Feeds:
Pos
Komentar

Firqah Mujassimah

Firqah MUJASSIMAH adalah orang-orang yang MENGGANTI sifat Allah dengan sifat JISIM yakni sifat makhluk atau benda

Firqah MUSYABBIHAH adalah orang-orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya

Sedangkan firqah MUJASSIMAH adalah orang-orang yang MENGGANTI sifat-sifat Allah dengan sifat JISIM yakni sifat makhluk atau benda seperti contohnya mereka mengganti sifat ISTIWA Allah dengan ISTIQRAR artinya MENETAP TINGGI atau bahkan ada mereka yang mengatakan “MELAYANG” tinggi di atas Arsy.

Orang-orang yang terjerumus mengikuti firqah MUJASSIMAH adalah karena mereka mensifati Allah atau memaknai sifat Allah dengan MAKNA DZAHIR atau secara hissi (indrawi atau fisikal, materi, jisim) sehingga mereka men-jisim-kan Allah yakni seperti mereka mengitsbatkan (menetapkan) arah, jarak, tempat, ukuran, BATASAN seperti BERBATAS dengan Arsy dan sifat-sifat fisikal lainnya maupun ANGGOTA-ANGGOTA badan.

Contohnya ulama panutan atau rujukan bagi firqah Wahabi yakni Ibnu Taimiyah (W. 728H) sebelum bertaubat mengatakan bahwa,

  • Tuhan BERADA atau BERTEMPAT di atas Arsy, maka keduanya ini memiliki BENTUK dan BATASAN (Muwafaqat Sharih al Ma’qul j.2 h 29)
  • Nabi Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya!” (Majmu Fatawa juz 4, hal.374)

Kedua perkataan atau pendapat Ibnu Taimiyah tersebut dikutip dari tulisan mereka yang sempat diarsip pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2014/02/bentuk-tuhan-mereka.pdf

Contoh kajian PERBEDAAN antara Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal dengan Mazhab Salafi Kontemporer (Salafi masa kini) tentang pengertian Rasulullah kelak didudukan di atas Arsy adalah terkait syafa’at Rasulullah bukan syubhat tempat dan arah bagi Allah Ta’ala dapat disaksikan dalam video pada https://bit.ly/3mVBCBa

Jadi Ibnu Taimiyah TERBUKTI mengikuti firqah MUJASSIMAH yakni Ibnu Taimiyah MENGGANTI kemuliaan dan keagungan sifat ISTAWA Allah dengan sifat makhluk atau benda yakni sifat BERBATAS dengan Arsy.

Imam Abu Hanifah (W 150H) dalam kitab Al-Fiqhul-Akbar mengingatkan bahwa Allah Ta’ala tidak boleh disifatkan dengan sifat-sifat benda seperti ukuran, batasan atau berbatas dengan ciptaanNya , sisi-sisi, anggota tubuh yang besar (seperti tangan dan kaki) dan anggota tubuh yang kecil (seperti mata dan lidah) atau diliputi oleh arah penjuru yang enam arah (atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang) seperti halnya makhluk (diliputi oleh arah).

Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321H) berkata:

تَعَالَـى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأرْكَانِ وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ

“Maha suci Allah dari batas-batas, batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Imam Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib telah mengingatkan bahwa KELAK,

قوم من هذه الأمة عند إقتراب الساعة كفارا يُنكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والأعضاء

“Sebagian golongan dari umat Islam pada akhir zaman akan kembali kafir (maksudnya KUFUR dalam I’TIQOD) karena mereka MENGINGKARI Pencipta mereka dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat JISIM (sifat benda atau makhluk yakni sifat fisikal seperti arah, ukuran, jarak, batasan maupun tempat) dan ANGGOTA-ANGGOTA BADAN.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi wafat 725 H dalam kitab Najm Al-Muhtadi Rajm Al-Mu’tadi)

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam Misykat Al Anwar menjelaskan tentang firqah MUJASSIMAH adalah orang-orang yang belum dapat memandang Allah Ta’ala dengan hatinya (ain bashirah) AKIBAT mereka TERHIJAB oleh cahaya yang bercampur dengan KEGELAPAN KHAYALI.

***** awal kutipan *****
Sebab, kata mereka sesuatu yang TIDAK DINISBAHKAN ke SUATU ARAH dan tidak dapat dilukiskan sebagai “di luar alam dunia” atau “di dalamnya”, menurut mereka, sama saja dengan “TIDAK ADA” karena tidak dapat DIKHAYALKAN.
***** akhir kutipan *****

Contohnya ulama mereka, Ibnu Utsaimin berkata

إذا نفيت هذه الجهات عن الله تعالی لزم أن يكون معدوما

Apabila engkau MENIADAKAN ARAH-ARAH ini dari Allah Ta’ala. Maka mengharuskan ALLAH itu TIDAK ADA. (Majmu’ Fatawa, Jilid 1, Hal.131) sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2022/05/01/jika-meniadakan-arah/

Jadi LISAN mereka mengatakan menyembah atau beribadah kepada Allah Ta’ala TETAPI pada kenyataannya KHAYALI mereka menyembah atau beribadah kepada SESUATU yang BERBATAS dan BERADA di atas arsy

Rasulullah telah mengabarkan atau memberitakan secara sharih atau jelas dan terang (lafadz yang tidak memerlukan penjelasan lagi) bahwa sesuatu yang BERBATAS dan BERADA di atas Arsy contohnya adalah kitab Lauh Mahfudz.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menentukan nasib manusia, Ia menulis di kitab-Nya yang BERADA di sisi-Nya DI ATAS Arsy. Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (Musnad Ahmad 8346 atau HR Bukhari 6999 atau Fathul Bari 7554)

Haditsnya dapat dibaca pada https://hadits.in/ahmad/8346

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani berkomentar

وَالْغَرَضُ مِنْهُ الْإِشَارَةُ إِلَى أَنَّ اللَّوْحَ الْمَحْفُوظَ فَوْقَ الْعَرْشِ

Hadits itu adalah mengisyaratkan bahwa Lauh mahfuzh BERADA di atas (fawqo) Arsy.” (Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz XIII, halaman 526)

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan lebih lanjut, “Tak masalah memahami hadits tersebut secara dzahir (bahwa Lauh mahfuzh benar berada di atas Arasy) sebab sesungguhnya Arasy adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan “di sisi-Nya” adalah di sisi ilmu Allah. Jadi penyebutan sisi di sini bukanlah dalam makna tempat tetapi itu adalah isyarat bagi kesempurnaan Lauh mahfuzh yang tersembunyi dari makhluk dan tinggi terangkat dari batas pengetahuan mereka.”

