Pendapat KH Siradjuddin Abbas, dalam buku beliau “40 Masalah Agama” Jilid 3, hal 30.
Ilmu Tasawuf adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam utama, yaitu ilmu Tauhid (Usuluddin), ilmu Fiqih dan ilmu Tasawuf.
Ilmu Tauhid untuk bertugas membahas soal-soal i’tiqad, seperti i’tiqad mengenai keTuhanan, keRasulan, hari akhirat dan lain-lain sebagainya .
Ilmu Fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji dan lain
Ilmu Tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain.
Ringkasnya: tauhid ta’luk kepada i’tiqad, fiqih ta’luk kepada ibadat, dan tasawuf ta’kluk kepada akhlak
Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya beri’tiqad sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid (usuluddin), supaya beribadat sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawuf.
Agama kita meliputi 3 (tiga) unsur terpenting yaitu, Islam, Iman dan Ihsan
Sebuah hadits menguraikan sebagai berikut:
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata,
“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”
Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.”
Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.”
Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.”
Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.
Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).”
Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata.
Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)
Tentang Islam kita dapat temukan dalam ilmu fiqih, sasarannya syari’at lahir, umpanya, sholat, puasa, zakat, naik haji, perdagangan, perkawinan, peradilan, peperangan, perdamaian dll.
Tentang Iman kita dapat temukan dalam ilmu tauhid (usuluddin), sasarannya i’tiqad (akidah / kepercayaan), umpamanya bagaimana kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, Malaikat-Malaikat, Rasul-Rasul, Kitab-kitab suci, kampung akhirat, hari bangkit, surga, neraka, qada dan qadar (takdir).
Tentang Ihsan kita dapat temukan dalam ilmu tasauf, sasarannya akhlak, budi pekerti, bathin yang bersih, bagaimana menghadapi Tuhan, bagaimana muraqabah dengan Tuhan, bagaimana membuang kotoran yang melengket dalam hati yang mendinding (hijab) kita dengan Tuhan, bagaimana Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Inilah yang dinamakan sekarang dengan Tasawuf.
Setiap Muslim harus mengetahui 3 (tiga) unsur ini sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dan memegang serta mengamalkannya sehari-hari.
Pelajarilah ketiga ilmu itu dengan guru-guru, dari buku-buku, tulisan atau dalam jama’ah / manhaj / metode / jalan.
Waspadalah jika jama’ah / manhaj / metode / jalan yang “menolak” salah satu dari ketiga ilmu itu karena itu memungkinkan ketidak sempurnaan hasil yang akan dicapai.
Ilmu Tasawuf itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dan bahkan Qur’an dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya.
Andaikata ada kelihatan orang-orang Tasawuf yang menyalahi syari’at, umpamanya ia tidak sholat, tidak sholat jum’at ke mesjid atau sholat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang Tasawuf dan jangan kita dengarkan ocehannya.
Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”
Pendapat syaikh Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.
Jadi syarat untuk mendalami ilmu Tasawuf (tentang Ihsan) terlebih dahulu harus mengetahui ilmu fiqih (tentang Islam) dan ilmu tauhid / usuluddin (tentang Iman).
Dengan ketiga ilmu itu kita mengharapkan meningkat derajat/kualitas ketaqwaan kita.
Mulai sebagai muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam, Iman dan Ihsan.
Orang-orang yang paham dan mengamalkan ilmu Tasawuf dikenal dengan nama orang sufi.
Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.
Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.
Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.
Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi)
terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.
Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.
Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
Firman Allah ta’ala yang artinya: ”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)
Firman Allah yang artinya,
[38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
[38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.
(QS Shaad [38]:46-47)
********
Catatan tentang tasawuf dari link lain.
Sumber:
http://ummatiummati.wordpress.com/2010/03/08/kisah-taubatnya-salafy-tobat/
Dalam Thareqat bukan hanya diajarkan wirid saja. Tapi diajar banyak sekali ilmu-ilmu utk mendekatkan diri kepada Allah.
Karena ilmu dan dzikir adalah dua perkara yang tak boleh dipisahkan, keduanya sama2 untuk mendekatkan diri kpd Allah.
Tharekat adalah untuk mengangkat ilmu2 islam (aqidah, fiqh, muamalat, mu’asyarat, ahlaq) dari teori kedalam amal perbuatan yang dilakukan secara istiqamah, ikhlas dan ikut sunnah nabi sehingga menjadi sifat hakikat dalam dirinya….
Harus pake ijazah/izin dari guru dalam thareqat ini…..untuk membimbing kita dan agar tidak tersesat…
Ini juga disebut bai’ah sufiyah (kita berbaiat kepad mursyid untuk memegang teguh ajaran islam yg diajarkan kepadanya).
ini sangat penting dlm belajar thareqat, selain utk menjaga sanad thareqat (jika sanad ilmu terputus berarti ia tidak sambung lagi)…..juga sunnah.
ingat Nabi memberikan macam2 ba’iah. dalam kitab asyari’ah wa thareqah syaikul hadits maulana zakariya alkhandahlawi rah berkata : Bai’ah thareqat bukanlah bai’ah untuk jihad tapi bai’ah untuk mengamalkan ajaran islam dengan sempurna.
Dengan ikut thareqat bukan berarti kita berhenti menuntut ilmu, justru dgn ikut thareqat kita tingkatkan belajar kita. Karena klo kita ikut thareqat hati akan menjadi bersih shg ilmu akan begitu mudah masuk kedalam hati.
ingat nasihat imam maliki dan imam syafei :
1. Nasihat imam syafei :
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
sayang bait dari diwan ini telah dihilangkan oleh wahabi dalam kitab diwan safei yg dicetak oleh percetakan wahabi…..
2. . Nashihat IMAM MALIK RA:
و من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق
من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق
و من جمع بينهما فقد تخقق
“ dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . hanya dia siapa memadukan keduannya terjamin benar .
***********************************
Definisi Tasawuf
by : Ust Wahfiudin
Pandangan paling monumental tentang Tasawuf muncul dari Abul Qasim Al-Qusyairy an-Naisabury, seorang ulama sufi abad ke-4 hijriyah. Al-Qusyairy sebenarnya lebih menyimpulkan dari seluruh pandangan Ulama Sufi sebelumnya, sekaligus menepis bahwa Tasawuf atau Sufi muncul dari akar-akar historis, bahasa, intelektual dan filsafat di luar Islam.
Dalam buku Ar-Risalatul Qusyairiyah ia menegaskan bahwa kesalahpahaman banyak orang terhadap tasawuf semata-mata karena ketidaktahuan mereka terhadap hakikat Tasawuf itu sendiri. Menurutnya Tasawuf merupakan bentuk amaliyah, ruh, rasa dan pekerti dalam Islam itu sendiri. Ruhnya adalah firman Allah swt:
- “Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 7-8)
- ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan dia mendzikirkan nama Tuhannya lalu dia shalat.” (QS. Al-A’laa: 14-15)
- “Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang alpa” (QS. Al-A’raf: 205)
- “Dan bertqawalah kepada Allah; dan Allah mengajarimu (memberi ilmu); dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah: 282)
Sabda Nabi saw:
- “Ihsan adalah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)
- Tasawuf pada prinsipnya bukanlah tambahan terhadap Al-Qur’an dan hadits, justru Tasawuf adalah implementasi dari sebuah kerangka agung Islam. Secara lebih rinci, Al-Qusyairy meyebutkan beberapa definisi dari para Sufi besar:
- Muhammad al-Jurairy:
“Tasawuf berarti memasuki setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhlak yang tercela.” - Al-Junaid al-Baghdady:
“Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu dan menghidupkan dirimu bersama dengan-Nya.”
“Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Allah swt. Tanpa keterikatan dengan apa pun.”
“Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.”
“Tasawuf adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka.”
“Tasawuf adalah dzikir bersama, ekstase yang diserta sama’ dan tindakan yang didasari Sunnah Nabi.”
“Kaum Sufi seperti bumi, yang diinjak oleh orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, yang memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengairi segala sesuatu.”
“ Jika engkau meliuhat Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriyahnya, maka ketahuilah bahwa wujud batinnya rusak.” - Al-Husain bin Manshur al-Hallaj:
“Sufi adalah kesendirianku dengan Dzat, tak seorang pun menerimanya dan juga tidak menerima siapa pun.” - Abu Hamzah Al-Baghdady:
“Tanda Sufi yang benar adalah dia menjadi miskin setelah kaya, hina setelah mulia, bersembunyi setelah terkenal. Sedang tanda Sufi yang palsu adalah dia menjadi kaya setelah miskin, menjadi obyek penghormatan tertinggi setelah mengalami kehinaan, menjadi masyhur setelah tersem, bunyi.” - Amr bin Utsman Al-Makky:
“Tasawuf adalah si hamba berbuat sesuai dengan apa yang paling baik saat itu.” - Mohammad bin Ali al-Qashshab:
“Tasawuf adalah akhlak mulia, dari orang yang mulia di tengah-tengah kaum yang mulia.” - Samnun:
“Tasawuf berarti engkau tidak memiliki apa pun, tidak pula dimiliki apapun.” - Ruwaim bin Ahmad:
“Tasawuf artinya menyerahkan diri kepada Allah dalam setiap keadaan apa pun yang dikehendaki-Nya.”
“Tasawuf didasarkan pada tiga sifat: memeluk kemiskinan dan kefakiran, mencapai sifat hakikat dengan memberi, dengan mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan diri sendiri dan meninggalkan sikap kontra dan memilih.” - Ma’ruf Al-Karkhy:
“Tasawuf artinya, memihak pada hakikat-hakikat dan memutuskan harapan dari semua yang ada pada makhluk”. - Hamdun al-Qashshsar:
“Bersahabatlah dengan para Sufi, karena mereka melihat dengan alasan-alasan untuk mermaafkan perbuatan-perbuatan yang tak baik dan bagi mereka perbuatan-perbuatan baik pun bukan suatu yang besar, bahklan mereka bukan menganggapmu besar karena mengerjakan kebaikan itu.” - Al-Kharraz:
“Mereka adalah kelompok manusia yang mengalami kelapangan jiwa yang mencampakkan segala milik mereka sampai mereka kehilangan segala-galanya. Mereka diseru oleh rahasia-rahasia yang lebih dekat di hatinya, ingatlah, menangislah kalian karena kami.” - Sahl bin Abdullah:
“Sufi adalah orang yang memandang darah dan hartanya tumpah secara gratis.” - Ahmad an-Nuury:
“Tanda orang Sufi adalah ia rela manakala tidak punya dan peduli orang lain ketika ada.” - Muhammad bin Ali Kattany:
“Tasawuf adalah akhlak yang baik, barangsiapa yang melebihimu dalam akhlak yang baik, berarti ia melebihimu dalam Tasawuf.” - Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary:
“Tasawuf adalah tinggal di pintu Sang Kekasih, sekali pun engklau diusir.”
“Tasawuf adalah Sucinya Taqarrub, setelah kotornya berjauhan denganya.” - Abu Bakr asy-Syibly:
“Tasawuf adalah duduk bersama Allah swt tanpa hasrat.”
“Sufi terpisah dari manusia dan bersambung dengan Allah swt sebagaimana difirmankan Allah swt, kepada Musa, ‘Dan Aku telah memilihmu untuk Diri-Ku’ (Thoha: 41) dan memisahkanmu dari yang lain. Kemudian Allah swt berfirman kepadanya, ‘Engkau tak akan bisa melihat-Ku’.”
“Para Sufi adalah anak-anak di pangkuan Tuhan Yang Haq.”
“Tasawuf adalah kilat yang menyala dan Tasawuf terlindung dari memandang makhluk.”
“Sufi disebut Sufi karena adanya sesuatu yang membekas pada jiwa mereka. Jika bukan demikian halnya, niscaya tidak akan ada nama yang dilekatkan pada mereka.” - Al-Jurairy:
“Tasawuf berarti kesadaran atas keadaaan diri sendiri dan berpegang pada adab.” - Al-Muzayyin:
“Tasawuf adalah kepasrahan kepada Al-Haq.” - Askar an-Nakhsyaby:
“Orang Sufi tidaklah dikotori suatu apa pun, tetapi menyucikan segalanya.” - Dzun Nuun Al-Mishry:
“Kaum Sufi adalah mereka yang mengutamakan Allah swt. diatas segala-galanya dan yang diutamakan oleh Allah di atas segala makhluk yang ada.” - Muhammad al-Wasithy:
“Mula-mula para Sufi diberi isyarat, kemudian menjadi gerakan-gerakan dan sekarang tak ada sesuatu pun yang tinggal selain kesedihan.” - Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusy:
“Aku bertanya kepada Ali al-Hushry, ‘siapakah, yang menurutmu Sufi itu?’ Lalu ia menjawab, ‘Yang tidak di bawa bumi dan tidak dinaungi langit’. Dengan ucapannya menurut saya, ia merujuk kepada keleburan.” - Ahmad ibnul Jalla’:
“Kita tidak mengenal mereka melalui prasyarat ilmiyah, namun kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang miskin, sama sekali tidak memiliki sarana-sarana duniawi. Mereka bersama Allah swt tanpa terikat pada suatu tempat tetapi Allah swt, tidak menghalanginya dari mengenal semua tempat. Karenanya disebut Sufi.” - Abu Ya’qub al-Madzabily:
“Tasawuf adalah keadaan dimana semua atribut kemanusiaan terhapus.” - Abul Hasan as-Sirwany:
“Sufi yang bersama ilham, bukan dengan wirid yang mehyertainya.” - Abu Ali Ad-Daqqaq:
“Yang terbaik untuk diucapkan tentang masalah ini adalah, ‘Inilah jalan yang tidak cocok kecuali bagi kaum yang jiwanya telah digunakan Allah swt, untuk menyapu kotoran binatang’.”
“Seandainya sang fakir tak punya apa-apa lagi kecuali hanya ruhnya dan ruhnya ditawarkannya pada anjing-anjing di pintu ini, niscaya tak seekor pun yang menaruh perhatian padanya.” - Abu Sahl ash-Sha’luki:
“Tasawuf adalah berpaling dari sikap menentang ketetapan Allah.”
- Muhammad al-Jurairy:
Dari seluruh pandangan para Sufi itulah akhirnya Al-Qusayiry menyimpulkan bahwa Sufi dan Tasawuf memiliki terminologi tersendiri, sama sekali tidak berawal dari etimologi, karena standar gramatika Arab untuk akar kata tersebut gagal membuktikannya.
Alhasil, dari seluruh definisi itu, semuanya membuktikan adanya adab hubungan antara hamba dengan Allah swt dan hubungan antara hamba dengan sesamanya. Dengan kata lain, Tasawuf merupakan wujud cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya, pengakuan diri akan haknya sebagai hama dan haknya terhadap sesama di dalam amal kehidupan.
sumber = http://www.qalbu.net

Ass wr wb. mungkin kalau punya referensi kepada pembaca dimana bisa mencari guru untukmempelajari tasawuf yg tdk menyesatkan kita. saya sampai saat ini belum menemukan ulama salaf untuk berguru. Wass
Walaikumsalam Wr Wb
Langkah awal bisa saja melalui buku, menurut teman saya, untuk mengawali, bacalah karya-karya Ibnu Athoillah sebelum karya-karya ulama lain yang lebih “dalam”. Nanti kebutuhan guru, Allah lah yang lebih mengetahui.
Prinsipnya kita umat muslim hanya diminta beribadah/ mengabdi pada Allah sedangkan urusan lain Allahlah yang mengurusnya sebagaimana janji Allah dalam firmanNya yang artinya,
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).
Marilah kita berserah diri (Islam) kepada keinginan Allah.
Firman Allah,
“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan.”(QS Qasas :8)
Sebagai muslim kita harus selalu “berkomunikasi” dengan Alllah untuk mengetahui pilihanNya. Setelah tahu pilihanNya, berharaplah pertolonganNya untuk dapat melaksanakan/menjalankan pilihanNya secara profesional, istiqomah dan diakhiri dengan tawakal.
ada. mau?
Awal agama mengenal Allah.
Tujuan mengenal Allah adalah untuk beragama.
Jadinya mau beragama atau mau belajar tasauf.
Mana satu tujuan anda
Kalau kamu, mau Cari guru cari di kal-sel
setuju dengan apa yg sohib tulis . tanpa tau cara menuju itu bisa jadi nyasar. salah satu contoh para nabi menempuh ridonya dengan cara pake pesawat terbang. para wali pake perahu / kapal laut. sedangkan kita pake kaki itu juga kalau ga bantung .
saya mau tanya, bagaimana sufi menetapkan agama (Islam) itu? dan dari mana juga sufi mengambil sumber aqidah Islam?
Sama seperti saudara-saudara muslim lainnya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.
kalau memang demikian, saya ingin tanya juga, apakah ada riwayat yg menyebutkan kalau Rasulullah pernah berdzikir sambil menari-nari, bernyanyi-nyanyi, memimpin para Sahabat berdzikir dengan lafadz “Allah…Allah…”, “Hu….Hu….”, sampai ” Huwa…Huwa…..” -sambil manggut-manggut- (seperti beribadahnya orang-orang yahudi) dengan suara yg keras sebagaimana yg biasa dilakukan oleh orang-orang sufi?
pernahkah Rasulullah melakukan perbuatan demikian?
Begitu juga Imam SYafi’i, pernahkah beliau melakukan ritual-ritual orang-orang sufi semacam itu?
Kalau ada muslim yang menyatakan bahwa dia mengamalkan ilmu Tasawuf namun amalannya bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits maka dia adalah keliru/salah. Bukan berarti ilmu Tasawuf yang salah namun individu / kelompoknya yang kemungkinan keliru/salah
Begitu juga jika ada muslim yang mengamalkan syariat Islam dan ternyata keliru/salah maka bukan berarti syariat Islam yang salah namun individu /kelompoknya yang keliru/salah.
apakah perkataan anda itu mengartikan bahwa menurut anda amaliah-amaliah seperti berdzikir sambil menari-nari (tarian sufi), bernyanyi-nyanyi (nyanyian sufi), berdzikir dengan lafadz “Allah…Allah…”-sampai ribuan kali- yg biasa dilakukan oleh orang-orang sufi selama ini bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits? saya ingin ketegasan sikap anda terhadap amaliah semacam itu.
Saya tidak mendalami amaliah-amaliah lainnya.
Sekali lagi untuk ilmu Tasawuf saya awali dari pemahaman Syaikh Ibnu Athoillah Al Iskandary.
Metode Pemahaman Tasawuf yang Beliau sampaikan lebih mudah dicerna bagi orang awam atau orang yang baru memulai memahami ilmu Tasawuf.
O iya, di dalam tulisan anda, anda mengutip perkataan Abu Yazid al-Bustami (meninggal di Bistam, Iran, 261H/ 874M) yg merupakan pendiri tarekat Naqsyabandiyah.
Mengaku berguru pada Imam Ja’far padahal dia baru
lahir 40 tahun setelah Imam Ja’far meninggal dunia.
ada juga perkataan dia yg mungkin terlewat oleh anda atau mungkin anda sudah tau, yakni ;
Pada suatu waktu dalam pengembaraannya, setelah shalat subuh Yazid al-Bustami berkata kepada orang-orang yang mengikutinya: Innii ana Allah laa ilaaha illaa ana fa’budnii (Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku).” Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang menyertainya mengatakan bahwa al-Bustami telah gila.
Menurut pandangan para sufi, ketika mengucapkan kata-kata itu, al-Bustami sedang berada dalam keadaan ittihad (menyatunya sufi dengan Allah), suatu maqam (tingkatan) tertinggi dalam paham tasawwuf.
Dalam keadaan ittihad, seorang sufi sering mengucapkan kata-kata yang aneh, seakan-akan ia mengaku sebagai Tuhan, seperti yang diucapkan al-Bustami di atas (Sesungguhnya aku ini Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku). Al-Bustami juga pernah mengucapkan kata-kata: Subhani subhani, ma a’dhama sya’ni (Maha Suci aku, Maha Suci aku, alangkah Maha Agungnya aku).
Al-Bustami juga berkata: Laisa fi al-jubbah illa Allah (tidak ada di dalam jubah ini kecuali Allah).
Kata-kata seperti itu disebut syathahat (perkataan –aneh-aneh– yang keluar dari mulut seorang sufi ketika ittihad, menyatu dengan Tuhan). Dalam pandangan sufi, kata-kata itu bukan keluar dari seorang sufi tetapi kata-kata Allah melalui lisan seorang sufi tetapi sedang dalam keadaan ittihad. Bukan Dzat Allah yang berbicara, tetapi aspek Allah SWT yang ada pada diri shufi itulah yang sedang berbicara. (lihat Ensiklopedi Islam, huruf I, halaman 286-287)
Abu Yazid Al Busthami juga pernah berkata: “Aku heran terhadap orang yang telah mengenal Allah, mengapa dia tetap beribadah kepada-Nya?!” (Dinukil oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ 10/37).
Jadi, yang ingin saya tanyakan, orang seperti itukah yg dijadikan rujukan anda?
-Na’udzubillaahi min dzaalik-
Yang saya ambil hanya pernyataan beliau semata “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”. Pendapat seperti ini ada juga diutarakan oleh ulama lain.
Sebagaimana saya sampaikan dalam blog ini, untuk Ilmu Tasawuf saya mengambil pelajaran dari Syaikh Ibnu Athoillah Al-Iskandary. Silahkan antum mendalami kitab-kitab Beliau, InsyaAllah beliau berpegang teguh pada Syariat Islam.
dari pengalaman pribadi , zikir awalnya jelas kalimatnya, namun bila diteruskan cepat maka suaranya tidak jelas lagi, juga dengan suara yang keras. baru sadar setelah mendapat hidayah bahwa ALLAH SWT itu dekat dan tidak tuli serta menyukai kelembutan. maka yang benar zikirlah dengan kalimat yang jelas, perlahan dan lembut sehingga bisa khusyuk. pada orang tertentu orang yg zikir cepat, tdk jelas kalimatnya, cepat dan goyang berlebihan, bisa dimasuki setan yang mengaku wali, baik dalam keadaan sadar ataupun kesurupan. benar seperti yang dikatakan oleh mutiara zuhud, niatkanlah ibadah demi ALLAH SWT semata mata, maka kita akan diberi ilmu yang langsung maupun melalui seorang guru.
InsyaALLAH sy yakin RASULALLAH SAW, Imam Syafi’i Ra serta Sufi yang asli tdk akan zikir seperti orang kemasukan setan. itu adalah perbuatan orang wahabi yang menyebarkan kesesatan. apalagi ngaku Sufi terus memberi benda seperti jimat, keris, batu dll untuk dikeramatkan, jadinya kita andalkan benda rersebut, lupa bahwa ALLAH SWT pemilik langit, bumi dan segala isinya, hanya kepadaNYA kita berlindung dan memohon pertolongan. banyak orang awam yg diberi benda yg memang memiliki kekuatan, tapi darimana kita tahu apa isi benda itu sesungguhnya, kalau ada makhluk gaibnya, makanannya apa, bagaimana mengontrolnya, disinilah setan bermain, kita jadikan benda teman dekat namun kita sekeluarga disesatkan dan diserang dengan kejam!!!
saya hanya ingin ketegasan sikap anda tentang amaliah-amaliah seperti berdzikir sambil menari-nari (tarian sufi), bernyanyi-nyanyi (nyanyian sufi), berdzikir dengan lafadz “Allah…Allah…”-sampai ribuan kali-
sekali lagi saya tanya, bagaimana sikap anda terhadap amaliah-amaliah tsb? apakah amaliah-amaliah tsb termasuk sunnah atau bid’ah?
hanya ada dua pilihan saja mas, saya rasa pilihan seperti itu tidaklah sulit bagi seorang mutiara zuhud yg bahkan sudah ‘mampu’ mengkritisi seorang ulama besar macam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah……
Kita harus melakukan “verifikasi” kepada mereka yang melakukan amaliah-amaliah tersebut. Untuk itu saya merasa bukan wewenang saya secara pribadi. Kegiatan “verifikasi” seperti iitu merupakan wewenang sebuah majelis ulama dan hasilnya merupakan sebuah kesepakatan ulama atau fatwa ulama.
Saya pribadi menghindari fatwa pribadi atau fatwa kelompok yang sepemahaman saja.
Saya tidak ingin seperti saudara-saudara ku Salafy yang membuat fatwa berdasarkan metode pemahaman mereka sendiri.
saya bukannya meminta anda untuk berfatwa, keliru anda…..yang ada, saya hanya meminta anda untuk mengungkapkan apa yang anda ketahui mengenai amaliah-amaliah seperti itu berdasarkan dengan apa yang sudah anda pelajari selama ini,
lagipula, mengapa anda tidak mempunyai wewenang? bukankah anda sudah mampu mengkritik seorang ulama besar seperti Ibnu Taimiyah? masa’ untuk menentukan sikap terhadap hukum amalan seperti itu saja anda tidak mempunyai wewenang? apakah anda tidak mengetahui hukum tentang amaliah-amaliah tersebut? tentu mustahil bagi orang yang telah mampu mengkritik Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah seperti anda. itu yang pertama,
yang kedua, kalau memang anda tidak mempunyai wewenang memverifikasi hukum suatu amalan, lalu apa wewenang anda mengkritik Ibnu Taimiyah di dalam blog anda ini? bahkan sampai menganjurkan umat muslim untuk meninggalkan beliau, seorang ulamakah anda? sebandingkah ilmu anda dengan beliau?
ketiga, kalau memang anda menghindari ‘fatwa pribadi’ atau ‘fatwa kelompok’, lalu apa artinya blog anda ini? untuk apa anda membuat blog ini? padahal di dalam blog ini, anda berkata : “Saya menyarankan kepada saudara-saudara muslim Salafy, sebaiknya untuk meninggalkan metode pemahaman Salafy (Salaf ala Syaikh Ibnu Taimiyah).”, apakah itu bukan ‘fatwa pribadi’?
ternyata ucapan dan perbuatan anda tidaklah sesuai.
keempat, salafi tidak pernah berfatwa berdasarkan pemahaman sendiri, melainkan berdasarkan Al-Quran dan Hadits menurut pemahaman Salafush Shalih yakni orang-orang terdahulu yang shalih-shalih tentunya.
kelima, mengapa jika untuk mengkritik seorang ulama, anda mempunyai wewenang, akan tetapi untuk menentukan sikap terhadap amaliah yang ada di dalam kelompok atau golongan anda, anda tidak mempunyai wewenang? kenapa? kenapa? kenapa? apakah didalam tasawuf memanglah seperti itu? yakni seorang sufi di beri wewenang seluas-luasnya untuk mengkritik ulama Ahlus Sunnah seperti Ibnu Taimiyah walaupun keilmuan mereka masih terbatas?
saya harap pertanyaan-pertanyaan saya diatas di jawab satu persatu dan saya harap juga jawabannya tidaklah dalam berbentuk link atau kata-kata copy-paste.
-terima kasih-
Sekali lagi saya tidak akan menyatakan pendapat/penilaian tanpa saya melakukan verifikasi kepada mereka yang melakukan amaliah-amaliah tersebut. Saya tidak akan mengulang apa yang telah dilakukan oleh Ibnu Taimiyah mengeluarkan pendapat atau menilai saudara muslim lain sebagai ahlul bid’ah secara sepihak berdasarkan pemahaman beliau dan kaumnya tentang bid’ah. Padahal dengan menyebut saudara muslim lain sebagai ahlul bid’ah dan menurut pemahaman mereka segala bid’ah tertolak maka dengan kata lain mereka menyatakan sesat kepada saudara muslim lainnya. Kita ketahui ada sebuah proses yang harus dilakukan untuk menyatakan seorang atau sekelompok muslim itu sesat atau bahkan kafir, agar pihak yang dinilai diberikan hak menjawab atau menguraikan pemahaman mereka. Sedangkan proses tersebut tidak dilakukan orang per orang namun dilakukan sebuah majelis atau lembaga yang berwenang.
Sekali lagi saya tidak melakukan kritik kepada Ibnu Taimiyah, saya sekedar menyampaikan perbedaan metode pemahaman Ibnu Taimiyah dengan metode pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah. Apalagi perbedaan tersebut ada pada masalah mendasar/pokok yakni i’tiqad. Sehingga hasil / upaya ijtihad Ibnu Taimiyah ditolak oleh jumhur ulama pada zamannya. Imam Mujtahid yang diakui adalah yang tidak ditolak oleh jumhur ulama. Lihatlah bantahan-bantahan ulama pada ijtihad Ibnu Taimiyah khususnya pada bidang pokok yakni i’tiqad di http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/07/itiqad-salafi/
Perlu saya tekankan disini, saya tidak meminta anda untuk menilai orang per orangnya, akan tetapi saya meminta anda untuk menilai PERBUATAN dari amaliah-amaliah tersebut, terlepas dari orang yang melakukannya.
seperti contohnya zina, perbuatan zina itu hukumnya haram, terlepas dari apakah zina itu dilakukan atas dasar suka sama suka atau tidak, akan tetapi tetap bahwa hukum zina adalah haram, tanpa perlu kita selidiki terlebih dahulu orang yang melakukan perbuatan zina tersebut,
seperti itulah kira-kira analoginya.
dan satu lagi yang perlu anda pahami bahwa tidak semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah itu dikatakan ahlul bid’ah, karena bisa saja orang yang melakukan perbuatan bid’ah tersebut tidak tau kalau perbuatan tersebut adalah bid’ah. Lain halnya jika orang yang melakukan bid’ah itu telah mengetahui kalau perbuatan itu bid’ah, namun ia masih tetap melakukannya, barulah dia bisa dikatakan ahlul bid’ah. Sebagaimana kita juga tidak boleh menyebut orang sembarangan dengan sebutan ‘kafir’.
Seperti itulah akhlak dan keyakinan dari Salafush Shalih.
maka, perlu dibedakan antara ahlu bid’ah dengan orang yang melakukan bid’ah,
pertanyaan saya nomor dua dan tiga belum dijawab mas,
ulama mana yang menolak fatwa Ibnu Taimiyah? ulama Shufiyyah iya jelas, sampai kapanpun, sufi dengan tasawuf-nya akan menentang Ibnu Taimiyah sebagaimana para pendahulu mereka yang menentang dakwah sunnah-nya Ibnu Taimiyah dahulu karena sampai kapanpun antara dakwah sunnah dengan dakwah bid’ah akan terus terjadi pertentangan.
jadi, saya tidak heran jika ada seorang sufi dengan ilmu ala kadarnya menentang seorang Ulama Besar seperti Ibnu Taimyah, semoga Allah merahmati beliau.
Jika patokan dasar anda menolak Ibnu Taimiyah karena beliau ditolak oleh jumhur ulama (ulama sufi) pada zamannya. Tentu hal itu merupakan dasar pemikiran yang keliru.
Jika anda membaca sejarah, bukan hanya Ibnu Taimiyah saja mas yang ditolak bahkan dipenjara karena beliau mempertahankan Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga pernah mengalami hal yang serupa.
Beliau (Imam Ahmad) juga pernah dipenjara selama 28 bulan, ketika dipenjara beliau mengimami shalat para penghuni penjara dalam keadaan kedua kakinya diborgol, bahkan beliau juga pernah dicambuk hingga darah mengalir dari tubuh beliau.
Ilmu Tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain.
Kalau ilmu tasawuf itu sebatas seperti di atas saja, maka dalam hal apa ketidak sepahaman syaikh ibnu taimiyah dengan ilmu tasawuf ?
saya berani nyatakan bahwa zikir kesurupan bukan zikir Sufi asli dan ahlul sunah wal jama’ah. itu zikir sesat dan ditemani setan. apa kurang jelas yang saya terangkan diatas? kalau mau jelas jangan tanyakan sebelum menjalankan hal tersebut, nanti seperti orang buta masuk jurang. ibnu tai miyah kalau sama dengan LDII, salafiyah, dll yang merasa diri paling benar, nyatakan bid’ah sesuka hatinya terhadap hal seperti qunut, doa, orang mati tdk usah ditahlilkan, baca Yasindll. punya masjid sendiri, kalau orang shalat disana bukan golongannya, bekas tempat shalatnya disiram air. sesungguhnya merekalah manusia najis dan menjijikkan.
saya tidak pernah menyinggung-nyinggung soal dzikir kesurupan mas, yg saya tanyakan itu adalah hukum dzikir sambil menari-nari, tolong kata-kata saya jangan dipelintir seperti itu, sejak kapan menari-nari itu disinonimkan dengan kesurupan? tolong juga jangan dialihkan permasalahannya ke dzikir kesurupan, soalnya dari makna kedua kata tsb aja sudah beda mas antara menari dengan kesurupan….
