegur dan mengkoreksi mereka dengan sabdanya yang artinya, “Kalian yang berkata begini begitu? Ingat, demi Allah, aku orang yang paling takut dan paling bertakwa di antara kalian, tetapi aku berpuasa juga berbuka, sholat (malam) juga tidur, dan aku (juga) menikah dengan para wanita. (Karena itu), barang siapa yang menjauh dari sunnahku berarti ia bukan golonganku.”

Kesimpulannya karena mereka yang gagal paham tentang BID’AH akibat salah memahami dan menggali hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah sehingga mereka dapat terjerumus bertasyabbuh dengan kaum Nasrani yang melampaui batas (ghuluw) dalam beragama yakni orang-orang yang menganggap buruk sesuatu sehingga melarang yang tidak dilarangNya atau mengharamkan yang tidak diharamkanNya dan sebaliknya menganggap baik sesuatu sehingga mewajibkan yang tidak diwajibkanNya sehingga mereka menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.

Jadi hal yang perlu kita ingat selalu bahwa perintah meninggalkan atau larangan yakni jika dilanggar berdosa maupun perintah mengerjakan atau kewajiban yakni jika ditinggalkan berdosa harus bersumber dari Allah Ta’ala dan RasulNya atau harus berdasarkan dalil yang qath’i

Para ulama mengatakan bahwa perkara apapun yang tidak ada dalil yang menjelaskan keharaman (harus ditinggalkan) atau kewajiban (jangan ditinggalkan) sesuatu secara jelas, maka perkara tersebut merupakan amrun mubah, perkara yang dibolehkan sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2015/05/15/amrun-mubah/

Mereka yang melarang panggilan Sayyidina untuk Rasulullah pada umumnya akibat salah memahami riwayat seperti berikut.

***** awal kutipan ******
Ketika datang utusan Bani ‘Amir (kalangan pembesar Quraisy) , mereka berkata, “Engkau sayyid kami dan putra sayyid kami”.

Beliau bersabda, “Sayyid itu Allah Tabaraka wa Ta’ala.” diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4806), Ahmad (no. 16307), dan An Nasa-i dalam Al Kubra (no. 10003 dan 10005).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Wahai manusia, ucapkan (sebagian) perkataan kalian dan jangan biarkan setan memperdaya kalian. Sesungguhnya, aku hanyalah seorang hamba. Maka katakan, ‘Hamba Allah dan rasulNya’.” (diriwayatkan oleh Ahmad (no. 12551, 13529, 13597), An Nasa-i di dalam ‘Amal Al Yaum wa Al Lailah (no. 248, 249), dan Ibnu Hibban (no. 6240) )
****** akhir kutipan ******

Oleh karena mereka selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahaman mereka selalu dengan makna dzahir sehingga mereka secara tidak langsung telah memfitnah Rasulullah karena Rasulullah tidak pernah melarang umat Islam menggunakan panggilan sayyid untuk Beliau.

al-Hafizh al-Ghumari menjelaskan bahwa ketika laki-laki dalam hadits mengucapkan “engkau adalah sayyid” maka Rasulallah khawatir jika yang di i’tikadkan adalah sayyid secara haqiqi, yaitu Allah, lantaran laki-laki tersebut adalah orang yang baru mengenal agama Islam, kaidah-kaidahnya serta hal-hal yang wajib bagi Allah dan yang boleh. Maka Rasulallahpun mengingatkannya bahwa sayyid yang haqiqi adalah Allah

اَلسَّيِّدُ اللهُ

“Sayyid adalah Allah” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Jadi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits tersebut sekedar mengingatkan orang bertanya tersebut yang baru masuk Islam jangan mengi’tiqod sayyid yang haqiqi karena hanya untuk Allah Azza wa Jalla.

Begitupula dalam riwayat tersebut terdapat panggilan yang dipengaruhi oleh keyakinan kaum Yahudi yakni panggilan “Putra Sayyid Kami”

Firman Allah Ta’ala yang artinya

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” (QS At Taubah [9]:30)

“Mereka menjadikan rabbi-rabbi (orang-orang alimnya) dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (QS At Taubah [9]:31)

Panggilan yang dipengaruhi oleh keyakinan kaum Yahudi yakni panggilan “Putra Sayyid Kami” dapat kita ketahui salah satunya dalam riwayat ketika Al Husain ibn Salam mantan rabbi Yahudi yang baru masuk Islam dan Rasulullah mengganti namanya menjadi Abdullah bin Salam

Al Husain ibn Salam (Abdullah bin Salam) ketika kembali menemui Rasulullah dan berkata,

“Wahai utusan Tuhan! Orang-orang Yahudi itu cenderung suka mencela orang dan berkata dusta, saya minta engkau mengundang orang paling terpandang dan berpengaruh di antara mereka supaya menemui engkau.