Para mufassir (ahli tafsir) menterjemahkan ISTAWA artinya BERSEMAYAM adalah karena kata BERSEMAYAM serupa dengan ISTAWA mempunyai MAKNA DZAHIR dan MAKNA MAJAZ (makna kiasan).

Para ulama terdahulu telah mengingatkan bahwa sebaiknya janganlah memahami apa yang telah Allah Ta’ala sifatkan untuk diriNya SELALU dengan MAKNA DZAHIR karena akan terjerumus KEKUFURAN dalam perkara I’TIQOD atau AKIDAH.

Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadits mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Jadi kita harus dapat membedakan antara ARTI dengan MAKNA agar tidak terjerumus KEKUFURAN dalam PERKARA I’TiQOD atau AKIDAH

Contoh kata BERSEMAYAM yang tidak dapat dimaknai dengan MAKNA DZAHIR, makna duduk atau bertempat dalam sebuah petuah Bung Karno tertanggal 23 Oktober 1946 yakni berbunyi:

Orang tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.

Contoh BERSEMAYAM dalam MAKNA MAJAZ adalah berkuasa, contohnya Bapak Drs H M. Abdullah Msc BERSEMAYAM di SINGGASANA Walikota selama dua periode” bukan bermakna dia BERTEMPAT atau DUDUK di SINGGASANA sepanjang dua periode namun MAKNANYA dia BERKUASA selama dua periode.

Contoh ulama mereka, Utsaimin MENOLAK memaknai ISTIWA Allah atas Arsy dengan MAKNA DZAHIR yakni secara HISSI (JISIM / Materi / Fisikal) seperti ISTIQRAR artinya MENETAP tinggi atau bahkan ada mereka yang mengatakan “MELAYANG” tinggi di atas Arsy.

Ulama mereka, Ibnu Utsaimin berkata,

الاستواء على الشيء في اللغة العربية يأتي بمعنى الاستقرار والجلوس

Istiwa di atas sesuatu dalam bahasa Arab bermakna ISTIQRAR (menetap) dan JULUS (duduk).

Ulama mereka, Ibnu Utsaimin bertanya

لكن هل يصح أن نثبته في استواء الله على العرش ؟

Tetapi apakah boleh kita menetapkan makna tersebut pada istiwa Allah atas Arsy?

Ulama mereka, Ibnu Utsaimin memilih MENTAKWIL atau memaknai ISTIWA dengan MAHA TINGGI.

ولكن نقول : معنى الاستواء : العلو ، هذا أمر لاشك فيه

Tapi kita katakan makna ISTIWA adalah MAHA TINGGI. Inilah yang tidak diragukan.

Sumber : Liqa’ bab al Maftuh pertanyaan nomor 450 dan tangkapan layar (screenshot) dapat dilihat pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2022/03/utsaimin-liqa-bab-al-maftuh-pertanyaan-no-450.jpg

Ulama mereka, Ibnu Utsaimin mentakwil atau memalingkan dari makna dzahir ISTIWA menjadi MAHA TINGGI sesuai dengan firman Allah Ta’ala bahwa Allah Maha Tinggi dalam makna ketinggian derajat-Nya atau kekuasaan-Nya yang menunjukkan keagungan Raja dari segala raja.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat) (QS. Al Mukmin [40] : 15)

Al-Mufassir Al Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa pengertian Maha Tinggi bagi Allah Ta’ala adalah

يراد به علو القدر والمنزلة لا علو المكان

Yang dimaksud adalah ketinggian derajat (keagungan) dan kedudukanNya bukan ketinggian tempat.

Begitupula Imam Ath Thabari dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala surat Al Baqarah [2] ayat 29 mengingatkan bahwa,

علا عليها علو ملك وسلطان

Pengertian Maha Tinggi adalah Maha Tinggi kekuasaan dan keagungan Raja (dari segala raja)

لا علو انتقال وزوال

bukan tinggi berpindah (intiqal) dan berubah/menghilang (zawalun – dari suatu keadaan ke keadaan yang lain). (Tafsir Ath Thobari Jami’ul Bayan 1/430) sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2022/03/05/bukan-intiqal-berpindah

Al-Imam al-Qurthubi menuliskan: “Allah yang Maha Agung tidak boleh disifati dengan perubahan atau berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dan mustahil Dia disifati dengan sifat berubah atau berpindah. Karena Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah, dan tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Karena sesuatu yang terikat oleh waktu itu adalah sesuatu yang lemah dan makhluk” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 20, h. 55, dalam QS. al-Fajr: 22)

Begitupula firman Allah Ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia istawa atas Arsy” (QS. Al A’raf [7] : 54)

Allah Ta’ala tidak boleh disifatkan berubah sehingga tsumma istawa (lalu Allah istawa) bukanlah perpindahan yakni berkesinambungan perbuatan-Nya namun berkesinambungan pemberitaan-Nya.