Ibnu Taimiyah koq disamain dengan LDII? Salafi koq disamain dengan LDII? koq anda bisa ya bicara seperti itu? dasarnya apa ya? kalo ternyata tidak terbukti kan namanya jadi fitnah mas….tolong dipelajari dulu, diteliti dulu sebelum bicara, siapa itu Salaf, siapa itu Salafi, dan siapa itu LDII….lucu sekali menurut saya, Salaf koq disamain dengan LDII…..?
kalo bahasa jawanya itu, anda itu ngomongnya udah ‘asal jeplak’ mas, kalo ‘asal jeplak’ seperti itu, anak kecilpun juga bisa melakukannya….
kalo soal merasa paling benar, itu sudah tabi’at, sifat, dan kodrat manusia mas, seperti halnya anda yg juga pastinya apa yg anda sampaikan adalah benar menurut keyakinan anda, bukankah begitu? akan tetapi merasa paling benar itu haruslah disertai dengan ilmu dan ada pembuktian ilmiahnya, tidak asal bicara saja…..
ini adalah kelucuan anda yg kedua, apakah benar yg membuat masjid sendiri itu adalah ikhwan salaf? benarkah yg bukan golongannya tidak boleh shalat disitu? bahkan bekas tempat shalatnya disiram dengan air, benarkah demikian? kalo tidak benar, hukumnya jadi fitnah mas…
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (Q.S An-Nisa’ : 112)
“Barangsiapa yg menuduh seorang muslim secara dusta, maka Allah akan menempatkannya di tanah lumpur neraka sehingga dia mencabut ucapannya.” (H.R Abu Dawud : 3597, Ahmad 11/70, al-Hakim dalam al-Mustadrak 11/27 dan beliau menshahihkannya)
atau apakah anda cuma dengar dari orang-orang saja?
kalo cuma dengar dari orang lain saja, cukuplah Sabda Rasulullah yg menjelaskannya ;
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila dia senantiasa menceritakan semua yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)
kalo LDII yg melakukannya, saya percaya mas karena mereka memang memiliki masjid sendiri dan orang-orang diluar kelompoknya kafir bahkan najis.
berdasarkan pengalaman, justru selama ini sebaliknya mas, ikhwan salaflah yg suka mendapat perlakukan tidak menyenangkan, bahkan saya pernah diinjak kaki saya hanya karena saya ingin menempelkan kaki saya demi merapatkan shaf shalat…..
kalo tuduhan-tuduhan bahwa Salafi membuat masjid sendiri (tidak mau bergabung dengan kaum muslimin), mengkafirkan seorang muslim bahkan menajiskan seorang muslim itu saya berani katakan kalo itu hanyalah tuduhan-tuduhan kosong tanpa bukti, karena selama ini banyak orang yg mengaku-aku Salaf mas, sebagaimana banyaknya ahlul bid’ah yg mengaku-aku Ahlus Sunnah,
seperti pengalaman saya dulu, saya pernah shalat di masjid yg nama masjidnya ‘As-Salafiyah’ di daerah Jakarta, ternyata masjid tsb ada kuburannya, padahal yang saya pelajari bahwa Aqidah Salaf yang berdasarkan Al-Quran, Hadits dan ijma para Sahabat tidak pernah mengajarkan mendirikan masjid di kuburan atau sebaliknya karena Rasulullah bersabda :
“Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (H.R Al-Bukhari (no.435, 436, 3453, 3454, 4443, 4444, 5815, 5816) dan Muslim (no.531(22)) dari ‘Aisyah)
‘badar’ berkata berdasarkan hawa nafsunya ;
“…..sesungguhnya merekalah manusia najis dan menjijikkan……”
Subhanallah….inikah ajaran tasawuf yg katanya beragama menurut ‘mata hati’ itu? beragama berdasarkan ‘mata hati’ koq bisa sampai keluar ucapan-ucapan ‘kotor’ seperti itu ya?
Jadi bisa terlihat sekarang, sebenarnya siapa disini yg menajiskan dan siapa yg dinajiskan? Salafi yg dinajiskan atau Salafi yg menajiskan? jawabannya bisa terlihat dari perkataan bung ‘badar’ diatas ini…
Sejauh yg saya pelajari selama ini, Salafi tidak pernah menajiskan Sufi bahkan LDII, ga tau juga kalo misalnya Sufi yg menajiskan Salafi…..
…..waallahu ‘alam……
Bagi saya sebesar apapun karunia yang diperoleh dalam pemahaman Al-Qur’an dan Hadits, sebaiknya tidak menilai atau memvonis atau melabeli yang tidak baik atau menajiskan atau bahkan mengkafirkan terhadap saudara-saudara muslim kita lainnya. Termasuk pengakuan bahwa “pemahaman saya” yang paling benar , bisa merupakan sebuah kesombongan atau bahkan ujub karena besaran karunia Allah, dalam pemahaman Al-Qur’an dan hadits begitu luas dan dalam.
Firman Allah yang artinya,
“Maka jika Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya Roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS Al Hijr (15):29)
“Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)
Sesungguhnya ruhNya yang ditiup kepada manusia akan terrefleksi pada manusia. jika manusia itu mengikuti sifat-sifat Allah seperti contoh manusia yang pemurah dan penyayang. Sedangkan sebaliknya sebagai contoh manusia yang pemarah, kikir, pembohong adalah bentuk keterkukungan ruh dalam hawa nafsu belaka.
assalamualikum hai saudara2 ku sekalian,,,jngn lah kita saling menyalah kan dan mersa ajaran kita yang paling benar..ingat,,kebenaran itu hanyalah milik allah swt semata.dia lah yang bsa menilai dan memutuskan mana yang baik dan mana yang tidak baik..kita sebagai manusia hanya lah mahkluk yang dciptakan untuk menyembah dan mematuhi semua aturan yang di buat oleh nya..jadi jangan telalu banyak ber argument dan berandai2 kalo kita tidak tau kebenaran diatas yang benar..
Dalil Bolehnya Mengahayunkan Badan Sambil Berdzikir (Nampak Seperti menari)
Berkenaan dengan dzikrullah, Allah SWT berfirman (ArtinyaNya) : ” Yaitu orang -orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata) : “Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.” ( Surah Ali ‘Imran, ayat 91 ). Ayat ini memberi isyarat bahwa ddzikrullah boleh dilakukan dalam berbagai keadaan dan gaya.
Ummul Mukminin ‘Aisyah R.Ha pernah melaporkan bahwa Rasulullah SAW berddzikirullah ( berddzikir kepada Allah ) dalam semua keadaan. Sedang berjalan, menaiki kenderaan, berbaring, duduk, dan bermacam-macam lagi pernah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Dalam suatu riwayat pernah diceritakan bahwa Jaafar bin Abi Talib ( sepupu Rasulullah ), pernah menari-nari melenggok lentuk di hadapan Rasulullah SAW sebaik saja beliau mendengar Rasulullah SAW menyebut kepada beliau, ” Allah menjadikan rupa paras mu seiras dengan Allah menciptakan daku.” Mendengar kata-kata yang seindah dan semurni itu, terus di ta’birkan dengan menari-nari di hadapan Rasulullah SAW. Tingkah laku beliau itu atau body language beliau tidak ditegur Rasulullah SAW.
Di sinilah dikatakan atau dijadikan asal usul sandaran bahwa menari-nari sambil berddzikir kepada Allah yang dilakukan oleh ahli tarekat atau golongan sufiyyah, ada sandarannya. Sahlah berlaku tarian di majlis dzikir yang dihadiri oleh ulama’ besar yang muktabar. Antara mereka ialah Al-Imam Izzuddin Abdus Salam dan tidak diingkarinya. Ditanya Syaikhul Islam Sirajuddin al-Balqini tentang persoalan tari menari dalam majlis dzikir, lalu dijawab beliau dengan mengiyakannya, yakni boleh dilakukan. Ditanya al-A’llamah Burhanuddin al-Abnasi, perkara yang sama maka beliau menjawab dengan membolehkannya. Ditanya ulama’ besar dalam mazhab Hanafi dan Maliki, semuanya menjawab, ‘tidak mengapa dan boleh dilakukan.’ Semua jawaban ini dibuat dengan bersandarkan kepada ayat di Surah Ali Imran di atas beserta hadis yang diriwayatkan oleh Jaafar Abi Talib.
dzikir (dalam hati) sambil buang air besar aja boleh….!!
masa dzikir sambil mengayunkan badan tak boleh!!
dzikir dimana dan kapan saja….!!
saudara alamsyah terus menekankan bahwa zikir kesurupan adalah zikirnya sufi dan kaum ahlus sunah wal jama’ah, padahal itu adalah zikirnya orang yg mengaku sufi, aslinya cucu dajjal. anda sungguh berani menyamakan hukum zina dengan zikir. niat saudara adalah berharap mutiara zuhud akan mengatakan zikir kesurupan yang dilakukan sufi palsu itu bid’ah, maka semua zikir itu bid’ah, seperti zina dalam bentuk apapun tetap zina. ingatlah kaum Muslimin, hati hati dengan orang yang hanya pandai berbicara, tdk ada isinya. tujuannya hanya menyesatkan kita agar jangan berzikir. ALLAH SWT menyuruh kita untuk mengingatNYA(dalam bentuk zikir) dalam kondisi duduk, jalan, diam, sepanjang hari, tentunya semampu kita dengan penuh keikhlasan.
sekali lagi, saya tidak pernah menyinggung-nyinggung soal dzikir kesurupan, saya hanya tanya hukum dzikir sambil menari-nari, apa kurang jelas kata-kata saya?
siapa juga yg menyamakan dzikir dengan zina? tolong cermati dulu kata-kata saya, orang Islam paling bodoh (dalam hal agamanya) juga tau kalo dzikir dan zina itu berbeda, tidak sama, dzikir itu perbuatan taat, sedangkan zina perbuatan maksiat,
jadi (maaf) tidak sedangkal itu anda memahami kalimat saya….
kalo seandainya saya bilang bahwa dzikir sambil menari-nari (bukan kesurupan sebagaimana yg anda katakan) itu adalah bid’ah yg sesat, maka bukan berarti perbuatan dzikir itu adalah sesat, adapun dzikirnya bukanlah bid’ah yg sesat, bahkan termasuk Sunnah, akan tetapi yg bid’ah itu adalah cara pelaksanaan dan sifat dzikirnya itu sendiri,….
seperti contohnya jika ada seseorang yg melarang shalat subuh 3 rakaat, lantas bukan berarti orang yg melarang tsb telah melarang orang lain untuk shalat shubuh, yg terlarang adalah cara pelaksanaan shalatnya tsb yg menyelisihi Sunnah Rasulullah…..
kalo anda bilang bahwa orang-orang seperti saya tujuannya hanya untuk menyesatkan kita (ummat muslim) agar jangan berzikir.
maka saya bilang itu namanya su’udzon mas, bahkan saya berani bilang itu fitnah…..
kalo memang tuduhan anda benar, coba anda tunjukan satu kalimat saja dari saya yg menggambarkan tuduhan anda tsb….
hari gini bicara bid’ah mau jadi pahlawan kesiangan apa?
anda benar
orangmah g usah neko neko
waktunya shalat salat
: tidur tidur
: makan makan
Saudara Badar benar adanya.
Biasanya orang yang pintar bicara alias banyak omong biasanya seperti tong kosong nyaring bunyinya. justru orang mengerti dan paham di ibaratkan seperti padi, semakin dia berisi maka dia semakin tunduk.
Menurut saya Alamsyah and mutiarazuhud sebetulnya tidak memahami betul bagaimana mengenal allah dalam tasauf. justru dengan zikir dalam kondisi duduk sepanjang malam [semampunya] allah akan semakin dekat kepada kita. allah itu hanya sekedar menyandang nama, tapi tahukah anda siapa itu allah. justru dengan kita sering menyebut namanya kita akan melihatnya dengan mata batin kita. tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu dan menghidupkan dirimu bersama dengan-Nya.pahami kata ini dan jangan hanya pintar ngomong!!!!!!
kalau saya bisa memahami pendapat dari saudara alamsyah dia murni orang sareat dan hanya memahami perintah lima kali sehari semalam dan pada ahirnya nanti akan mati busuk setelah hidupnya pisah dari jasadnya atau kalau dia orang tarekat, jasadnya tidak busuk setelah berpisah dari hidup dan nyawanya. beda dengan tasauf yang tidak lepas dari Qur’an dan hadis yang lebih mengerti hakekat dan ma’rifat. orang yang mati ma’rifat adalah orang mengerti posisi semua hurup alip sampai hurup ya’ karena semua hurup itu punya posisi pada tubuh manusia itu sendiri.kalau kalan tidak bisa memahami ini, jangan banyak mengeluarkan energy nanti kalian menjadi lemah dan akan mati busuk
Alamsayah, Ilmu tasawuf banyak digunakan walisongo dalam mengislamkan penduduk indonesia pada waktu itu.Intinya Kalo anda katakan ilmu tasawuf sesat,sama saja anda katakan bahwa banyak ulama2 yang mempelajari ilmu tasawuf sesat.Apa wahabi dan antek2nya bisa melakukan apa yang dilakukan oleh walisongo, faham anda itu hanya soal bid’ah2 melulu,ampe butek juga berputerputer dalam hal itu.Padahal sejarah mencatat,perkembangan wahabi diikuti oleh pertumpahan darah yang nyata,mungkin karena mereka tidak pernah mempelajari ilmu tasawuf dan menyatakan bahwa tasawuf sesat dan bid’ah. mereka hanya pintar berputar2 dalam soal makna harfiah,seperti gelas tanpa isi.
Apakah benar walisongo beraqidah tassawuf? atau hanya klaim semata?
Siapa bilang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak punya kontribusi pada negara ini?
kalo anda belajar tentu tau, anda tau Imam Bonjol? anda tau Tuanku Nan Receh, anda tau Tuanku Nan Gapuk? mereka adalah beberapa pahlawan nasional yg telah berani memerangi bid’ah, kurafat dan maksiat dari kalangan kaum adat di zamannya sehingga meletuslah perang Padri dan mereka semua ini adalah para pejuang Islam yg memerangi kolonialisme Belanda.
(Lihat Pustaka Indonesia Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air oleh Tamar Djaja, cet. VI, 1965, Penerbit Bulan-Bintang, Jakarta, hal.339 dst.)
kenapa dakwah tentang bid’ah itu sangat penting? karena iblis dan bala tentaranya lebih menyukai anak adam melakukan bid’ah daripada maksiat, karena perbuatan maksiat bisa membuat seseorang suatu saat bertobat, akan tetapi orang yg melakukan bid’ah akan sulit untuk bertobat karena merasa bahwa tindakannya itu benar…..
itulah bahayanya bid’ah selain syirik…..
karena lawan dari tauhid adalah syirik dan lawan dari sunnah adalah bid’ah…..
maka sunnatullah-nya adalah
jika kita berdakwah tauhid, maka siap-siaplah akan mendapat pertentangan dari orang-orang musyirikn, begitu juga jika kita berdakwah sunnah, maka akan mendapat pertentangan dari ahlul bid’ah dan orang-orang yg melakukan bid’ah……
tasawwuf koq dibilang aqidah?
Iblis juga suka dg orang yg sombong dan merasa tinggi dg ilmunya…
Dan iblis pulalah yg menyuruh kita untuk mengaku-ngaku sbg kaum Salaf, padahal mungkin akhlak kita jauuuuh dr akhlak kaum Salaf. Bahkan bisa jadi kita sibuk mengaku2 sbg Salafi, tapi Allah tak mengakui sbg Salafi.
Ibadah itu tidak usah pakai ngaku-ngaku, cukup menghamba saja.
Semakin berilmu semakin merasa tak berilmu…(Kiasan)
Semakin beribadah semakin merasa tak beribadah…(Kiasan)
Pertumpahan darah / peperangan demi kebenaran itu diajarkan oleh Rasulullah SAW. buktinya sekarang Masjid nabi bebas dari perbuatan orang2 sufi dan kesesatan serta penyimpangan-penyimpangan lainnya yang menjerumuskan ke dalam kesyirikan.
Ciri2 dr kaum Khawarij, mereka lebih senang menumpahkan darah sesama muslim drpd memerangi akidah org2 kafir
Walisongo tidak belajar tasawuf, makanya mereka langsung memenggal kepala syaikh siti jenar ahli sufi pada masa itu.
Apakah karena walisongo itu wahabi ?
syaikh siti jenar itu mengikuti paham ittihad/hulul/wihdatul wujud oleh karena itu aqidah ini bertentangan dengan tasawuf
PENDAPAT MANUNGGALING KAWULO-GUSTI, LAHIR DARI KEBODOHAN DALAM ILMU TAUHID (Lihat Al hawi Lil Fatawa Lil Al hafidz Jalaluddin As-syuyuti Juz 2 Halaman 134)
ooo..rupanya antek wahabi yg bicara, pantas kita yang menjalankan sunah Nabi MOHAMMAD SAW dianggap syrik dan ahli bid’ah!!! pahlawan nasional bukan pahlawan Islam, juga akhlaknya yg asli belum diketahui. banyak pahlawan kesiangan yang ternyata cucu dajjal. sudah jelas alamsyah bin ibnu tai miyah bin aduh wahab tdk pernah mempelajari tasawuf, berani meremehkan pahlawan Islam seperti WALISONGO. kalau tidak ada WALISONGO, kita mungkin saat ini sedang menyembah sapi,tikus, monyet, pohon, berhala yang merupakan agama asli di Indonesia.kontribusi wahabi di Indonesia adalah merusak agama Islam dan menyebarkan kebencian kepada junjungan kita NABI BESAR MOHAMMAD SAW. kalau mau tahu, wahabi bilang orang tua RASULALLAH SAW masuk neraka, Ka’bah mau dipindahkan, kita semua juga masuk neraka kalau tdk ikut wahabi. saya hanya dapat berdoa semoga ALLAH SWT memberikan kekuatan iman kepada Ahlus sunah wal jama”ah, azablah dengan penuh kesengsaraan kepada orang yg merusak Islam didunia dan akherat, aminnn ya Robbal Alamin.
Siapa bilang orang tua rasulullah SAW masuk Surga mana dalilnya. mereka berdua di dalam neraka ada dalilnya.
Rasulullah SAW aja ridho menerima takdirnya, kenapa kita tidak ?
Mana cerita kaum sufi mengikuti menjalankan sunnah Rasulullah SAW?
Kaum sufi menghormati wali/orang soleh dengan membuat bangunan di atas kuburnya. tapi rasulullah SAW bilang bahwa perbuatan itu adalah perbuatan SEJAHAT-JAHAT MAKHLUK supaya jangan diikuti.
Rasulullah SAW bilang jangan melakukan ibadah dan perayaan di kuburan, tapi mereka melanggarnya.
Siapa bilang orang tua rasulullah SAW masuk Surga mana dalilnya. mereka berdua di dalam neraka ada dalilnya.
Rasulullah SAW aja ridho menerima takdirnya, kenapa kita tidak ?
Na’udzubillah minjalik! Ya Allah ampunilah kami.
Bagi orang-orang yg memiliki akal, tentu bisa melihat disini kadar keilmuan dari seorang manusia yg bernama ‘badar’ ini, si ‘badar’ ini berbicara tanpa ilmu, perkataannya tidak lain hanyalah luapan emosi belaka yg lebih mengedepankan hawa nafsunya, perkataannya tsb semakin menandakan ketidakmampuan si ‘badar’ ini dalam berargumen secara ilmiah, yg ‘badar’ bisa hanyalah menuduh (tanpa bukti), mencela, memfitnah, mencaci maki serta bersumpah serapah saja, seperti itulah akhlak dan adab seseorang yg tidak memiliki ilmu tapi ngomongnya besar…..saya maklumi……
si ‘badar’ berkata ;
“……berani meremehkan pahlawan Islam seperti WALISONGO…..”
komentar saya ;
Siapa yg meremehkan Walisongo? coba tunjukan bukti bahwa saya meremehkan walisongo, kalo tidak ada bukti, maka sama saja bahwa anda telah memfitnah saya…..
saya hanya bertanya, apakah benar walisongo itu beraqidah tasawuf? ataukah itu hanya klaim sepihak dari orang-orang sufi saja sebagaimana mereka (sufi) juga mengklaim bahwa Rasulullah adalah seorang sufi?
si ‘badar’ ini menganggap orang-orang yg bersebrangan dengannya (dalam hal ini yg dimaksud pastinya adalah Salafi) sebagai cucu dajjal (baca; kafir), bukankah itu artinya bahwa si ‘badar’ dengan kepandirannya ini secara tidak langsung telah mengkafirkan Salafi? jadi siapa disini yg suka mengkafirkan seorang muslim? Salafi yg suka mengkafirkan atau justru Salafi yg dikafirkan? jawablah dengan akalmu itu…..
Merupakan Sunnatullah bahwa akan banyak celaan, fitnah, dan tuduhan yang miring yang dilontarkan kepada orang-orang yang menyebarkan dakwah tauhid, memberantas syirik, bid’ah dan mengingatkan ummat atasnya.
Sebagaimana yg pernah menimpa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, yang dalam menyebarkan dakwahnya beliau dicela, difitnah, bahkan disakiti oleh orang-orang yang tidak menyukai dakwah tauhid beliau.
Maka barangsiapa yang mengaku mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam beragama dan berdakwah, pasti akan mengalami hal yang sama seperti Rasulullah dahulu yakni dicela, difitnah dan mendapat tuduhan-tuduhan yang jauh dari kebenaran untuk menjauhkan ummat kepada dakwah tauhid yang dibawanya.
logikanya saja, apa mungkin manusia yg paling mulia didunia lahir dari orang tua yg masuk neraka? darimana situ tahu, apa saudara salafi ini lurah di neraka sehingga bisa tahu pasti penghuninya siapa.
buta kali ya… tidak melihat kita yg menjalankan sunah Nabi seperti ziarah kubur, baca Yasin, tahlil tujuh hari untuk orang yg meninggal, doa sesudah shalat jama’ah, shalat Sunah sebelum dan sesudah shalat wajib, hajatan/syukuran dengan zikir dan doa bersama saudara/tetangga, baca doa qunut, zikir semampunya, memperingati maulid Nabi, shalat tidak bergerak berlebihan dll.
makam para wali aslinya sederhana, hanya ada nisan sebagai tanda, tapi pengurusnya kemudian membuatnya demikian, lalu bagaimana dengan dedengkot wahabi di arabsaudi yg sengaja membangun makam Nabi dengan semewah mewahnya? seolah olah NABI MOHAMMAD SAW itu orang yg cinta dunia?
ziarah kubur yg benar adalah berdoa memohon ampunan untuk ahli kubur dan kita kepada ALLAH SWT dengan zikir dan baca Yasin, yg bid’ah itu mintanya kepada selain ALLAH SWT, apanya yang salah? apa tidak sebaiknya ajarkan cara ziarah kubur yg benar daripada bisanya bilang bid’ah.
si ‘badar’ berkata ;
“…….logikanya saja, apa mungkin manusia yg paling mulia didunia lahir dari orang tua yg masuk neraka?………”
komentar saya ;
mungkin saja hal tsb bisa terjadi, kenapa tidak bisa? buktinya Nabi Ibrahim memiliki ayah yg notabenenya adalah seorang pembuat sekaligus penyembah berhala….
Perkataan/logika anda itu lemah hukumnya dan layak untuk ditolak karena tidak didukung dengan dalil, hujjah atau referensi dan argumentasi yang jelas dan akurat, dan hanya berdasarkan kepada persangkaan dan dugaan saja, yang tentunya jauh dari ilmu.
itu bantahan saya secara akal, adapun berdasarkan dalil bahwa orang tua Rasulullah masuk neraka adalah ;
Hadits Pertama.
“Artinya : Dari Anas, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya, “Ya Rasulullah ! Di manakah tempat ayahku ?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “Di Neraka!”
Maka tatkala orang itu berpaling hendak pergi, beliau
memanggilnya, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu tempatnya di neraka” [Hadits shahih Riwayat Muslim juz I halaman 132 dan
133]
Hadits Kedua.
“Artinya : Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ziarah ke kubur ibunya, lalu ia menangis yang menyebabkan orang-orang disekelilingnya (para shahabat) turut menangis.
Lalu beliau bersabda, ‘Aku meminta izin kepada Tuhanku supaya aku dibolehkan untuk memohonkan ampun baginya, tapi tidak diizinkan bagiku. Lalu aku meminta izin
supaya aku dibolehkan menziarahi kuburnya, maka diizinkan bagiku. Oleh karena itu ziarahilah kubur-kubur itu, karena menziarahi kubur itu dapat
mengingat mati” [Hadits shahih Riwayat Muslim (3/65), Abu Daud (no 3234), Nasa'i (2/72), Ibnu Majah (no. 1572), Baihaqi (4/76), Ahmad dan Thahawi (3/189).
(Periksalah kitab : Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 halaman 393, 394 dan 395, Ahkamul Janaaiz halam 187, 188 masalah ke-121 oleh Muhaddits Syaikh Muhammadn Nashiruddin Al-Albani.)
Hadits Ketiga.
"Artinya : Dari Buraidah, ia berkata, "Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan/safar, lalu beliau turun bersama kami, sedangkan kami pada waktu itu mendekati seribu orang. Kemudian beliau shalat dua rakaat (mengimami kami), setelah selesai beliau menghadapkan wajahnya kepada kami sedangkan kedua matanya mengalir air mata. Lalu
bangkitlah Umar bin Khaththab menghampirinya dan berkata. 'Ya Rasulullah, mengapakah engkau (menangis)?'
Beliau menjawab, 'Sesungguhnya aku telah meminta kepada Tuhanku Azza wa Jalla untuk memohon ampunan bagi ibuku, akan tetapi Ia tidak memberiku izin kepadaku, maka dari itulah mengalir air mataku karena kasihan kepadanya yang ia termasuk (penghuni) neraka". [Hadits shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Hakim (1/376), Ibnu Hibban (no.
791), Baihaqi (4/76) dan Tirmidzi]
“Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam” (At-Taubah : 113)
Maka, bisa saya simpulkan bahwa logikanya si ‘badar’ ini bathil dan sangat layak untuk ditolak berdasarkan dalil diatas….
astaghfirullahhal ‘azim…wahai saudara2ku sekalian islam itu gak mngajarkan kita untuk saling menjatuh kan sesama muslim.ingat itu!!
gimana islam mau besar dan berkembang kalo dalam tbuh islam itu sendiri mash tedapat pertikaian dan perbedaan dalam diri masing2 individu.saling berdebat dlm masalah dalil dan hadits.saling merasa benar dengan ajaran nya.
logika nya gini aja..1.alqur’an adlh prktaan allah,
2.hadits adalah perkataan nabi besar muhammad SaW.
3.DALIL adlh perkataan ataupun perkiraan para ulama.
nah dari 3 poin di ats setidak sodara2 sekalian bsa berfikir secara logika mana yang harus di jadikan panutan.
kalo menurut pribadi saya sendiri”kalo ingn slmata dunia akhirat berpegang teguh lah pada alqur’an dan hadits krna itu adalah kbenaran yang hakiki yang datang nya dari allah dan nabi muhammad S.A.W.
Pertanyaan saya apakah anda yakin bahwa kedua orang tua Rasulillah SAW di neraka? Kalau anda yakin inilah sebenar benar bid’ah.
Telah jelas ada dalil bahwa kedua orang tua Rasulullah ada di neraka beliau sendiri yang menyebutkannya.
Kalo cuma pake logika wah gak berdasar …
Mas badar, saudi bukan wahabi, dari zaman dulu juga gak ada ulama yang setuju memasukkan kuburan ke dalam masjid biar jadi luas, Apakah mereka para ulama diam saja ketika itu sampai sekarang? jawabnya adalah ulama itu bukan pemberontak sampai saat ini tidak punya kekuatan untuk amar maruf nahi munkar.
Kalau saja sekarang saudi itu betul-betul wahabi salafi, maka insya Allah bakal direnovasi agar terpisahkan kuburan dengan masjid, BONGKAR SEKALIAN KUBAHNYA JUGA.
Shalat di dalam masjid nabi BOLEH KARENA ADA DALIL TENTANG KEUTAMAANNYA DAN SAMPAI KIAMAT PUN TETAP DALILNYA BERLAKU.
SODARA KU..DALIL jangan terlalu dijadikan patokan ataupun ukuruan dalam memutuskan dan memvonis sesuatu hal apalagi yang berkaitan dengan islam.jangan sampai kita sesama muslim saling berperang mulut hanya gara2 dalil.bisa aja ulama terdahulu salah dlam menafsirkan suatu hadits,nah.kalo mereka slah otomatis kita juga ikut salah donk .y gak?kerna kita gak prnah ketemu langsung ataupun membaca TEKS asli dalil yang di tulis oleh ulama2 yang terdahulu..bisa aja kan dalil yang prnah kita bca sudah banyak di tambah2 ataupun di kurang2in oleh para pnulis.logika kan?contoh umum nya aja gini..”saya bercrta sama si fulan dari A sampai C nah sifulan menceritakan lagi cerita yng saya ceritain td sama si fulin dari A sampai ke D”brrti dah nambah satu poin donk.krna gak mngkin sifulan bisa ingat semua kata yang saya ceritakan td,jd ats ini siatif si fulan sendiri d tambahin lah kalimat D.krna mnusia tu gak ada yang sempurna..ksempurnaan hanya milik allah semata.
tahlilan dan maulidan disangka sunnah nabi, yang benar aja…..
siapa bilang siti jenar sufi/Islam? pengikutnya sekarang adalah orang aliran kepercayaan/kejawen. bisa marah mereka kalau siti jenar dibilang orang Islam.
yang mengalahkan/menangkap siti jenar adalah SUNAN KALIJAGA yg notabene orang jawa asli. jangan coba coba adu domba ya , dasar manusia licik…
siapa bilang siti jenar dipenggal kepalanya? emang ente lihat langsung kejadiannya? yg benar moksa {pindah kealam gaib}. tanya dulu sama pengikutnya sebelum membuat pernyataan memfitnah.
siapa bilang LDII dan wahabi tdk sama? prinsip dasar mereka adalah: selain golongan mereka, semua masuk neraka!!! jadi bukannya mereka anggap kita semua itu najis dan pantas masuk neraka??? emang surga kepunyaan bapak moyangmu?????
gosip aja nih, anda ini kata siapa? laki-laki koq suka ngegosip sih?
Aqidah Salaf yang berdasarkan Al-Quran, Hadits dan ijma para Sahabat itu tidak pernah bilang bahwa si fulan masuk surga, si fulan masuk neraka, si A masuk neraka, si B masuk surga…tidak pernah….
adapun Salaf berkeyakinan bahwa Allah akan mengampuni semua dosa kecuali syirik dan akan kekal ia di neraka jika sampai ajal menjemputnya ia tidak bertaubat dari dosa syiriknya itu.
tertibnya adalah sebagai berikut ;
Pertama, Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah. Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik bagi siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya.” (QS. An Nisaa’: 48 dan 116)
Kedua, Allah mengharamkan surga dimasuki oleh orang yang berbuat syirik. Allah ta’ala berfirman,
إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang zhalim tersebut.” (QS. Al Maa’idah: 72)
Ketiga, seorang musyrik akan kekal berada di dalam siksa neraka. Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam dan kekal di dalamnya, mereka itulah sejelek-jelek ciptaan.” (QS. Al Bayyinah: 6)
Keempat, dosa kesyirikan akan menghapuskan semua pahala amal shalih, betapapun banyak amal tersebut. Allah ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada para Nabi sebelum engkau, ‘Jika kamu berbuat syirik maka pastilah seluruh amalmu akan lenyap terhapus dan kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)
Kelima, syirik adalah kezhaliman yang paling zalim. Allah ta’ala berfirman,
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya syirik itu adalah kezhaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)
Maka dari itu, dakwah para Nabi dan Rasul dari zaman ke zaman adalah dakwah tauhid karena tauhid adalah lawan dari syirik.
Terus prinsip beragama sodara Badar ini bagaimana saya pengen tau ? apakah golongan lain benar semuanya artinya tidak ada yang sesat ?
marah nih ye… ha ha ha….., saya ingatkan Muslimin yg beriman, ciri khas mereka memang seperti itu, mengeluarkan argumen yg bagi orang yg tidak mengetahui hadist secara mendalam akan tertipu. yang untuk jelasnya bacalah fileheboh: DINASTI SAUD SATU TRAH DENGAN YAHUDI di blog ini. baru tahu siapa mereka itu.bacalah juga halaman ini dari awal sampai akhir, perhatikan bagaimana manusia munafik seperti mereka membalik kata.
wah… kita dibilangin munafik…hmmm
Oo…saya tau, ternyata cara dan adab anda dalam berdiskusi adalah sengaja memancing orang lain untuk marah toh….
lagipula, tidak ada yg marah-marah disini, bukankah malah anda sendiri yg marah-marah? meledak-ledak, mencaci-maki, menghina, memfitnah, bahkan bersumpah serapah…..seolah-olah anda lebih membenci Salafi daripada yahudi dan nasrani, atau bahkan secara tidak langsung menyamakan Salafi dengan yahudi dan nasrani…..
memang seperti itulah adab dan akhlak ahlul bid’ah dan para pengikutnya, dikarenakan minimnya ilmu yg mereka miliki, jadi yg mereka bisa hanyalah melontarkan tuduhan demi tuduhan, caci maki, bahkan tidak segan-segan memfitnah…..
menuduh orang lain suka mengkafirkan seorang muslim, akan tetapi dia sendiri justru tanpa disadari telah mengkafirkan seorang muslim dengan menyamakan seorang muslim dengan cucu dajjal, bahkan me-yahudi-kan seorang muslim…
Na’udzubillah min dzalik……semoga saya tidak termasuk orang-orang yg seperti itu…..