(Selama pertemuan itu nanti) mohon engkau sembunyikan saya disalah satu ruangan rumahmu, lalu tanyakan pada mereka tentang bagaimana status saya selama ini di antara mereka (orang Yahudi) sebelum mereka tahu bahwa saya sudah masuk Islam…lalu coba ajak mereka masuk Islam. Kalau mereka tahu saya sudah masuk Islam niscaya mereka akan mencari-cari kesalahan saya, menuduh bahwa saya sepenuhnya salah dan menjatuhkan nama baik saya.

Rasulullah menyembunyikan Al Husain ibn Salam (Abdullah bin Salam) di salah satu ruangan rumahnya lalu mengundang orang Yahudi terpandang dan berpengaruh ke rumahnya.

Rasulullah memperkenalkan Islam pada mereka dan mengajak mereka supaya memiliki keyakinan mengikuti Rasulullah.

Mereka mulai berdebat dan berargumen tentang hal ‘kebenaran’….. Ketika Rasulullah menyadari bahwa mereka tidak memiliki kecenderungan pada Islam. Rasulullah memberi pertanyaan pada mereka:, “Bagaimanakah status Al Husain ibn Salam di antara kalian (orang-orang Yahudi)?”

“Dia adalah sayyid kami dan putra sayyid kami”

“Dia adalah rabbi dan alim ulama kami, putranya rabbi kami yang alim”

“Kalau seandainya kalian mengetahui dia telah masuk Islam, Apakah kalian semua mau masuk Islam juga?” tanya Rasulullah

“Semoga tidak terjadi! Dia tidak mungkin masuk Islam, Semoga Tuhan melindunginya dari masuk Islam” jawab mereka terkejut.

Saat itu juga Al Husain ibn Salam (Abdullah bin Salam) keluar menghampiri mereka dengan sedekat-dekatnya dan mengatakan:, “Wahai orang-orang Yahudi! Sadarilah akan adanya Tuhan dan terimalah segala risalah yang menyertai Muhammad. Demi Tuhan, kalian semua pasti mengetahui bahwa dia itu utusan Tuhan dan kalian bisa menemukan tanda kenabian pada dirinya, tersebutlah namanya dan sifat-sifatnya dalam kitab Taurat kalian. Demi diri saya sendiri, saya bersaksi bahwa dia utusan Tuhan. Saya memiliki keyakinan tentang dia dan percaya..dia orang yang benar. Saya mengenal dia…

“Kamu pendusta!” teriak mereka, “Demi Tuhan, kamu memang mahluk tercela dan tak berarti apa-apa, seburuk-buruk manusia dan tak berguna”…Dan mereka terus mencela dengan kata-kata yang merendahkan.

Al-Qur’an mengabadikan dirinya dalam suatu ayat:

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Quran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Quran lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS Al Ahqaaf [46] : 10)

Ada pula mereka yang melarang panggilan Sayyidina untuk Rasulullah berpegang pada lafaz yang dinisbatkan kepada Rasulullah yakni

لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ

“Laa tusayyiduunii fis-shalah” artinya Janganlah mensayyidkan aku dalam shalat.

Para ulama telah mengomentari bahwa hadits tersebut tidak ada asalnya dan bahkan maudhu’ atau palsu. Salah satu alasanya adalah karena hadits tersebut mengandung lahn maksudnya menyalahi kaidah sharaf yang telah dikenal oleh orang Arab .

Lafaz Latusayyiduni (لا تسيدونى), menyalahi kaidah yang telah dikenal karena seharusnya berbunyi Latusawwiduni (لا تسودونى).

Didalam bahasa Arab tidak pernah terdapat kata kerja tusayyidu. Tidak ada kemungkinan sama sekali Rasulullah shallallahu alaih wasallam mengucapkan kata-kata dengan bahasa Arab gadungan seperti yang dilukiskan oleh pengarang hadits palsu tersebut.

Dalam kitab Al-Hawi , atas pertanyaan mengenai hadits tersebut Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjawab tegas : “Tidak pernah ada (hadits tersebut), itu bathil !”.

Imam Al-Hafidz As-Sakhawi dalam kitab Al-Maqashidul-Al-Hasanah menegaskan : “ Hadits itu tidak karuan sumbernya ! “

Imam Jalaluddin Al-Muhli, Imam As-Syamsur-Ramli, Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami, Imam Al-Qari, para ahli Fiqih madzhab Sayfi’i dan madzhab Maliki dan lain-lainnya, semuanya mengatakan : “Hadits itu sama sekali tidak benar”.

Para ulama telah sepakat bahwa tidak terlarang memanggil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan panggilan sayyidina dalam arti pemimpin umat

Sebagaimana contoh panggilan sayyid yang disebutkan untuk Nabi Yahya dalam QS Ali Imran [3] : 39

“Setiap anak Adam adalah sayyid. Seorang suami adalah sayyid bagi isterinya dan seorang isteri adalah sayyidah bagi keluarganya (rumah tangga nya)”. (HR Bukhari dan Adz-Dzahabi).

