Feeds:
Pos
Komentar

Momen 10 Muharram

Momen 10 Muharram menyantuni anak yatim

Bulan Muharram termasuk empat bulan haram sebagaimana bulan Dzulkaidah, Dzulhijah dan Rajab yakni bulan yang disucikan dan dilarang “menganiaya diri” seperti dilarang peperangan.

Firman Allah Ta’ala yang artinya, ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Ibnu ’Abbas ra mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”

Salah satu amalan sholeh yang disunnahkan dan diganjar pahala berlipat pada bulan Muharram atau 10 Muharram (Asyura) adalah menyantuni anak yatim.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyayangi anak-anak yatim, dan lebih menyayangi mereka pada hari 10 Muharram (Asyura). dan menjamu serta bersedekah pada 10 Muharram bukan hanya pada anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah beliau shallallahu alaihi wasallam dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh. (Faidhul qadir juz 6 hal 235-236).

Rasulullah bersabda “siapa-siapa saja yang melapangkan keluarga dan familinya pada hari Asyura niscaya Allah melapangkan rezekinya sepanjang tahun” (HR Baihaqi)

Diriwayatkan pula kebiasaan para Sahabat mengumpulkan anak-anak bocah mereka di masjid dan menggembirakan mereka dengan membuatkan mainan mainan untuk mereka pada hari asyura.

Diriwayatkan pula bahwa sayyidina Umar ra menjamu tamu dengan jamuan khusus, pada malam 10 muharram (Musnad Imam Tabrani / Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 hal 244)

Al Imam al-Hafizh Ibnu al-Jauzi (508-597 H/1114-1201 M), seorang ahli hadits Madzhab Hanbali, menjelaskan bahwa salah satu kebiasaan para ulama pada hari Asyura adalah “menyantuni dan mengusap kepala anak yatim” (Al-Hafizh Ibnu al-Jauzi al-Hanbali, al-Majalis, hal. 73-74, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)

Sebagian ulama mengartikan “mengusap kepala anak yatim” sebagai makna hakiki yakni mengusap kepala dengan tangan dan sebagian lainnya mengartikan sebagai makna kinayah (kiasan) yakni mengasihi atau menyantuni anak yatim.

Syeikh Abu Thayyib berkata: “Mengusap kepala anak yatim adalah sebuah kinayah tentang kasih sayang dan sikap lemah lembut (kepada anak yatim). Makna kinayah ini tidak bertentangan dengan makna hakiki, karena keduanya bisa dipadukan”. (Mirqatul Mafatih, 8/3115)

Kesimpulannya, tradisi menyantuni anak yatim pada hari Asyura memang sudah ada sejak lama dan dilakukan oleh masyarakat umum maupun para ulama secara turun temurun.

Dari tradisi tersebut lalu muncul istilah Idul Yatama (hari raya anak yatim). Namun, yang dimaksud Idul Yatama bukanlah hari raya seperti Idul Fitri atau Idul Adha, melainkan momen untuk membahagiakan hati anak yatim.

Momen 10 Muharram tidak pula dimaksudkan bahwa santunan kepada anak yatim hanya berlangsung pada hari tersebut, karena menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapanpun dan di manapun.

Penyebutan istilah Ied hanya sebagai ungkapan kegembiraan dan kesenangan. Orang-orang kadang biasa menyebut hari yang menggembirakan sebagai “hari raya (ied)”.

Dalam syair-syair Arab pun banyak menggunakan kata ‘Ied tetapi tidak maksudkan sebagai Ied yang sebenarnya.

Demikian pula dengan istilah Idul Yatama yang dimaksudkan sebagai Hari Anak Yatim, sebagaimana Hari Santri, Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, Hari Pohon (peduli lingkungan), Hari Ibu dan sejenisnya.

Wallahu A’lam.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Iklan