Bacalah juga halaman ini dari awal sampai akhir, perhatikan bagaimana seorang anak manusia yg bernama ‘badar’ ini berargumen, tidak ada satupun dalil dari ayat Al-Quran dan Hadits yg dia bawakan, tidak ada sedikitpun ilmu yg bisa dipetik dari perkataannya, semakin memperlihatkan kadar keilmuan dia yg sesungguhnya…..ibarat tong kosong nyaring bunyinya….
Padahal yg saya harapkan adalah diskusi ilmiah, bukan ‘perang mulut’ seperti yg diharapkan si ‘badar’ ini…..
mengenai fileheboh: DINASTI SAUD SATU TRAH DENGAN YAHUDI, benarkah demikian? bukankah itu pelu diteliti lebih jauh lagi? siapa penulisnya? kapabilitas penulisnya seperti apa? jangan main ‘telan’ mentah-mentah begitu saja, karena hal ini menyangkut kehormatan dan ke-islaman seorang muslim dan berita tsb sama saja secara tidak langsung telah mengkafirkan pemerintahan Saudi yg notabenenya mereka adalah seorang muslim….
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. “ (Q.S Al-Hujarat : 6)
“Barangsiapa yg menuduh seorang muslim secara dusta, maka Allah akan menempatkannya di tanah lumpur neraka sehingga dia mencabut ucapannya.” (H.R Abu Dawud : 3597, Ahmad 11/70, al-Hakim dalam al-Mustadrak 11/27 dan beliau menshahihkannya)
Kalau seandainya benar bahwa dinasti Saudi masih keturunan yahudi, maka sudah tidak akan ada lagi umat Islam yg bisa menunaikan ibadah Haji, karena sampai kapanpun yang namanya yahudi tidak akan ridho umat Islam melakukan ibadahnya, sebagaimana firman Allah ;
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…..”
(Al-Baqarah : 120)
Dan seandainya benar kalau dinasti Saudi itu masih keturunan yahudi, tentu masjid-masjid disana akan penuh dengan kuburan-kuburan orang-orang shalih pastinya, karena Rasulullah bersabda ;
“Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (H.R Al-Bukhari (no.435, 436, 3453, 3454, 4443, 4444, 5815, 5816) dan Muslim (no.531(22)) dari ‘Aisyah)
“Mereka itu adalah suatu kaum, apabila ada orang yang shalih atau seorang hamba yang shalih meninggal diantara mereka, mereka bangun diatas kuburannya sebuah tempat ibadah dan mereka buat di didalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah pada hari Kiamat.”
(H.R Al-Bukhari (no.427, 434, 1341) dan Muslim (no.528) bab an-Nahyu’an Binaa-il Masaajid ‘alal Qubuuri wa Ittikhadzish Shuwari Fiiha wa Nahyu’an Ittikhadzil Qubuuri Masaajid (Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Larangan Memasang di Dalamnya Gambar-Gamabar Serta Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid) dan Abu ‘Awanah (I/401))
kalau juga seandainya benar bahwa dinsati Saudi itu masih keturunan yahudi, bagaimana bisa kota suci dikuasai oleh orang yahudi? dikuasai disini maksudnya adalah dikuasai dalam hal pemerintahan……
Bahkan dajjal saja tidak bisa memasuki kota suci (Mekkah dan Madinah),
Dari Anas bin Maalik, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda :
”Tidak ada satu negeri/kota pun nanti yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Setiap jalan masuk kedua kota tersebut dijaga oleh para Malaikat yang berbaris-baris, kemudian Madinah akan mengguncang penghuninya tiga kali guncangan, sehingga semua orang kafir dan munafik keluar dari tempat itu”
(HR. Al-Bukhari no. 1881 dan Muslim no. 2943)
jawablah wahai orang-orang yg berakal…….
Dajjal memang tidak bisa masuk ke dalam 2 kota suci. Tetapi org2 munafik dan kafir bisa masuk kedalamnya.
Saya pernah baca hadist yg intinya Makkah dan Madinah akan diguncang 3 kali, dan guncangan yg ke-3 akan keluarlah org2 munafik dan kafir dr dalamnya.
Jadi saat ini di Makkah dan Madinah ada org2 munafik dan org2 kafir, dan mungkin mrk bekerjasama satu sama lain.
Hadist lain yg pernah saya baca, bahwa Imam Mahdi akan memerangi Arab, Persia, Rhum, dan Dajjal. Mungkin itu tempat munculnya fitnah2 bagi kaum muslim
Allahualam
Yup, buktinya maling, copet, “penyiksa” tenaga kerja wanita ada di sana
Kembali ke masalah tasawuf.
Para wali Allah/sufi/kiyai/ulama/habaib memang punya karamah yang tidak masuk akal…….. SEPERTI BERJALAN DI ATAS AIR, MENGHIDUPKAN ORANG MATI, DAN LAIN-LAIN,
Bahkan seorang wali Allah bisa saja keluar atau menentang syariat Islam seperti membunuh seorang yang haram untuk dibunuh, dll, karena dia mempunyai asalan untuk itu…..
TAPI ITU SEMUA MENURUT BUKU KARANGAN HABAIB MUNZIR YANG BERJUDUL “MENITI KESEMPURNAAN IMAN” baca halaman 100 sampai selesai.
kalau mau baca e-book onlinenya :
http://read.kitabklasik.co.cc/2009/09/meniti-kesempurnaan-iman-habib-munzir.html
Kalau nabi Khidir membunuh anak kecil dalam surah Al-Kahfi, itu bagaimana menurut Wahabi?
siapa nih yang datang bertamu tanpa diundang? pakai peci hitam dan muka hitam. terima kasih atas kirimannya, semoga ALLAH SWT memberikan balasan yang setimpal. saya memang manusia biasa yang lemah , bodoh dan penuh kesalahan, namun hanya kepada ALLAH SWT kami berlindung dan memohon pertolongan. bila ALLAH SWT menghendaki, kalian dengan mudah dan sekejab dijadikan debu yang beterbangan. kalian dibiarkan merajalela hanya sebagai cobaan bagi hambaNYA yang beriman. tidak kami mulai selain membela diri.
sdr. badar udah pernah bedah bukunya bagaimana? tolong jelaskan.
Kenapa gak sekalian bilang Abu Lahab itu muslim mukmin, karena dia saking cintanya kepada nabi sampai-sampai membebaskan seorang budak untuk menyusui nabi shalallahu alayhi wasallam ?
hebat semuanya….saya disini hanya ingin menimba ilmu.Yang bila hati saya menerima akan saya pakai insaallah,jika tidak ya tidak kucela.Karena aku yakin semua telah diatur,sebab hak prerogatif ada ditangan allah swt.Sauaraku yang salafy hebat dengan hafalan hadisnya dan alquran.Sungguh maha benar Allah dengan segala firmanNya.sebenarnya berdebat tidak saya sukai.makanya saya menghimbau pada saudara2ku kembalilah kekomunitas masing2.yang salafi ya jangan senggol lainnya,begitu pula yang lain.
Kalau masalah tasawuf/sufi atau apalah itu perlu pemahaman yang dalam.Perbanyaklah istigfar.mulailah dari dalam hati ikuti dengan lisan.hilangkan semua yang menghalangimu dalam menghadap ilahi.terpejam misalnya..atau tunduk.bacaan dzikir yang disari’atkan bukanlah bid’ah,diamalkan dengan istikomah ribuan kalipun takada larangan.membatasipun bukan sesuatu yang salah.Jika ada perubahan yang tanpa kita kehendakipun takmasalah.karena semua itu lilahita’ala…..
Tarikat-tarikat sufi itu banyak bid’ahnya, apalagi keyakinan-keyakinannya yang menyimpang dari tarikat muhammad shalallahu a’laiyhi wasallam dan para sahabatnya yang mengikuti beliau.
Kalau soal disenggol, mestinya golongan yang katanya banyak dzikir, sabar, dan zuhud itu kan mestinya gak mesti marah-marah ITU BUKTI KETIDAK BERHASILAN METODA MEREKA DALAM TAZKIYATUN NAFS.
jangan terlalu mempersoalkan masalah surga neraka karena itu haknya Allah di mana kita di letakn maka kita harus terima,yang penting kita persiapkan dirikita untuk menghadap kpda robatu iza jangn terlalu banyak cincong kalok ingn selamat ikut jejak nabi kitta biar selamat itu intinya
Pada hakikatnya, kita sebagai umat muslim haruslah beragama berdasarkan dalil, bukan beragama berdasarkan logika, akal atau perasaan semata….
Ini bukan masalah soal senggol menyenggol pak, ini hanyalah sebatas kewajiban sesama muslim aja untuk saling mengingatkan, bukankah Rasulullah pernah bersabda yg isinya menjelaskan bahwa sampaikanlah walaupun hanya satu ayat?
kalo soal nantinya penjelasan saya dkk malah hanya mendapatkan celaan, hinaan, makian, fitnah, atau bahkan disumpah-sumpahi, yaa itu biar masyarakat aja yg menilai, siapa sebenarnya yg mewakili Islam dalam hal adab-adab berbicara…..
seandainya diskusi disini lebih banyak mudharat-nya daripada manfaat-nya, maka saya hanya bisa meminta ampun kepada Allah……
lagipula seandainya penjelasan saya ditolak, itu hak anda dan yg lainnya, karena tidak ada paksaan dalam Islam, saya disini hanya menyampaikan sebatas yg saya tau aja, tidak lebih !
tidak ada maksud saya disini untuk menggurui, saya berbicara panjang lebar begini bukan berarti anda semua yg ada disini harus ikut saya….tidak seperti itu…..
adapun saya disini hanya ingin membahas ilmu…..
itu aja…..!
sodara2 ku sekalian..
1.alqur’an adlah kata alllah yang tersurat
2.hadits adalh kata nabi yang tersurat juga
3.kitab yang d peruntuk kan bagi orng2 yang pilih OLH allah SWT
4.dalil adlah tafsiran atw perkiraan para ulama
”berpegang teguh lah pada alqur’an dan hadits”sudah jelas disitu di tekan kan kalo kita sebagai umat islam harus brpgang tguh pada poin 1 dan 2 d ats,,bkan kepda dalil yang di tafsirkan olh para ulama.
untuk orang awam yg membaca halaman ini, perlu saya beritahukan bahwa saya tahu lebih banyak hadist daripada mereka, bahkan punya satu lemari. saya berbicara dengan bahasa rakyat agar mudah dipahami,
yang penting adalah pahami ini:
1 .bila kita punya orang tua, anak,saudara yang sudah meninggal dan sangat kita hormati dan cintai, lalu kita datang berziarah menghadiahkan AL FATEHAH dan zikir dan berdoa agar dosa mereka diampuni ALLAH SWT, tiba tiba datang orang wahabi mengusir kita karena itu perbuatan sirik kata mereka. kalau kita melawan, pasti dibunuh. itu akan terjadi kalau mereka dibiarkan berkuasa seperti di arabsaudi.
2. bila kita bukan orang wahabi, maka kita semua masuk neraka.
3. tidak boleh kita tahlilkan dan doakan orang/saudara kita tercinta yg baru meninggal, cukup gali lobang. lempar kedalamnya dan tutup dengan tanah.
4. dilarang kita berdoa sesudah shalat jama’ah, baca Yasin, baca doa qunut, pakai tasbeh,pakai sajadah.
5. mereka terus menanamkan kebencian kepada Junjungan kita NABI MOHAMMAD SAW, dengan cara menjelekkan keluarga dan orang tua Beliau. mereka ingin berkata kasarnya sbb: orang tua dan pamannya masuk neraka, bagaimana anaknya? harapan mereka kecintaan kita kepada RASULALLAH SAW hilang bahkan membencinya. ingatlah!!! siapa yang akan menolong kita ketika kiamat terjadi, kita dibangkitkan dan harus mempertanggungjawabkan dosa kita dihadapan ALLAH SWT? Hanya NABI MOHAMMAD SAW yg sungguh sungguh mencintai dan mati matian membela umatnya dihadapan ALLAH SWT. soal siapa masuk surga/neraka, hanya ALLAH SWT yg berkuasa menentukannya. tapi apakah ALLAH SWT tega menolak pembelaan dari RASULALLAH SAW? jika kita membenci Beliau, bagaimana nasib kita?
6. ikatan persaudaraan dalam iman berusaha mereka hancurkan dengan melarang hajatan/syukuran yang didalamnya diisi dengan zikir, baca Yasin dan doa.
bayangkan orang semacam ini , apa bukan dajjal?
cara mereka merekrut anggotanya adalah mendatangi orang yang tertarik dengan ceramah yg penuh dengan ayat QUR’AN yg dipelintir, dirayu beramai ramai, bila tertarik akan di bai’at dengan cara diberi air minum dan dimandikan. yang berbahaya adalah air minum telah di isi dengan mantera yg akan mengikat dan menutup batin sehingga sulit untuk mengembalikan orang tersebut ke jalan yg lurus.
semua yg saya katakan adalah berdasarkan apa yang saya lihat dan alami. sebenarnya harapan kita pemerintah dan ulama turun tangan mengharamkan ajaran wahabi , tapi belum terjadi sampai sekarang.
Ayah nabi Ibrahim adalah musuh Allah padahal nabi ibrahim adalah kekasih Allah.
anak dan istrinya nabi nuh, istrinya nabi luth, mereka juga kafir.
Jadi jangan pake perasaan kalau menghukumi orang itu, mesti pakai dalil.
Sodara badar mengatakan bahwa dia lebih tau banyak hadits daripada orang2 wahabi maksudnya ibnu taimiyah? ya udah jangan sombong dong …. sifat yang gak baik buat orang tasawwuf,
Kalau saya cuma punya fotokopian sahih bukhari tok.
si ‘badar’ ini, tolonglah, jadilah orang yg amanat dalam mengabarkan suatu berita, jangan sepotong-sepotong dalam mengabarkan kepada khlayak ramai karena pengertiannya akan jadi berbeda, malah akhirnya cenderung fitnah….
Salafi tidak pernah melarang orang untuk mendoakan kerabat atau orang lain yg telah wafat, tidak pernah melarang orang berdzikir setelah shalat berjamaah, tidak pernah melarang orang membaca Yasiin, tidak pernah melarang orang berziarah kubur, kesemuanya itu kalo sepotong-sepotong menyampaikannya, akhirnya jadi fitnah….
Perlu diketahui bahwa yg terlarang itu adalah sifat, cara dan ketentuan pelaksanaan amaliah-amaliah tsb yg menyelisihi Sunnah, sebagaimana jika ada orang yg melarang shalat shubuh 3 rakaat, lantas bukan berarti orang tsb telah melarang orang itu shalat shubuh bukan?
si ‘badar’ berkata ;
“mereka terus menanamkan kebencian kepada Junjungan kita NABI MOHAMMAD SAW……..”
komentar saya ;
Bagaimana bisa, Salafi yg berdalil dengan sabda Rasulullah dibilang membenci Rasulullah?
si ‘badar’ berkata dengan hawa nafsunya ;
“……tiba tiba datang orang wahabi mengusir kita karena itu perbuatan sirik kata mereka. kalau kita melawan, pasti dibunuh……”
komentar saya ;
bisa terlihat koq, siapa sebenarnya yg suka memvonis sembarangan, sampai-sampai berani bilang PASTI DIBUNUH ! Na’udzubillah…….
ini adalah fitnah yg keji menurut saya, aqidah Salafush Shalih tidak membenarkan membunuh orang kafir tanpa haq, coba perhatikan ! membunuh orang kafir ! apalagi membunuh seorang muslim? karena Rasulullah besabda ;
” Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad (kafir yg terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin), ia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan 40 tahun ” . [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (3166)]
si ‘badar’ berkata ;
“….itu akan terjadi kalau mereka dibiarkan berkuasa…”
komentar saya ;
tenang aja, dakwah Salafi orientasinya bukanlah kekuasaan atau massa, melainkan tegaknya kebenaran, tegaknya sunnah dan tegaknya tauhid, itu yg lebih penting ketimbang kekuasaan di dunia yg fana ini….
si ‘badar berkata ;
“bayangkan orang semacam ini , apa bukan dajjal?”
komentar saya ;
Jadi, siapa sebenarnya disini yg suka mengkafirkan seorang muslim? Salafi yg suka mengkafirkan atau justru malah Salafi yg dikafir-kafirkan? bahkan tidak segan-segan didajal-dajalkan……Subhanallah……
Ingat ! kajian-kajian ilmiah Salaf itu terbuka untuk umum, dilaksanakan dimasjid-masjid umum, siapa saja boleh ikut, tanpa harus memakai ‘code dress’, tidak dilakukan dirumah-rumah kontrakan, tidak tertutup, diumumkan di media-media informasi seperti internet dan radio….
Jadi, ga ada itu pembaiatan dengan cara diberi air minum dan dimandikan, bahkan diberi air minum telah di isi dengan mantera…..
lucu sekali menurut saya, Salaf tidak mengenal mantra-mantra, jampe-jampe dsb, itu hanyalah cerita-cerita kurafat yg sengaja dikarang…sangking tidak punya hujjah dan alasan lagi untuk menolak dakwah Salaf, jadinya dbuatlah cerita-cerita karangan seperti itu…..
Akh, Alamsyah, semoga dirahmati Allah
Dilematis memang kaum Salafi, karena mereka “menolak” penamaan / identitas kaum. Sehingga sebagian yang sekedar “mengaku” manhaj salaf namun berkelakukan tidak sebagaimana manhaj Salaf seperti kerap menuduh saudara muslim lain dari mereka sebagai sesat atau bahkan kafir. Padahal mereka menuduh saudara muslim lain berbekal atau sebatas pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an dan Hadits. Padahal kita ketahui bahwa merupakan kehendak Allah kepada siapa, Allah karuniakan pemahaman yang dalam sebagaimana firman Allah yang artinya, “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269)
Untuk itu dalam blog ini saya batasi yang dimaksud Salafy adalah yang mengikuti metode pemahaman Ibnu Taimiyah dan ulama yang sepemahaman dengan beliau.
Soalnya ada pula saudara-saudara muslimku yang ber manhaj Salaf, secara visual mereka yang pria, berpakaian mengikuti sunnah dengan celana ngantung dan baju/kemeja yang disesuaikan, menghafal Al-Qur’an dan banyak hafal hadits, mengutamakan sholat wajib berjamaah dan diwaktu awal, menjalankan sholat sunnah, puasa senin-kamis, namun mereka tidak mengikuti metode pemahaman Ibnu Taimiyah dan ulama yang sepemahaman dengan beliau.
Salah satu yang tampak perbedaan secara kasat mata adalah mereka ketika mengimami sholat yang dijaharkan, mereka menjaharkan “Bismillaahirrahmaanirrahiim” baik ketika membaca Al-Fatihah maupun awal pembacaan surah.
Orang-orang yg tidak suka dengan dakwah Salaf selalu menuduh dengan hawa nafsunya bahwa Salafi suka mengkafirkan kaum muslimin, akan tetapi tanpa disadari justru mereka yg menuduh itulah yg mengkafir-kafirkan Salafi seperti yg bisa terlihat disini…..
Bagi anda yg masih memiliki akal sehat, tentu bisa menilai dan melihat, Salafi yg suka mengkafirkan atau justru Salafi yg dikafir-kafirkan? sampai-sampai disamakan dengan yahudi bahkan dajjal…..
Renungkanlah wahai orang-orang yg berakal !
Mengenai al-Hikmah (kefahaman tentang Al Quran dan As Sunnah) yg terdapat di dalam surat al-Baqarah : 269 tsb, apakah di ayat itu disebutkan bahwa al-Hikmah HANYA diberikan kepada orang-orang sufi? tidak untuk orang lain? seolah-olah HANYA orang sufi sajalah yg mendapatkan al-Hikmah dari Allah, jika ada orang lain yg tidak sepaham dengan mereka (sufi), itu artinya dia tidak (belum) diberikan al-Hikmah dari Allah….pemahaman macam apa ini?
Jadi, siapa sebenarnya disini yg merasa dirinya paling pintar? merasa dirinya paling paham terhadap Al-Quran dan Hadits, merasa hanya dirinya dan kelompoknyalah yg mendapatkann al-Hikmah dari Allah, sedangkan orang lain tidak !
Saya meyakini bahwa sesungguhnya al-Hikmah (kefahaman terhadap Al-Quran dan As-Sunnah) tidak ‘turun’ begitu saja seperti turunnya air hujan ke bumi, tidak ‘turun’ hanya lewat mimpi semata atau tidak ‘turun’ hanya lewat pertapaan saja, akan tetapi saya percaya kalo ilmu dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu bisa ‘turun’ melalui proses belajar (menuntut ilmu) dengan dibimbing oleh seorang guru pastinya, sebagaimana dahulu juga para Sahabat berguru kepada Rasulullah, Imam Syafi’i yg berguru kepada Imam Malik, dan juga Ibnu Qayyim al-Jauzy, Ibnu Katsir, serta Ibnu Hajar yg berguru kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah……
Dari Abu Hurairah, dia berkata :” Telah bersabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam : “Hanyasanya aku ini kepada kamu, berkedudukan sebagai bapak yang mengajarkan kepada kamu…..”
(H.R Abu Dawud (no.8))
Berkata Abu Musa al Asy’ariy : “Sesungguhnya Rasulullah pernah berkhotbah kepada kami. Lalu beliau menjelaskan kepada kami Sunnah kami dan mengajarkan kepada kami (cara) shalat kami….”
(H.R Muslim juz II hal. 14-15. Abu Dawud (no.972), Nasaa-i juz II hal.241, Ibnu Majah (no.601), Ahmad juz IV hal.394, 401 & 405, ad-Daarimi juz I hal.300-301 dan Baihaqiy juz II hal.140-141)
Ass Wr Wb.
saudaraku Joko Sutikno benar, semua yang terjadi adalah kehendak ALLAH SWT. hanya saja kita diperintahkan menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. tidak setitikpun ria yang saya niatkan, sesungguhnya ALLAH SWT menciptakan segalanya berpasangan dan seimbang. kesombongan , merekalah yg mulai. mohon maaf kepada pembaca dan ampun kepada ALLAH SWT bila ada kesombongan dari diri saya baik yang disengaja maupun tidak disengaja. mohon pamit, cukup sampai disini tulisan saya.
Ass Wr Wb.
Mas Mutiara Zuhud, sebagai tamu saya lupa pamit dan minta maaf bila ada kesalahan, semoga ALLAH SWT membalas dengan pahala yang sebesar besarnya atas usaha Mas untuk menegakkan kebenaran. semoga juga dikuatkan hati dan iman serta diberikan kesabaran. Mudah mudahan kita ada jodoh untuk menjalin persaudaraan.
Wass
Walaikumsalam Wr. Wb.
Akh Badar, semoga Allah merahmati akhi.
Terima kasih atas komentar-komentar yang diberikan khususnya pada tulisan tentang ilmu Tasawuf dan secara umum pada blog mutiara zuhud ini.
Saya pribadi dapat memahami “semangat” yang tampak pada komentar-komentar yang akhi tuliskan namun pada ujungnya akhi menuliskan kata “pamit” ?
Sebaiknya tidak perlu “pamit”, cukuplah “istirahat” sejenak atau menurut kaum Tasawuf, “mati”lah sejenak untuk merasakan dan mengalami bersama Allah. Kemudian dengan “bersama” Allah tulislah komentar-komentar yang perlu disampaikan dengan begitu akhi akan membebaskan tulisan Akhi dari hawa nafsu. Pesan untuk saya, akhi dan pembaca pada umumnya, lakukanlah apa yang Allah kehendaki. Kesadaran inilah yang InsyaAllah mengendalikan hawa nafsu kita.
Dalam blog ini ada beberapa tulisan-tulisan saya dan tulisan-tulisan yang saya sebutkan sumbernya dalam rangka untuk mengingatkan saudara-saudaraku Salafy (khusus untuk pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah dan sepemahaman). Kelemahan mereka saya telah tuangkan dalam tulisan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/13/kelemahan-salafiyyah/
salah satu kelemahan mereka adalah menolak pengajaran bidang Ilmu Tasawuf (tentang Ihsan / Ma’rifat).
Andaikan saja saudara-saudaraku salafy mau meluangkan waktu dan membaca kitab/buku, sebagai contoh “Ar Risalatul Qusyairiyah fi ‘Ilmit Tashawwuf, Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi atau versi terjemahan “Risalah Qusyairiyah”, sumber kajian ilmu tasawuf, penterjemah Umar Faruq, penerbit Pustaka Amani, Jakarta. InsyaAllah dengan buku/kitab tersebut, saudara-saudara ku Salafy dan pembaca pada umumnya dapat memahami tentang dasar-dasar Ma’rifatullah sehingga dapat memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang Allah “di atas langit”.
Syaikh Al-Qusyairy adalah seorang imam dalam majelis tadzkir. Pembicaraannya amat berpengaruh hingga meresap kedalam sanubari para jama’ahnya. Abu Hasan Ali bin Hasan Al-Bakhirizi yang hidup di tahun 462 H/ 1070M, sering menyebut-nyebut kehebatannya, bahkan memujinya dengan sanjungan yang amat istimewa. Beliau mengatakan, “seandainya sebuah batu cadas diketuk dengan “tongkat peringatan”-nya niscaya akan meleleh menangis, dan seumpama iblis tetap aktif mengikuti majelis tadzkirnya, niscaya dia akan tobat. Subhanallah.
Pamit mau kemana, memangnya sudah cukup puas menuduh dan memfitnah wahabi ?
Wahabi tidak merekrut orang untuk menjadi anggota, tapi mendakwahkan dengan terang-terangan….
tuh lihat Toko Buku Gramedia penuh dengan kitab2 dakwah ulama wahabi.
Pengalaman dari orang Awam
Dulunya saya seminggu sekali ikut pengajian umum habib
Yang namanya pengajian untuk umum baik dari salafy maupun biasa awalnya mmg belum kelihatan beda,
saya belum menyadarinya
pernah saya beberapa kali, awalnya belum diketahui kalau itu pengajian dari salafy, setelah beberapa lama barulah kelihatan perbedaanya, yang aneh masalah pembacaan sholawat perayaan maulid yang katanya itu dari ajaran syiah
oo ternyata anggapannya begitu, pantas saja, kalau tidak dicegah dari sekarang, bisa-bisa orang yang tidak bersalah jadi sasaran pengkafiran, sejarah hitam jangan sampai terjadi di Indonesia.
dari pengikut mashab 4 ilmunya jelas bisa dipertanggungjawabkan
Maksudnya apa ya ?
Belagak pilon?
Ya Allah…ma’afkanlah kami semua yang mengaku umat Mohammad swa,dan mengaku hambaMu.karena yang ada pada kami hanyalah pengakuan.Diakui atau tidak kami tidak tau.qusnul kotimah atau su’ul kotimah,sahid atau tidak diakhir hidup kamipun kami tak tau.ya Allah ampuni kami semua…..Amin.
untuk saudaraku yang banyak hafal hadis dan qur’an aku sangat senang bisa banyak tau dan menimba ilmu.untuk yang bertasaufpun aku bangga.tapi ingat….mengingat allah tidak perlu hitungan (tasbih,tahmid,takbir,tahlil dan lainnya).Allah tak ada hitungan pada kita,alangkah nistanya kita kalau berhitung kepadaNya.yang penting istikomah dan mencari,mengingat kesalahan2 diri untuk dimohonkan ampun dan menggantinya dengan kebaikan2.bukankah islam mengajarkan hari ini harus lebih baik dari kemarin,dan besuk harus lebih baik dari pada hari ini.jika terbalik maka termasuk orang yang merugi.Begitu indah islam.tapi sayang,perang madhab membuat islam terpuruk.dan itu terjadi diseluruh negara mayoritas islam.contoh nyata ibnu sina dinas sebagai zindik (ilmuwan yang lambangnya masih dipakai sampai sekarang,yaitu gelas dan ular dikedokteran)Dengan gampangnya orang menganggap bid’ah sesuatu,ironisnya pukul rata hingga islam tidak berkembang.Padahal ayat pertama turun “ikhro’” bacalah.Semua kemajuan dunia sekarang ini non muslim penemunya.pertanyaannya dimanakah ikro’nya orang islam?Mari kita renungkan semua itu.Tinggalkan perdebatan yang tiada guna.Kalau kita mengingatkan cukup sebatas gugur kewajiban.karenakita harus ingat semua itu tergantung dalangnya…………yang salafy teruskan….Yang tasawuf teruskan(hati-hati licin)….. wassalam…..
kalo soal perdebatan, perpecahan, dan perselisihan antar umat Islam, itu semua sudah merupakan sunatullah pak dan itu semua pasti terjadi, karena Rasulullah jauh sebelumnya telah mengabarkan kepada kita (umat muslim) dalam sabdanya, sekaligus memberikan solusi dalam mengatasi perselisihan tsb ;
“Barangsiapa yang hidup diantara kamu sesudahku (yakni sepeninggalku), niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin al Mahdiyyin. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan gigi gerahammu ! Dan jauhilah olehmu segala urusan yang baru/muhdats ! karena sesungguhnya, setiap urusan yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”
(H.R Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Daarimi, Hakim, dan lain-lain dari hadits Irbadl bin Sariyah)
Dari Auf bin Malik ia berkata : “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan masuk surga, dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka”. Beliau ditanya : “Ya Rasulullah, Siapakah satu golongan itu ?”. Beliau menjawab ; “Al-Jama’ah”.
(H.R Ibnu Majjah : Kitabul Fitan, bab Iftiraaqil Umam II:1322 nomor 3992, Ibnu Abi ‘Ashim 1:32 nomor 63, Al-Laaikaaiy Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah 1:101)
Pada riwayat lain, Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam kitabul Iman, bab Maaja’ Fiftiraaqi Hadzihi Ummah No. 2779 dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash dan Imam Al-Lalikaiy juga meriwayatkan dalam kitabnya Syarah Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah I:99 No. 147 dari shahabat dan dari jalan yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu : Siapakah golongan yang selamat itu?. Beliau menjawab :
“Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para shahabatku”.
mantafffff pinter-pinter semuanya….. tp jadikan lah semua perbedaan itu rahmat dan islam manjadi lebih berkembang,asal jangan keluar dr akidah islam ,al-qur’an dan hadits……
kalo soal dzikir itu ada itungannnya, tapi Allah yang menentukan jumlah dan pahalanya, misalnya ucapan subhanallah 100 x, banyak dalilnya, yang gak boleh itu menentukan sendiri jumlahnya lalu mengajak orang untuk mengikuti anjurannya itu.
Islam mengajarkan bahwa hari ini harus lebih baik dari sekarang dan besok harus lebih baik dari hari ini??????
Tidak mungkin Nabi Muhammad bisa melakukannya.
Saya rasa cuma malaikat yang bisa melakukannya.
Yang salah bukannya imam madzhab, tapi yang salah mengikuti ijtihad madzhab yang menyelisihi hadits shahih tapi pengikutnya tetap taqlid.
Memangnya perkembangan Islam dilihat dari ipteknya??
Nabi muhammad menyuruh para sahabatnya dakwah untuk mengajak kepada Islam dan melaksanakan sunnahnya bukan menciptakan Iptek.
Ass Wr Wb.
maafkan saya Mas Mutiara Zuhud soal pamit, sebenarnya sewaktu membaca surat Mas tertanggal 17 Mei , hati saya tergetar tidak karuan karena takut kepada ALLAH SWT.
Saat shalat tanpa terasa saya menangis tak tertahan dan dengan segala kerendahan hati hambanya mohon ampun dan minta diberikan ketentraman hati.
Alhamdulillah dengan segera saya dibukakan banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui, sungguh ALLAH SWT Maha Pemurah.
semoga ilmu bermanfaat menyertaimu hingga akhir hidup duhai saudaraku Mutiara Zuhud.
ALLAHHUMMA SHOLLI ALA SAYYIDINA MOHAMMAD WA ALA ALI SAYYIDINA MOHAMMAD.
Wass
Wassalammualaikum Wr. Wb
Subhanaallah.
Segala sesuatu yang antum alami atas kehendak Allah.