Imam al-Qadli Badruddin ibn Jama’ah dalam kitab berjudul Idlah ad-Dalil Fî Qath’i Hujaj Ahl at-Ta’thîl, hlm. 106-107 menuliskan

***** awal kutipan *****
Kemudian kata “tsumma” dalam firman-Nya: “Tsumma Istawa” BUKAN dalam pengertian “tertib atau berkesinambungan” dalam perbuatan-Nya, tetapi untuk memberikan paham tertib atau berkesinambungan dalam pemberitaan-Nya.
***** akhir kutipan *****

Para ulama ahli bahasa mengatakan bahwa kata tsumma tidak hanya dipergunakan untuk susunan kejadian peristiwa.

Contohnya al-Imam al-Lughawiy al-Farra’ mengatakan bahwa kata tsumma terkadang digunakan dalam pengertian “al-waw”, artinya untuk tujuan susunan pemberitaan (Tartîb al-Ikhbar) dan tidak khusus hanya untuk susunan kejadian saja (Tartib al-Hushul).

Al Imam Al Hafidzh al Baihaqi dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat hal. 411 menuliskan bahwa,

***** awal kutipan *****
penggunaan kata tsumma pada asalnya adalah untuk susunan kejadian peristiwa (at-Tarakhkhî).

Dan penggunaan tsumma dalam pengertian at-Tarakhkhî ini hanya terjadi pada perbuatan-perbuatan makhluk, karena setiap perbuatan makhluk itu pasti bersusunan (berkesinambungan) satu pekerjaan atas lainnya, ia tidak bisa mengerjakan berbagai pekerjaan dalam satu waktu.

Hal ini karena perbuatan manusia dengan mempergunakan peralatan, seperti; tangan, kaki, dan lainnya.

Juga dalam perbuatannya tersebut, manusia harus menyentuh objek dari apa yang diperbuatkannya.

Ini berbeda dengan perbuatan Allah, Dia menciptakan segala makhluk-Nya bukan dengan peralatan, bukan dengan tangan, bukan dengan menyentuh, bukan dengan bergerak, dan bukan dengan segala sifat-sifat makhluk lainnya.

Karena itu, penggunaan kata tsumma dalam ayat-ayat di atas bukan dalam pengertian susunan (berkesinambungan) dalam perbuatan-Nya, karena Allah Ta’ala tidak disibukan oleh satu perbuatan atas perbuatan lainnya.
***** akhir kutipan *****

TIDAK ADA satupun mufassir (ahli tafsir) yang menterjemahkan ISTAWA artinya BERADA maupun BERBATAS dengan Arsy.

Syaikh Abdul Qadir Al Jilani dalam Al Ghunyah Juz 1 hal 121 – 125 menjelaskan bahwa Istawa Allah atas arsy bukanlah dalam pengertian tempat maupun arah karena Allah bukanlah JISM dan tidak juga berupa sesuatu yang mempunyai BATASAN (mahdud) dan dapat dibaca pada https://al-maktaba.org/book/33369/113#p3

***** awal kutipan *****

ليس بجسم فيمس، ولا بجوهر فيحس، ولا عرض فيقضى، ولا ذي تركيب أو آلة وتأليف، أو ماهية وتحديد

“Allah BUKANLAH JISM sehingga tidak bisa disentuh, bukan pula JAUHAR sehingga tidak bisa diindera, bukan ‘ARADH sehingga bisa ditentukan, tidak juga berupa sesuatu yang mempunyai susunan, alat (organ), rangkaian, MATERI atau juga BATASAN”.
***** akhir kutipan *****

Begitupula Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam “Maqalatul Islamiyin” jilid I hal 281 dengan JELAS dan TEGAS menuliskan apa yang telah disepakati oleh para ahlus sunnah,

أنهم يقولون: إن البارىء ليس بجسم ولا محدود ولا ذي نهاية

Mereka (ahlus sunnah) berkata, “Sesungguhnya Allah BUKAN JISM, tidak mempunyai BATASAN (MAHDUD) dan TIDAK BERJARAK (NIHAYAH) “

Al Imam al Hafidzh al Baihaqi (W 458 H) dalam al-Asmâ’ wa as-Shifât, juz 2, halaman 308 menegaskan bahwa Allah Ta’ala TIDAK MENYENTUH dan TIDAK BERJARAK atau TIDAK TERPISAH (LA MUBAYANAH) dari Arsy.

وَالْقَدِيمُ سُبْحَانَهُ عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ لَا قَاعِدٌ وَلَا قَائِمٌ وَلَا مُمَاسٌّ وَلَا مُبَايَنٌ عَنِ الْعَرْشِ

“Allah Yang Maha Qadim, Tinggi di atas Arsy, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERDIRI, TIDAK MENYENTUH dan TIDAK BERJARAK atau TIDAK TERPISAH (LA MUBAYANAH) dari Arsy.

Syekh Ibnu Khaldun (808 H) menjelaskan bahwa pengertian MUBAYANAH yang telah disepakati oleh jumhur ulama Salaf maupun Khalaf

وأمّا المعنى الآخر للمباينة، فهو المغايرة والمخالفة

Adapun makna keterpisahan (mubayanah) bagi Allah Ta’ala dengan makhluk adalah perbedaan dan ketidaksamaan

فيقال: البارئ مباين لمخلوقاته في ذاته وهويّته ووجوده وصفاته

Maka dikatakan bahwa Allah berbeda dari makhluk-makhluk-Nya dalam hal Dzat, hakikat, keberadaan dan sifat-sifatnya.

Jadi pengertian KETERPISAHAN (MUBAYANAH) bagi Allah Ta’ala dengan makhluk yang telah disepakati oleh jumhur ulama ADALAH,

Allah ba’in ‘an al-khalq yakni Allah Ta’ala TERPISAH dalam pengertian atau makna BERBEDA atau TIDAK SERUPA dari makhluk-makhluk-Nya dari sisi apapun sebagaimana firman Allah Ta’ala “Laisa Kamitslihi Syaiun” (QS. Asy Syura [42] : 11).

Contohnya kalau manusia DEKAT BERSENTUH dan JAUH BERJARAK.

Sedangkan Allah Ta’ala DEKAT TIDAK BERSENTUH dan JAUH TIDAK BERJARAK.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat (QS Al Baqarah [2] : 186)

Pada kenyataannya orang-orang yang hidup zaman NOW (sekarang) atau Khalaf (kemudian) NAMUN mereka mengaku-ngaku mengikuti Salaf dan menisbatkan sebagai Salafi dan mengaku pula sebagai kalangan modernis atau gerakan pembaruan adalah,

Mereka yang TERKECOH atau TERKELABUI oleh ulama panutan atau rujukan bagi firqah Wahabi yakni Ibnu Taimiyah (W 728H) yang terjerumus DURHAKA (‘Aashin) kepada Allah Ta’ala karena pengingkaran MAKNA MAJAZ dalam firman Allah Ta’ala (Al Qur’an) yang DILABELI sebagai MAZHAB atau MANHAJ Salaf.

Padahal dalam percakapan antar manusia saja dikenal MAKNA DZAHIR (makna tersurat) dan MAKNA MAJAZ (makna tersirat)

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul Al Iman hal. 94 mengatakan,

***** awal kutipan *****
فهذا بتقدير أن يكون في اللغة مجاز ، فلا مجاز في القرآن ، بل وتقسيم اللغة إلى حقيقة ومجاز تقسیم مبتدع محدث لم ينطق به السلف

“maka ini adalah dengan prakiraan adanya bentuk majaz dalam bahasa. Sementara dalam al-Qur’an tidak ada bentuk majaz.

Bahkan pembagian bahasa kepada hakikat (makna dzahir) dan majaz adalah pembagian bid’ah, perkara baharu yang tidak pernah diungkapkan oleh para ulama Salaf.
***** akhir kutipan *****

Bahkan Ibnu Qoyyim al Jauziyah (w 751 H) murid dari Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa MAJAZ adalah THAGHUT yang KETIGA (Ath thaghut Ats Tsalits), karena menurut Beliau dengan adanya MAJAZ, akan membuka pintu bagi ahlu tahrif untuk menafsirkan ayat dan hadist dengan makna yang menyimpang (As Showa’iqul Mursalah 2/632)

Allah Ta’ala dan Rasulullah tidak pernah melarang takwil dengan ilmu tata bahasa Arab atau ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah) seperti TAKWIL dengan MAKNA MAJAZ karena “bacaan Al Qur’an dalam bahasa Arab” (QS Fush shilat [41]:3)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (SELALU dengan MAKNA DZAHIR) untuk menimbulkan FITNAH dengan MENCARI-CARI TAKWILNYA, padahal tidak ada yang mengetahui TAKWILNYA melainkan Allah.” (QS. Ali Imran [3] : 7)

Jadi Allah Ta’ala BUKAN MELARANG TAKWIL namun MELARANG “MENCARI-CARI TAKWIL” atau “mengada-ngada takwil” yakni MENTAKWIL atau MEMAKNAI TANPA ILMU seperti firqah MUJASSIMAH yakni orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (ayat dengan banyak makna) terkait sifat Allah SELALU dengan MAKNA DZAHIR sehingga mereka menimbulkan FITNAH.

Dalam kitab tafsir Jalalain, Imam Suyuthi ketika menafsirkan (QS. Ali Imran [3] : 7) menjelaskan bahwa FITNAH berasal dari

لجهالهم بوقوعهم في الشبهات واللبس

kalangan orang-orang jahil (TANPA ILMU) yang justru menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang syubhat dan kabur pengertiannya.

Contoh akibat firqah MUJASSIMAH menolak takwil dengan makna majaz maupun tafwidh adalah mereka menimbulkan FITNAH yakni mereka menyebarluaskan KEBOHONGAN mengenai Allah seperti,

LISAN mereka mengatakan menyembah atau beribadah kepada Allah Ta’ala TETAPI pada kenyataannya KHAYALI mereka menyembah atau beribadah kepada SESUATU yang memiliki WAJAH tanpa KEPALA, dua mata, dua telinga, pinggang, betis, jari, dua tangan yang kedua-duanya kanan, dua kaki yang ditempatkan di kursi dan terkadang kakinya sebagai JARIHAH untuk membenamkan penghuni neraka dan SEMUA itu akan BINASA kecuali wajahnya

Pembesar mazhab Hambali, Al Imam Ibn al Jawzi Al Hanbali ketika menyampaikan tentang firqah MUJASSIMAH bahwa mereka tidak mendapatkan nash / dalil shorih bahwa Allah memiliki kepala.

***** awal kutipan *****
Sementara tentang kepala mereka berkata, “Kami tidak pernah mendengar berita bahwa Allah memiliki kepala”
***** akhir kutipan *****

Begitupula apabila mereka berpendapat bahwa ayat-ayat mutasyabihat yakni ayat dengan banyak makna terkait sifat Allah HARUS dimaknai dengan MAKNA DZAHIR dan TIDAK BOLEH dimaknai dengan MAKNA MAJAZ maka apakah menurut mereka wajah Allah BERADA di Timur dan Barat karena Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS Al Baqarah [2] : 115)

Salah satu ciri khas firqah MUJASSIMAH, selain mereka MENGINGKARI MAKNA MAJAZ adalah mereka juga mengingkari TAFWIDH.

Contohnya ulama panutan atau rujukkan bagi firqah Wahabi yakni TOKOH MUJASSIMAH Ibnu Taimiyah (W 728H) TERBUKTI tidak mengikuti Salafus Sholeh karena Ibnu Taimiyah justru MENGINGKARI TAFWIDH secara MUTLAK.

Ibnu Taimiyah sebelum bertaubat berkata,

أن قول أهل التفويض الذين يزعمون أنهم متبعون للسنة والسلف من شر أقوال أهل البدع والإلحاد

“Maka menjadi jelaslah bahwa ucapan para penganut Tafwidh yang menyangka dirinya mengikuti sunnah, adalah merupakan sejelek-jelek ucapan ahli bid’ah dan ahli ilhad.” (Dar’ut Ta’arudhil Aqli Wan Naqli : 1/115)

TAFWIDH dan TAKWIL itu hanya sebuah PILIHAN karena sama-sama MEMALINGKAN dari MAKNA DZAHIR dan TAFWIDH disebut juga takwil IJMALI, sedangkan TAKWIL seperti contohnya takwil dengan makna majaz disebut takwil TAFSHILI.

Para ulama terdahulu telah menjelaskan bahwa yang dimaksud TAFWIDH adalah TAFWIDH MAKNA, mengembalikan atau menyerahkan maknanya kepada pengucapnya yakni Allah Ta’ala dan Rasulullah.

Contohnya Al Hafizh Adz Dzahabi menjelaskan pengertian TAFWIDH adalah,

فَقَولُنَا فِي ذَلِكَ وَبَابِهِ: الإِقرَارُ، وَالإِمْرَارُ، وَتَفْويضُ مَعْنَاهُ إِلَى قَائِلِه الصَّادِقِ المَعْصُومِ

“Pendapat kami dalam masalah dan bab ini adalah: mengakuinya dan membiarkannya (sebagaimana teks atau lafadznya) dan TAFWIDH MAKNA (mengembalikan maknanya) kepada pengucapnya ash Shadiq al Ma’shum (yakni Rasulullah)” (Siyaru alaminubala Adz Dzahabi 8/105)

Berikut kutipan contoh pendapat atau pemahaman Salafus Sholeh sebagaimana yang disampaikan oleh Al Hafizh Ad Dzahabi dalam kitab Mukhtashar Al Uluw.

***** awal kutipan *****
Sufyan Ats Tsauriy mengatakan bahwa ia pernah suatu saat berada di sisi Robi’ah bin Abi ‘Abdirrahman kemudian ada seseorang yang bertanya pada beliau,

الرحمن على العرش استوى كيف استوى

“Ar Rahman (yaitu Allah) beristiwa’ atas ‘Arsy, lalu bagaimana Allah beristiwa’?”

Robi’ah menjawab,

الإستواء غير مجهول والكيف غير معقول ومن الله الرسالة وعلى الرسول البلاغ وعلينا التصديق

“Istiwa’ itu telah diketahui (disebutkan dalam Al Qur’an), Al Kaifu ghairu maquul (Al Kaifa yakni sifat makhluk atau benda tidak masuk akal ditujukan bagi istiwa Allah) Risalah (wahyu) dari Allah, tugas Rasul hanya menyampaikan, sedangkan kita wajib membenarkan (dengan MEMBIARKAN sebagaimana teks atau lafadznya).”
***** akhir kutipan *****

Jadi Salafus Sholeh mayoritas atau pada umumnya dalam menghadapi ayat-ayat mutasyabihat yakni ayat dengan banyak makna terkait sifat-sifat Allah adalah mereka memilih TANPA TAFSIR alias TAFWIDH MAKNA yakni MENGITSBATKAN atau MENETAPKAN dengan MEMBIARKAN sebagaimana TEKS atau LAFADZNYA (itsbat lafadz) BUKAN berdasarkan MAKNANYA secara bahasa artinya mereka MEMALINGKAN teks atau lafadznya dari makna dzahir maupun makna majaz secara keseluruhan atau global (IJMALI) dan lalu TAFWIDH MAKNA yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala yang disebut juga TAKWIL IJMALI.

Contoh Salaf sebelum abad 2 Hijriah, Imam Sufyan bin Uyainah rahimahullah nama lengkapnya Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran, salah seorang Tabi’i tsiqoh, dilahirkan pada tahun 107 H dan wafat di Makkah pada tahun 198 H berkata:

ما وصف الله تبارك وتعالى به نفسه في كتابه فقراءته تفسيره، ليس لأحد أن يفسره بالعربية ولا بالفارسية

“Apa yang disifati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang diriNya dalam kitabNya, maka bacaan perkataan tersebut adalah tafsirannya. Tidak boleh seseorang menafsirkannya dengan (makna) bahasa Arab ataupun menafsirkannya dengan (makna) bahasa Farsi (makna bahasa selain Arab / bahasa asing) (Al Imam Al Hafizh Al Baihaqidi dalam kitab Al Asma’ wash Shifat 2 : 117)

Contoh lainnya

قال الوليد بن مسلم : سألت الأوزاعي ومالك بن أنس وسفيان الثوري والليث بن سعد عن الأحاديث فيها الصفات ؟

Dari Walid bin Muslim berkata: Aku bertanya kepada Auza’iy, Malik bin Anas, Sufyan Tsauri, Laits bin Sa’ad tentang hadits-hadits yang di dalamnya ada sifat-sifat Allah?

فكلهم قالوا لي

Maka semuanya berkata dan memerintahkan kepadaku:

أمروها كما جاءت بلا تفسير

“Biarkanlah ia sebagaimana ia datang TANPA TAFSIR”

Jadi boleh bagi orang yang tidak memiliki kompetensi (orang awam) hanya sampai teks atau lafadznya seperti Yadullah yang artinya Tangan Allah dan TAFWIDH MAKNA yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala.

Begitupula boleh bagi orang awam hanya sampai teks atau lafadznya seperti istiwa yang artinya bersemayam yang mempunyai makna dzahir dan makna majaz dan lalu TAFWIDH MAKNA yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala.

Berikut kutipan saran Imam Asy Syafi’i kepada orang-orang yang tidak memiliki kompetensi atau orang awam untuk memilih TAFWIDH yang disampaikan oleh Beliau ketika ditanya terkait firman Allah Ta’ala, “Ar-Rahmanu alal arsy istawa” (QS. Thaha [20] : 5)

***** awal kutipan *****

إن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم

“Ini termasuk ayat mutasyabihat (ayat dengan banyak makna), jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya (orang AWAM) adalah agar mengimaninya dengan MEMBIARKAN sebagaimana ia datang (sebagaimana TEKS atau LAFADZNYA) dan tidak membahas atau membicarakannya secara detail KARENA bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam KESESATAN TASYBIH.
***** akhir kutipan *****

Para ulama terdahulu menjelaskan bahwa memang sesungguhnya pada awalnya teks-teks atau lafadz-lafadz yakni ayat mutasyabihat terkait sifat Allah itu HARUS DIPAHAMI dalam MAKNA DZAHIRNYA.

NAMUN kemudian gunakanlah AKAL bahwa JIKA dipahami dengan MAKNA DZAHIR akan terjerumus mensifatkan Allah Ta’ala dengan sifat yang tidak layak (tidak patut) bagi-Nya maka dapat DIPASTIKAN BUKAN dalam MAKNA DZAHIR.

Salafus Sholeh tentu bukan tidak mengetahui makna dzahirnya NAMUN JIKA dipaksakan DIMAKNAI dengan MAKNA DZAHIR akan TERJERUMUS memaknai sifat Allah dengan sifat makhluk (benda) atau mensifatkan Allah Ta’ala dengan sifat yang tidak patut (tidak layak) bagi Allah Ta’ala MAKA ulama Salaf maupun ulama Khalaf telah SEPAKAT MEYAKININYA BUKAN dalam makna dzahirnya dan MEMALINGKAN lafadz mutasyabihat (banyak makna) terkait sifat-sifat Allah Ta’ala dari makna dzahirnya.

Perbedaan keduanya hanya terjadi pada masalah apakah diberikan maknanya sesuai kaidah-kaidah bahasa Arab ataupun tidak diberi makna tetapi diserahkan maknanya kepada Allah Ta`ala sendiri.

Sedangkan para ulama khalaf, dikarenakan pada masa mereka sudah berkembang ahli bid’ah yang mensifati Allah dengan sifat makhluk atau benda, maka mereka menakwilkan atau memaknai nash mutasyabihat tersebut dengan makna yang layak bagi Allah yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab atau tata bahasa Arab atau ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’) karena “bacaan Al Qur’an dalam bahasa Arab” (QS Fush shilat [41]:3) yang disebut dengan TAKWIL TAFSHILI.

Jadi TAFWIDH MAKNA (TAKWIL IJMALI) dan TAKWIL TAFSHILI hanyalah SEBUAH PILIHAN bukan BERTENTANGAN atau KONTRADIKSI.

Berikut kutipan contoh alasan mereka MENOLAK orang-orang yang menakwilkan atau memaknai (menafsirkan) ISTAWA (bersemayam) dengan MAKNA MAJAZ seperti ISTAWLA (menguasai)

***** awal kutipan *****
“Seolah-olah Allah Ta’ala menguasai setelah sebelumnya belum menguasai Arsy (yang qadim yakni tidak berawal atau ada dengan sendirinya)

Layaknya raja-raja yang menang perang, yang kemudian menguasai kerajaan yang sebelumnya belum dikuasainya.
***** akhir kutipan *****

Dengan mereka menganggap SEOLAH-OLAH Allah Ta’ala menguasai setelah sebelumnya belum menguasai Arsy maka sama artinya mereka mengatakan Arsy tidak berawal (QADIM) atau ADA dengan sendirinya.

Ini jelas pemahaman yang keliru karena arsy adalah makhluk Allah. Segala sesuatu apapun (selain Allah); semuanya adalah makhluk Allah dan di bawah kekuasaan Allah.

Jika arsy atau selain arsy tidak diciptakan oleh Allah Ta’ala maka semua itu tidak akan pernah ada. Allah Ta’ala menciptakan dan menguasai Arsy

Adapun penyebutan arsy dalam ayat tersebut secara khusus adalah karena arsy itu makhluk Allah yang paling besar bentuknya.

Dengan demikian penyebutan arsy secara khusus ini memberikan isyarat bahwa Allah Ta’ala juga menguasai segala apa yang bentuknya lebih kecil dari pada arsy.

Orang-orang yang menakwilkan atau memaknai (menafsirkan) ISTAWA (bersemayam) dengan MAKNA MAJAZ seperti ISTAWLA (menguasai) atau QAHARA (menundukkan) TIDAK BERBUAT KESALAHAN apapun karena mereka tidak melanggar satupun larangan Allah Ta’ala dan Rasulullah.

Mereka tidak mentakwil sifat Allah dengan sifat makhluk atau benda.

Mereka tidak mensifati Allah dengan sesuatu yang tidak boleh.

Mereka mentakwil sifat Istawa Allah dengan MAKNA MAJAZ seperti ISTAWLA (menguasai) atau QAHARA (menundukkan) SESUAI dengan sifat atau nama Allah Ta’ala yakni Al Qahir dan Al Ghalib.

Imam Ibn Battal mengatakan, “pengartian pengaturan dan kekuasaan”, “menguasai” dan “penaklukan” tidak dianggap berlawanan dengan Sang Pencipta (Al-Khalik) sebagaimana “Zahir”, “Qahhar”, “Ghalib” atau “Qahir”, tidak dianggap berlawanan atas bagian zat lainnya. Hal ini diperkuat oleh ayat, “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi (Al-Qahir) atas semua hamba-Nya” (6:18, 6:61) dan “ Allah berkuasa (Al-Ghalib) terhadap urusan-Nya” (12:21).

Begitupula pembesar mazhab Hambali, Imam Ibn al Jawzi dalam Shubah al-Tashbih hal:23 juga membolehkan menafsirkan istiwa sebagai “al-qahir”, menguasai.

Jadi kesimpulannya bahwa orang-orang yang menakwilkan atau memaknai (menafsirkan) ISTAWA (bersemayam) dengan MAKNA MAJAZ seperti ISTAWLA (menguasai) atau QAHARA (menundukkan) dapat dibenarkan karena sesuai dengan keagungan Allah yakni Al Qahir dan Al Ghalib

Begitupula PADA KENYATAANNYA orang-orang yang mengaku-ngaku mengikuti ulama Salaf (yang hidup sebelum 300 H) dan menisbatkan sebagai Salafi dan mengaku pula sebagai kalangan modernis atau gerakan pembaruan NAMUN mereka mengikuti ulama Salaf tokoh MUJASSIMAH seperti Muhammad Ibnu Karram (W 255 H) pelopor firqah KARRAMIYAH yang terpecah DUA KELOMPOK yakni,

KELOMPOK PERTAMA berkeyakinan Tuhan BERTEMPAT di atas Arsy dan

KELOMPOK KEDUA berkeyakinan Tuhan BERARAH yakni di arah atas arsy

Berikut contoh kutipan tulisan mereka,

***** awal kutipan *****
Tidak betul, sudah dijelaskan para ulama salaf bahwa memang zat Allah itu di arah atas, tapi mereka memang tidak menamakan itu semua tempat karena Allah itu di luar alam sehingga tak berlaku lagi tempat di luar alam karena tempat itu masih alam.
***** akhir kutipan *****

Mereka berkeyakinan Tuhan berada di arah atas dan di atas Arsy ada yang namanya “BUKAN TEMPAT” dan yang lainnya menamakannya dengan istilah yang TIDAK PERNAH difirmankan oleh Allah Ta’ala dan disabdakan oleh Rasulullah ataupun dikatakan oleh ulama Salaf yakni MAKAN ‘ADAMI dan kalau diartikan adalah “TEMPAT KETIADAAN”

Imam Asy Syahrastani (W 578 H) mengatakan :

نص أبو عبد الله على أن معبوده على العرش استقرارا، وعلى أنه بجهة فوق ذاتا وقال بعضهم: امتلأ العرش به، وصار المتأخرون منهم إلى أنه تعالى بجهة فوق، وأنه محاذ للعرش وقال محمد بن الهيصم: إن بينه وبين العرش بعدا لا يتناهى، وإنه مباين للعالم بينونة أزلية

Abu Abdillah (Ibnu Karram) menjelaskan bahwa yang dia sembah menetap di atas ‘Arsy dan bahwasanya Dzatnya ada di arah atas dan sebagian Karramiyah berkata, “Arsy penuh dengan Dzat ALLAH.” namun orang-orang belakangan dari mereka berpendapat bahwa ALLAH Ta’ala di arah atas, Dia lurus dengan ‘Arsy dan Muhammad Bin Al-Haisham (imam kedua Karramiyah) berkata bahwa sesungguhnya antara ALLAH dan antara ‘Arsy ada jarak yang tak terhingga dan sesungguhnya ALLAH terpisah dari alam dengan jarak yang Azali. (Al-Milal Wa An-Nihal : 1/109)

Begitupula pada kenyataannya mereka mengikuti ulama Salaf tokoh MUJASSIMAH lainnya seperti Ad Darimi.

Ad Darimi yang dimaksud BUKANLAH Ad Darimi ulama besar ahli hadits terkemuka yang telah menulis kitab Sunan ad Darimi yakni Abdullah ibn Abdul Rahman ad-Darimi (w 255H)

NAMUN Utsman bin Sa’id Ad-Darimi (w 280 H) yang berkata bahwa uluw Allah adalah Allah berada di atas. Artinya, yang naik ke atas LEBIH DEKAT JARAKNYA kepada Allah. Yang berada di langit lebih dekat kepada Allah daripada yang di bumi. Yang berada di langit ketujuh lebih dekat kepada Allah daripada yang berada di langit bawahnya (Syarah kitab at Tauhid min Shahih al Bukhari juz 2 hal 461)

Mereka mengatakan,

***** awal kutipan *****
Apa yang dikatakan oleh Ad Darimi memang begitulah faktanya bahwa memang yang di atas langit LEBIH DEKAT kepada Allah secara hisssi (materi / fisikal) dari pada yang di bumi. Adapun kedekatan kala sujud maka itu adalah kedekatan maknawi”
***** akhir kutipan *****

Sedangkan kitab aqidah Utsman Ad Darimi adalah salah satu diantara yang paling direkomendasikan untuk diikuti oleh Ibn Taimiyah (W 728H) dan muridnya Ibn Qayyim al-Jauziyah (w 751 H).

Contohnya Utsman bin Sa’id Ad-Darimi mengatakan “Dan jika Allah benar-benar berkehendak bertempat di atas sayap seekor nyamuk maka dengan sifat kuasa-Nya dan keagungan sifat ketuhanan-Nya Dia mampu untuk melakukan itu, dengan demikian maka terlebih lagi untuk menetap di atas arsy” . (Kitab An-Naqdl, h. 85).

Sedangkan Ibnu Taimiyah (W 728H) yang menjadi rujukan bagi paham Wahabi (Wahabisme) yakni ajaran atau pemahaman ulama Najed dari bani Tamim, Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) dalam kitabnya, Naqdzu Ta’sisi Al-Jahmiyah. Juz 1 Hal. 568 menyepakati perkatan Utsman bin Sa’id Ad Darimi,

قَدْ شَاءَ لا سْتَقَرَّ عَلَى ظَهْرِ بَعُوْضَةٍ فَاسْتقَلَّتْ بِهِ بِقُدْرَتِهِ وَلَطْفِ رُبُوْبِيَّتِهِ

Kalau seandainya Allah berkehendak maka Dia akan menempat di atas punggung nyamuk, dan nyamuk itu akan kuat mengangkatnya dengan kekuasaan-Nya dan pengaturan-Nya yang menjadikan nyamuk seperti itu, apalagi Arsy yang begitu Besar

Oleh karenanya para ulama terdahulu telah melarang menjuluki ulama panutan atau rujukan bagi firqah Wahabi yakni Ibnu Taimiyah (W 728H) sebagai Syaikhul Islam BAGI yang telah mengetahui perkataan atau pendapat kufurnya.

Para ulama terdahulu mengkafirkan Ibnu Taimiyyah sebelum bertaubat dalam pengertian DITETAPKAN KUFUR dalam perkara I’TIQOD bukan dalam pengertian membatalkan keislamannya.

Contohnya Al ‘Allamah ‘Ala ad-Din al Bukhari al Hanafi (W 841 H) mengkafirkan yakni menetapkan kufur dalam i’tiqod bagi Ibnu Taimiyah dan orang yang menyebutnya Syaikhul Islam, maksudnya orang yang menyebutnya dengan julukan Syaikhul Islam, sementara ia tahu perkataan dan pendapat-pendapat kufurnya. Hal ini dituturkan oleh Al Hafizh as-Sakhawi dalam Adl-dlau Al Lami’.

Jadi perlu dikaji ulang penggelaran syaikhul Islam kepada Ibnu Taimiyyah karena begitu besarnya kerusakan dalam perkara i’tiqod akibat orang awam terkelabui dengan label mazhab atau manhaj Salaf

Ibnu Hajar Al-Asqalani yang “membela” ke-Syaikhul Islam-an Ibnu Taimiyyah dalam Al-Durar Al-Kaminah Fi Aʻyan Al-Mi’ah Al-Thaminah, jilid 1 halaman 155 menyampaikan pokok-pokok PERMASALAHAN Ibnu Taimiyah,

***** awal kutipan *****
Ada sebagian kelompok yang menisbatkan (pemahaman) Ibnu Taimiyah terhadap tajsim karena apa yang telah ia sebutkan dalam kitab al-Aqidah al-Hamawiyyah dan al-Wasithiyyah dan selainnya, di antaranya:

إن اليد والقدم والساق والوجه صفات حقيقية لله،

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesungguhnya tangan, telapak kaki, betis dan wajah adalah sifat hakikat bagi Allah,

وأنه مستو على العرش بذاته

dan sesungguhnya Allah bersitiwa di atas Arsy DENGAN Dzat-Nya.

فقيل له: يلزم من ذلك التحيز والانقسام.

Maka ketika dipersoalkan, hal itu akan melazimkan Allah memiliki BATASAN dan BAGIAN,

فقال: أنا لا أسلم أن التحيز والانقسام من خواص الأجسام

MAKA ia menjawab, “ Aku tidak setuju BATASAN dan BAGIAN termasuk kekhushusan JISM (sifat benda / fisikal)

فالذم بأنه يقول بتحيز في ذات الله

Maka yang dicela adalah bahwa Ibnu Taimiyah mengatakan BATASAN bagi Dzat Allah.
***** akhir kutipan ****

Begitupula Imam Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitabnya berjudul Hasyiyah Al ‘Allamah Ibn Hajar Al Haitami ‘Ala Syarh Al Idhah fi Manasik Al Hajj mengatakan,

***** awal kutipan *****
Penghinaan Ibnu Taimiyyah terhadap Rasulullah ini bukan sesuatu yang aneh (pengingkarannya terhadap kesunnahan ziarah ke makam Rasulullah) oleh karena terhadap Allah saja dia melakukan penghinaan dengan menetapkan arah, tangan, kaki, mata dan lain sebagainya dari keburuk-keburukan yang sangat keji. Ibnu Taimiyyah ini telah dikafirkan (ditetapkan kufur dalam perkara i’tiqod) oleh banyak ulama – semoga Allah membalas segala perbuatan dia dengan keadilan-Nya dan semoga Allah menghinakan para pengikutnya yaitu mereka yang (masih) membela segala yang dipalsukan oleh Ibnu Taimiyyah atas syari’at yang suci ini.
***** akhir kutipan *****

Ibnu Taimiyah dipenjara oleh keputusan (fatwa) Qodhi empat mazhab dan kemudian diputuskan bahwa pemahaman Ibnu Taimiyah adalah sesat dan menyesatkan.

Sultan Muhammad bin Qolaawuun memenjarakan Ibnu Taimiyah di salah satu menara Benteng Damascus di Syria berdasarkan Fatwa Qodhi Empat Madzhab, yaitu :

  1. Mufti Hanafi Qodhi Muhammad bin Hariri Al-Anshori rhm.
  2. Mufti Maliki Qodhi Muhammad bin Abi B4k4r rhm.
  3. Mufti Syafi’i Qodhi Muhammad bin Ibrahim rhm.
  4. Mufti Hanbali Qodhi Ahmad bin Umar Al-Maqdisi rhm.

Bahkan Imam Taqiyuddin As-Subki dalam kitab “Fataawaa As-Subki” juz 2 halaman 210 menegaskan :

“وحبس بإحماع العلماء وولاة الأمور”.

“Dia (Ibnu Taimiyyah) dipenjara dengan Ijma’ Ulama dan Umara.”

Selain qodhi empat mazhab, masih banyak ulama lainnya yang hidupnya semasa dengan Ibnu Taimiyah dan berdebat dengannya atau yang hidup setelahnya dan membantah serta membuat tulisan-tulisan untuk menjelaskan tentang kesesatan Ibnu Taimiyah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2021/02/07/ulama-bantah-ibnu-taimiyyah

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830