Feeds:
Pos
Komentar

Mudah-mudahan sama dengan waktu dirancang dahulu

Dalam sidang sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (20/6/2019), ada fakta menarik dari keterangan ahli yang diajukan oleh pihak termohon (KPU) yakni Prof Marsudi Wahyu Kisworo yang disampaikan beberapa kali yakni, “waktu dirancang dahulu” seperti pernyataannya,

“mudah-mudahan nanti sama waktu dirancang dahulu”

sebagaimana yang tampak bagian awal dalam video pada https://youtu.be/JHs4U267MhM

Video tersebut bersumber dari http://www.youtube.com/watch?v=HuFyc_Emr4Yi

Apakah Prof Marsudi “seolah-olah” menyampaikan keterangan di sidang MK tersebut dengan “disclaimer” atau “syarat dan ketentuan berlaku” yakni jika Situng KPU maupun web/situs (visualisasi) Situng KPU yang dipermasalahkan adalah SAMA DENGAN “waktu dirancang dahulu” atau SAMA DENGAN “Grand Design” pada tahun 2003 yang dibuat bersama-sama oleh para ahli perwakilan dari beberapa perguruan tinggi.

Apakah Prof Marsudi dengan pernyataan “waktu dirancang dahulu” menunjukan bahwa Beliau “tidak mengetahui” atau “tidak terlibat” atau “tidak bertanggungjawab” dengan keadaan atau “waktu sekarang” dari Situng KPU maupun web/situs (visualisasi) Situng KPU ?

Dalam sidang tersebut Prof Marsudi juga menyampaikan perbandingan antara web/situs (visualisasi) Situng KPU dengan web/situs lain yakni kawalpemilu.org yang menyelengarakan real count dengan platform crowd source yakni pendanaan dan penyelenggaraan berdasarkan urunan atau partisipatif secara independen.

Prof Marsudi menyampaikan keterangan bahwa kawalpemilu.org pada awalnya menampilkan hasil keunggulan paslon 02 karena perbedaan atau kecepatan jumlah data yang masuk dari TPS.

Situs kawalpemilu.org memang pada awalnya menampilkan keunggulan paslon 02 dan hingga Sabtu (20/04/2019) pukul 06.30 WIB berdasarkan data dari 64.973 TPS hasilnya Prabowo-Sandi disebut unggul tipis dengan perolehan 5.204.358 suara (50.05%) sementara Jokowi-Ma’ruf dengan perolehan 5.194.595 suara (49.95%) sebagaimana contoh berita pada https://www.merdeka.com/politik/kawalpemilu-suara-masuk-103-juta-prabowo-unggul-9763-suara-dari-jokowi.html

Namun pada tanggal yang sama (20/04/2019) sekitar pukul 9.00 WIB, melalui akun twitter @KawalPemilu2019 situs kawalpemilu.org mengabarkan telah mendapatkan “serangan” C1 Palsu dan upaya perusakan data di situs dengan cara upload ratusan foto C1 yang sama dan bahkan upload foto-foto non C1 sebagaimana yang diberitakan pada https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190420174015-32-388077/situs-kawal-pemilu-diserang-data-c1-palsu

Seminggu kemudian yakni Sabtu (27/04/2019) pukul 18:32 WIB setelah mendapatkan “tambahan” data dari 197.595 TPS menjadi 262.568 TPS (terproses) situs kawalpemilu.org menampilkan hasilnya Jokowi-Ma’ruf disebut unggul dengan perolehan 26.776.267 suara (53.54%) sementara Prabowo-Sandi dengan perolehan 23.233.691 suara (46.46%) dan hasil SITUNG KPU pada hari yang sama yakni Sabtu (27/04/2019) pukul 18:45 WIB dari 348.248 TPS (42.82%) menampilkan hasilnya Jokowi-Ma’ruf disebut unggul dengan perolehan 36.885.177 suara (56.38%) sementara Prabowo-Sandi dengan perolehan 28.533.233 suara (43.62%)

Sedangkan situng real count lainnya yang bekerja juga berdasarkan formulir C1 yang masuk seperti website/situs Ayo Jaga Tps kesulitan “berkembang” dan bahkan website/situs jurdil2019.org diblokir karena izinnya dicabut oleh Bawaslu sebagaimana yang diberitakan pada http://news.detik.com/berita/4518549/bawaslu-cabut-izin-satu-lembaga-pemantau-pemilu-2019

Kami berpendapat bahwa website/situs real count kawalpemilu.org pada awalnya menampilkan hasil keunggulan Prabowo-Sandi sebagaimana situs real count jurdil2019.org maupun Ayo Jaga Tps kemungkinan adalah karena data formulir C1 dari para relawan yang masuk secara alami yakni FIFO (First in First Out), data yang pertama masuk akan dipublikasikan paling awal dan kemungkinan kebanyakan data yang masuk paling awal adalah dari TPS lumbung suara Prabowo-Sandi seperti berasal dari Provinsi Jawa Barat.

Jadi tampaknya kelak perlu audit IT KPU untuk membuktikan adakah permufakatan jahat sehingga grafiknya selalu menunjukkan sekitar 55% (01) : 45% (02).

Contohnya perlu dibuktikan dengan IT audit adakah penambahan prosedur filter atau preferensi MEMILIH MENDAHULUKAN mempublikasikan TPS Provinsi lumbung suara paslon tertentu karena kalau tidak ada filter yakni data masuk dan dipublikasikan secara alami pasti grafiknya akan ada perubahan yang dinamis sebagaimana yang diperlihatkan oleh keempat situs real count independen yang menampilkan hasil penghitungan perolehan suara pilpres berdasarkan data formulir C1 yang dikirim oleh para relawan.

Berikut kami buatkan file excel simulasi pilpres 2019 berdasarkan Provinsi dengan DPT di atas 5 juta untuk memperlihatkan bahwa provinsi Jawa Tengah adalah salah satu lumbung suara bagi Jokowi.

Silahkan ubah persentase perolehan suara di Provinsi Jateng yang menjadi lumbung suara bagi Jokowi maka akan terlihat pengaruhnya secara keseluruhan

Titik kritisnya provinsi Jawa Tengah sekitar 70% (01) : 30% (02), artinya Prabowo akan menang jika di Provinsi Jateng memperoleh suara di atas 30% dan kalah jika di bawah 30% dan dengan asumsi Prov Jatim 55% (01) : 45% (02) dan Prov Jabar 40% (01) : 60% (02)

Silahkan download (unduh) filenya pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2019/04/simulasi-pilpres-2019-prop-di-atas-5-juta.xlsx

Iklan