Sesungguhnya, kita sejak bayi dalam kandungan Ibu, dalam keadaan bersih dan suci, telah bersaksi “sebenar-benarnya” bersaksi sebagaimana firman Allah yang artinya
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)
Setelah anak manusia terlahir ke dunia, keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Ibu dan ayah adalah manusia-manusia dewasa kepada siapa anak belajar kata-kata yang pertama. Khususnya kepada Ibu, anak belajar kasih sayang. Kepada ayah, anak belajar tanggung jawab dan kepemimpinan. Bagaimana sikap ibu dan ayah kepada anak, sikap ayah kepada ibu dan sebaliknya ibu kepada ayah, adalah pola interaksi yang pertama dipelajari anak.
Dengan telinga dan matanya, anak belajar menyerap fakta dan informasi. Semakin banyak yang terekam, itulah yang paling mudah ditirunya. Bagaikan kertas putih bersih, orang tuanya yang akan memberinya coretan dan warna yang pertama. Betapapun sederhananya pola pendidikan dalam sebuah keluarga, tetap-lah sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan awal bagi pertumbuhan pola pikir dan perasaan anak.
Untuk itu bagi kita yang telah menjadi orang tua, dalam mendidik anak, sebaiknya selalu berharap atau memohon pertolonganNya karena segala sesuatu atas kehendakNya. Kita hanya menjalankan keinginanNya. Janganlah dengan hawa nafsu kita, memberikan “coretan” pada “kertas putih” anak kita. Kesadaran dan selalu mengingat Allah setiap saat dalam kehidupan kita dunia mutlak kita hadirkan agar segala perbuatan kita sesuai dengan kehendakNya.
Setelah kita mencapai akil balik dengan segenap ilmu yang telah kita pelajari dan pahami, baik dari pengajaran orang tua, guru dan lingkungan beserta karunia Allah akan pemahaman Al-Qur’an dan Hadits, kita “memulai” mengarungi kehidupan dunia. Kemanakah tujuan arungan kehidupan kita ?
Sebagaimana keinginan Allah yang disampaikan dalam firmanNya yang artinya,
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Az Zariyat : 56)
“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (al Hijr: 99)
Arungan kehidupan kita di dunia sesungguhnya adalah menuju kepada Allah, selalu sadar dan yakin akan keberadaan Allah, selalu mengingat Allah, sepanjang kehidupan kita di dunia sampai kematian menjemput kita.
Sehingga kita bisa bersaksi kepada Allah yang Maha Esa dalam sebenar-benarnya “bersaksi” sebagaimana kita dalam kandungan Ibu dahulu. Sayangnya setelah bayi dan kita tumbuh dewasa, kita tidak dapat mengingat perjalanan ketika berada dalam kandungan rahim ibu. Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan,agar dirinya dapat kembali menemui Allah.
“Dan sesungguhnya kamu kembali menghadap Kami dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan pada aat itu kamu tinggalkan dibelakangmu apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu ….” (QS Al An’am 6: 94)
“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris, Kemudian Allah berfirman: “ Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu” (QS Al Kahfi 18:48).
Dengan segenap ilmu dan pemahaman yang kita peroleh, kembalilah kepada Allah.
Sekali-lagi saya mengingatkan saya pribadi dan pembaca sekalian. sebaiknya kita tidak bergantung pada ilmu dan pemahaman, semua itu hanyalah sarana, bergantunglah hanya pada Allah. Semakin dalam ilmu dan pemahaman yang kita peroleh maka semakin tertunduk kita kepada Allah dan pada satu titik nanti, InsyaAllah kita akan “lebur” karena kita akan syahid yakni sebenar-benar bersaksi kepada Allah yang Maha Esa.
Sesungguhnya karunia Allah akan pemahaman tentang ma’rifatullah bisa kita lalui jika mendalami ilmu Tasawuf.
Merugilah mereka yang menolak memahami ilmu Tasawuf.
Untuk itulah, Insyaallah, saya hadirkan blog ini untuk mengingatkan diri saya pribadi dan saudara-saudaraku Salafy (pengikut pemahaman Ibnu Taimiyah dan yang sepemahaman), teruntuk saudara-saudara muslimku yang anti tasawuf, teruntuk para pembaca pada umumnya serta juga teruntuk saudara-saudaraku yang terbiasa mengikuti “motivator-motivator” kehidupan yang cenderung mengikuti atau menginginkan materi semata atau memperturutkan hawa nafsu dan menjurus mencintai dunia. Semoga Allah melindungi kita semua.
Wassalammualaikum Wr. Wb
Ass. Wr. Wb.
Salam sejahtera kpd saudara-saudari sekalian.. Bnyk ilmu yg bisa sy petik dsni.., kpd sdra/sdri, Bpk/Ibu, sy haturkan bnyk terima kasih dan mohon kerelaannya atas ilmunya.., khususnya kpd Bpk. Mutiarazuhud dan Bpk. Alamsyah.. Smoga apa yg mnrt sy baik dan dpt sy amalkan akan mendapat ridho Allah SWT. Semoga suatu perbedaan akan menjadi indah… Dan dibalik sebuah perbedaan pasti ada hikmahnya, tergantung dari sudut mana kita memandangnya…
Wassalam….
kamu yang pernah bilang syaikh islam Ibnu Taimiyah itu sakit jiwa ya …..
maksud saya Sdr Badar.
Assalammualaikum Wr Wb.
Mas, boleh saya minta ijin untuk berbagi cerita yang mudah mudahan bermanfaat bagi saudara kita yg baru berniat untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada ALLAH SWT melalui jalan Tasawuf namun belum bertemu guru Ulama Mursyid?
Harapan saya ada manfaatnya bagi kita semua.
Wassalammualaikum Wr Wb.
Walaikumsalam Wr. Wb
Silahkan akhi, jika ingin berbagi cerita.
Belum bertemu guru Ulama Mursyid bukanlah halangan karena sesungguhnya sebagaimana firman Allah yang artinya “….hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (Al-Fatihah:5).
Sungguh Allah yang tahu persis akan kebutuhan / keperluan kita dan akan “mengirimkan” guru Ulama Mursyid sesuai dengan kebutuhan.
Namun inti tharekat (jalan) utama adalah apa yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Guru Ulama Mursyid, atas kehendak Allah, “membantu” kita “menapaki” atau “melalui” perjalanan ruhani (suluk) masing-masing, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Persiapan kita sebagai murid, jadilah “orang yang berakal”. Semua manusia mempunyai akal namun yang dimaksud “orang yang berakal” adalah sebagaimana firman Allah yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran (3): 191). Selalulah “mengingat Allah” dan ini sesuai dengan keinginan Allah sebagaimana firman Allah yang artinya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Az Zariyat : 56)
“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (al Hijr: 99)
Tujuan menjadi “orang yang berakal” adalah untuk mepersiapkan diri menerima karunia hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) sebagaimana firman Allah yang artinya, “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269)
Ibnu ‘Atha’illah menganjurkan kepada salik (murid dalam perjalanan ruhani) yang ingin mencapai ma’rifat agar menempuh tujuh langkah dan senantiasa bersungguh-sungguh (al-Juhd), merendahkan diri kepada Allah (al-taddharu), membakar hawa nafsu (ahrtiraq al-nafs), kembali dan taubat kepada Allah (al-inabah), senantiasa sabar (al-sabr), selalu bersyukur pada nikmat Allah (al-sykr), dan senantisa rela atas takdir dan ketentuan Allah (al-ridha), Allah akan tetap menjalankan takdir-Nya kepada hamba-Nya baik diminta ataupun tidak, maka cukuplah bagi seorang hamba untuk berserah diri kepada Allah dan Dia akan mencukupi hamba-Nya yang senantisa tawakal.
Ibnu ‘Atha’illah juga mengatakan “janganlah engkau tinggalkan dzikir dikarenakan engkau tidak merasakan kehadiran Allah dalam dzikir tersebut, sebab kelalaianmu terhadap-Nya dengan tidak ada dzikir kepada-Nya itu lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadap-Nya dengan adanya dzikir kepada-Nya”. Dzikir adalah sebaik-baiknya jalan menju Allah Swt. Jadi tidak boleh ditinggalkan walaupun tidak sedang konsentrasi penuh. Dzikir sebaiknya adalah dengan menghadirkan Tuhan dalam hati, sehingga mampu melupakan segalanya selain Allah Swt.
Jadi klo ketemu orang yang mengaku guru ulama mursyid namun tidak menjalankan syariat Islam sebagai contoh sederhana adalah sholat 5 waktu, maka jauhilah segera.
Kenapa gk ada yang mau bedah buku habaib munzir al musawwa ya yang berjudul “MENITI KESEMPURNAAN IMAN”..
A’uudzu billaahi minasysyaithannirrajiim.
Bismillahirrohmanirrohim, Alhamdulillahhirobbilaalamiin.
Assalammualaikum Wr Wb.
dengan segala kerendahan hati saya tuliskan kisah ini untuk saudaraku yg belum mendalami Hadist, namun ingin mendekatkan diri kepada ALLAH SWT.
Suatu hari Ada sebuah majelis dzikir yg merupakan kumpulan saudara dan sahabat melakukan shalat malam.
dalam dzikir didapat sebuah berita gaib sbb:
mereka melakukan perjalanan yg lurus dan jauh, sampai suatu saat mereka berdiri dibawah sebuah pohon yang sangat besar dan rimbun. tidak berapa jauh mereka memandang sebuah pagoda yang sangat besar, indah dan mempesona. dibawah pagoda ada sebuah pintu yang sifatnya menghisap, dan diatas pintu ada tertulis surat “AL ASR” yg artinya ” DEMI MASA, SESUNGGUHNYA MANUSIA BERADA DALAM KERUGIAN, KECUALI ORANG ORANG YANG BERIMAN DAN MENGERJAKAN KEBAJIKAN SERTA SALING MENASEHATI UNTUK KEBENARAN DAN SALING MENASEHATI UNTUK KESABARAN”
Berita ini meninggalkan kesan yg sangat mendalam, namun tidak seorangpun memahami arti yang sesungguhnya.
Bertahun berlalu barulah ALLAH SWT singkap arti yg sesungguhnya. maknanya sbb:
Majelis dzikir ini telah melakukan ibadah mendekatkan diri kepada ALLAH SWT selama bertahun tahun dijalan yg lurus, sampai suatu titik ALLAH SWT telah menganugerahkan kepada mereka kekuatan iman, ketenangan, perlindungan, kesejukan yg dilambangkan berdiri dibawah pohon yg besar dan rindang , namun pada saat itu pula ALLAH SWT menguji keimanan mereka untuk memandang kepada segala kesenangan dunia berupa kekayaan, ketenaran dan kedudukan yg dilambangkan sebagai pagoda yg mempesona. tertarikkah mereka? terbuaikah? bila ada yg tertarik dan mendekat, diwajibkan bagi saudara/sahabatnya untuk mengingatkan akan peringatan yg tertulis dalam surat ” AL ASR “, bila tidak dihiraukan dan terus mendekat maka dia akan terhisap kedalam pagoda yg ternyata didalamnya adalah sebuah lubang hitam yg tidak diketahui kedalamannya dan yg dapat menolongnya hanya ALLAH SWT.
Inti dari kisah tersebut adalah pertanyaan kepada diri kita sendiri, apa tujuan ibadah kita yg sesungguhnya? bila kita ibadah bukan demi ALLAH SWT semata mata, maka iman kita tidak akan kuat menghadapi cobaan berupa kesenangan dunia,namun bila ikhlas, kita insyaALLAh akan berpaling dari pagoda dan melanjutkan perjalanan untuk mendapatkan lebih banyak lagi anugerah dan ridhoNYA hingga maut menjemput kita.
niat ibadah kita, itulah yg kita dapatkan. diantara anggota majelis tersebut ada yang berniat:
== mendapat ilmu sakti yg bisa digunakan setiap saat untuk berpraktek sebagai “orang pintar”demi mendapatkan materi. jelas orang ini akan kecewa, sebab ilmu ALLAH SWT bukan untuk diperjual belikan dengan harga yg murah. kecewa, lalu menuntut ilmu yg bisa dipraktekkan langsung(ilmu hitam yg dibantu jin kafir) sehingga dia berpraktek sebagai dukun segala macam masalah.
==mendapat rejeki yg banyak dan mudah, tentu orang ini juga akan kecewa, sebab tanpa usaha dan kerja keras bagaimana bisa menjadi kaya? kecewa, marah dan putus asa sampai punya niat minta kekayaan ke sebuah bukit.
untuk mereka ternyata ibadah bertahun tahun sia sia, malah terjerumus kedalam kenistaan.
untuk orang awam yg oleh suatu sebab ingin beribadah semata mata demi ALLAH SWT,ada beberapa saran dari saya:
1 . hancurkan semua patung , gambar berbentuk mahluk hidup yg dipajang dirumah. turunkan foto dan masukkan dalam lemari. boleh pajang foto separuh dada.
2 . jangan kenakan perhiasan dari emas, walaupun sepuhan.(untuk laki laki)
3 . jangan menerima barang berupa keris, jimat yg dibungkus kain, sorban dijahit rajah, tombak, trisula, pisau, badik, uang soekarno, andarun, gigi petir, batu cincin dll yg katanya memiliki kekuatan. bila benda benda tersebut ada dirumah, segera kembalikan kepemiliknya dengan alasan tidak sanggup merawatnya, atau dibuang kesungai yg dalam. modal kita kalau punya hanya baju gamis,tasbih dan sajadah. cukup itu saja.
4 . membaca Qur’an dan hadist agar tidak tertipu.
5 . Bacalah sejarah hidup junjungan kita NABI MOHAMMAD SAW, Resapilah akan kisah tentang akhlak Beliau yg begitu mulia, sehingga timbul kecintaan kita yg tak terlukiskan terhadap Beliau, keluarga dan sahabatnya.
6 . pelajari tata cara dzikir bertawasul kepada para Nabi dan wali ketika shalat malam dan ziarah ke makam.
7. bila tidak sanggup shalat malam, mulailah dengan yg mudah dan ringan asal terus menerus.
8 . jangan menerima wirid/bacaan dari siapapun yg bukan berasal dari Al Qur’an untuk diamalkan.
9. jangan pernah puasa , shalat malam sambil wiridkan sesuatu walaupun dari Al Qur’an, hal ini harus diawasi oleh seorang guru yg mursyid agar melindungi kita dari serangan setan, bila tidak kuat , bisa gila.
10. biasakanlah hidup sederhana walau kita kaya, keluarkan zakat dan beramal saleh.
Shalawat Nabi adalah ibarat fondasi sebuah rumah dan wadah untuk menampung ilmu lainnya. cobalah wiridkan ” ALLAHHUMMA SHOLLI ALA SAYYIDINA MOHAMMAD WA ALA ALI SAYYIDINA MOHAMMAD ” 500 x dalam sehari. lakukan terus menerus dengan penuh keikhlasan, insyaALLAH akan terasa:
1. hidup lebih tenang, semua masalah bisa dihadapi .
2. wajah lebih cerah dan bercahaya.
3. sehat, bila biasa masuk angin, insyaALLAH hilang. dll
jalankanlah ibadah dengan istiqomah, selanjutnya kita akan dituntun untuk menemukan guru ulama mursyid atau ALLAH SWT akan turunkan langsung ilmu kepada kita.
selalu bersyukur atas pemberian ALLAH SWT walau sedikit, insyaALLAh hati kita akan dibuat lembut, tunduk dan hanya takut kepada ALLAH SWT.
demikianlah yg dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon dimaafkan.
Wassalammualaikum Wr Wb
Persoalan tawassul itu ada tawassul istighosah yaitu tawassul yang menyeru sesuatu yang gaib (punya kekuatan) di samping Allah.. ini adalah tawassul PEMBATAL KEISLAMAN KEIMANAN.
Point no.9 juga praktek2 yang gak ada dalilnya gak mesti ada mursyid, kalau ingin puasa sunah ingin shalat sunnah tingal cari kitab2 nya di GRAMEDIA asalkan shahih.. tak perlu ada mursyid.
Saya sependapat untuk masalah puasa sunnah dan sholat sunnah sudah ada syariat dan ketentuannya. Kita dapat dengan mudah mengetahui melalui buku ataupun ulama agama.
Sedangkan mengenai wirid atau dzikir boleh mengikuti saran atau bimbingan mursyid / pembimbing dengan memahami maknanya agar mengetahui kesesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits.
Mursyid / pembimbing atau ulama Sufi sudah saya tuliskan di
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/07/kaum-sufi/
Perlu atau tidak perlu mursyid tergantung kebutuhan dan Allah Maha Mengetahui.
poin no.9 yg saya maksud adalah:
besok misalnya niat puasa khusus, malamnya shalat sunah,wiridkan suatu surat di Al QUR’An dalam jumlah tertentu, doa tertentu, tawasul tertentu, jumlah hari puasa tertentu. puasa ini yg harus dijaga oleh seorang guru Mursyid karena setan akan menyerang sekuatnya agar tidak berhasil dijalankan.
kalau puasa sunah misal senen kamis, tengah bulan, dll tidak perlu guru mursyid.
saya pernah ikut suatu majelis zikir sesat yg melakukan shalat taubat dan hajat berjama’ah, ada satu hadiah AL FATIHAH terakhir yg bertawasul sengaja tidak disuarakan jelas untuk siapa, ternyata yg diundang (dihadiahkan AL FATIHAH) adalah serombongan besar jin kafir yg memiliki tugas khusus untuk mengikat anggota majelis agar tertutup mata batinnya. majelis semacam ini dipimpin oleh seseorang yg memiliki ilmu dari AL QUR’AN yg dibalik balik isinya. tawasul semacam ini yg sesat.
hati hati beli buku agama, banyak yg menyesatkan, terutama dari group “komando pastur”, sementara ini yg lebih aman di toko buku Gunung Agung.
Ini ada nukilan dari Ust. Hartono Ahmad Zaid penulis buku Tasawuf Belitan Iblis..
Garis-garis Besar Aqidah Sufisme
1. Aqidah sufisme mengenai Allah:
Orang-orang tasawwuf percaya kepada Allah dengan aqidah-aqidah yang macam-macam di antaranya al-hulul (inkarnasi, penitisan/ penjelmaan Tuhan dalam diri manusia) seperti pendapat Al-Hallaj (menyebabkan ia memaklumkan dirinya sebagai “kebenaran” dengan ucapan “anal Haq” = Akulah Kebenaran. Al-Haq adalah salah satu nama Tuhan. Dengan perkataannya itu berarti ia mengaku: “Akulah Tuhan.” )
Faham Hulul, faham yang menyatakan, bahwa Tuhan telah memilih tubuh-tubuh manusia tertentu sebagai tempat-Nya, setelah sifat-sifat kemanusiaan dalam tubuh tersebut dihilangkan. Faham Hulul dalam tasawwuf ditimbulkan oleh Husein Ibnu Manshur al-Hallaj (lahir di Persia tahun 858M) yang mengajarkan bahwa: Allah memiliki dua (2) sifat dasar (natur), yaitu sifat ke-Tuhan-an (lahuut) dan sifat kemanusiaan (Nasuut). Hal tersebut dilihat dari teori kejadian makhluk-Nya, sebagai berikut: Sebelum Tuhan menciptakan makhluk, Ia hanya melihat diriNya sendiri. Dalam kesendirian-Nya itu, terjadilah dialog antara Tuhan dengan diriNya.
Dialog yang dalam, tidak terdapat dalam kata-kata ataupun huruf-huruf. Yang dilihat Allah hanya kemuliaan dan ketinggianNya dan Allah pun cinta pada zatNya sendiri. Cinta yang tidak dapat disifatkan dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak dan Ia-pun mengeluarkan dari yang tiada, bentuk (copy) diri-Nya, yang mempunyai segala sifat dan namaNya, dan
bentuk (copy) tersebut adalah Adam, dan seterusnya. Setelah Adam tercipta dengan cara-Nya, maka Ia sangat mencintai dan memuliakannya di syurga dan sebagai khalif di bumiNya. (Drs Shodiq SE, Kamus Istilah Agama, CV Sienttarama Jakarta, cetakan kedua, 1988, hal 122-123).
Kemudian akibat pendapatnya yang mengandung kemusyrikan itu maka Al-Hallaj yang lahir di Fars, Parsi (Iran) 244H/ 858M ini dihukum bunuh pada tanggal 24 Zulqa’dah tahun 309H/ 26 Maret 922M, di Baghdad di bawah kekhalifahan Abbasiyah, khalifah ke-18 dari 37 khalifah, Al-Muqtadir bi ‘l-lah (Ja’far Abu ‘l-Fadhl, yang berkuasa pada tahun 295-320H/ 908-932M. Selain Al-Hallaj dituduh membawa paham yang menyesatkan (paham hulul), ia juga dituduh mempunyai hubungan dengan Syi’ah Qaramitah, suatu kelompok Syi’ah garis keras yang dipimpin oleh Hamdan bin Qarmat yang menentang pemerintahan Dinasti Abbasiyah sejak abad ke-10 sampai abad ke-11. (lihat Ensiklopedi Islam, Kafrawi Ridwan dkk ed, PT Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta, cet V, 1999, huruf H, hal 74-75).
Sumber lain menyebutkan, Abu Mughits Al-Husein bin Mansur Al-Hallaj (244-309H) dilahirkan di Persia, seorang cucu dari penganut Zoroaster, dibesarkan di Irak. Tokoh inilah yang terkenal dengan “Hululiyin” (para penganut faham panteisme) dan “Ittihadiyyin” (para penganut faham manunggaling kawula gusti). Ia dituduh kafir, dibunuh dan disalib karena 4 perkara yang dituduhkan kepadanya:
1. Karena berhubungan dengan orang-orang Qaramithah (Syi’ah ekstrim).
2. Karena ucapannya: “Aku adalah Tuhan Yang Haq.”
3. Karena pengikutnya meyakini akan ketuhanan dirinya.
4. Karena pendapatnya tentang haji, bahwa haji ke Baitullah tidak termasuk suatu kewajiban yang harus dilaksanakan.
2. Aqidah Shufi Mengenai Rasulullah SAW
Sufisme dalam hal mempercayai Rasulullah juga ada bermacam-macam aqidah. Di antaranya ada yang menganggap bahwa Rasul SAW tidak sampai pada derajat dan keadaan mereka (orang-orang shufi). Dan Nabi SAW (dianggap) jahil (bodoh) terhadap ilmu tokoh-tokoh tasawwuf seperti perkataan Busthami: “Kami telah masuk lautan, sedang para nabi berdiri di tepinya.”
Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, pengarang kitab Ila at-Tashawwuf ya ‘Ibadallaah menisbatkan perkataan tersebut kepada At-Tijani (pendiri tarekat At-Tijaniyah). Lalu Al-Jazairi berkomentar: Kelanjutan ucapan At-Tijani ini bahwa quthub-quthub (wali-wali yang ada di kutub-kutub dunia) shufi itu menurut pendapat mereka lebih tahu dibanding Nabi-nabi tentang Allah dan lebih mengerti tentang syari’atNya yang mengandung kecintaan dan kemarahan. Bukankah (kepercayaan) ini merupakan kekafiran wahai hamba-hamba Allah? komentar Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Khatib Masjid Nabawi Madinah. (Ila at-Tashawwuf ya ‘Ibadallaah, Jam’iyyah Ihyait Turats Al-Islami, halaman 40).
3. Aqidah Shufi Mengenai Wali-wali.
Sufisme dalam hal wali-wali juga mempercayai dengan kepercayaan yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang melebihkan wali di atas nabi. Pada umumnya orang shufi menjadikan wali itu menyamai/sejajar dengan Allah dalam segala sifatnya, maka ia (wali) itu mencipta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam.
Orang shufi membagi-bagi wali menjadi beberapa bagian, ada yang disebut wali Al-Ghauts yang mempunyai kemauan sendiri dalam segala sesuatu di dunia ini, dan ada 4 Wali Kutub yang memegangi pojok-pojok yang empat di dunia ini atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Abdal yang tujuh, masing-masing mempunyai kekuasaan di satu benua dari 7 benua atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Nujaba’, yang mereka itu memiliki kekuasaan di kota-kota setiap wilayah di kota. Di kota-kota, demikianlah seterusnya, maka jaringan wali-wali internasional ini menguasai makhluk, dan mereka punya dewan tempat mereka berkumpul yaitu di Gua Hira’, setiap malam mereka melihat taqdir. Cekak aosnya (pendek kata), dunia perwalian (shufi) itu adalah dunia khurafat (kepercayaan yang menyeleweng dari kemurnian Islam) total.
Ini otomatis berbeda dengan kewalian dalam Islam yang ditegakkan di atas agama dan taqwa, amal shaleh dan ibadah yang sempurna kepada Allah, dan membutuhkan (pertolongan) Allah. Sebenarnya wali itu tidak bisa menguasai urusan dirinya sendiri (untuk mendatangkan manfaat dan madharat) sedikitpun, lebih-lebih untuk menguasai orang lain.
Pokok ajaran Islam ada tiga yakni, Islam (rukun Islam, Fikih), Iman (rukun Iman, Ushuluddin atau i’tiqad) dan Ihsan (seolah-olah melihatNya, tasawuf )
Apa yang disampaikan oleh Ust. Hartono Ahmad Zaid, mungkin saja adalah yang mendalami tasawuf namun terbelit setan.
Sedangkan pokok ajaran islam tentang Ihsan wajib kita imani , sebagaimana yang disampaikan oleh malaikat Jibril dan Rasululllah di depan para Sahabat.
Seorang sufi sejati tdk pernah mengatakan”saya ini seorang sufi”,apalagi berdebat dengan orang2 yg mengaku tlh memahami ilmu tasawuf. Pahamilah bhw sekalipun seseorang itu tlh menela’ah berjuta kitab tasawuf bukanlah berarti orang tsb tlh memahami jalannya kaum sufi. Wahai akhi2 ku sekalian janganlah berdebat hal2 yg menyangkut dengan ilmu tasawuf,krn kalian bukanlah ahlinya.Dan jangan memvonis dlm bentuk hukum apapun terhadap ulama baik yg akhi anggap sufi maupun yg bukan.krn sekali lagi saya tekankan bhw kalian bukanlah ahlinya.
Kita sebaiknya tidak mengatakan saya seorang sufi, saya muslim yang ihsan atau muhsin, karena ini adalah hak Allah semata untuk memutuskan tingkatan seorang muslim atau menentukan panggilan kepada seorang muslim. Bahkan sebagian ulama juga menganjurkan untuk tidak mengatakan “saya seorang mukmin”, yang diperbolehkan mengatakan “saya seorang muslim”. Sedangkan jika kita memanggil muslim yang lain dengan “kamu seorang sufi” atau mukmin atu muhsin adalah tidak mengapa sebagai penghormatan atau panggilan yang baik.
nya.woeng…
sy sangat setuju dengan perkataan an
maaf ….
saya sangat se
kalau membaca kitab karangan SYECH ABDUL QODIR AL JAELANI R.A , beliau yang diakui sebagai Sultan para wali, tidak satu kalimatpun yg pernah beliau katakan bahwa para wali ALLAH bisa berbuat semaunya, tidak membutuhkan pertolongan ALLAH, itu adalah fitnah yg keji!!!. beliau selalu menasehatkan agar kita jangan berbuat apapun selain kehendak ALLAH SWT dan kalimat ini hanya dipahami oleh orang yg mengerti bahwa ALLAH SWT yang maha kuasa, pemilik langit bumi dan segala isinya, tiada daya upaya yg dapat dilakukan selain dengan pertolongan ALLAH SWT.
bila ada sufi palsu yg melebihkan Wali daripada Nabi SAW, maka itu adalah sufi yg otaknya kena stroke dan diduduki setan, ujung ujungnya buka semua pakaian dan berkeliaran dijalanan.
saya lebih percaya kalau busthami (yg mana orangnya?) berkata ” kami telah masuk lautan, lalu tenggelam dan mati, sedangkan para Nabi berdiri ditepian”
maksud perkataanku..
sy sangat setuju dengan apa yang di katakan oleh nya.woeng..
berdebat seperti itu tidak akan ada endingnya.untuk itu jalani apa yang menjadi keyakinan anda, yang menurut anda itu benar..
satu lagi hati-hati mengucapkan kata dari hati karena smua itu hrus dipertanggung jawabkan kelak..subehanallah.
hai semua umat islam yg sya hrmati sesungghnya kalian di dalam tipu daya setan krna ilmu yg klian dpt hnya untk brdbat dan merasa benar maka ,kajilah kitab imam gozali ,(bidayatul hidayah) mka smua akan terbuka inti kesempurnaan ibadah dgan mnjaga hati dan mjlnkan hkum syara dri ulama salaf solihin dan jnganlah kau masuk kedalam partai2 politik yg hanya akan membwa mu ke dlam neraka.
ilmu yg klian pkai hya kalian dptkan dr buku2 cetakan bda kalau kalian benar2 tholabul ilmi kpd ulama2 haq itu bru berkah jd kpd alamsyah dan bandr mendingan kalian pesantren dulu’ jngn ngapalin dri buku2 anak kecil’ juga bisa
coba terka kesombongan itu berasal dari siapa ? jgn lah kau tiru sifat iblis yang sungguh di laknat oleh allah SWT.
Islam akan terpecah menjdi
73 golongan hanya satu golongan yg akan slamat!? Dan menurut imam syasfi,i adalah ahlushunah waljamaah yg benar2 menjalan kan sunnah dan jnganlah kalian menyepelekan sunnah kalau kalian mengaku umat nabi s.a.w mkanya klau sholat pk peci dan srung ya dn belajarlah ilmu fiqih dn tasawuf
Agar kamu tidak tersesat
sudah ngaku bodoh dan menyiksa diri kok ngajarin orang? tambah bodoh dong yg dengerin…ck..ck..ck
mantaffff aku stuju …….
Saudara seiman dalam wadah bikalimati syahadat
Saya merasa kl saya adalah manusia yang masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam diri saya..
Tapi saya akan sangat merasa tersiksa dan sedih hati saya bila melihat sesama muslim saling merasa benar, saling mengumpat….apakah tujuan dari ISLAM…sebenarnya..
..apakah makna kata yang tersirat dari kata agama rohmatan lil’alamin…
tolong pahami kalimat syahadat yang tersirat..setiap bacaan sholat yang kita lakukan…
Saya hanya bisa mengingatkan bukan membenarkan atau menyalahkan…setidaknya kita harus berpegang pada AL-Quran dan Hadist rosullullah
Kita tidak untuk merasa benar tp mencari kebenaran …bukan dg jalan saling merasa benar, dan menyalahkan…
hati saya lebih tersiksa, sedih dan marah bila ada yg berani menghina junjungan kita Sayyidina wa Habibina wa Syafiina wa Maulana MOHAMMAD SAW dan para Wali ALLAH SWT, jangankan sekedar menghujat, membunuhpun akan saya jalankan terhadap orang tersebut, dengan ijin ALLAH SWT.
Islam itu penyayang, sabar, bijaksana, namun bukan berarti harus lembek dalam segala hal.
Banyak orang munafik menggunakan kalimat Islam untuk berbicara namun isi hati yg sesungguhnya …..?
“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. AL QALAM:7)
”Katakanlah:” Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata. Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya. “” (QS. AZ-ZUMAR:46)
”Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat),” (QS. AL HIJR:97-99)
Saudaraku kaum muslimin dan muslimat mengapa kita selalu mencaci,memaki,merasa benar,merasa tau,merasa yang paling benar, ….apakah kita manusia merasa yang paling benar dan yang paling benar..?
Setidaknya kita harus merasa kita tidak ada yang paling benar, kecuali Allah Yang Maha Benar ….dan manusia yang sempurna hanya Rosullullah Muhammad SAW…rosul penutup akhir zaman..tidak ada yang lain..
Saudaraku, saya hanya sekedar meluruskan kesalahpahaman-kesalahpahaman yan telah terjadi selama ini. Khususnya ketika ulama-ulama kaum Wahabi atau Salaf(i) mencoba berijtihad (memahami) Al-Quran dan Hadits. ~kita harus bisa bedakan dengan kaum/ulama salaf ~
Silahkan baca http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/17/kesalahpahaman-bidah/
dan kesalahpahaman-kesalahpahaman lainnya, lihat indeks tulisan disisi/lajur kanan
Wassalam
Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
Saya berharap dari perdebatan dan perbedaan pandangan
yg telah terjadi diantara saudara2 kita bisa menjadi renungan dan intropeksi diri dan memperkuat ” UKHUWAH ISLAMIYAH “….
Yup semoga dapat tercipta ukhuwah Islamiyah dengan salah satunya meluruskan kesalahpahaman-kesalahpahaman selama ini. Tidak mungkin tercipta ukhuwah Islamiyah jika umat muslim saling mensesatkan atau mentakfirkan.
agara2perbedan pendapat bnyak sekali yang bermusuhan karena beda pendpat ‘kalok saya tidak mau ambil pusing2 kalok memang tidak sesuai dengan AL-QURAN dan hadist kenapa harus di perkuat karena kata nabi kalok berlainan pendapat kembalikan kepada al-quran dan hadits biar tidak ada pertikain yang terjadi
Saya yang awam sangat menggagumi ilmu tasawuf, setelah membaca beberapa blog dan kena hujjah iblis oleh salafy wahabiyah di tempat saya.
Kelemahan mendasar mereka wahabiyah adalah hanya melihat dalil dan sejarah kesesatan kelompok yang mengaku sufi dan menghamba pada nafsunya.
Mereka cendrung menyamaratakan dan mengharamkan amalan yang belum tentu salah seluruhnya bukan pada definisi ilmu tasawuf yang jelas 2 berpatokan pada AlQuran dan Hadits.
Sebagai muslim jika ragu sebaiknya kita menghilangkan praktek ibadah yang meragukan kebaikannya seperti perkataan mereka zikir sambil nari2.
Tapi dalam berzikir kita boleh melakukan hal yang terbaik selama tidak akan merusak nilai zikir. Saya telah merasakan manfaatnya, jiwa menjadi tenang, hati selalu ingat Allah SWT dan pikiran lebih fokus dalam kehidupan sehari2. Kita sebaiknya dan mengharap ridhoNya.
Begitulah seorang muslim seharusnya bersikap. Bagaiman kita bisa berdakwah tapi didahului itu sesat, bid’ah, kurafat. Yang timbul pertama kali adalah kebencian pada diri mereka .
Rasulullah berdakwah dengan akhlakul kharimah tak lain yang sama sifatnya dengan tasawuf . Menyampaikan larangan secara bertahap dan bukan ektrim seperti wahabiyah.
Semoga kritikan ini bisa menjadi masukan, sadarlah banyak hal yang lebih penting sekarang untuk umat islam. kalau ada kata saya yang salah , mohon maaf setulusnya, kebenaran datang dari Allah, dan saya hanya menyampaikan maksud dengan hati yang suci
Sesungguhnya manusia adalah diciptakan oleh Allah sebagai hamba Allah yang diharapkan selalu menerima dan bersyukur atas semua kehendak Nya. Karena sesuatu yang tidak baik bagi kita belum tentu bagi Nya.Sesuatu yang baik bagi kita belum tentu tidak baik bagi Nya.
sesama islam aja udh ribut, gmn mau kokoh agama ini. kita harus memilih hal yg benar menurut dalil wahyu dan akal sehat. jangan karena hawa nafsu kita.. jangan karena mempertahankan pendapat sendiri. ambillah sesuatu itu yg benar krn ada dalilnya dan masuk akal, jangan krn kita seperti si A sehingga berpihak kepada si A. mari satukan hati menuju rahmat ALLAH.
mantaaaaafffffff mkch tas ilmu nya…..
waduh mantafffff pinter-pinter semuanya.. mimang islam ini agama ,yang membawa berkah dan manfaat…dan perbedaan pendapat jadikan suatu berkah dan karunia..asal jgn melinceng aja tetap ya bertinggir pada al-qur’an dan hadits…….
Ada baiknya kalau masing2 pihak ketemuan saja, pihak wahhabi salafy dan pihak yg diklaim tasawuf sama-sama duduk bareng..Kalauperlu makan-makan bareng abis diskusi, kan enak..Saya bersedia jadi mediatornya..Masjid dekat rumah saya bisa dipake..
Daripada bicara di sini jatohnya fitnah..karena beda loh komunikasi dunia maya dgn komunikasi nyata..
Mari pererat ukhuwah.
salam,
http://www.abuicanimovic.blogspot.com
Alhamdulillah.
Sejatinya tidak ada masalah dengan ukhuwah Islamiyah, sejauh masing-masing pihak untuk saling menghargai apa yang menjadi kehendak Allah Azza wa Jalla. Msalahnya timbul jika ada pihak yang gemar mengkafirkan pihak lain yang berbeda pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits.
Assalamu’alaikum wrwb..
Subhanallah fa’aalullima yurid
Mohon ijin nyimak ya akhi…
akan muncul tanduk syetan di wilayah nejb.saudaraku,pertahankan akidahmu dari rongrongan wahabi kaum mujasimmah.amit2 jabang bayi.ya alloh,jauhkan hamba dan keluarga hamba dari fitnah kaum wahabi.
akan muncul tanduk syetan di wilayah nejb. saudaraku,pertahankan akidahmu dari rongrongan wahabi kaum mujasimmah.amit2 jabang bayi.ya alloh,jauhkan hamba dan keluarga hamba dari fitnah kaum wahabi. Seribu dalil tidak akan cukup untuk membungkam mereka,karena hati dan akal mereka telah tertutup oleh doktrin dan taklid buta kepada ulama2 sempalan saudi.
Asslam…bgaimna ya..caranya mendekatkan diri ke alloh swt dan menjadi umat rosullah nabi muhamad s.a.w.yg benar dan iklas tks wasslam.
Walaikumsalam.
Pertanyaannya luas sekali.
Pertama yang dilakukanlah adalah penuhi dahulu syarat sebagai hamba Allah ta’ala yakni melakukan hal-hal yang wajib yakni yang wajib dilakukan (syahadat, sholat 5 waktu, zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan ibadah haji bila mampu) kemudian baru lakukan amal kebaikan (amal sholeh) . Silahkan ikuti tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/tips-bertasawuf/
mantap blog nya gan..ane bakal sering2 kunjungin buat nambah2 ilmu pengetahuan.mohon maaf dngn setulus nya kalo ane punya slah dalam ngasih koment.
I love tasawwuf
Apakah yang punya blog ini menjalani tasawwuf? iNGAT !! Tasawwuf identik dengan MURSYID. Bila bertasawwuf tanpa MURSYID, maka syetanlah MURSYIDnya. Nah bagaimana untuk mencari MURSYID yang muthabarah ? Dan apakah itu MURSYID?
Sabar…sabar…sabar..wahai saudaraku sesama muslim, berdebatlah dengan baik sesuai sunnah rasul. Karena kebenaran hakiki itu hanya milik Allah, Ilmu Hakiki itu hanya milik Allah, bahkan diri-diri kalian semuanya milik Allah. Segala kebaikan datang dari Allah dan keburukan itu datang dari diri kita sendiri, dan semuanya kembali kepada-Nya.
Yang masuk neraka dan yang masuk surga adalah hak dan kehendak Allah semata. Tak seorang pun mengetahui bahwa dirinya akan selamat dari api neraka ataupun masuk surga, kecuali apa yang telah diterangkan Rasulullah SAW. Maka marilah kita semua bertobat dan terus meningkatkan keimanan dan amal saleh. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Mengampuni semua dosa hambanya kecuali dosa syirik dan dosa terang-terangan.
Allah Ta’ala Menciptakan segala sesuatu
Maha Suci Allah dari segala kekurangan dan keserupaan dengan makhluk karena Dia laisa kamitsilihi sai’un (Tiada yang menyerupai Dia dari segala makhluk-Nya).
Mencintai Nabi adalah kewajiban tiap-tiap muslim.
Jadi tak pantaslah kita orang2 awam ini menyakiti orang yang kita cintai. termasuk mengolok-olok orang tua rasul. Bagaimana perasaan rasul jika mendengar ada umatnya memperolok-olok orang tua beliau.
Kembalikan kepada dirimu…bagaimana jika orang tuamu yang dicap masuk neraka….bagaimana perasaanmu….saudaraku.
Oleh karena itu mempelajari ilmu agama haruslah dengan kecerdikan….bukan ingin mengetahui hal-hal yang tidak penting,,,,seperti apakah masuk neraka si anu…?
ilmu agama yang terpenting ada 3, yaitu Aqidah (mengenal Allah dan Rasul-Nya), kemudian Ilmu syariat (amalan lahir yang sesuai Sunnah) dan Ilmu Hati (amalan batin) yang merupakan asal ilmu tasawuf.
AlQuran dan Hadis mengajarkan manusia untuk selalu shalat, zakat, zikir, dll…
Shalat dengan mengerjakan rukun2nya ataupun sunnatnya merupakan ilmu syariat (ilmu lahiriah). Al Quran menyatakan dengan jelas bahwa shalat bertujuan untuk mengingat/berzikir kepada-Nya. Zikir (ingat) itu adalah pekerjaan hati, nah …kalau hati kita kotor dengan hawa nafsu, mana mungkin bisa bezikir kepada Allah.
membersihkan hati adaah bagian dari ilmu tasawuf.
Membersihkan hati hanya dengan menghafal dalil-dalil …tidak akan tercapai, melainkan dengan mengamalkan dalil-dalil itu antara lain yang paling umum kita tahu adalah menghormati orang lain, tetangga, tamu, dsb sesuai hadis Rasul.
Berbuat baik dan menekan nafsu sangat lah sulit, kecuali pertolongan Allah. Maka dari sinilah kaum sufi berangkat…..bahwa tidaklah diterima segala amal tanpa keikhlasan Lillahi ta’ala, tanpa Meng-Esa-kan Allah.
Sehingga perlu perjuangan yang namanya Mujahadah melawan hawa nafsu.
Inilah sebagian dari ilmu tasawuf.
kaidahnya : Ilmu tasawuf tidak akan tercapai, tanpa aqidah yang benar dan syariat yang benar.
Alhamdulilah….para wali Allah mencapai derajatnya dihadapan Allah karena menjalani dan mengamalkan 3 ilmu itu. Itulah Sunnah Rasulullah Saw.
mencintai wali-wali Allah adalah kewajiban tiap-tiap muslim
Barang siapa memusuhi wali Allah (memusuhi ajaran dan amalannya) berarti dia menyatakan perang kepada Allah Yang Maha Perkasa.
wali Allah itu adalah orang yang dekat dan kenal betul dengan Tuhan tanpa prasangka, tanpa dalil, tanpa penghalang-hijab karena mereka mendapat karunia dari Tuhannya.
ketahuilah bahwa wali Allah itu pada umumnya adalah pengamal ilmu tasawuf.
Wassalam….ini saya …saudaramu sesama muslim yang tidak berdaya dan tidak banyak tau, kecuali sedikit.
Alhamdulillah syukran
Jangan takut bertasawuf….kalau anda tidak suka istilah tasawuf, silakan anda ganti namanya….misalnya ilmu membersihkan hati..he..he. he.. sama aja.
Tasawuf bertujuan membersihkan diri lahir dan batin dari selain Allah. bukan dengan dalil..tetapi dengan keyakinan dan pandangan tanpa hijab.
Dalil itu berfungsi sebagai petunjuk jalan…..menuju keridhoan Ilahi.
jadi dalil itu sebagai batasan dalam beramal. amal yang tidak berdalil akan tertolak.
kaum Sufi itu memiliki ilmu penguasaan dalil yang sangat kuat dibanding sebagian orang-orang sekarang. contohnya Al Gazali kurang lebih 300.000 hadis beliau hafal. Imam Nawawi Al Banten disebut Hujjatul Islam juga karena hafalan dalil hadisnya. dan masih banyak kaum sufi lainnya yang menghafal dalil-dalil yang sangat sangat sangat banyak dibanding kita ini….sadarlah kalian semua.
Para Imam mahzab adalah kaum sufi..
kalau anda ingin membersihkan agama Allah dari kesyirikan umatnya…maka mulailah dari diri anda sendiri, jangan anda melihat orang lain sepeti para pengikut tasawuf. karena para pengikut tasawuf memiliki tujuan yang sama yaitu Meng-Esa-kan Allah Azza Wa Jalla.
anda tidak perlu pusing dengan mereka. karena mereka lebih mengetahui ke esaan Allah dari pada orang yang tidak bertasawuf.
dalil tauhid kaum sufi (tasawuf) adalah QS Al Ikhlas dan Qs. Asy Syuraa. 11 Laisa kamitsilihi syai’ (Tuhan tidak ada yang menyerupainya dari segala sesuatu)
jadi mustahil kaum sufi menyamakan dirinya dengan sang Khaliq.
jadi mustahil kaum sufi menyatakan dirinya Tuhan atau bersatu dengan Tuhan.
adapun perkataan2 yang sebagian dari mereka ucapkan itu…..adalah diluar kesadaran mereka. Kita sebagai manusia biasa tidak memiliki pengetahuan tentang keadaan mereka. kecuali prasangka….Prasangka buruk itu adalah dilarang oleh Nabi SAW.
kaum Sufi (pengamal tasawuf) dengan izin Allah, telah banyak berjasa dalam pengislaman manusia di seluruh dunia. Contoh..wali 9 dan penerusnya di tanah Jawa, Wali Tujuh di Sulawesi, Para Syeikh Tarekat di Nusantara. antara lain Abdur Rauf Singkel, Abdus samad palembang, Arsyad Banjari, Ismail Minangkabawi, Syeikh Yusuf al taj Khalwaty Al Makassar, serta para Sayyid ahlu bait. mereka semua adalah pengamal ajaran tasawuf yang sukses lahir dan batin…..sehingga kalian semua sekarang ini tau shalat, tau puasa, dsb, makanya jangan sok tau….he heh hehe. Maaf.
Kitab-kitab islam yang dibaca di pesantren sekarang ini pada umumnya berasal dari ulama-ulama klasik nusantara,
masih beranikah anda menentang para ulama tersebut?….ha yo….
Mereka semua yang saya sebutkan itu adalah khalifah Nabi SAW.
Wallahu A’lam.
assalamu alaikum….pak.ada orang yang tidak pernah ikhtiar /kasab dan tidak prnh syiar agama islam.kecuali ada org datang ke rumhnya,baru syiar (kunjungan).yang saya tanyakan apakh ada ajaran islam untuk mendptkn rezeki tanpa ikhtiar.tapi realisasinya dia pun rezeki trus mengalir dan bertambah tanpa ikhtiar…yg sy tnykn ajarn islam seprti apa itu pak.trimksh
bp alamsyah yang terhormat,sebenarnya dzikir itu d anjurkan oleh rasul dn tidak di larang bilanganya mau berapa jg,adapun dzikir sambil menari memang tidak di contohkan rasul,sebaeknya anda bertanya hal itu kepada ahlinya ya itu sufie yang suka melakukanya karena tdk semua sufir mlakukan dkir dengan menari dn perlu kita ktahui bahwa sufie dengan tasauf itu beda,
ikutilah yang lebih banyak,ya itu ahlusunah waljama,ah yang beritihad kpd imam mujtahid mutlq ya itu imamul arba,ah,nanti ente2 tahu apa sbenarnya yang terkadung dlm ilmu tasawuf,ente mau tahu tasawuf gmna klo belum mendalami hehehe
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah….saya yang sangat hina, bodoh dan tidak tahu apa-apa ini sangat berterima kasih kepada semua tanpa terkecuali. setelah saya membaca sekilas perdebatan, perselisihan pendapat dan pada akhirnya….(Insya Allah) ternyata panjenengan semua tetap mempertahankan keutuhan UKHUWAH kita sebagai sesama Muslim (Insya Allah), Alhamdulillah….semoga semua yang telah panjenengan paparkan selalu dalam dzikir kepada Allah SWT. semoga Allah SWT. senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah serta pertolonganNya kepada kita semua dalam berikhtiar menjalankan segala yang diperintahkan dan berikhtiar menjauhi segala yang dilarang Allah SWT. Amin Ya Robb…..
hanya itu yang bisa saya ( Al-Fakir) sampaikan…
Terima kasih.
Wassalau’alaikum Wr. Wb.
saya ingin bertanya, bagaimana kita hendak mengenali diri sendiri. Sebab kata hamba Allah untuk mengenali Allah.kenalah diri sendiri barulah kita dapat memahami siapa Pencipta kita.saya harap saudara/saudari dapat menjelaskan kepada saya.
Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/11/04/kenali-diri/ dan seluruh tulisan pada bagian perjalan hidup (suluk). Lihat indeks / daftar isi pada kolom paling kanan
mas MZ, mantap ulasannya, ana yg faqir ini mohon ijin mencopy link ini????
Alhamdulillah, silahkan
Bagaimana anda tahu rasanya madu itu manis kalo anda tidak mencobanya. Tasawuf itu jalan yg indah thanks for my mursyid…
tasawuf adalah bagian ilmu daripada agama islam,, yang mana tingkatan pendekatan Allah sudah dekat.. kemudian para penganutnya yang telah benar2 mendalami ilmu ketuhananya mendapatkan gelar bernama sufi..
akan tetapi,,jika ada para sufi yang masih menyukai duniawi (nafsu) maka beliau masih belum bisa dikatan seorang sufi..
mendekatkan dirilah pada Allah (sesuai dengan syari’at islam),.lakukanlah apa yang diperintahkan Allah,,jauhilah apa yang dilarang Allah,,dan ikutilah apa yang dicontohkan Nabi Muhammad..
saya kira dengan seperti itu semua akan berjalan dengan baik,,tanpa harus saling mencela..apalagi yang dibahas masalah agama..
agama tidak untuk diperdebatkan..
jika merasa ada yang tidak cocok dengan peraturan agama,,maka diamlah..
jika merasa ada yang berbuat lebih daripada aturan yang ada,,selama masih baik,,tolong jangan dipersoalkan..
ingatlah,,Allah maha mengetahui..!!
saudara-sadaraku,
aku sungguh bahagia banyak yang saling membagi ilmu yang diketahuinya.
tapi saya sedih melihat kalian tidak saling menghargai pendapat masing-masing.
kita jalani perintahnya dan kita jauhi laranganya,niscaya kita ditunjukkan jalan yang benar.
kita ini siapa…..seberapa ilmu kita…….sekuat apa kita beribadah…..dan apa yang telah kita perjuangkan dijalanya, semoga ini bisa menjadi kerendahan hati bagi kita semua.
Ustad Zon, mohon penjelasan bagaimana perbedaan (kelebihan & kekurangan) bertasawuf dengan tarekat dan tanpa ikut tarekat..
Afwan & sukron.
Dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/perjalankanlah-diri-kita/
Buya Hamka, seorang ulama yang kita kenal menguasai perkara syariat menyampaikan bahwa “antara makhluk dan Khaliq itu ada perjalanan yang harus kita tempuh . Inilah yang kita katakan Tharikat”
Tharikat si A artinya tharikat atau jalan yang pernah ditempuh si A
Ibarat naik gunung , tentu lebih mudah melalui jalan/lintasan yang pernah dilalui seseorang daripada mencari dan membuat lintasan sendiri.
Apalagi perjalanannya diikuti seorang pembimbing (mursyid) akan lebih mudah dan lebih aman dari kemungkinan “tersesat”
Sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/28/maqom-wali-allah/
Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) ada dua jalur yang dapat ditempuh oleh seorang sufi guna meraih derajat kewalian (kedekatan dengan Allah ta’ala).
Jalur pertama disebut thariq ahl al-minnah (jalan golongan yang mendapat anugerah); sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan golongan yang benar dalam beribadah).
Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat wali di hadapan Allah semata-mata karena karunia-Nya yang di berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.
Sedangkan melalui jalur kedua, seorang sufi meraih derajat wali berkat keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah kepada Allah. Keikhlasan dan kesungguhanya memperjalankan diri mereka agar sampai (wushul) kepada Allah ta’ala.
Maaf,
apakah berarti dalam mempelajari dan menjalankan tasawuf kita ‘wajib’ ikut dalam tarekat tertentu seperti ‘wajib’nya kita bermazhab dalam mempelajari dan menjalankan ilmu syariat / fiqih??
Bermazhab bukanlah kewajiban namun sebuah kebutuhan ketika kita tidak berkompetensi sebagai Imam Mujtahid. Kompetensi Imam Mujtahid silahkan baca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/20/2010/03/31/imam-mujtahid/
Begitupula bertarekat bukanlah kewajiban namun sebuah kebutuhan ketika tidak berkompetensi membaca “rambu-rambu” atau petunjuk selama perjalanan (suluk). Bagaimanapun juga tentu lebih mudah memperjalankan diri kita kepada Allah ta’aladitemani pendamping yang sudah memperjalankan diri mereka. Namun tetap harus kita ingat bahwa kalau Allah ta’ala mengehendakinya maka tidak ada yang tidak mungkin untuk itulah kita kembalikan kepada Allah ta’ala. Silahkan baca juga tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/tips-bertasawuf/
Masalah tarekat yang telah dijabarkan dalam: http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/tips-bertasawuf/ , Apakah semua sanad tarekat hanya melalui jalur imam Ali Kwa? Apakah sahabat RA yang lain tidak bertasawuf dengan sistem tarekat?
Di antara Khulafaur Rasyidin yang menjadi Imam para Wali Allah adalah Imam Sayyidina Ali ra. Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/siapakah-wali-allah/
SubhaaaanaLLOOOOH
Assalamu ‘alaikum warohmattullaahi wa barokaatuh.
hanya org2 bodoh….,yg mempertahankan pendapatnya dlm berdebat , karna merasa pendapatnya benar.
meski itu melalui keterangan2 dari sumber2 terpercaya.
Hakikat Kebenaran yg Nyata…,akn terbukti setelah kita mati.
apa pun pendapat masing pribadi itu pasti berbeda-beda..,trgantung taraf ilmu & pemahamannya. Namun hormati & hargailah.
Dan jgn merasa hanya pendapat kita yg benar.
Berprasangka baiklah pd tiap2 sesuatu, krna Allah Maha Mengetahui apa yg hamba-Nya tdk ketahui.
apa yang disebut ilmu tasawuf menurut kamu
Mba’ Ifah , silahkan berkunjung ke perguruan-perguruan tingi Islam. Lihatlah kurikulum atau silabus dari tasawuf. Pastilah tasawuf adalah tentang akhlak atau tentang Ihsan
Tasawuf adalah upaya memperjalankan diri hingga sampai (wushul) kepada Allah
Tasawuf adalah jalan (thoriqoh) untuk mencapai muslim yang Ihsan
Apakah Ihsan ?
قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)
Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh) atau berma’rifat
Rasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”
Muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah berma’rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla
Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).
Akhlak yg baik, Ihsan, Zuhud, Tidak cndong kepada dunia, menganggap akhirat lebih utama itu, belajar ilmu, berdzikir sebanyak-banyaknya adalah bagian dari Islam, kalau memang tasawuf memagang teguh ini, sya akan sepakat. Gapailah akhirat jangan abaikan syariat. Ihsan itu adal dalam islam dan orang yg sudah mampu ihsan tentunya harus dicapai dengan ilmu syariat yg sesuai AL Qur’an dan As-Sunnah.
Tetapi sya tidak sepakat dengan khulul, ittihad, wihdatul wujud, zikir2 yg tdk dicontohkan rosulullah SAW. Kenapa melakukan zikir2 tertentu yg seolah2 serupa dg syariat, misalnya menetapkan jumlah, waktu,seribu kali, dst. Padahal dihadistpun sudah banyak contoh dzikir yg disyariatkan/diperintahkan rosulullah SAW, kenapa membuat tata cara sendiri, bentuk dzikir sendiri…??apakah merasa lbih utama, lebih dahsyat efeknya, lebih baik dari apa yg dicontohkan rosulullah SAW….??? padahal agama ini mudah tinggal ikuti AL Qur’an dan As-Sunnah, jangan dipersulit…dan dipersusah dg ajaran2 yg baru hasil buatan pemikiran manusia.
Disinilah inti perbedaannya tasawuf yg menyimpang dan yg tidak. Sya pernah ikut di abah anom (suryala), namun Allah SWT berkehandak lain, sya merasa malas untuk berzikir ala tasawuf yg diajarkan abah anom itu. Buat saya pemahaman muhammadiyyah, ikhwanul muslimin, salafi, lebih baik dari pada mengikuti tasawuf yg menyimpang itu. Kalau Mas Zon, sya gak tahu…apakah sepakat dg para pendahulu tasawuf itu….?. kebenaran itu harus disampaikan walaupun pahit, tetapi memang harus secara ikhsan,..dlm hal ini sya lebih sepakat dg IM, dan Muhammadiyyah kalau dr segi dakwahnya…, namun dari segi ilmu ulama salafi lebih rinci dan mendalam dalam membahas sesuatu…, namun konsep mereka ttg bid’ah itu sama: yaitu dalam urusan agama/ibadah dan semuanya menyimpang, adapun dlm hal kebiasaan maka itu bukan bid’ah.
Jadi ushul fiqh (hukum awal ibadah itu haram, kecuali ada dalil yg memerintahkan, dan hukum asal muamalah/kebiasaan itu boleh kecuali ada larangan), hal ini menurut hemat saya lebih aman dan selamat, dibandingkan ushul fiqh yg mas zon kemukakan dibeberapa artikelnya. Dg kaidah ini akan mudah dan gampang menilai amalan itu menyimpang dari tuntunan rosul atau tdk….? contoh : berdikir dg menari nari, zikir dg keras, kepala dibolak balikan….itu menjadi tdk sesuai petunjuk rosul, karena tdk ada perintah dan contohnya dari rosul. (Apakah sesat…???, kalau orang yg belum tahu mungkin beda hukumnya, makanya harus dikasih tahu, tapi kalau orang yg sudah tahu..maka hukumnya pun akan berbeda juga, apalagi seorang kayai atau ulama yg melakukan hal itu, padahal dia tahu rosul tdk mengajarkannya). Syari’at ini sudah sempurna, konsekuensi sempurna adalah tidak perlu penambahan dan pengurangan terhadap syariat yg telah ada. (kalau dzikir , sholat, sholawat, ya ikuti rosulullah SAW, tidak susah). Jadi intinya ikutilah Rosulullah SAW (AL Hadits) meskipun bertentangan dg hati nurani dan imam madzhab.
Mas Hery, tidak ada larangan dari Rasulullah untuk menggunakan untaian doa, dzikir maupun sholawat yang berlainan dengan yang dicontohkan oleh Beliau.
Mas Hery sebaiknya jangan membuat-buat larangan karena larangan hanyalah bersumber dari Allah ta’ala
Perkara agama atau perkara syariat termasuk perkara larangan bersumber hanya dari Allah ta’ala.
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)
Perkara larangan adalah hak Allah ta’ala menetapkannya dan Allah ta’ala tidak lupa.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)
Urusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya termasuk perkara larangan telah sempurna atau telah disampaikan seluruhnya oleh Rasulullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)
“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)
Kalau ada larangan yang tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah maka ini termasuk bid’ah dholalah
Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )
Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”
Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“
Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)
Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,
“Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].
Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim).
mas Hery ana yakin berbohong dalam ikut abah anom …..mohon dijelaskan coba apa yang anda dapat dari beliau ( abah anom ) bagaimana penjelasan anta dgn dzikir kepala ” dibolak dibalik ” versi nt ….itu ada ilmunya mas ….coba nt jelasin kalau nt nggak berbohong ……..apa thoriqoh abah anom alm coba ………syukron
Astagfirullah, mohon maaf jika perkataan sya tidak meyakinkan Mas Mamo, sehingga Mas Mamo anggap saya berbohong (kenapa secepat itu membohongkan orang lain…???, apalagi merasa yakin, justru keyakinan anda..yg saya pertanyakan, dapat darimana keyakinan bahwa saya berbohong….???, jangan dibiasakan seperti itu yah…, (itu prasangka yg tidak baik, dan dalam prasangka itu terdapat dosa, coba hayati kembali nasihat2 Imam Ghazali dan Syaikh Abdul Qodir Al Jailany dan amalkan…kalau memang mengaku mengikuti mereka..)
Bismillah sekitar tahun 2002 saya diajak ke suryalaya, sya pada saat itu belum tahu apa itu tarekat qodiriyyah wa naqsabandiyah, sya hanya ikut2an aja, kebetulan teman saya yg mengajak. Saya pernah belajar dzkir zahar dzikir hoffy, namun entah kenapa..buat saya pribadi ga cocok untuk mengikuti itu, terasa ada yg mengganjal dihati, yg akhirnya dikemudian hari sya tdk pernah lagi mengamalkan itu, sya tahu apa yg dimaksud gerakan kepala itu yaitu —->pengucapan laa ilaaha ilalloh, sebanyak 165 kali setelah sholat dan tidak usah membaca dzikir (subhanalloh, lahamdulillah , allahuakbar 33x…yg sudah2 jelas ada haditsnya)
Laa ditarik dari bawah keatas ubun-ubun
ilaa —> didada kanan atas. ha—->.didada kiri bawah
illalloh didada kiri, (pas kata loh nya di dbagian bawahnya/hati)
sedangkan dzikir hoffy adalah lidah dilipatkan keatas langit langit mulut, kepala menunduk kesebelah kiri. kemudian hati mengucapkan Allah dengan bilangan tertentu.
Saya tidak mengatakan sesat seperti orang2 yg lebih keras dr pd saya, namun saya khawatir kita lebih mengikuti mursyid/kyai/apalah dibandingkan dengan sunnah Rasulullah SAW. Sehingga kita dianggap bukan ummat Nabi sebagaimana dalam hadits (manrogibba ‘ansunnati falaisaa minni)…barang siapa yg tidak menyukai sunnahku maka bukan ummatku), ini yg membuat sya takut, khawatir. Kalau memang buat Mas Mamo tidak hawatir, silahkan saja, saya tidak akan memaksakan pemahaman saya, saya hanya menyampaikan sebatas kemampuan sya, adapun masalah mau ikut atau tidak itu buka kewenangan saya, namun kewenangan ALlah yg Memberi Taufik.
Kurang lebih seperti itu, yg saya pelajari, maaf jika kurang sempurna. namun sya kira cukuplah untuk membuktikan bahwa saya tdk berbohong bukan…??? apakah Mas Mamo, masih yakin saya berbohong…????, perlu bukti apalagi ….????
yg jelas sya tdk sepakat dg tasawwuf kalau bertentangan dg syariat. Pondasi Islam itu Al Qur’an dan As-Sunnah, ulama2 terdahulu seperti Fudhail bin Iyyad, Imam Hasan Al Bashri adalah pemegang AL Qur’an dan As-Sunnah. Namun belakangan ini sya kurang sepakat, dengan tatacara buatan sendiri dalam rangka beribadah/mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sya baca juga karangangan Imam Ghazali, Syaikh Abdul Qodir Jailany, karena banyak ilmu disana terutama dibidang akhlak, zuhud, waro, dll. Sekali lagi sya akan sepakat dengan siapapun jika berdasarkan dalil yg shahih, namun jika ada dalil yg diketahui lemah/palsu dikemudian hari…ya saya akan tinggalkan dalilnya itu, bukan sya tinggalkan secara keseluruhan pemahaman Syaik Abdul Qodir Al Jailani maupun Abu Hamid Al Ghazali.
Alhamdulillah mas Hery nt menjelaskan dan maaf kalau ana cepat menuduh nt berbohong ini bukan lain karena komentar nt ( tidak perlu ana copas ) silahkan nt baca sdri mas layaknya bukan seorang yang tau ilmu tarekat …… apa yang nt ulas masalah tarekat dlm komen jawaban betul petanyaannya apa nt dah dibaiat langsung sama mursyid ??? apa nggak diberikan keilmuannya dulu dgn tahapan ??? memang apa yang ada di tarekat tsb melanggar al qur’an n sunnah ??? mohon dijelaskan ……….
mas Hery maaf kalau ana pribadi tetap menjalani tasawuf karena apa ana mengikuti Imam mujtahid muthlak sedangkan nt bukanlah mujtahid …..maaf ….mustahil para imam menyuruh kita bertasawuf kalau itu hal yang sesat …..
Mas Zon
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).
Perintah itu : ada yg ditetapkan waktu dan tatacaranya oleh Allah dan Rosul-Nya ada juga yg tidak. Contoh Sholat–Tatacara dan waktunya sudah ditetapkan dan kita wajib mengikutinya (Ittiba’), sholat subuh 2 rokaat, tidak boleh ditambah2 karena ini perintah wajib.
Sholawat pun menurut hemat saya , lebih utama dan lebih baik dan selamat kita sesuai hadits sebagai taat kepada Allah dan Rosul-Nya.
Dan rosulpun bukankah sudah mengajarkan bagaimana caranya memuliakan beliau…??? terutama untuk bacaan didalam sholat, maka menurut hemat saya wajib sesuai dg hadits.
Adapun kalau membuat sendiri, harus ada perintah dulu, apakah kita diperkenankan untuk membuat bacaan sholawat atau tidak, kenapa harus buat sendiri, apakah tidak cukup apa yg diajarkan oleh Rosulullah SAW…??? bukankan Kita Sudah sepakat Bahwa perintah dan larangan itu sudah dijelaskan semuanya…???
Adapun yg tidak sepakat ya sudah tidak apa2, kita tanggungjawab masing2 bukan…???
Berdo’a: ini kita diperbolehkan mau minta apa saja sesuai kebutuhan tentunya dalam perkara yg baik. Ada juga contoh do’a rosulullah SAW. Jadi khusus dalam berdo’a ada yg telah dicontohkan Rosulullah SAW, dan ada juga yg dipersilahkan memohon kepada Allah sesuai keperluan. Namun do’a2 didalam sholat seperti iftitah, dan lainnya…, apakah boleh buat sendiri…??? tidak boleh kan…?? ya karena kita wajib mengikuti rosulullah SAW dalam menegakkan sholat. APa yg Rosul contohkan ya kita tinggal ikuti saja, taat kalau memang mengaku ummat Nabi SAW , bukan begitu Mas….???
Melarang orang yg melakukan ibadah yg menyelisishi rosulullah SAW itu bukan berarti membuat larangan sendiri. Karena Rosul pun mengajarkan untuk saling mengingatkan dan menasehati sesama ummat bukan…??? namun kita tidak boleh memaksakan kehendak, karena taufik itu datang dari Allah kepada orang Yg dikehendaki-Nya, jadi hanya dalam posisi menyampaikan Perintah dan Larangan Allah SWT.
Contoh larangan : ” Barang siapa yg melakukan amalan yg tidak kami perintahkan maka tertolak (al Hadits), artinya kalau tertolak itu apa…?? bukankah tidak diterima karena ALlah dan Rosul-Nya tidak memerintahkan-Nya, sedangkan perintah itu rinciannya telah sya sampaikan diatas.
kalau MEMERINTAH kepada KESYIRIKAN/KEMAKSIATAN/BID’AH INI yg dilarang itu, yg kalau kita mengikuti orang yg berfatwa seperti ini baru kita dianggap menuhankan Ulama Ulama seperti nasrani kepada pendeta/rahib2 mereka
BEGITU JUGA MELARANG APA YG TELAH Allah halalkan, seperti Menikah, kalau ada orang yg melarang ini jelas Ini Sesat, seperti rahib2 itu…???
Jadi mohon dicermati, rincian perintah dan larangan itu, bagaimana sebenarnya makna menghalalkan apa yg diharamkan Allah dan menghalalkan apa yg diharamkan Allah itu.
hal ini berbeda dg ulama2 yg berijtihad menetapkan hukum Allah berdasarkan AL Qur’an dan As-SUnnah bukan….??? (jadi harus rinci, jangan sepenggal sepenggal memahaminya)
COBA cermati hadits ini ya telah Mas Zon sampaikan diatas:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia;
dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)
kita sudah sepakat dg hal ini bukan…??
Perintah dan Larangan sudah jelas.
Sesuatu yg diharamkan Sudah Jelas
dan Allah mendiamkan beberapa hal….
maksud Allah mendiamkan beberapa hal itu apa maksudnya menurut mas Zon…??? apakah sebuah legalitas untuk kita membuat tatacara ibadah yg baru dalam agama ini, karena memang tidak ada larangan secara tegas, misal larangan memakai sayyidina…
Ya tidak akan menemukan secara tegas larangan seperti itu, karena larangan dalam ibadah itu sangat banyak dan tidak perlu disebutkan satu persatu (misal jangan sholat subuh 3 rokaat, jangan sholat subuh 5 rokaat dst sampai sejuta rokaat mungkin…, belum larangan lainnya). Oleh karena itu larangan dalam perkara ibadah ini cukup dengan hadits ” (” Barang siapa yg melakukan amalan yg tidak kami perintahkan maka tertolak).
Amalan yg tidak kami perintahkan itu apa saja: ?? pasti banyak sekali bukan…??? amalan itu bisa satu kesatuan amalan, bisa tatacaranya, ucapannya), karena amalan itu tatacara dan ucapannya sudah disampaikan oleh rosulullah SAW, adapun dalam hal Ibadah yg Umum seperti berdzikir sebanyak banyaknya (itu ada yg terikat waktu maupun tatacaranya/ucapannya ada juga yg tidak, seperti membaca al qur’an kapanpun bisa dilakukan selama syarat2nya terpenuhi/suci dari hadats/najis). Sholat aja kalau tatacaranya, waktunya/bacaannya tidak sesuai dg tuntunan Rosulullah SAW pasti akan tertolak (kecuali orang yg baru belajar yg belum hafal).
Ini pendapat sya, kalau Mas Zon tidak sepakat yo monggo silahkan saja….
Mas Mamo, tidak perlu minta maaf sama saya kalau masih tetap bertasawuf, saya tidak pernah mengatakan tasawuf itu sesat, sya hanya sepakat dengan tasawuf yg sesuai dengan Al Qur’an dan As-Sunnah, saya bukan Imam Mujtahid, jauh sekali kapasitas ilmu saya untuk menjadi itu, saya hanya berusaha semampu saya dengan tetap berdo’a memohon petunjuk Robbul A’lamiin, juga mempelajari dari berbagai karya ulama, diskusi dg para ustad, karena saya ingin mencari kebenaran (saya diskusi tidak hanya dg NU, tetapi dengan Muhammadiyyah, PKS/IM, Salafy,HTI…..kenapa seperti itu…karena saya ingin mengetahui pandangan2 mereka….dan saya akan pedomani kalau bersesuaian dg sunnah/al hadits Rosulullah SAW……,
oleh karena itu bukan saya tidak mengikuti imam mujtahid, yg namanya mujtahid berarti ada ijtihad dalam fatwanya, adapun ijtihad kita bisa sepakat dengan Imam Syafii disatu sisi dan bisa juga dengan Imam lainnya disatu sisi, kenapa demikian karena patokannya /standarnya bukan Imam tetapi AL Qur’an dan As-SUnnah. Imam Syafii pun menyampaikan jika ada hadits shahih , maka itulah madzhab ku. Beliau pun menyadari bahwa dirinya tidak ma’sum, bisa saja salah ijtihadnya, karena belum mengetahui haditsnya/ penafsiran yg kurang pas..(misalnya), namun karena belaiu ijtihad jadi kalau salahpun akan mendapat pahala.
adapaun kita sekarang ini sudah disuguhi karya2 Imam ahli hadits tentang mana yg shahih dan mana yg tidak, jadi akan berbeda hukumnya kalau kita memegang teguh pendapat imam padahal berbeda dg hadits shahih. Dalam masalah hukum hasil ijtihad para Imam saya lebih banyak mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal…karena beliau (ahli hadits), jadi dia tdk berani menafsirkan sesuatu tetapi akan dikembalikan kepada dzahir haditsnya.
Masalah tasawuf, sya kira itu pilihan anda…silahkan kalau merasa yakin dengan yg sekarang ini. Kalau anda katakan mengikuti Imam mujtahid…ya silahkan saja…berarti anda sepakat dg ijtihadnya mereka. .Sya pribadi ingin mengikuti Rosulullah SAW dalam beragama ini, oleh karena itu sya tidak fanatik terhadap satu Imam Madzhab, sya akan sepakat dengan ulama siapapun dia selama dia berpedoman dan sesuai dengan apa yg diajarkan oleh Rosulullah SAW. Tidak ada yg mustahil bahwa seorang imam itu berbuat salah…karena manusia setelah Rosulullah ini tdk ada yg Ma’sum.
Kalau kita lihat Syi’ah, Murji’ah, Mujassimah, Mu’tajilah, Musabihah, Ahmadiyyah…mereka punya imam yg menurut mereka adalah benar dan lurus. padahal kita ketahui bahwa mereka adalah menyimpang…., sepakat kan mereka menyimpang dari kebenaran…?? dari mana tahu mereka menyimpang…???apakah berdasarkan perasaan hati….???tentu tidak, tetapi berdasarkan standar aqidah yg dibawa oleh Rosulullah SAW.., dengan itulah kita akan mengetahui dan menilai suatu faham itu menyimpang atau tidak. Jadi Indikator untuk menilainya adalah Al Qur’an dan As-Sunnah.
Syiah itu bersahadat, namun dia tdk mengakui sahabat Abu bakar dan Umar bin Khatab. Mereka bersahadat, mereka shalat, dan melakukan jg kewajiban yg lain, namun sikap mengenai sahabat mereka berbeda dg ahlusunnah…yg membuat mereka melenceng dari kebenaran. Jadi Indikatornya yg dipakai untuk menilai menyimpang atau tidak suati faham itu harus menggunakan standar yg menyeluruh dari Al Qur’an dan As-SUnnah. Misal kalau kita hanya memakai sahadat saja, ya berarti mereka org yg beriman, padahal tdk bukan..?? karena mereka tdk mengikuti petunjuk Rosulullah SAW dalam menyikapi para sahabat…??
Mereka masih islam…??, ya tetap islam, bahkan masih diaku sbgai ummat Nabi SAW. tetapi mereka termasuk kedalam 72 golongan yg menyimpang (sesuai hadits terpecahnya Umat ini menjadi 73 golongan).
Begitu juga dg tasawwuf, NU, Muhammadiyyah, Salafi, IM, kalau sesuai AL Qur’an da As-Sunnah ya saya sepakat. Jadi saya tidak menyama ratakan dalam penilaian terhadap manhaj/madzhab ini, jadi kalau ada yg tdk sesuai ya sya tinggalkan, tapi yg sesuainya saya ambil.
Kalau mau…saya bisa saja tekuni itu tasawwuf sampai jadi mursyid mungkin…, namun Allah SWT berkehendak lain…dan yg telah sya jalani itu adalah takdir Allah SWT. Jadi sekali lagi kalau mau tetap di tasawwuf, silahkan saja. Tapi kalau boleh saya memberi saran, kita jangan terkungkung/ terdoktrin/ terpaku dengan satu faham saja, coba tengok dan pelajari manhaj/madzhab lainnya dengan memohon petunjuk kepada Allah SWT agar ditunjukkan kepada jalan yg lurus (sesuai AL Qur’an dan As-Sunnah) yg dirdilhoi oleh-Nya.
Kalau saya boleh bilang, bagaimana hukum orang yg mengikuti tasawwuf…?? menurut pandangan saya, kalau mereka masih terkungkung /belum tahu faham yg lain , maka Insya Allah akan menemui ampunan Allah JIKA ada yg Salah. Namun Jika telah mengetahui faham lainnya(yg lebih sesuai dg petunjuk Rosulullah SAW)…maka keputusannya hanya pada Allah apakah akan mengampuninya atau tidak. (Wallohu a’lam). Tapi yg jelas Allah tidak akan membebani umatnya diluar batas kemampuannya. Mohon maaf jika terlalu panjang dan kalau ada kata2 yg kurang berkenan….ini pendapat saya, kalau setuju silahkan, kalau tdk ya tidak apa2. Semoga kita mendapat petunjuk Allah SWT. amin..
Mas Hery…
Anda katakan kalau membuat shalawat itu bid’ah dan menyalahi sunnah Rosulullah Saw. Tapi anda coba kaji lagi, karena para sahabat Nabi juga membuat shalawat sendiri lho…
Apakah anda berani bilang kl para sahabat itu menyalahi sunnah???
Ini jelas terbukti bahwa ada bid’ah hasanah dan ada bid’ah dholalah.
Bid’ah hasanah jika sholawat yg dibuat para sahabat itu dilakukan di luar urusan ibadah mahdoh. Jika sudah masuk ibadah mahdoh tentunya jadi dholalalah
kalo sahabat mereka dpat rekomendasi dn wewenang dr nabi u di ikuti dan membua baru dlm agama jd perkara baru yg di buat oleh sahabat itu hnya bleh d lakukan olh sahabat dn gk tercela dan statusny sama dg sunnah nabi TETAPI selain sahabay mka tdak boleh u membuat buat yg baru dlm agama
gk ada bidah hasanah yg ada hnya sunnah hasanah
” kalau mau.. saya bisa saja tekuni itu tasawuf sampai jadi mursyid mungkin…” kalimat yg sombong! bercerminlah dahulu. karena mursyid yg asli harus ada garis turunan dari Nabi MOHAMMAD SAW. kalau zikir yg diajarkan Abah Anom tdk sesuai, lebih baik diam dan tinggalkan, janganlah disalahkan, bisa kualat bagi seorang yg mengaku muridnya. zikir ada tingkatannya, dari yg sedikit sampai tak terbilang jumlahnya. kalau seseorang zikir angkanya dia tetapkan sendiri karena kemampuannya, dimana salahnya? kurang atau lebih dari yg dicontohkan Nabi SAW juga tdk masalah. zikir itu harus ikhlas karena ALLAH SWT, baru terasa nikmatnya. setelah merasakan nikmatnya, akan terasa kurang sehingga ada dorongan keras untuk menambah jumlahnya dan mencari sunah lain yg juga nikmat, semua itu tentu atas hidayah dan ridho dari ALLAH SWT. kalau orang yg mencari kenikmatan zikir berdasarkan prasangka buruk, kesombongan, ketidak sabaran, tdk akan mungkin merasakan nikmatnya sehingga malah menyalahkan zikir utk pelampiasan kekecewaannya.
Saudara Badar
ass…
setuju dengan perkataan SAUDARA BADAR… perkataan yg mereka katakan itu terlalu angkuh… mereka tdk menyadari perkataannya!!!! sy terus terang tertawa membaca kalimat orang yg angkuh!!!! kita ini manusia yg tdk punya hal bisa kita banggakan SAUDARA HERY kecuali ALLAH.SWT yg menjadikannya. perbanyak ISTIGFAR SAUDARA HERY.
wassalam…..
ayo sekarang waktunya khuruj fisabililah dakwah wa tabligh.tinggalkan dulu diskusinya. Umat terlantar menunggu asbab hidayah. persatuan terancam bila hanya diskusi yang tidak berujung.karena perbedaan paham tidak bisa dipaksakan untuk sepaham.maka jangan memaksakan faham. dan perbedaan itu sebenarnya sudah ada tapi tidak menjadi masalah. menjadi masalah karena ada yang menumpangi. siapa lagi kalau bukan yahudi?.pencetus politik devide at impera(memecah belah).
klo bukan jemaah tabligh…jemaah mana lagi yg mau mnyebarkan AGAMA ISLAM? KALIAN SEMUA SIBUK DENGAN BERDEBAT…UMMAT BANYAK YG BERMAKSIAT.BAGAIMANA CARA MENYELESAIKANNYA?
klo bukan jemaah tabgligh,,jemaah mana lagi yg mau menyebarkan agama Islam?ummat banyak yg maksiat.bagaimana cara menyelesaikannya?
allahu akbar
DIKIT – DIKIT BID’AH , SEDIKIT – SEDIKIT BID’AH ………..APA’AN !!!
EMANGNYA ISI DUNIA INI HANYA BID’AH !!!
Ma Heri berprinsip dan berpendirian diatas adalah bagus, karena ke hati hatiannya dalam beramal. tetapi menganggap bid’ah amalan tasawuf yang tidak dimengerti ilmunya oleh mas heri itu tidak boleh. Kalau tidak paham, maka tak usah diamalkan,dan itu tidak merupakan kewajiban. Hanya bagi yang pingin mendalami dan diberi kepahaman, maka itu suatu karunia. Tetapi sekali lagi kalau mas heri tidak paham ya jangan mengamalkan, tetapi tidak boleh membidahkan, karena tidak tahu ilmunya. Dan Kepahaman itu anugerah Alloh kepada hamba yang dikehendakiNya. Saya sendiri pun sekarang ini tidak mengamalkan Thoriqot/tasawuf tertentu. Saya hanya mengamalkan dzikir pagi petang dan wirid wirid yang diajarkan Rosululloh. Lalu apakah saya tidak bertasawuf? Tetap saja saya bertasawuf,dalam tahap awal. Entah kalau Alloh kehendaki saya lebih memperdalam lagi dalam bertasawuf dengan bimbingan mursyid. Insya Alloh.
terima kasih atas komentarnya pada saudara2ku semua, mohon maaf jika ada y= perkataan yg salah, nda ada bermaksud sombong ataupun menyinggung perasaan sesama saudara muslim, sya hanya hamba Allah yg lemah…, sya hanya menyampaikan apa yg saya yakini setelah mempelajarinya, silahkan jika nda sepakat…, mudah2an kita mendapat taufik dan hidayah dari Allah SWT.amin ya robbal a’lamin..
Aamiin mas hery………Imam Mujtahid aja tidak maksum apa lagi nt ….he he he ……
Gimana tata cara untuk mempelajari ilmunya
Bagi yang tau tata cara untuk mempelajari ilmunya tolong dong kasih tau
Silahkan baca dahulu tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/tips-bertasawuf/
saudara-saudaraku bagus-bagus saja jika apa yang dikatakan atau dijelaskan untuk meninggikan kalimat Alloh; tapi alangkah baiknya jangan menghina antara satu golongan muslim yang satu dengan lainnya, karena semua sudah dibentuk dengan dasar-dasar falsafah masing-masing , yang penting setelah tahu mana yang salah kita tinggalkan, yang benar kita kerjakan. Marilah kita jaga toleransi inter umat beragama islam, bukan hanya antar umat beragama. Ayo majukan dakwah kita masing-masing dari NU, Muhamadiyah, Persis, Salafi,jamaah tablig, LDII,Perti,Matlaul Anwar,……….. Semoga Al Islam menjadi bangunan kokoh yang membawa kita masing-masing untuk masuk surga selamat dari neraka, dengan keridloanNYA. Semoga Alloh menunjukkan jalan kita yang benar!
Kalau begini indah jadinya…
Islam terpecah menjadi 73 golongan, yg 72 golongan adalah yg masuk neraka. Mungkin krn yg 72 golongan adalah yg merasa sombong, ujub, berburuk sangka, krn merasa hanya golongannya paling baik.
Yg saya perhatikan dari orang-orang yang shaleh, yang pernah bertemu dg baginda Nabi Saw, mereka justru menjauhi untuk “mempersoalkan” hal-hal yang sifatnya furu’. Mereka lebih asyik menghisab diri. Semakin bertambah ilmu mereka, semakin mereka merasa jauh dari baik, semakin merasa takut tidak selamat di akhirat nanti. Mereka dikenali dari bekas tanda sujud mereka, bukan dari jidat yg hitam…tapi dari wajah-wajah mereka yang bercahaya dan akhlak mereka yang baik
Amin A’a….(Moga-moga yg nulis ini A’a Gym idola saya…hehe)
Saudara-saudara muslimku, saya hanya mau bernyanyi sambil mengingatkan
“Jagalah hati..jangan kau kotori…jagalah hati…lentera hidup ini…”
Suatu perkara kalau yg melihat dari sudut pandang yang berbeda ya tidak nyambung/berkait, ini yang namanya hub gelap, ilmu iku kalakone kanthi laku masuk belajar baru komentar itu orang arif, anjing dikalungi emas tidak tahu maksudnya, kebanyakan ngoceh tidak bisa ngatasi masalah wahabi salafi mengaku bener ning ora pener
Assalaamu’alaikum, artikelnya bagus banget begitu dalam, saya mau tanya, apa sebenarnya makna di balik huruf alief lam miem
Tau sebab perselisihan, perpecahan dan peperangan
1. Tamak
2.Sombong ( merasa paling hebat, paling tahu, paling benar ,dll) dan karena kesombongan inilah Allah murka kepada Iblis ( mohon dikoreksi bila salah)
Apa ada orang yang tau bahwa ia sudah pasti masuk syurga?
Syurga dan neraka itu URUSAN ALLAH.
seandainya Allah menyalahi janjinya, siapa yang bisa menentang dan menghalanginya?
kekuasaan mutlak ada pada ALLah. Jalankan keyakinan yang menurut anda benar. tapi ingat keputusan akhirnya ada pada ALLAH jika anda percaya pada kekuasaan ALLAH.
ingat saudaraku ! ada kepentingan lain yang ingin merusak islam dari luar dan dari dalam islam itu sendiri. perbedaan ini janganlah menjadi pemicu perselisihan dan perpecahan antara umat islam sendiri. jika islam terpecah belah maka berbahagialah orang-orang yang menginginkan perpecahan itu. Dan janganlah kita menjadi bagian dari pemecah belah agama yang mulia ini. dan kepada ALLAH lah kita kembalikan segala sesuatu
assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
alhamdulillah syukur kepada Allah karena ilmu-Nya meliputi kita semua amin…..
islam ini menurut saya yang awam ibarat rumah megah dengan segala perhiasannya yang indah. mustahil rumah megah ini berdiri jika hanya satu unsur saja yang membangunnya. semuanya berperan dengan fungsinya masing-masing……
adapun yang sariat menjalankan fungsinya dengan baik
pun yang hakiki juga menjalankan fungsinya dengan benar
jadi menurut pemahaman saya tidak ada yang salah ataupun yang benar, yang ada cuma semata-mata keyakinan bahwa Allah itu Esa, Muhammad itu Utusan-Nya, Islam itu akidah-Nya dan kita semua adalah insan-Nya
Subhanaallah tulisan yang sangat bagus dan sangat menentuh hati sekali… Alhamdulillah blok ini harus dibaca oleh semua orang yang ingin benar2 bermakrifat kepada allah…. Terimakasih jazakumullah khairal jaza’
Kira kira ada tidak referensi kenalan ustadz yang bisa membimbing saya untuk belajar dikota palembang? Kalau ada saya akan berterima kasih sekali mau menunjukkan saaya atau bisa sms ke saya 081311461686 atau email. Ke sukmojati46@yahoo.com atau nuryasinarlan@ymail.com
lam kenal
aslamuallaikum wr.wb maf sodara alamsyah,mengenai zikir tiada yg melarang meskipun ia lakukan dlm keadaan apapun,asal kn yg dia sbut asma allah.jngn kta liat prilakunya tp kta liat ucapan zikir nya. . Misalkan dia zikir dngan menggunakan nama alamsyah itu pasti sesat,tp kalo dia zikir dngn asma allah itu benar.menurut aq ilmu piqih,tauhid,syaraf,nawhu,tasawuf ato ma’rifat.tidak ada brtentangan dngn hadist.sperti org2 syariat,sholat,zakat,puasa,ibadah haji dll.isi dri bacaan syariat pun tidak ada yg berbeda.tp org2 ma’rifat lebih ada sopan santun nya trhadap ajaran islam,. Ada tata cranya sopan santun nya saat kta menghadap sang pencipta.pada waktu sholat,dngn cra istinja jahir,seperti membersihkan kemaluan,pantat,bdan kta.bru kta wudhu.itu sdikit penjelasan aja.menganai bapa rasullah s.a.w abudalah aku tidak stuju kalo beliau masuk neraka! Itu fitnah yg sngat keji.apa kah kamu ingat pada saat abdulah wafat,rasullah mash sangat kecil dan blm menerima wahyu?ato mengajarkan sholat k pada abdulah.rasullah org yg sangat suci.dan d lahir kan oleh org2 suci pula dan pasti itu utusan allah untk melahirkn rasul. . Dan org itu (abdulah) pasti d jamin masuk surga?hai alamsyah pemikiran apa yg membuat kau brkata seperti itu.tobat lah.jangn kau pecah belah umat islam dngan kta2 yg tdak lazim.kta junjungan muhamad s.a.w ku halal kn api neraka buat org yg sedikit dikit karna aku. Wahai org2 yg bhatil! Jngn lah kau slewengkan ajaran tasawuf yg sesat,dmi ke untungan duniawi mu smata,itu adalah rojongan buat kamu.sebenarnya tasawuf sah menjalankan ilmu syariat dan berpegang qur’an dan hadis.
Assalamualaikum WWW.
Saya insan pemula yang ingin belajar tasawwuf lebih mendalam
mohon kasi tau ke mana saya harus belajar
oh ya saat ini saya tinggal di kota Bangkinang Kabupaten Kampar Pekanbaru Riau. trims
zon Jonggol anda menulis tentang perkataan Imam syafi’i dengan terjemahkan :
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
dalam pandangan saya terjemahan diatas terlalu anda politisir,
qoidah bahasanya gimana ?
jika engkau berada dipihak yang benar maka ajari aku jika tidak maka itu namanya berkhianat..
dalam terjemahan saya kalimat diatas memiliki arti :
fiqh dan sufi, maka jadilah dengan tidak mengambil salah satunya,
karena sesungguhnya aku demi haqnya Allah akan menasehati kepadamu kekerasan itu tidaklah merasakan ketakwaan dihati, dan ini adalah kejahilan bagaimana memiliki sifat jahil akan dapat melakukan perbaikan ?.
pertanyaan saya :
terjemahan pada kalimat
“Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik”
diambil dari kalimat yang mana..?
tentu ini dalam pandangan saya berkhianat..
jika kita terjemahkan secara mufrodat kata-kata diatas :
فقيها = fiqh
و صوفيا= dan sufi
فكن = maka jadilah
ليس = tidak/bukan
واحدا = satu
ف = karena
إني = sesungguhnya aku
و = demi ( waw qosam)
حـــق الله = haqnya Allah
إيـــاك = kepadamu
أنــــصح = aku akan menasehati
فذالك = karena itu
قاس = kekerasan
لم = tidak
يـــذق = merasakan
قـلــبه = hatinya
تقى = ketakwaan
و = dan
هذا = ini
جهول = kejahilan
كيف = bagaimana
ذو = memiliki
الجهل = jahil
يصلح = melakukan perbaikan
Mas silahkan baca penjelasan lebih lanjut dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/11/08/ihsan-yang-terlupakan/
apanya yang dibaca, jawab pertanyaan saya, kenapa terjemahannya tidak amanah..?
saya inginkan
terjemahan anda pada kalimat
Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik
itu diambil dari mana sedang tidak tercantum lafadzh yang anda tulis berbunyi seperti itu
lihat bahasa arabnya yg anda tulis
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
tidak ada seperti kalimat yang anda terjemahkan…
Diwan Imam Syafi’i dipahami dengan ilmu balaghoh bukan dengan makna dzahir
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى
Terjemahan secara dzahir adalah “kekerasan itu tidaklah merasakan ketakwaan dihati”
Kekerasan = tidak mau menjalani tasawuf
Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa
وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
Terjemahan secara dzahir adalah “dan ini adalah kejahilan bagaimana memiliki sifat jahil akan dapat melakukan perbaikan”
Kejahilan = tidak mau mempelajari ilmu fiqih
Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik
Contoh pembahasan hilangnya diwam Imam Syafi’i dalam tulisan pada http://www.sarkub.com/2011/pemalsuan-kitab-diwan-imam-asy-syafii/
Tasawuf adalah jalan untuk mencapai muslim yang ihsan sebagaimana yang dijelaskan lebih lanjut dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/12/14/jika-terjadi-fitnah/
cukuplah perbaiki kesalahan, mohon ampun kepada Nya.. kalau tidak bisa bahasa arab, belajar lagi tunda dulu menulis yang memang belum tahu apa yang ditulis
Diwan Imam Syafi’i dipahami dengan ilmu balaghoh bukan dengan makna dzahir
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى
Terjemahan secara dzahir adalah “kekerasan itu tidaklah merasakan ketakwaan dihati”
Kekerasan = tidak mau menjalani tasawuf
Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa
وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
Terjemahan secara dzahir adalah “dan ini adalah kejahilan bagaimana memiliki sifat jahil akan dapat melakukan perbaikan”
Kejahilan = tidak mau mempelajari ilmu fiqih
Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik
Contoh pembahasan hilangnya diwam Imam Syafi’i dalam tulisan pada http://www.sarkub.com/2011/pemalsuan-kitab-diwan-imam-asy-syafii/
Tasawuf adalah jalan untuk mencapai muslim yang ihsan sebagaimana yang dijelaskan lebih lanjut dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/12/14/jika-terjadi-fitnah/
Sepertinya aku mulai menyukai tasawuf…
Lagi pula mau ikut pengajian salafi agak susah, di negeri tempat aku tinggal, salafi dan syi’ah tidak diijinkan masuk oleh pemerintah.
Kalau terjemahannya semaunya,walau dengan alasan balaghah,ya itu dia mencocok2kan sebuah ungkapan dengan faham yg kita anut,di sini kekeliruannya,Tapi kita tak bingung wong Al-Qur’an dan sunnah saja yg lebih tinggi derajatnya berhasil Mas Zon bawa ke pemaknaan yg di kehendaki apalagi cuma ungkapan selain dari Al-Qur’an dan Sunnah ntu,,salut dah sama Mas Zon ^__^
Mas Ihsan Ilahy Dzahir, Diwam adalah sebuah syair yang dipahami dengan balaghoh
Tasawuf hanyalah sebuah istilah yang kaitannya dengan akhlak atau ihsan
Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak dan Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sangat menyayangkan sirnanya pendidikan tasawuf (pendidikan akhlak) dalam kurikulum pendidikan di negeri kita sebagaimana kutipan tulisan beliau yang dimuat pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/
Orang yang berhasil menjalankan tasawuf sehingga meraih maqom disisiNya atau dekat dengan Allah ta’ala disebut sufi atau wali Allah (kekasih Allah)
Contoh syair yang lain dari Imam Syafi’i ~rahimahullah ketika beliau ditanya apalah beliau termasuk seorang sufi.
Uhibbu asshalihiina wa lastu minhum La’alli an anaala bihim syafa’ah
Uhibbu asshalihiina = Aku mencintai orang shalih
walastu minhum = Walaupun.. aku tidak seperti mereka
La’ali an anaala bihim syafa’ah = Beliau berharap / semoga memperoleh Syafa’at / pertolongan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (untuk menjadi orang yang Sholeh)
Ini tauladan yang disampaikan Imam Syafi’i ~rahimahullah bahwa kita tidak boleh mengatakan / mengakui sebagai saya serupa dengan mereka termasuk orang sholeh, atau saya seorang sholeh atau saya seorang sufi atau saya seorang muhsin, karena orang sholeh, orang sufi, orang muhsin adalah dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia atau hasil penilaian Allah pada manusia. Bagi kita manusia hanya boleh berharap pertolongan Allah dan berupaya untuk mencapainya.
Kita simak doa Nabi Ibrahim as
“(Ibrahim berdo’a): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh (QS Asy Syu-ara [26]:83 )
Oleh karenanya kita harus berupaya menjadi orang-orang sholeh, orang-orang yang baik atau ihsan (muhsinin) dengan mengamalkan tasawuf dalam Islam yakni tentang ihsan / akhlakul karimah.
Jika kita menjadi orang-orang yang sholeh, maka seluruh muslim mendoakan kita ketika mereka mendirikan sholat.
Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,
“Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.
Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) membagi maqamat al-walayah (derajat kedekatan para Wali Allah ke dalam lima maqamat.
Kelima maqamat itu adalah:
al-muwahhidin
al-shadiqin
al-shiddiqin
al-muqarrabin
al-munfaridin
Maqom atau maqamat tertinggi menurut beliau adalah al-munfaridǔn. Al Hakim al-Tirmidzi berpandangan bahwa para wali yang mengalami kenaikan peringkat dari maqamat al-muwahhidun, al-shaddiqun, al-shiddiqun, hingga al-muqarrabun diatas telah sempurna tingkat kewalian mereka. Hanya saja Allah mengangkat salah seorang mereka pada puncak kewalian tertinggi yang disebut dengan malak al-malak dan menempatkan wali itu pada posisi bayn yadayhi (di hadapan-Nya). Pada saat seperti itu ia sibuk dengan Allah dan lupa kepada sesuatu selain Allah. Seorang wali yang mencapai puncak kewalian tertinggi ini berada pada maqam munfaridin atau posisi malak al-fardaniyah, yaitu merasakan kemanunggalan dengan Allah.
Al-Hakim al-Tirmidzi tidak menggunakan istilah ittihad seperti Abu Yazid al-Busthami (w.261H-875M) atau hulul seperti al-Hallaj, atau wahdatul wujud seperti Ibn ‘Arabi (w.638H/1240M) dalam menjelaskan persatuan seorang wali dengan Allah. Ia menggunakan istilah liyufrida (agar manunggal / merasakan kemanunggalan).
Kita kadang menemukan perkataan para sufi atau para wali Allah (kekasih Allah) yang telah mencapai puncak kewalian tertinggi kalau menurut akal pikiran atau logika adalah sesat seperti kemanunggalan atau bersatu dengan Allah atau bahkan “aku adalah Allah“.
Sejauh mereka menyatakannya tidak keluar dari sifat ubudiyah , sifat penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla maka perkataan itu pada hakikatnya tidaklah masalah.
Ungkapan cinta mereka sebaiknya janganlah dimaknai secara dzahir. Ibarat sepasang kekasih mereka bersatu namun secara dzahir mereka tidak bersatu. Allah Azza wa Jalla dekat tidak bersentuh, jauh tidak berjarak dan tidak berarah.
Ungkapan cinta mereka berbalas dengangan ungkapan cinta Allah ta’ala kepada hambaNya sebagaimana yang terlukis dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman “jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (HR Bukhari 6021)
Ungkapan cinta Allah ta’ala kepada hambaNya dalam hadits qudsi di atas pun tidak dapat dimaknai secara dzahir seperti yang artinya “Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar”.
Begitupula ungkapan seorang kekasih seperti “di dalam dadaku ada kamu” , tidak bisa dimaknai secara dzahir
Begitupula tidak dapat dimaknai secara dzahir terhadap hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a. Alah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”
Dalam sebuah hadit Qudsi yang lain, Allah Azza wa Jalla berfirman: ’Telah Kucipta seorang malaikat di dalam tubuh setiap anak keturunan Adam. Di dalam malaikat itu ada shadr. Di dalam shadr itu ada qalb. Di dalam qalb itu ada fu`aad. Di dalam fu`aad itu ada syagf. Di dalam syagf itu ada lubb. Di dalam lubb itu ada sirr. Dan di dalam sirr itu ada Aku.”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah”
Hati orang beriman yang menjadi wadah dari nikmat-nikmat Allah yakni nikmat cahayaNya atau nikmat ilmuNya
Jasad adalah wadah bagi bathin, bathin adalah jasad bagi ruhani, ruhani adalah wadah bagi hati, hati adalah wadah bagi akal qalbu, akal qalbu adalah wadah bagi sirr al ghaib atau wadah dari nikmat-nikmat Allah, nikmat cahayaNya, nikmat ilmuNya tanpa batas.
Imam Sayyidina Ali r.a. menyampaikan bahwa hati (qalb) mempunyai lima nama,
Pertama, disebut shadr, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya Islam (nuuru-l-islaam). Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala, ‘Adakah sama dengan mereka yang dibukakan shadrnya untuk Islam….” (QS Az Zumar [39] :22)’.
Kedua, disebut qalb, karena ia merupakan tempat terbitnya keimanan. Hal ini sebagaiamana firman-Nya, “Mereka itulah yang ditulis dalam hatinya terdapat keimanan.” (QS Al Mujaadilah [58]:22)’
Ketiga disebut fu’aad karena ia merupakan tempat terbitnya ma’rifah. Hal ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta’ala, ‘Fu’aad tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya’ (QS An Najm [53]:11).
Keempat disebut lubb, karena ia merupakan tempat terbitnya tauhid. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah ayat-ayat bagi ulil albaab (sang pemilik lubb)’ (QS Ali Imran [3]:190).
Kelima, disebut syagf, karena hati merupakan tempat terbitnya rasa saling menyayangi dan mencintai sesama makhluk. Hal ini sebagaimana firman-Nya, ’Sungguh ia (Zulaikha) telah dikuasai oleh rasa cinta yang membara….’ (QS Yusuf [12]:30)
Kewalian, dalam pandangan Al-Hakim al-Tirmidzi dapat diraih dengan terpadunya dua aspek penting, yakni karsa Allah kepada seorang hamba dan kesungguhan pengabdian seorang hamba kepada Allah.
Aspek pertama merupakan wewenang mutlak Allah, sedangkan aspek kedua merupakan perjuangan seorang hamba dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Menurut al-Tirmidzi ada dua jalur yang dapat ditempuh oleh seorang sufi guna meraih derajat kewalian. Jalur pertama disebut thariq ahl al-minnah (jalan golongan yang mendapat anugerah); sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan golongan yang benar dalam beribadah).
Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat wali di hadapan Allah semata-mata karena karunia-Nya yang di berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Sedangkan melalui jalur kedua, seorang sufi meraih derajat wali berkat keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah kepada Allah.
Derajat kewalian itu mengalami pasang surut; namun, setelah mengalami pengumulan yang hebat, seorang wali berada di hadapan-Nya untuk kemudian masuk dalam genggaman Tuhan. Pada situasi ini, seorang wali melihat kumiz min al-hikmah (perbendaharaan hikmah) dan tersingkaplah baginya ilmu Allah, sehingga naiklah horizon pengetahuan wali tersebut dari pengenalan tentang ‘uyub al-nafs (rupa-rupa cacat dirinya) kepada pengetahuan tentang al-shifat wa al-asma (sifat-sifat dan nama-nama Allah), bahkan tersingkaplah baginya hakikat ilmu Allah.
Hubungan yang tercipta antara Allah dengan al-awliya (para wali) menurut al-Tirmidzi adalah hubungan al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cinta kasih), dan al-inayah (pertolongan). Hubungan istimewa ini diperoleh karena hubungan seorang wali telah menyerahkan semua urusannya kepada Allah, sehingga ia menjadi tanggungjawab-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Adanya pemeliharaan, cinta kasih, dan pertolongan Allah kepada wali sedemikian rupa merupakan manifestasi dari makna al-walayah (kewalian) yang berarti dekat dengan Allah dan merasakan kehadirannya, hudhur ma’ahu wa bihi (merasakan kehadiran-Nya oleh diri-Nya).
Bertitik tolak pada al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cintakasih), dan al-inayah (pertolongan) Allah kepada al-awliya (parawali); al-Tirmidzi sampai pada kesimpulannya bahwa al-awliya dan orang-orang beriman bersifat ‘ishmah, yakni memiliki sifat keterpeliharaan dari dosa; meskipun ‘ishmah yang dimiliki mereka berbeda.
Bagi umumnya orang-orang beriman ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi al-awliya (para wali) ‘ishmah berarti mahfudz (terjaga) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya.
Al-Tirmidzi meyakini adanya tiga peringkat ‘ishmah, yakni
‘ishmah al-anbiya (‘ishmah Nabi),
‘ishmah al-awliya (‘ishmah para wali),
‘ishmah al-’ammah (‘ishmah kaum beriman pada umumnya).
Abul Qasim Al-Qusyairy an-Naisabury, seorang ulama sufi abad ke-4 hijriyah dalam Ar Risalatul Qusyairiyah fi ‘Ilmit Tashawwuf atau versi terjemahan “Risalah Qusyairiyah”, sumber kajian ilmu tasawuf, penterjemah Umar Faruq, penerbit Pustaka Amani, Jakarta berkata
***** awal kutipan *****
“Kaum Sufi, Allah benar-benar telah menjadikan kaum ini sebagai kelompok para waliyullah terpilih; mengutamakan mereka atas semua hambaNya setelah para Rasul dan Nabi-Nya. Semoga Allah memberi shalawat dan salam kepada mereka.
Allah menjadikan hati mereka tambang berbagai rahasiaNya; dan mengkhususkan mereka lebih dari umatNya yang lain dengan pantulan cahayaNya. Mereka bagai hujan bagi mahlukNya yang selalu berputar dan berkeliling bersama Al-Haqq dengan kehakikatanNya ditengah “keumuman” tingkah laku manusia.
Allah menjernihkan mereka dari segala kekotoran sifat manusia; melembutkan hati dan rohani mereka pada pencapaian tempat-tempat (maqam) musyahadat (persaksian ruhani pada kebesaran dan kegaiban Allah) dengan “penampakan Al-Haqq dari segala hakikat keesaanNya; menempatkan mereka untuk “tetap tegak” dengan sikap penyembahan dan mempersaksikan pada mereka saluran-saluran hukum ketuhanan.
Karena itu mereka mampu menunaikan segala bentuk kewajiban yang dibebankan kepada mereka; mampu menghakikati segala yang dianugerahkanNya, berupa perubahan-perubahan dan berbagai putaran hidup, kemudian kembali kepada Allah dengan kebenaran iftiqar (butuh dan menggantung pada kehadiran dan peran Allah) dan hati yang remuk redam karena Allah.
Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Luhur dan Tinggi; bebas berbuat apa yang dikehendakiNya; bebas memilih siapa saja yang dikehendakiNya; tidak ada yang memberi ketentuan hukum kepada Nya; tidak ada kebenaran bagi makhluk yang mengharuskan pada Allah; sebab pahalaNya adalah awal keutamaan dan siksaanNya adalah hukum keadilanNya; perintahNya adalah ketentuan yang mutlak dari Allah.”
***** akhir kutipan *****
Berikut catatan tentang sufi seperti yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Athaillah.
*****awal kutipan *****
Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.
Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.
Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.
Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi)
terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.
Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.
Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
***** akhir kutipan ******
Firman Allah ta’ala yang artinya,
”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)
“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS Shaad [38]:46-47)
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS Al Hujuraat [49]:13)
“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)
Muslim yang terbaik bukan nabi yang mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan menjadi kekasih Allah (wali Allah) adalah shiddiqin, muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat. Bermacam-macam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala“ Seorang dari sahabatnya berkata, “siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka“. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: “Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.” Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya“. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Yunus [10]:62)
Muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.
Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”
Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada“
Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. “Bagaimana anda melihat-Nya?” dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”
Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan“
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, “mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya. Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya”.
Jika belum dapat melihat Allah dengan hati (ain bashiroh) atau bermakrifat maka yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla melihat kita.
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)
Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)
Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh
Tidak semua manusia dapat melihat Allah dengan hatinya.
Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa
Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya
Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah ta’ala, pada saat yang sama ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.
Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhalang (terhijab) dari memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab ketika ia melihat kelemahannya dalam mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam dalam anugerahNya.
Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS Al Hajj [22]:46 )
“Pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali yang kembali kepada Allah dengan hati yang lurus.” (QS. Asy-Syu’araa: 88)
Oleh karenanya ketika penduduk surga dalam keadaan tidak berdosa maka mereka dapat melihat Allah tidak terhalang sama sekali, kemudahannya bagaikan melihat bulan ketika purnama yang tidak ada awan
Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Ibnu Syihab dari Atha’ bin Yazid al-Laitsi bahwa Abu Hurairah mengabarkan kepadanya, bahwa manusia berkata, Wahai Rasulullah! Apakah kami (bisa) melihat Rabb kami pada Hari Kiamat? Beliau pun balik bertanya: Apakah kalian akan mendapatkan kesulitan ketika melihat bulan di malam purnama yang tidak ada awan? Mereka menjawab, Tidak wahai Rasulullah. Beliau bertanya lagi: Apakah kalian akan mendapatkan kesulitan ketika melihat matahari di siang hari yang terang tanpa awan di bawahnya? Mereka menjawab, Tidak wahai Rasulullah. Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya kalian bisa melihatNya seperti itu juga. (HR Muslim 267)
Malaikat juga makhluk yang tidak dapat dilihat dengan mata kepala kecuali menampilkannya dalam bentuk tertentu namun malaikat juga dapat dilihat dengan pandangan hati
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Abdul Malik dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas dia berkata, “Beliau telah melihat dengan mata hatinya.” (HR Muslim 257)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Seandainya bukan karena dosa yang menutup kalbu Bani Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit” (HR Ahmad dari Abi Hurairah)
Untuk dapat melihat Allah dengan hati adalah memulainya dengan taubat, memperbaiki akhlak, membersihkan hati (tazkiyatun nafs) yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (TAHALLI) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (TAJALLI) atau melihat Rabb dengan hati (bermakrifat).
Ketika seorang muslim telah melihat Allah dengan hatinya maka dia akan bergembira menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Mereka dapat melihat Ar Rahmaan Ar Rahiim dibalk laranganNya. Mereka menjalankan perintahNya atau perkara syariat sebagai makanan atau kebutuhan ruhNya dalam rangka wujud syukur kepada Allah ta’ala.
Dari Anas Ra, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “….kesenanganku dijadikan dalam shalat”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menikmati ibadah, bahkan beliau pernah berdiri dalam sholat malam sampai kedua kakinya bengkak. ‘Aisyah pernah bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal ini, bukankah Allah telah memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosa yang telah berlalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab: “afala akuuna ‘abadan syakuuraa” , “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
Oleh karenanya ulama tasawuf mengungkapkan bahwa “perkara syariat bukanlah beban” . Namun sebagian orang memahaminya bahwa jika telah menjalankan tasawuf maka tidak perlu lagi menjalankan perkara syariat.
Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”
Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”
Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “Pokok-pokok metode ajaran tasawuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawuf halaman : 20, Imam Nawawi)
Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
Mereka yang menjalankan tasawuf atau mereka yang memperjalankan diri kepada Allah diistilahkan oleh Imam Syafi’i ra dalam nasehat beliau di atas adalah mereka yang merasakan “kelezatan takwa”. Mereka yang mendapatkan kenikmatan bertemu dengan Tuhan
Mereka yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai “Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”
Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya sholat itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).
Syaikh Abdul Qadir Jailani mengatakan bahwa para Wali Allah ketika mereka berdzikir dan yang utama adalah ketika mereka sholat maka mereka melintasi alam secara cepat dari alam nasut (alam mulk), alam malakut, alam jabarut, alam lasut sehingga mereka mengetahui apa yang dimakasud ‘Arsy , Kursi, Sidratul Muntaha.
Di dalam shalat bertemu Allah. Di dalam dzikir bertemu Allah. Saat puasa bertemu Allah. Saat haji pun bertemu Allah. Bahkan dalam seluruh aktifitas kita sehari-hari kita bertemu Allah. Asalkan kita tahu caranya, seperti yang diajarkan oleh Al Qur’an, dan disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Rasulullah bersabda “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari).
Rasulullah bersabda ““Buatlah perut-perutmu lapar dan qalbu-qalbumu haus dan badan-badanmu telanjang, mudah-mudah an qalbu kalian bisa melihat Allah di dunia ini (HR Bukhari).
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, ”Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji (mulia), dan matilah dalam keadaan mati syahid” (HR.Ibnu Majah)
Pahamlah kita kenapa kaum muslim ketika selesai menjalankan ibadah puasa Ramadhan kembali dalam keadaan suci bersih, kembali fitri dengan kiasan “berbaju baru” yakni kemenangan menjaga hawa nafsu, mensucikan jiwa, berakhlak baik dan beradab mulia.
Rasulullah bersabda: “Kalian tidak akan pernah melihat Rabb kalian hingga kalian mati.” [Abu Dawud no. 4320, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah (Dhilaalul-Jannah) no. 428, dan Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqad no. 848.]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menasehatkani “Muutu qabla an tamuutu” yang artinya “matilah sebelum mati”
Nasehat Rasulullah tersebut sarat dengan makna. Mati pada hakikatnya adalah terbebasnya ruh (ruhani) dari jasad (jasmani). Jadi upayakanlah dalam kehidupan ini ruh (ruhani) kita tidak terkukung oleh jasmani atau tidak terkukung oleh hawa nafsu. Upayakanlah ruh (ruhani) kita mengendalikan hawa nafsu bukan hawa nafsu yang mengendalikan ruh (ruhani) kita.
kalam imam Syafi’i yang anda sandarkan kepada imam Syafi’i itu zon semakin jelas membuktikan anda berkhianat,
karena bahkanSufi di timur tengah sendiri pada sebuah diskusi masih mempertanyakan perkataan imam ssyafi’i itu pujian atau celaan
setelah menukil nukilan seperti yang anda terjemahkan :
فقيها وصوفيا فكن ليس واحدا فإني وحـــــــــق الله إياك أنــــصح
فذاك قاس لم يــــــذق قلبه تقى وهذا جهول كيف ذو الجهل يًصـل
lalu ia bertanya
هل هذا ذم أم مدح؟؟
apakah kalam ini celaan atau pujian ??
lihat disini :
http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=131292&page=3
maka semakin jelas bahwa anda berkhianat dalam terjemahan.
اهل السنة و الجماعة (@minhajussunnah)……mohon petunjuknya Sufi di timur tengah itu siapa ya …….terus yang nggak berkhianat menurut anda bagaimana …..terimakasih .
Hal yang perlu kita ingat adalah ulama yang dapat menjelaskan apa yang disampaikan oleh Imam Syafi’i ~rahimahullah adalah para ulama yang mengikuti beliau yakni para ulama yang memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Imam Syafi’i
dan kalau demikian pemahamannya semua orang bisa menterjemahkan meski tanpa ‘ilmu sekalipun
misal ada sebuah terjemahan:
ana uhibbuki liannaki jamilah
artinya : aku mencintaimu karena kamu cantik
kalau ada yang menterjemahkan dengan bentuk lain :
aku benci kamu karena kamu jelek
maka itupun bisa terkategorikan benar jika diterjemahkan dengan kaedah sesat ‘ilmu kalam ala sufi
dengan cara mencocok-cocokkan kalimat walau tidak ada qorinah yang mengindikasikan bahwa kalimat itu adalah majaz
sehingga terjemahan
“aku benci kamu karena kamu jelek”
yang notabenenya bertentangan dengan lafadzhpun dapat diputarkan maknanya
dengan alasan
itu maksudnya majaz yang digunakan dalam ‘ilmu balaghoh untuk menyatakan kinayah (kiyasan), meski tidak ada keterangan bahwa kalam itu adalah kinayah
jadi terjemahannya :
aku benci kamu karena kamu jelek
itupun bisa menjadi benar
maka sungguh tidak jelas apa yang menjadi dhowabith (batasan-batasan) untuk membedakan apakah kalimat itu majaz atau bukan dalam pemahaman sufi meski tidak ada qorinah (penunjuk bahwa kata itu kiasan) sekalipun dipaksa-paksakan untuk dikiaskan jika sudah terpojok..
dan dengan demikian sufi seakan-akan ingin menjadikan tidaklah perlu adanya alquran dan sunnah karena semua bisa diputar balikkan menjadi cocok asal bisa bersilat lidah.
ketika anda memutar-mutar berkhianat dalam terjemahan diatas dengan alasan penggunaan ilmu balaghoh,
mari kita kupas ilmu balaghoh sebelum kita panjang lebar
dan saya ingin membuktikan apakah dirimu sejati faham tentang balaghoh atau hanya asbun saja, disebabkan karena sudah kepentok ketauan kepergok penyelewengannya atau karena kebodohannya,
karena dalam pandanganku anda tidak pandai dalam balaghoh karena tidak punya pondasi dan kaidah
untuk itu dalam suatu ungkapan mudah disebutkan
الحياء من الإيمان كالرأس من الجسد
al-Hayau minal imani ka arro’si minal jasadi
dan
dalam Surah al-Baqarah ayat 74 berbunyi :
ثم قست قلوبكم مِن بعد ذَلك فهي كالحجارة أو أشد قسوة
Tsumma qosat qulubukum min ba’di dzalika fahiya kalhijaroti aw assyaddu qoswah
dan jelaskan kepadaku dalam ayat diatas kata apa yang menjadi bayan miqdari halil musyabbah nya..?
nah jika engkau sejati jago dalam balaghoh maka jelaskan kepadaku
apa yang menjadi musyabbah, adat, dan musyabbah bih nya pada masing-masing kalimat?
setelah mengetahui jabatan masing-masing maka terjemahkan dan jika ada makna yang tersembunyi maka apa qoidah yang menyebabkan sebuah lafadzh bisa diterjemahkan menjadi sebuah terjemahan baru ?.
jangan-jangan engkau akan memberi tahrif diluar kaidah lagi..
Note :
‘afwan saya bukan bermaksud menggurui tapi karena zon sudah berlagak sebagai seorang guru maka tidak salah saya lancarkan berbagai macam pertanyaan karena guru adalah tempat untuk bertanya.
zonnya dah lari
SKAK MAAAT DAH TU USTAD ZON
Tentu ada saja orang yang mengaku mengamalkan tasawuf sebatas pengakuan
Tentulah ada orang-orang yang mengaku-ngaku mengamalkan tasawuf sebatas pengakuannya saja dan tidak mengamalkan apa yang telah disampaikan oleh para ulama tasawuf (kaum sufi) yang sesungguhnya.
Imam Al Baihaqi ketika menjelaskan perkataan Imam Syafi’i , “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi kekurangan akal (dungu).” mengatakan bahwa “sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)
Imam Al Baihaqi juga menjelaskan maksud perkataan Imam Syafi’ , ”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” mengatakan bahwa ”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)
Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).
Jelas, bahwa Imam Al Baihaqi memahami bahwa Imam As Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As Syafi’i mengeluarkan pernyataan di atas karena perilaku mereka yang mengatasnamakan sufi namun Imam As Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)
Bahkan di satu kesempatan, Imam As Syafi’I memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalangan sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan,”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)
Walhasil, Imam As Syafi’I disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya dengan sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini.
Tasawuf adalah istilah yang dipergunakan untuk segala perkara terkait dengan akhlak atau segala perkara tentang ihsan
Silahkan periksa kurikulum atau silabus pada perguruan tinggi Islam maka tasawuf adalah ihsan atau akhlak. Contoh silabus pada tingkatan sekolah lanjutan dapat dilihat pada http://img.docstoccdn.com/thumb/orig/125464278.png
Silahkan periksa pula struktur organisasi mufti Kerajaan Negeri Sembilan, Malaysia ada bagian yang menangani tarekat tasawuf http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/01/sto-mufti-negeri-sembilan.png
Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak dan Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sangat menyayangkan sirnanya pendidikan tasawuf (pendidikan akhlak) dalam kurikulum pendidikan di negeri kita sebagaimana kutipan tulisan beliau yang dimuat pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/
Al Habib Luthfi ketika ditanya apa pandangan-pandangan beliau tentang tasawuf. Beliau menjelaskan sebagaimana yang termuat pada http://www.habiblutfiyahya.net/index.php?Itemid=18&catid=34:berita&id=133:pengamalan-tasawuf-ala-al-habib-luthfi&lang=ar&option=com_content&view=article
***** awal kutipan *****
Tasawuf adalah pembersih hati. Dan tasawuf itu ada tingkatan-tingkatannya. Yang terpenting, bagaimana kita bisa mengatur diri kita sendiri. Semisal memakai baju dengan tangan kanan dahulu, lalu melepaskannya dengan tangan kiri.
Bagaimana kita masuk masjid dengan kaki kanan dahulu. Dan bagaimana membiasakan masuk kamar mandi dengan kaki kiri dulu dan keluar dengan kaki kanan. Artinya bagaimana kita mengikuti sunah-sunah Nabi. Itu sudah merupakan bagian dari tasawuf.
Para orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengeterapkan tasawuf. Hanya saja hal itu tak dikatakannya dengan memakai istilah tasawuf. Mereka terbiasa mengikuti tuntunan Rasulullah. Seperti ketika mereka menerima pemberian dengan tangan kanan, berpakaian dengan memakai tangan kanan dahulu. Mereka memang tak mengatakan, bahwa itu merupakan tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Tapi mereka mengajarkan untuk langsung diterapkannya. Kini kita tahu kalau yang diajarkannya itu adalah merupakan tuntunan Nabi. Itu adalah tasawuf. Sebab tasawuf itu tak pernah terlepas dari nilai-nilai akhlaqul karimah. Sumber tasawuf itu adalah adab. Bagaimana adab kita terhadap kedua orang tua, bagaimana adab pergaulan kita dengan teman sebaya, bagaimana adab kita dengan adik-adik atau anak-anak kita. Bagaimana adab kita terhadap lingkungan kita.
Termasuk ucapan kita dalam mendidik orang-orang yang ada di bawah kita. Kepada anak-anak kita yang aqil baligh, kita harus bener-bener menjaganya agar jangan sampai mengeluarkan ucapan yang kurang tepat kepada mereka. Sebab ucapan itu yang diterima dan akan hidup di jawa anak-anak kita.
***** akhir kutipan *****
Begitupula ketika Al Habib Luthfi ditanyakan apa yang sebenarnya menarik dari Al-Habib, sehingga begitu getol menekuni dunia tasawuf, beliau menjawab
***** awal kutipan *****
Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyai hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karna setatusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada kita. Itu karena fadhalnya Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Sehingga kita tidak lagi mempunyai prasangka-prasangka yang buruk, apalagi berpikiran jelek dalam pola pikir dan lebih-lebih lagi di hati. Sebab tasawuf itu tazkiyatul qulub, yakni untuk membersihkan hati. Jika hati kita ini bersih, maka hal-hal yang selalu menghalangi-halangi hubungan kita kepada Allah itu akan sirna dengan sendirinya. Sehingga kita senantiasa mengingat Allah.
Ibarat besi, hati kita itu sebenarnya putih bersih. Hanya karena karatan yang bertumpuk-tumpuk lantaran tak pernah kita bersihkan, sehingga cahaya hati itu tertutup oleh tebalnya karat tadi. Na’udzubillah kalau sampai hati kita seperti itu.
***** akhir kutipan *****
Salah satu pelopor tasawuf dari kalangan Tabi’in , Al Hasan al-Basri ra (Madinah,21H/642M – Basrah,110 H/728M) , berkata: ”Barangsiapa yang memakai tasawuf karena tawaduk (kepatuhan) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan Hatinya, dan barang siapa yang memakai tasawuf karena kesombongan kepadanya akan dicampakkan kedalam neraka”.
Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”
Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “Pokok-pokok metode ajaran tasawuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawuf halaman : 20, Imam Nawawi)
Imam Malik ~rahimahullah menasehatkan agar kita menjalankan perkara syariat sekaligus menjalankan tasawuf agar tidak menjadi manusia yang rusak (berakhlak tidak baik).
Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (menjalankan syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fiqih (menjalankan syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar“
Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
Sebagaimana wawancara dengan Dr. Sri Mulyati, MA (Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) yang selengkapnya dapat ditemukan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/09/24/komunitas-spiritual-kota/ , beliau mengatakan bahwa untuk dapat melihat Allah dengan hati sebagaimana kaum sufi, tahapan pertama yang harus dilewati adalah Takhalli, mengosongkan diri dari segala yang tidak baik, baru kemudian sampai pada apa yang disebut Tahalli, harus benar-benar mengisi kebaikan, berikutnya adalah Tajalli, benar-benar mengetahui rahasia Tuhan. Dan ini adalah bentuk manifestasi dari rahasia-rahasia yang diperlihatkan kepada hamba-Nya. Boleh jadi mereka sudah Takhalli tapi sudah ditunjukkan oleh Allah kepada yang ia kehendaki.
Muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.
Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”
Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada“
Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. “Bagaimana anda melihat-Nya?” dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”
Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan“
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, “mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya. Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya”.
Jika belum dapat melihat Allah dengan hati (ain bashiroh) atau bermakrifat maka yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla melihat kita.
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)
Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)
Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh
Jadi jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka dia tidak akan membiarkan sampah bukan pada tempatnya karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka dia bekerja dengan tekun, profesional, menghargai waktu dalam menepati janji, tidak bermalas-malasan, tidak bermewah-mewahan atau tidak boros dan tidak melakukan hal buruk lainnya karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka jika dia seorang pelajar atau mahasiswa maka dia tidak akan melakukan perkelahian atau tawuran antar siswa atau antar mahasiswa karena mereka memandang Allah dengan hatinya atau karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka jika dia seorang pejabat maka dia akan melaksanakan jabatannya dengan amanah, jujur, adil, profesional dan tidak akan melakukan korupsi karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Kesimpulannya adalah bahwa kehidupan Islami terbentuk karena kaum muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya sehingga jika bersikap dan melakukan perbuatan maka akan bersikap dan melakukan perbuatan yang dicintaiNya karena kaum muslim memandang Allah dengan hatinya atau karena kaum muslim selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Abdul Malik dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas dia berkata, “Beliau telah melihat dengan mata hatinya.” (HR Muslim 257)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Seandainya bukan karena dosa yang menutup kalbu Bani Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit” (HR Ahmad dari Abi Hurairah)
Tidak semua manusia dapat melihat Allah dengan hatinya.
Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa
Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya
Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah ta’ala, pada saat yang sama ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.
Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhalang (terhijab) dari memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab ketika ia melihat kelemahannya dalam mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam dalam anugerahNya.
Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS Al Hajj [22]:46 )
“Pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali yang kembali kepada Allah dengan hati yang lurus.” (QS. Asy-Syu’araa: 88)
Dua dimensi jiwa manusia senantiasa saling menyaingi, mempengaruhi dan berperang.
Kemungkinan jiwa positif manusia menguasai dirinya selalu terbuka, seperti yang dialami Habil. Dan jiwa negatifpun tak tertutup kemungkinan untuk mengontrol diri manusia, seperti yang terjadi pada Qobil.
Tataplah sosok seorang Mush’ab bin Umair ra yang hidup di masa Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam. Ia putera seorang konglomerat Makkah. Namanya menjadi buah bibir masyarakat, terutama kaum mudanya. Sebelum masuk Islam ia dikenal dalam lingkaran pergaulan jet set. Namun, suatu hari mereka tak lagi melihat sosoknya. Mereka kaget ketika mendengarnya sudah menjadi pribadi lain.
Benar, ia sudah bersentuhan dengan dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan hidup dalam kemanisan iman dan kedamaian risalahnya. Sehingga cobaan beratpun ia terima dengan senyuman dan kesabaran. Kehidupan glamour ia lepaskan. Bahkan dialah yang terpilih sebagai juru dakwah kepada penduduk Madinah.
Disisi lain , tengoklah pribadi Musailamah Al-Khadzdzab. Setelah mengikuti kafilah dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, jiwa negatifnya masih menonjol, ketamakan akan kedudukan dan kehormatan membawanya pada pengakuan diri sebagai nabi palsu. Akhirnya ia mati terbunuh dalam kondisi tak beriman di tangan Wahsyi dalam suatu peperangan.
Manusia tentu saja memiliki harapan agar jiwa positifnya bisa menguasai dan membimbing dirinya. Sehingga ia bisa berjalan pada garis-garis yang benar dan haq. Akan tetapi seringkali harapan ini tak kunjung tercapai, bahkan bisa jadi justru kondisi sebaliknya yang muncul. Ia terperosok ke dalam kubangan kebatilan.
Disinilah betapa besar peranan lingkungan yang mengelilingi diri manusia baik keluarga kawan, tetangga, guru kerabat kerja, bacaan, penglihatan, pendengaran, makanan, minuman, ataupun lainnya. Semua itu memberikan andil dan pengaruh dalam mewarnai jiwa manusia.
Islam , sebagai Din yang haq, memberikan tuntunan ke pada manusia agar ia menggunakan potensi ikhtiarnya untuk memilih dan menciptakan lingkungan yang positif sebagai salah satu upaya pengarahan, pemeliharaan , tazkiyah atau pembersihan jiwa dan sebagai tindakan preventif dari hal-hal yang bisa mengotori jiwanya.
Disamping itu, diperlukan pendalaman terhadap tuntunan dan ajaran Islam serta peningkatan pengalamnnya. Evaluasi diri dan introspeksi harian terhadap perjalanan hidupnya, tak kalah pentingnya dalam tazkiyah jiwa. Manakala jalan ini ditempuh dan jiwanya menjadi bersih dan suci, maka ia termasuk orang yang beruntung dalam pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebaliknya , apabila jiwanya terkotori oeh berbagai polusi haram dan kebatilan, maka ia termasuk orang yang merugi menurut kriteria Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Dan demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mesucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya”(QS. Asy Syams [91] : 7-10).
Dua suasana jiwa yang berbeda itu akan tampak refleksinya masing-masing perilaku keseharian manusia, baik dalam hibungannya dengan Allah, lingkungan maupun dirinya.
Jiwa yang suci akan memancarkan perilaku yang suci pula, mencintai Alah dan Rasul-Nya dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Sedangkan jiwa yang kotor akan melahirkan kemungkaran dan kerusakan, adalah benar bahwa Allah tidak melihat penampilan lahir seseorang, tetapi yang dilihat adalah hatinya, sebagaimana disebutkan dalam satu hadits. Tetapi ini dimaksudkan sebagai penekanan akan pentingnya peranan niat bagi sebuah amal, bukan untuk menafikan amal lahiriah.
Sebuah amal ibadah akan diterima Allah manakala ada kesejajaran antara perilau lahiriah dan batiniah, disamping sesuai dengan tuntunan Din. Lebih dari itu, secara lahiriah, manusia bisa saja tampak beribadah kepada Allah. Dengan khusyu’ ia melakukan ruku’ dan sujud kepada-Nya. Namun jiwanya belum tunduk ruku dan sujud kepada Allah Yang Maha Besar dan Perkasa , kepada tuntunan dan ajaran-Nya.
Tazkiyah jiwa merupakan suatu pekerjaan yang sungguh berat dan tidak gampang. Ia memerlukan kesungguhan, ketabahan dan kontinuitas. Sebagaimana amal baik lainnya, tazkiyah adalah bagai membangun sebuah gedung, disana banyak hal yang harus dikerahkan dan dikorbakan. Sedangkan pengotoran jiwa, seperti amal buruk lainnya, adalah semisal merobohkan bangunan, ia lebih mudah dan gampang serta tak banyak menguras tenaga.
“Jalan menuju surga di rintangi dengan berbagai kesulitan. Sedangkan jalan menuju neraka ditaburi dengan rangsangan hawa nafsu”, demikian sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam
Tazkiyah jiwa ini menjadi lebih berat lagi ketika manusia hidup dalam era informatika dan globalisasi dalam kemaksiatan dan dosa. Dimana kreasi manusia begitu canggih dan signifikan. Mansusia seakan tak berdaya mengikuti irama dan gelombangnya.
Sebenarnya Islam memiliki sikap yang akrab dan tidak menolak sains dan tekhnologi, sementara sains dan tekhnologi tersebut tidak bertentangan dan merusak lima hal prinsip (ad – dkaruriyat al khams); Din , jiwa manusia, harta, generasi dan kehormatan. Sehingga tidak ada paradoksal antara jiwa positif dan bersih serta nilai-nilai kebaikan dengan perkembangan dan kemajuan zaman.
Pengalaman tuntunan dan akhlak Islami, meski tanpa pemerkosaan dalam penafsirannya, tidak pernah bertentangan dengan alam sekitar. Lantaran keduanya lahir dari satu sumber, Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta alam semesta dan segala isinya.
Salah faham terhadap konsep ini akan mengakibatkan kerancuan pada langgam kehidupan manusia.maka yang tampak adalah bukit hingar bingar dan menonjolnya sarana pengotoran jiwa manusia. Akhirnya, nilai nilai positif dan kebenaran seringkali tampak transparan dan terdengar sayup-sayup. Benarlah apa yang menjadi prediksi junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
“Orang yang sabar dalam berpegang dengan Din-nya semisal orang yang memegang bara api”.
Mereka acapkali mengalami banyak kesulitan dalam mengamalkan Din-nya. Sehingga mereka merasa asing dalam keramaian. Namun demikian, tidaklah berarti mereka boleh bersikap pesimis dalam hidup. Bahkan sebaliknya, mereka harus merasa optimis. Sebab dalam situasi seperti ini, merekalah sebenarnya orang yang meraih kemenangan dalam pandangan Islam.
“Islam mulai datang dalam keterasingan dan akan kembali dalam keterasingan pula sebagaimana mulanya. Maka berbahagialah orang – orang yang terasing”. (Al Hadist).
Dalam fenomena seperti ini, tak tahu entah dimana posisi kita. Yang jelas, manusia senantiasa dianjurkan oleh Allah agar meningkatkan kualitas dan posisi dirinya di hadapan Nya. Dan Allah tak pernah menolak setiap hamba yang benar-benar ingin kembali kepada jalan-Nya.
Bahkan lebih dari itu, manakala hamba Nya datang dengan berjalan, maka Ia akan menjemputnya dengan berlari. Sungguh Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Pengampun. Kita berharap, semoga kita termasuk orang-orang yang mau mendengar panggilan-Nya yang memiliki jiwa muthmainnah, jiwa yang tenang. Sehingga kita akhirnya berhak meraih panggilan kasih sayang –Nya.
“Hai jiwa yang tenang . Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surga-Ku”.(QS.Al Fajr [89] : 27-30)
am 2507 dan abu jenggot , pertanyaan2 minhajusunnah diatas adalah pertanyaan2 yang cocok ditujukan untuk para pemula ( mubtadiin ) , pertanyaan seperti itu jika ditujukan kepada Ustadz zon tentu merupakan pelecehan , sehingga ustadz zon tidak perlu menjawabnya karena itu hanya pantas ditujukan untuk para pemula.
justru minhajusunnahlah yang tidak mengerti perkataan Imam As-syafi`i , dengan kata lain minhajusunnah berkhianat dalam penterjemahan.
lihatlah terjemahan minhajusunnah :
fiqh dan sufi, maka jadilah dengan tidak mengambil salah satunya,karena sesungguhnya aku demi haqnya Allah akan menasehati kepadamu
sedang kalimatnya : فقيها وصوفيا فكن ليس واحدا فإني وحـــــــــق الله إياك أنــــصح
kita minta minhajusunnah untuk meng `irab kalimat diatas , sebab terjemahan minhajusunnah diatas menunjukkan jika yang bersangkutan tidak mengerti atau sengaja memlintir perkataan imam syafi`i. sehingga difahami dari pemelintiran terjemahan ini : Imam syafi`i melarang mempelajari Fiqh dan Tasawwuf , padahal Imam syafi`i adalah pendiri salah satu Madzhab Fiqh masa iya melarang belajar Fiqh.
inilah bahanya pemelintiran terjemahan. (minhaju sunnah berkhianat)
lalu kita lihat terjemahan mihajusunnah selanjutnya :
kekerasan itu tidaklah merasakan ketakwaan dihati, dan ini adalah kejahilan bagaimana memiliki sifat jahil akan dapat melakukan perbaikan ?.
sedangkan kalimatnya :
فذاك قاس لم يــــــذق قلبه تقى وهذا جهول كيف ذو الجهل يًصـل
kita minta minhajusunnah untuk menampilkan apa yang mahdzuf dari bait diatas.
jadi ringkasnya minhaju sunnah merasa mengerti padahal ngawur.
idzin nyimak…tapi dari awal diskusi sudah kelihatan mana yang ilmiyah, mana yang tidak ilmiyah, mana yang cuma emosi saja, dan mana yang asnul (asal nulis) aja…hehe
kalo sahabat mereka dpat rekomendasi dn wewenang dr nabi u di ikuti dan membua baru dlm agama jd perkara baru yg di buat oleh sahabat itu hnya bleh d lakukan olh sahabat dn gk tercela dan statusny sama dg sunnah nabi TETAPI selain sahabay mka tdak boleh u membuat buat yg baru dlm agama
gk ada bidah hasanah yg ada hnya sunnah hasanah
apa ilmu nt melebihi ilmu Imam Syafi’i ??????? am 2507 .
Tasawuf hanyalah sebuah istilah bukan perkara baru
silahkan baca penjelasan kami dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/12/15/tasawuf-adalah-ihsan/
Tapi apa pun,yg jelas Imam Asy-Syafii rohimahulloh berkata: “Tidaklah ada seorang yang berteman dengan orang-orang sufi selama 40 (empat puluh) hari, kemudian akalnya akan kembali selama-lamanya.”
Dan beliau membacakan syair:
ودع الذين اذا أتوك تنسكوا … واذا خلوا فهم ذئاب خفاف
Tinggalkan orang-orang yang bila datang kepadamu menampakkan ibadah
Namun jika bersendirian, mereka serigala buas (Talbis Iblis hal. 371)
Mas Ihsan Ilahy Dzahir ,Tasawuf adalah tentang ihsan
Pada hakikatnya upaya kaum Zionis Yahudi menjauhkan kaum muslim dari tasawuf adalah dalam rangka merusak akhlak kaum muslim sebagaimana mereka menyebarluaskan pornografi, gaya hidup bebas, liberalisme, sekulerisme, pluralisme, hedonisme dan lain lain.
Salah satu contoh penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.
Contoh hasutan yang terkenal adalah penyalahgunaan perkataan Imam Syafi’i ra yang dikutip dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi yakni ungkapan “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.” Penjelasan perkataan Imam Syafi’i ra tersebut telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/05/06/apakah-tasawuf/
Dalam agama Islam ada tiga pokok yakni Iman, Islam dan Ihsan
Laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya’. Dia berkata, ‘Kamu benar’. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR Muslim 11)
Tentang Islam diuraikan dalam ilmu fiqih
Tentang Iman diuraikan dalam akidah atau i’tiqod atau ushuluddin
Tentang Ihsan diuraikan dalam tasawuf
Ada yang bertanya apakah Rasulullah dan para Sahabat mengamalkan tasawuf ?
Tasawuf hanyalah sebuah istilah untuk perkara yang berkaitan dengan ihsan atau akhlak
Silahkan periksa kurikulum atau silabus pada perguruan tinggi Islam maka tasawuf adalah ihsan atau akhlak. Contoh silabus pada tingkatan sekolah lanjutan dapat dilihat pada http://img.docstoccdn.com/thumb/orig/125464278.png
Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak dan Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sangat menyayangkan sirnanya pendidikan tasawuf (pendidikan akhlak) dalam kurikulum pendidikan di negeri kita sebagaimana kutipan tulisan beliau yang dimuat pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/
Jadi pertanyaan tersebut sebenarnya adalah “Apakah Rasulullah dan para Sahabat mengamalkan ihsan?
Tentu jawabannya adalah, “Benar, Rasulullah maupun Salafush Sholeh mengamalkan ihsan atau tasawuf”
Dalam hadits di atas muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah adalah muslim yang dekat dengan Allah ta’ala sehingga seolah-olah menyaksikan Allah ta’ala atau menyaksikan Allah ta’ala dengan hatinya (ain bashiroh)
Pada hakikatnya seluruh manusia sebelum terlahir , ketika kita belum dapat ber-lisan atau ketika kita belum dapat menulis atau ketika jasmani belum disempurnakan telah bersaksi bahwa tuhan kita adalah Allah ta’ala.
Firman Allah ta’ala yang artinya
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)
Jadi jiwa kita atau ruhani kita sudah bersaksi ketika kita sebelum terlahir dari rahim ibu. Namun ketika kita (manusia) lahir maka kitapun suci, lupa, tidak tahu , ummi bahwa ruhani kita pernah bersaksi. Hakikat kata insan (manusia) adalah nasiya , nis yan, tidak tahu, lupa.
Fitrah manusia adalah bertuhan, mencari Allah atau ingin kembali menyaksikan Allah. Syarat untuk dapat menyaksikan Allah adalah fitri, suci sebagaimana sebelum manusia lahir ke dunia. Syarat untuk dapat kembali menyaksikan Allah adalah berakhlak baik atau berakhlakul karimah.
Tujuan beragama atau tujuan hidup adalah untuk menjadi muslim yang berakhlakul karimah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)
Sejak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lahir sampai dewasa sebelum menerima wahyu , beliau telah dikenal berakhlak baik.
Jadi pada hakikatnya agama adalah sebuah sistem yang harus diikuti setiap manusia agar dapat meneladani akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk” (QS Adh Dhuhaa [93]:7)
“seorang yang bingung” yang dimaksud adalah kebingungan – kehilangan arah untuk memperoleh kebenaran mutlak (al-Haqiqah al-Muthlaqah) yang tidak bisa dicapai oleh akal pikiran, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai jalan untuk memimpin ummat (masyarakat jahiliyah yang tidak berakhlak baik atau terjangkiti penyakit moral – minum-minuman keras, membunuh, mencuri, main judi, makan riba, main perempuan) untuk kembali menyaksikan Allah atau untuk menuju kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkhalwat (mengasingkan diri dari keramaian) dan bertahanuts (perenungan/kontemplas dirii) di gua hira untuk mencari solusi mengatasi kerumitan masyarakat jahiliyah.
Pada akhirnya Allah Subhanahu Wata’ala berkenan menurunkan kepadanya wahyu Al-Quran. Yang berisi perintah dan laranganNya atau agama atau perkara syariat agar manusia dapat meneladani manusia paling mulia yakni Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga menjadi muslim yang berakhlakul karimah.
Manusia dikatakan berada pada “on track” untuk dapat kembali menyaksikan Allah adalah setelah mereka mengucapkan syahadat.
Syahadat adalah penyaksian Allah yang diucapkan dan kemudian dibuktikan dengan memenuhi perkara syariat yang merupakan syarat sebagai hamba Allah yakni menjalankan kewajibanNya (ditinggalkan berdosa) , menjauhi laranganNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi apa yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa)
Muslim yang membuktikan syahadat dengan menjalankan perkara syariat disebut mukmin, orang beriman
Firman Allah ta’ala yang artinya
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imron [3]:31 )
“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS Ali Imron [3]:32 )
“dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS Al Anfaal [8]:1 )
Setelah memenuhi perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah maka diikuti dengan menjalankan amal sholeh atau amal kebaikan untuk mendekatkan diri atau memperjalankan diri melalui maqom-maqom hakikat hingga sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla sehingga menyaksikan Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) dan termasuk muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau muslim yang sholeh (sholihin) sehingga menjadi wali Allah (kekasih Allah)
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Inilah ayat-ayat Al Qura’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS Lukman [31]:2-5)
Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman “hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan kebaikan, maka Aku mencintai dia” (HR Bukhari 6021)
Orang yang berhasil menjalankan tasawuf sehingga meraih maqom disisiNya atau dekat dengan Allah ta’ala disebut sufi atau wali Allah (kekasih Allah)
Imam Syafi’i ~rahimahullah ketika beliau ditanya apalah beliau termasuk seorang sufi dan beliau pun menjawab dalam sebuah syair yang harus dipahami dengan balaghoh
Uhibbu asshalihiina wa lastu minhum La’alli an anaala bihim syafa’ah
Uhibbu asshalihiina = Aku mencintai orang shalih
walastu minhum = Walaupun.. aku tidak seperti mereka
La’ali an anaala bihim syafa’ah = Beliau berharap / semoga memperoleh Syafa’at / pertolongan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (untuk menjadi orang yang Sholeh)
Ini tauladan yang disampaikan Imam Syafi’i ~rahimahullah bahwa kita tidak boleh mengatakan / mengakui sebagai saya serupa dengan mereka termasuk orang sholeh, atau saya seorang sholeh atau saya seorang sufi atau saya seorang muhsin, karena orang sholeh, orang sufi, orang muhsin adalah dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia atau hasil penilaian Allah pada manusia. Bagi kita manusia hanya boleh berharap pertolongan Allah dan berupaya untuk mencapainya.
Kita simak doa Nabi Ibrahim as
“(Ibrahim berdo’a): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh (QS Asy Syu-ara [26]:83 )
Oleh karenanya kita harus berupaya menjadi orang-orang sholeh, orang-orang yang baik atau ihsan (muhsinin) dengan mengamalkan tasawuf dalam Islam yakni tentang ihsan / akhlakul karimah.
Jika kita menjadi orang-orang yang sholeh, maka seluruh muslim mendoakan kita ketika mereka mendirikan sholat.
Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,
“Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.
Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) membagi maqamat al-walayah (derajat kedekatan para Wali Allah ke dalam lima maqamat.
Kelima maqamat itu adalah:
al-muwahhidin
al-shadiqin
al-shiddiqin
al-muqarrabin
al-munfaridin
Maqom atau maqamat tertinggi menurut beliau adalah al-munfaridǔn. Al Hakim al-Tirmidzi berpandangan bahwa para wali yang mengalami kenaikan peringkat dari maqamat al-muwahhidun, al-shaddiqun, al-shiddiqun, hingga al-muqarrabun diatas telah sempurna tingkat kewalian mereka. Hanya saja Allah mengangkat salah seorang mereka pada puncak kewalian tertinggi yang disebut dengan malak al-malak dan menempatkan wali itu pada posisi bayn yadayhi (di hadapan-Nya). Pada saat seperti itu ia sibuk dengan Allah dan lupa kepada sesuatu selain Allah. Seorang wali yang mencapai puncak kewalian tertinggi ini berada pada maqam munfaridin atau posisi malak al-fardaniyah, yaitu merasakan kemanunggalan dengan Allah.
Al-Hakim al-Tirmidzi tidak menggunakan istilah ittihad seperti Abu Yazid al-Busthami (w.261H-875M) atau hulul seperti al-Hallaj, atau wahdatul wujud seperti Ibn ‘Arabi (w.638H/1240M) dalam menjelaskan persatuan seorang wali dengan Allah. Ia menggunakan istilah liyufrida (agar manunggal / merasakan kemanunggalan).
Kita kadang menemukan perkataan para sufi atau para wali Allah (kekasih Allah) yang telah mencapai puncak kewalian tertinggi kalau menurut akal pikiran atau logika adalah sesat seperti kemanunggalan atau bersatu dengan Allah atau bahkan “aku adalah Allah“.
Sejauh mereka menyatakannya tidak keluar dari sifat ubudiyah , sifat penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla maka perkataan itu pada hakikatnya tidaklah masalah.
Ungkapan cinta mereka sebaiknya janganlah dimaknai secara dzahir. Ibarat sepasang kekasih mereka bersatu namun secara dzahir mereka tidak bersatu. Allah Azza wa Jalla dekat tidak bersentuh, jauh tidak berjarak dan tidak berarah.
Ungkapan cinta mereka berbalas dengangan ungkapan cinta Allah ta’ala kepada hambaNya sebagaimana yang terlukis dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman “jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (HR Bukhari 6021)
Ungkapan cinta Allah ta’ala kepada hambaNya dalam hadits qudsi di atas pun tidak dapat dimaknai secara dzahir seperti yang artinya “Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar”.
Begitupula ungkapan seorang kekasih seperti “di dalam dadaku ada kamu” , tidak bisa dimaknai secara dzahir
Begitupula tidak dapat dimaknai secara dzahir terhadap hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a. Alah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”
Dalam sebuah hadit Qudsi yang lain, Allah Azza wa Jalla berfirman: ’Telah Kucipta seorang malaikat di dalam tubuh setiap anak keturunan Adam. Di dalam malaikat itu ada shadr. Di dalam shadr itu ada qalb. Di dalam qalb itu ada fu`aad. Di dalam fu`aad itu ada syagf. Di dalam syagf itu ada lubb. Di dalam lubb itu ada sirr. Dan di dalam sirr itu ada Aku.”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah”
Hati orang beriman yang menjadi wadah dari nikmat-nikmat Allah yakni nikmat cahayaNya atau nikmat ilmuNya
Jasad adalah wadah bagi bathin, bathin adalah jasad bagi ruhani, ruhani adalah wadah bagi hati, hati adalah wadah bagi akal qalbu, akal qalbu adalah wadah bagi sirr al ghaib atau wadah dari nikmat-nikmat Allah, nikmat cahayaNya, nikmat ilmuNya tanpa batas.
Imam Sayyidina Ali r.a. menyampaikan bahwa hati (qalb) mempunyai lima nama,
Pertama, disebut shadr, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya Islam (nuuru-l-islaam). Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala, ‘Adakah sama dengan mereka yang dibukakan shadrnya untuk Islam….” (QS Az Zumar [39] :22)’.
Kedua, disebut qalb, karena ia merupakan tempat terbitnya keimanan. Hal ini sebagaiamana firman-Nya, “Mereka itulah yang ditulis dalam hatinya terdapat keimanan.” (QS Al Mujaadilah [58]:22)’
Ketiga disebut fu’aad karena ia merupakan tempat terbitnya ma’rifah. Hal ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta’ala, ‘Fu’aad tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya’ (QS An Najm [53]:11).
Keempat disebut lubb, karena ia merupakan tempat terbitnya tauhid. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah ayat-ayat bagi ulil albaab (sang pemilik lubb)’ (QS Ali Imran [3]:190).
Kelima, disebut syagf, karena hati merupakan tempat terbitnya rasa saling menyayangi dan mencintai sesama makhluk. Hal ini sebagaimana firman-Nya, ’Sungguh ia (Zulaikha) telah dikuasai oleh rasa cinta yang membara….’ (QS Yusuf [12]:30)
Kewalian, dalam pandangan Al-Hakim al-Tirmidzi dapat diraih dengan terpadunya dua aspek penting, yakni karsa Allah kepada seorang hamba dan kesungguhan pengabdian seorang hamba kepada Allah.
Aspek pertama merupakan wewenang mutlak Allah, sedangkan aspek kedua merupakan perjuangan seorang hamba dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Menurut al-Tirmidzi ada dua jalur yang dapat ditempuh oleh seorang sufi guna meraih derajat kewalian. Jalur pertama disebut thariq ahl al-minnah (jalan golongan yang mendapat anugerah); sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan golongan yang benar dalam beribadah).
Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat wali di hadapan Allah semata-mata karena karunia-Nya yang di berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Sedangkan melalui jalur kedua, seorang sufi meraih derajat wali berkat keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah kepada Allah.
Derajat kewalian itu mengalami pasang surut; namun, setelah mengalami pengumulan yang hebat, seorang wali berada di hadapan-Nya untuk kemudian masuk dalam genggaman Tuhan. Pada situasi ini, seorang wali melihat kumiz min al-hikmah (perbendaharaan hikmah) dan tersingkaplah baginya ilmu Allah, sehingga naiklah horizon pengetahuan wali tersebut dari pengenalan tentang ‘uyub al-nafs (rupa-rupa cacat dirinya) kepada pengetahuan tentang al-shifat wa al-asma (sifat-sifat dan nama-nama Allah), bahkan tersingkaplah baginya hakikat ilmu Allah.
Hubungan yang tercipta antara Allah dengan al-awliya (para wali) menurut al-Tirmidzi adalah hubungan al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cinta kasih), dan al-inayah (pertolongan). Hubungan istimewa ini diperoleh karena hubungan seorang wali telah menyerahkan semua urusannya kepada Allah, sehingga ia menjadi tanggungjawab-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Adanya pemeliharaan, cinta kasih, dan pertolongan Allah kepada wali sedemikian rupa merupakan manifestasi dari makna al-walayah (kewalian) yang berarti dekat dengan Allah dan merasakan kehadirannya, hudhur ma’ahu wa bihi (merasakan kehadiran-Nya oleh diri-Nya).
Bertitik tolak pada al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cintakasih), dan al-inayah (pertolongan) Allah kepada al-awliya (parawali); al-Tirmidzi sampai pada kesimpulannya bahwa al-awliya dan orang-orang beriman bersifat ‘ishmah, yakni memiliki sifat keterpeliharaan dari dosa; meskipun ‘ishmah yang dimiliki mereka berbeda.
Bagi umumnya orang-orang beriman ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi al-awliya (para wali) ‘ishmah berarti mahfudz (terjaga) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya.
Al-Tirmidzi meyakini adanya tiga peringkat ‘ishmah, yakni
‘ishmah al-anbiya (‘ishmah Nabi),
‘ishmah al-awliya (‘ishmah para wali),
‘ishmah al-’ammah (‘ishmah kaum beriman pada umumnya).
Abul Qasim Al-Qusyairy an-Naisabury, seorang ulama sufi abad ke-4 hijriyah dalam Ar Risalatul Qusyairiyah fi ‘Ilmit Tashawwuf atau versi terjemahan “Risalah Qusyairiyah”, sumber kajian ilmu tasawuf, penterjemah Umar Faruq, penerbit Pustaka Amani, Jakarta berkata
***** awal kutipan *****
“Kaum Sufi, Allah benar-benar telah menjadikan kaum ini sebagai kelompok para waliyullah terpilih; mengutamakan mereka atas semua hambaNya setelah para Rasul dan Nabi-Nya. Semoga Allah memberi shalawat dan salam kepada mereka.
Allah menjadikan hati mereka tambang berbagai rahasiaNya; dan mengkhususkan mereka lebih dari umatNya yang lain dengan pantulan cahayaNya. Mereka bagai hujan bagi mahlukNya yang selalu berputar dan berkeliling bersama Al-Haqq dengan kehakikatanNya ditengah “keumuman” tingkah laku manusia.
Allah menjernihkan mereka dari segala kekotoran sifat manusia; melembutkan hati dan rohani mereka pada pencapaian tempat-tempat (maqam) musyahadat (persaksian ruhani pada kebesaran dan kegaiban Allah) dengan “penampakan Al-Haqq dari segala hakikat keesaanNya; menempatkan mereka untuk “tetap tegak” dengan sikap penyembahan dan mempersaksikan pada mereka saluran-saluran hukum ketuhanan.
Karena itu mereka mampu menunaikan segala bentuk kewajiban yang dibebankan kepada mereka; mampu menghakikati segala yang dianugerahkanNya, berupa perubahan-perubahan dan berbagai putaran hidup, kemudian kembali kepada Allah dengan kebenaran iftiqar (butuh dan menggantung pada kehadiran dan peran Allah) dan hati yang remuk redam karena Allah.
Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Luhur dan Tinggi; bebas berbuat apa yang dikehendakiNya; bebas memilih siapa saja yang dikehendakiNya; tidak ada yang memberi ketentuan hukum kepada Nya; tidak ada kebenaran bagi makhluk yang mengharuskan pada Allah; sebab pahalaNya adalah awal keutamaan dan siksaanNya adalah hukum keadilanNya; perintahNya adalah ketentuan yang mutlak dari Allah.”
***** akhir kutipan *****
Berikut catatan tentang sufi seperti yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Athaillah.
*****awal kutipan *****
Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.
Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.
Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.
Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi) terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.
Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.
Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
***** akhir kutipan ******
Firman Allah ta’ala yang artinya,
”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)
“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS Shaad [38]:46-47)
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS Al Hujuraat [49]:13)
“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)
Muslim yang terbaik bukan nabi yang mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan menjadi kekasih Allah (wali Allah) adalah shiddiqin, muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat. Bermacam-macam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala“ Seorang dari sahabatnya berkata, “siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka“. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: “Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.” Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya“. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Yunus [10]:62)
Muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.
Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”
Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada“
Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. “Bagaimana anda melihat-Nya?” dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”
Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan“
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, “mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya. Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya”.
Jika belum dapat melihat Allah dengan hati (ain bashiroh) atau bermakrifat maka yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla melihat kita.
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)
Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)
Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh
Jadi jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka dia tidak akan membiarkan sampah bukan pada tempatnya karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka dia bekerja dengan tekun, profesional, menghargai waktu dalam menepati janji, tidak bermalas-malasan, tidak bermewah-mewahan atau tidak boros dan tidak melakukan hal buruk lainnya karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka jika dia seorang pelajar atau mahasiswa maka dia tidak akan melakukan perkelahian atau tawuran antar siswa atau antar mahasiswa karena mereka memandang Allah dengan hatinya atau karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Jika seorang muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya maka jika dia seorang pejabat maka dia akan melaksanakan jabatannya dengan amanah, jujur, adil, profesional dan tidak akan melakukan korupsi karena muslim tersebut memandang Allah dengan hatinya atau karena muslim tersebut selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Kesimpulannya adalah bahwa kehidupan Islami terbentuk karena kaum muslim mengamalkan ihsan (tasawuf) atau meng-ihsan-kan dirinya sehingga jika bersikap dan melakukan perbuatan maka akan bersikap dan melakukan perbuatan yang dicintaiNya karena kaum muslim memandang Allah dengan hatinya atau karena kaum muslim selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Tidak semua manusia dapat melihat Allah dengan hatinya.
Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa
Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya
Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah ta’ala, pada saat yang sama ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.
Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhalang (terhijab) dari memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab ketika ia melihat kelemahannya dalam mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam dalam anugerahNya.
Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS Al Hajj [22]:46 )
“Pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali yang kembali kepada Allah dengan hati yang lurus.” (QS. Asy-Syu’araa: 88)
Oleh karenanya ketika penduduk surga dalam keadaan tidak berdosa maka mereka dapat melihat Allah tidak terhalang sama sekali, kemudahannya bagaikan melihat bulan ketika purnama yang tidak ada awan
Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Ibnu Syihab dari Atha’ bin Yazid al-Laitsi bahwa Abu Hurairah mengabarkan kepadanya, bahwa manusia berkata, Wahai Rasulullah! Apakah kami (bisa) melihat Rabb kami pada Hari Kiamat? Beliau pun balik bertanya: Apakah kalian akan mendapatkan kesulitan ketika melihat bulan di malam purnama yang tidak ada awan? Mereka menjawab, Tidak wahai Rasulullah. Beliau bertanya lagi: Apakah kalian akan mendapatkan kesulitan ketika melihat matahari di siang hari yang terang tanpa awan di bawahnya? Mereka menjawab, Tidak wahai Rasulullah. Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya kalian bisa melihatNya seperti itu juga. (HR Muslim 267)
Malaikat juga makhluk yang tidak dapat dilihat dengan mata kepala kecuali menampilkannya dalam bentuk tertentu namun malaikat juga dapat dilihat dengan pandangan hati
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Abdul Malik dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas dia berkata, “Beliau telah melihat dengan mata hatinya.” (HR Muslim 257)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Seandainya bukan karena dosa yang menutup kalbu Bani Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit” (HR Ahmad dari Abi Hurairah)
Untuk dapat melihat Allah dengan hati adalah memulainya dengan taubat, memperbaiki akhlak, membersihkan hati (tazkiyatun nafs) yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (TAHALLI) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (TAJALLI) atau melihat Rabb dengan hati (bermakrifat).
Ketika seorang muslim telah melihat Allah dengan hatinya maka dia akan bergembira menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Mereka dapat melihat Ar Rahmaan Ar Rahiim dibalk laranganNya. Mereka menjalankan perintahNya atau perkara syariat sebagai makanan atau kebutuhan ruhNya dalam rangka wujud syukur kepada Allah ta’ala.
Dari Anas Ra, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “….kesenanganku dijadikan dalam shalat”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menikmati ibadah, bahkan beliau pernah berdiri dalam sholat malam sampai kedua kakinya bengkak. ‘Aisyah pernah bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal ini, bukankah Allah telah memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosa yang telah berlalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab: “afala akuuna ‘abadan syakuuraa” , “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
Oleh karenanya ulama tasawuf mengungkapkan bahwa “perkara syariat bukanlah beban” . Namun sebagian orang memahaminya bahwa jika telah menjalankan tasawuf maka tidak perlu lagi menjalankan perkara syariat.
Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”
Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”
Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “Pokok-pokok metode ajaran tasawuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawuf halaman : 20, Imam Nawawi)
Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
Mereka yang menjalankan tasawuf atau mereka yang memperjalankan diri kepada Allah diistilahkan oleh Imam Syafi’i ra dalam nasehat beliau di atas adalah mereka yang merasakan “kelezatan takwa”. Mereka yang mendapatkan kenikmatan bertemu dengan Tuhan
Mereka yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai “Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”
Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya sholat itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).
Syaikh Abdul Qadir Jailani mengatakan bahwa para Wali Allah ketika mereka berdzikir dan yang utama adalah ketika mereka sholat maka mereka melintasi alam secara cepat dari alam nasut (alam mulk), alam malakut, alam jabarut, alam lasut sehingga mereka mengetahui apa yang dimakasud ‘Arsy , Kursi, Sidratul Muntaha.
Di dalam shalat bertemu Allah. Di dalam dzikir bertemu Allah. Saat puasa bertemu Allah. Saat haji pun bertemu Allah. Bahkan dalam seluruh aktifitas kita sehari-hari kita bertemu Allah. Asalkan kita tahu caranya, seperti yang diajarkan oleh Al Qur’an, dan disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Rasulullah bersabda “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari).
Rasulullah bersabda “Buatlah perut-perutmu lapar dan qalbu-qalbumu haus dan badan-badanmu telanjang, mudah-mudah an qalbu kalian bisa melihat Allah di dunia ini”
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, ”Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji (mulia), dan matilah dalam keadaan mati syahid” (HR.Ibnu Majah)
Pahamlah kita kenapa kaum muslim ketika selesai menjalankan ibadah puasa Ramadhan kembali dalam keadaan suci bersih, kembali fitri dengan kiasan “berbaju baru” yakni kemenangan menjaga hawa nafsu, mensucikan jiwa, berakhlak baik dan beradab mulia.
Rasulullah bersabda: “Kalian tidak akan pernah melihat Rabb kalian hingga kalian mati.” [Abu Dawud no. 4320, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah (Dhilaalul-Jannah) no. 428, dan Al-Laalika’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqad no. 848.]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menasehatkani “Muutu qabla an tamuutu” yang artinya “matilah sebelum mati”
Nasehat Rasulullah tersebut sarat dengan makna. Mati pada hakikatnya adalah terbebasnya ruh (ruhani) dari jasad (jasmani). Jadi upayakanlah dalam kehidupan ini ruh (ruhani) kita tidak terkukung oleh jasmani atau tidak terkukung oleh hawa nafsu. Upayakanlah ruh (ruhani) kita mengendalikan hawa nafsu bukan hawa nafsu yang mengendalikan ruh (ruhani) kita.
makrifat adalah pengenalan,, mana mungkin seorang bisa menjabarkan tentang rasa manisnya gula kepada orang lain selama orang lain tersebut belum merasakannya sendiri?? hadis qudsi “SIR yang ada padamu melebihi kekuatan langit dan bumi, SIRmu tidak tidur di malam hari dan terjaga di siang hari, tapi SIRmu tidak dapat memberitahukan dimana keberadaanku kata Allah”, semoga jadi renungan,
banyak orang merasa bisa tapi tidak banyak orang bisa merasa..kalaulah orang itu belum merasa berarti belumlah orang itu tau…setelah orang itu memakan buah kurma barulah dia mengatakan bahwa kurma itu manis…
” Sami’na wa atho’na ”
Bang mutiara zuhud
Benarlah yang abang bilang,,,
Dakwalah terus bang Allah tidak tidur Allah tidak mengantuk Allah pulalah yang akan membalas hamba-hambanya yang sholeh
Tetaplah rendah hati bang,sebagaimana orang-orang yang sudah mengenal dan cinta padaNya,
”Apabila engkau sudah meminum madu janganlah engkau menceritakan rasanya,karena engkau tidak akan mampu menceritakan rasanya,biarlah lidah yang merasakan.”
Begitu juga bang,kalau kita sudah merasakan kehadiranNya,,betul-betul hadir,,biarlah hati yang merasakannya,karena kalau di ungkapkan,,akan menimbulkan salah paham,,tapi kalau kita cerita kepada orang yang sama-sama mampu merasakanya pasti dia mengerti dan paham.kewajiban kita cuma menjelaskan jalanNya,,sesungguhnya ibadah itu bungkusnya dan mengenal Allah itu isinya,,sehingga ibadah kita bukan sekedar karena kewajiban saja namun karena kecintaan dan kerinduan padaNya,,maka rawatlah bungkusnya namun jangan lupakan isinya,,biarlah hati yang menikmatinya.
terima kasih bang zon
Dunia ini sudah menjadi surga sebelum surga yang sebenarnya.
alamsyah itu…Orang kok sombong kayak iblis…
Indonesia loh dari dulu Negara Asy’ariyah…di bawa ulama yg jelas sandaranya….kenapa situ gak terima?
elo iblis…jdi sombong…gk mau menerima kebenaran dri ajaran yg elo tuduh sesat….dripada elo repot memerangi asyariyah di indonesia..mending elo le saudi..ke nejd….d situ tempatnya dulu org yg ngaku nabi…