Dalam hadits Rasulallah riwayat al-Bukhari (hadits no: 4712), Muslim (hadits no: 194) dan lain-lain di sebutkan:

اَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ

“Aku adalah sayyidnya anak Adam”

Jelaslah bahwa kata sayyid dalam hal ini berarti pemimpin ummat, orang yang paling terhormat dan paling mulia dan paling sempurna dalam segala hal sehingga dapat menjadi panutan serta teladan bagi ummat yang dipimpinnya.

Ibnu ‘Abbas ra mengatakan, bahwa makna sayyid dalam hadits tersebut ialah orang yang paling mulia disisi Allah.

Riwayat yang berasal dari Abu Nu’aim sebagaimana tercantum didalam kitab Dala’ilun-Nubuwwah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Aku sayyid kaum Mu’minin pada saat mereka dibangkitkan kembali (pada hari kiamat)”.

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Khatib mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku Imam kaum muslimin dan sayyid kaum yang bertaqwa”.

Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Hadits yang mempunyai isnad shahih ini berasal dari Jabir bin ‘Abdullah ra. yang mengatakan sebagai berikut: “Pada suatu hari kulihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam naik keatas mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur kehadirat Allah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya : ‘Siapakah aku ini ?’ Kami menyahut: Rasulullah ! Beliau bertanya lagi: ‘Ya, benar, tetapi siapakah aku ini ?’. Kami menjawab : Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul-Mutthalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf ! Beliau kemudian menyatakan : ‘Aku sayyid anak Adam….’.”

Berikut kutipan dari Dar Al Ifta Al Mishriyah, lembaga fatwa resmi Mesir dalam fatwa no. 292, membahas mengenai hukum mengucap “Sayyiduna” kepada Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam. Fatwa ini dikeluarkan untuk merespon permohonan fatwa bernomor 2724, yang diajukan ke Dar Alifta, mengenai masalah tersebut sebagaimana contoh yang dikutip pada http://www.hidayatullah.com/berita/read/2011/03/07/46854/hukum-sebut-sayyid-untuk-rasulullah.html

***** awal kutipan *****
Dalam fatwa itu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alahi Wassalam merupakan “Sayyid” (tuan) bagi seluruh makhluk adalah ijma’ umat Islam. Bahkan beliau sendiri telah bersabda,”Aku adalah sayyid (tuan) anak Adam”, dan diriwayat lain disebutkan,”Aku sayyid (tuan) manusia”, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Sedangkan Allah sendiri juga memerintahkan manusia untuk memuliakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang artinya, ”Sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai saksi dan pemberi kabar gembira serta pemberi peringatan agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Dan menolong-Nya, mengagungkan-Nya serta bertasbih kepada-Nya di pagi hari dan petang.” (Al Fath: 8-9)

Sebagian ulama menilai bahwa perintah mengagungkan, kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut Imam Qatadah dan As Suddi, mengagungkan Rasulullah termasuk mensayyidkan beliau.

Sahabat Sebut Nabi dengan “Sayyid”

Dari Sahl bin Hunaif Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, ”Kami melalui tempat air mengalir, maka aku turun dan mandi dengannya, setelah itu aku keluar dalam keadaan demam. Maka hal itu dikabarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Wasallam. Maka beliau bersabda, ”Perintahkan Aba Tsabit untuk meminta perlindungan.” Saya mengatakan,”Wahai Sayyidku (tuanku) apakah ruqyah berfungsi?” Beliau bersabda,”Tidak ada ruqyah kecuali karena nafs (ain), demam atau bisa.” (Al Hakim, beliau menyatakan isnadnya shahih)

Shalawat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar gunakan “Sayyid”

Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar juga menyebut “Sayyid” untuk Rasulullah dalam shalawat beliau berdua.

Ibnu Mas’ud pernah mengajarkan,”Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka baguskanlah shalawat untuk beliau, sesungguhnya kalian tidak tahu bahwa shalawat itu ditunjukkan kepada beliau. Maka, mereka mengatakan kapada Abdullah bin Mas’ud,’Ajarilah kami.’ Ibnu Mas;ud menjawab,’Ucapkanlah, Ya Allah jadikanlah shalat-Mu dan rahmat-Mu dan berkah-Mu untuk Sayyid Al Mursalin (tuan para rasul), Imam Al Muttaqin (imam orang-orang yang bertaqwa), Khatam An Nabiyyin (penutup para nabi), Muhammad hamba-Mu dan rasul-Mu, Imam Al Khair (imam kebaikan), Qaid Al Khair (pemimpin kebaikan) dan Rasul Ar Rahmah (utusan pembawa rahmat).’” (Riwayat Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Hafidz Al Mundziri)

Atsar serupa juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al Musnad, dengan sanad hasan pula.

Walhasil, menyebut Rasulullah dengan gelar “Sayyid” adalah perkara yang disyariatkan
***** akhir kutipan *****

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »