Feeds:
Pos
Komentar

Mensifati berbatas

Mereka berkeyakinan Allah Ta’ala BERBATAS dan BERADA di arah atas Arsy

Tangkapan layar (screenshot) di atas adalah contoh mereka yang memfitnah Imam Abu Al Hasan Al Asy’ari (W 324H) karena TIDAK ADA satupun ulama Salaf maupun Khalaf yang MENGAITKAN ha*dits Nuzul dengan KEBERADAAN atau KHAYALI TEMPAT bagi Allah Ta’ala yakni BERBATAS dan BERADA di arah atas Arsy.

Jumhur ulama telah sepakat bahwa hadits Nuzul dalam pengertian bahwa Allah Ta’ala mengaruniakan dan mengabulkan segala permintaan yang dimintakan kepada-Nya pada saat itu dan tentulah Allah Ta’ala dalam mengabulkannya tidak boleh disifatkan dengan berpindah karena sifat berpindah bergantung kepada ruang dan waktu yang hanya berlaku bagi makhluk-Nya.

Oleh karenanya, waktu sepertiga akhir malam adalah waktu yang sangat mustajab untuk meminta kepada Allah.

Imam Abu Al Hasan Al Asy’ari dalam kitab Al Ibanah hal 102 menegaskan bahwa

وأنه مستو على عرشه بلا كيف ولا استقرار

Dan Sesungguhnya Dia Istiwa atas Arasy-Nya BILA KAIFA dan BUKAN dalam MAKNA DZAHIR dalam pengertian ISTIQRAR.

Jadi BUKAN Allah ISTAQARRA artinya berbatas, berada, bertempat, menetap tinggi atau bahkan melayang tinggi di atas Arsy.

NAMUN Allah istawa atas Arsy BILA KAIFA artinya TANPA KAIFA yakni tanpa sifat-sifat makhluk atau benda seperti arah (jihah), jarak, ruang, waktu, BERBATAS (al hadd) dengan arsy

KAIFA hanya ditujukan kepada membagaimanakan (kaifiyah) sifat makhluk / benda yakni sesuatu yang dapat dindera dengan mata kepala sebagaimana yang dijelaskan oleh Ustadz Abdul Wahab Ahmad pada http://islam.nu.or.id/post/read/118720/definisi-kaifiyah-dalam-pembahasan-sifat-allah

Pembesar mazhab Hambali, Imam Ibn al Jawzi al-Hanbali (597 H) dengan kitabnya berjudul Daf’u syubah at-tasybih bi-akaffi at-tanzih MEMBERSIHKAN fitnah-fitnah terhadap Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) yang dilakukan oleh tiga orang TOKOH MUJASSIMAH yang semula mereka bermazhab Hambali.

Contohnya pada hal 135 Imam Ibn al Jawzi al-Hanbali menyampaikan Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan bahwa jika mengitsbatkan (menetapkan) Allah Ta’ala BERBATAS dan BERADA di arah atas Arsy maka berarti KEKOSONGAN atau TIDAK ADA Allah Ta’ala di selain arah atas Arsy seperti arah berlawanannya yakni arah bawah Arsy.

Imam Ibn al Jawzi al-Hanbali mengatakan,

كان أحمدُ لاَ يقولُ بالجهةِ للباري لأن الجهات تخلى عما سواها

Imam Ahmad tak mengatakan adanya arah bagi Allah sebab seluruh arah meniscayakan KEKOSONGAN dari arah selainnya (seperti kekosongan pada arah berlawanannya).”

Nama ketiga tokoh MUJASSIMAH tersebut dapat dibaca pada contoh terjemahan dari kitab Daf’u syubah at-tasybih bi-akaffi at-tanzih yang dapat diunduh (download) di https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/12/dafu-syubah-imam-ibn-al-jauzi.pdf

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam Misykat Al Anwar menjelaskan tentang firqah MUJASSIMAH adalah orang-orang yang belum dapat memandang Allah Ta’ala dengan hatinya (ain bashirah) AKIBAT mereka TERHIJAB oleh cahaya yang bercampur dengan KEGELAPAN KHAYALI.

***** awal kutipan *****
Sebab, kata mereka sesuatu yang TIDAK DINISBAHKAN ke SUATU ARAH dan tidak dapat dilukiskan sebagai “di luar alam dunia” atau “di dalamnya”, menurut mereka, sama saja dengan “TIDAK ADA” karena tidak dapat DIKHAYALKAN.
***** akhir kutipan *****

Contohnya ulama mereka, Ibnu Utsaimin berkata

إذا نفيت هذه الجهات عن الله تعالی لزم أن يكون معدوما

Apabila engkau MENIADAKAN ARAH-ARAH ini dari Allah Ta’ala. Maka mengharuskan ALLAH itu TIDAK ADA. (Majmu’ Fatawa, Jilid 1, Hal.131) sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2022/05/01/jika-meniadakan-arah/

NAMUN seperti biasanya mereka gemar tanaqudh yakni mereka sering berubah-ubah pendapat karena di sisi yang lain, ulama mereka Ibnu Utsaimin menolak MAKNA DZAHIR dari ISTIWA Allah atas Arsy

Ulama mereka, Ibnu Utsaimin berkata,

الاستواء على الشيء في اللغة العربية يأتي بمعنى الاستقرار والجلوس

Istiwa di atas sesuatu dalam bahasa Arab bermakna ISTIQRAR (menetap) dan JULUS (duduk).

Ulama mereka, Ibnu Utsaimin bertanya

لكن هل يصح أن نثبته في استواء الله على العرش ؟

Tetapi apakah boleh kita menetapkan makna tersebut pada istiwa Allah atas Arsy?

Ulama mereka, Ibnu Utsaimin memilih MENTAKWIL atau memaknai ISTIWA dengan MAHA TINGGI.

ولكن نقول : معنى الاستواء : العلو ، هذا أمر لاشك فيه

Tapi kita katakan makna ISTIWA adalah MAHA TINGGI. Inilah yang tidak diragukan.

Sumber : Liqa’ bab al Maftuh pertanyaan nomor 450 dan tangkapan layar (screenshot) dapat dilihat pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2022/03/utsaimin-liqa-bab-al-maftuh-pertanyaan-no-450.jpg

Ulama mereka, Ibnu Utsaimin mentakwil atau memalingkan dari makna dzahir ISTIWA menjadi MAHA TINGGI sesuai dengan firman Allah Ta’ala bahwa Allah Maha Tinggi dalam makna ketinggian derajat-Nya atau kekuasaan-Nya yang menunjukkan keagungan Raja dari segala raja.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat) (QS. Al Mukmin [40] : 15)

Al-Mufassir Al Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa pengertian Maha Tinggi bagi Allah Ta’ala adalah

يراد به علو القدر والمنزلة لا علو المكان

Yang dimaksud adalah ketinggian derajat (keagungan) dan kedudukanNya bukan ketinggian tempat.

Begitupula dalam majalah al-Azhar yang diterbitkan oleh para ulama al-Azhar pada edisi Muharram tahun 1357 H dalam pembahasan tafsir surat al-A’la, menuliskan sebagai berikut:

“al-A’la adalah salah satu sifat Allah. Yang dimaksud dengan al-‘uluww dalam hal ini adalah dalam pengertian keagungan, menguasai, dan ketinggian derajat, bukan dalam pengertian arah dan tempat, karena Allah maha suci dari arah dan tempat”

Jadi UNGKAPAN seperti, serahkan kepada “Yang di langit” atau “Yang di atas” SEBAIKNYA JANGANLAH dimaknai dengan MAKNA DZAHIR atau secara HISSI (inderawi / fisikal) dalam pengertian ARAH, BATASAN, JARAK ataupun TEMPAT,

NAMUN dimaknai dengan MAKNA MAJAZ dalam pengertian,

علوّ المرتبة

Uluww al-Martabah artinya
derajat yang tinggi untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.

Begitupula Imam Ath Thabari dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala surat Al Baqarah [2] ayat 29 mengingatkan bahwa,

علا عليها علو ملك وسلطان

Pengertian Maha Tinggi adalah Maha Tinggi kekuasaan dan keagungan Raja (dari segala raja)

لا علو انتقال وزوال

bukan tinggi berpindah (intiqal) dan berubah/menghilang (zawalun – dari suatu keadaan ke keadaan yang lain). (Tafsir Ath Thobari Jami’ul Bayan 1/430) sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2022/03/05/bukan-intiqal-berpindah/

KEKELIRUAN orang-orang yang hidup zaman NOW (sekarang) atau khalaf (kemudian) NAMUN mereka mengaku-ngaku mengikuti Salaf (terdahulu) dan menisbatkan sebagai Salafi dan mengaku pula sebagai kalangan modernis adalah,

AKIBAT mereka MEMAHAMI atau “KEMBALI” kepada Al Qur’an dan Hadits secara shahafi (otodidak) menurut akal pikiran mereka sendiri dan mereka TERKECOH atau TERKELABUI oleh ulama panutan atau rujukan bagi firqah Wahabi yakni Ibnu Taimiyah (W 728H) yang MELABELI MAZHAB atau METODE PEMAHAMANNYA SELALU dengan MAKNA DZAHIR dan MENOLAK MAKNA MAJAZ maupun TAFWIDH sebagai MAZHAB atau MANHAJ Salaf sebagaimana fatwanya dalam Majmu Fatawa 4/149

***** awal kutipan *****
Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan mazhab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena MAZHAB SALAF itu PASTI BENAR
***** akhir kutipan *****

Ibnu Taimiyah terjerumus DURHAKA (‘Aashin) kepada Allah Ta’ala karena mengingkari MAKNA MAJAZ dalam firman Allah Ta’ala (Al Qur’an)

Padahal dalam percakapan antar manusia saja dikenal MAKNA DZAHIR (makna tersurat) dan MAKNA MAJAZ (makna tersirat)

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul Al Iman hal. 94 mengatakan,

***** awal kutipan *****
فهذا بتقدير أن يكون في اللغة مجاز ، فلا مجاز في القرآن ، بل وتقسيم اللغة إلى حقيقة ومجاز تقسیم مبتدع محدث لم ينطق به السلف

“maka ini adalah dengan prakiraan adanya bentuk majaz dalam bahasa. Sementara dalam al-Qur’an tidak ada bentuk majaz.

Bahkan pembagian bahasa kepada hakikat (makna dzahir) dan majaz adalah pembagian bid’ah, perkara baharu yang tidak pernah diungkapkan oleh para ulama Salaf.
**** akhir kutipan ****

Bahkan Ibnu Qoyyim al Jauziyah (w 751 H) murid dari Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa MAJAZ adalah THAGHUT yang KETIGA (Ath thaghut Ats Tsalits), karena menurut Beliau dengan adanya MAJAZ, akan membuka pintu bagi ahlu tahrif untuk menafsirkan ayat dan hadist dengan makna yang menyimpang (As Showa’iqul Mursalah 2/632)

Begitupula Ibnu Taimiyah (W 728H) tidaklah mewakili Hanabilah karena dalam kitabnya Majmu Fatawa Juz 3 hal 229, Ibnu Taimiyah mengakui bahwa dalam beraqidah punya manhaj sendiri bukan bermanhaj Hambali ataupun yang lainnya

مَعَ أَنِّي فِي عُمْرِي إلَى سَاعَتِي هَذِهِ لَمْ أَدْعُ أَحَدًا قَطُّ فِي أُصُولِ الدِّينِ إلَى مَذْهَبٍ حَنْبَلِيٍّ وَغَيْرِ حَنْبَلِيٍّ، وَلَا انْتَصَرْت لِذَلِكَ، وَلَا أَذْكُرُهُ فِي كَلَامِي، وَلَا أَذْكُرُ إلَّا مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ سَلَفُ الْأُمَّةِ سَلَفُ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا.

Sesungguhnya aku (Ibnu Taimiyah) sepanjang umurku hingga sekarang, aku tidak pernah mengajak seorangpun dalam masalah USHULUDDIN (AQIDAH) untuk mengikuti MAZHAB HAMBALI dan selainnya, aku tidak pernah membela kepada mazhab-mazhab tersebut dan tidak pernah menyebutkan (pendapat-pendapat mazhab tersebut) dalam perkataanku, dan aku juga tidak pernah menyebutkan (dalam masalah aqidah) kecuali perkara-perkara yang telah disepakati oleh Salaful Ummah dan para imamnya.

Dalam pengakuannya tersebut, Ibnu Taimiyah mengaku-ngaku mengikuti Salaful Ummah atau Salafus Sholeh.

NAMUN pada kenyataannya mereka hanyalah pseudo Salafi yakni orang-orang yang merasa atau mengaku-ngaku mengikuti Salaf TETAPI mereka TIDAK BERTEMU dengan Salaf sehingga mereka TIDAK MENDAPATKAN pemahaman Salaf karena ulama-ulama panutan (rujukan) mereka seperti, Ibnu Taimiyah (W 728H), ulama Najed dari bani Tamim Muhammad bin Abdul Wahhab (W 1206H) dan apalagi ahli (membaca) hadits Albani (W 1420H) hidup di atas tahun 300 Hijriah.

Mereka membeli atau memiliki kitab-kitab hadits dan mereka membaca hadits-hadits dimana dalam hadits tercantum sanad hadits yakni nama para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in lalu dikatakan oleh mereka bahwa mereka mengikuti PEMAHAMAN Salafus Sholeh dan DILABELI MAZHAB SALAF atau MANHAJ SALAF

Apa yang disampaikan dari hadits-hadits yang dibaca oleh mereka adalah PEMAHAMAN MEREKA sendiri BUKAN PEMAHAMAN Salafus Sholeh.

Sumbernya memang hadits-hadits tersebut tapi apa yang mereka sampaikan semata lahir dari kepala mereka sendiri yakni PEMAHAMAN MEREKA SENDIRI.

Contohnya Ibnu Taimiyah memahami dan memaknai sifat ISTAWA Allah secara hakikat yakni berdasarkan makna dzahirnya dan menolak makna majaz maupun tafwidh.

Ibnu Taimiyah berkata,

ولله تعالى استواء على عرشه حقيقة

Dan Allah istiwa’ di atas arsy-Nya secara hakikat. (Majmu’ Fatawa 5/199 Cet. Dar ‘Alamil Kutub Riyadh)

Berikut kutipan contoh pendapat atau pemahaman Ibnu Taimiyah sebelum bertaubat ketika “MEMBACA” sabda Rasulullah atau hadits Nuzul sebagaimana yang dikutip dalam tulisan mereka pada https://mahadilmi.id/allah-turun-ke-langit-dunia/

***** awal kutipan *****
Ibnu Taimyah berkata dalam Risalah al ‘Arsiyyah : “ Sesungguhnya turunnya Allah tidak menjadikan ‘arsy-Nya KOSONG, karena dalil yang menunjukkan istiwa’-Nya Allah di atas ‘arsy adalah dalil yang MUHKAM (jelas dan dimaknai dengan makna dzahir) demikian pula hadist tentang turun-Nya Allah juga MUHKAM.
***** akhir kutipan *****

Pemahaman dan keyakinan Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa,

“Sesungguhnya turunnya Allah tidak menjadikan ‘arsy-Nya KOSONG”

tentu BUKANLAH pemahaman Salafus Sholeh karena TIDAK PERNAH dikatakan oleh para Sahabat, Tabi’in maupun Tabi’ut Tabi’in dan inilah salah satu contoh KEBID’AHAN Ibnu Taimiyah.

Begitupula dengan perkataan atau keyakinannya bahwa,

“Sesungguhnya turunnya Allah tidak menjadikan ‘arsy-Nya KOSONG”

MEMBUKTIKAN Ibnu Taimiyah sebelum bertaubat BUKANLAH menyembah atau beribadah kepada Allah Ta’ala sehingga para ulama terdahulu mengkafirkan Ibnu Taimiyyah dalam pengertian DITETAPKAN KUFUR dalam perkara I’TIQOD bukan dalam pengertian membatalkan keislamannya sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2022/05/24/bukan-batalkan-keislaman/

Jadi LISAN mereka mengatakan menyembah atau beribadah kepada Allah Ta’ala TETAPI pada kenyataannya KHAYALI mereka menyembah atau beribadah kepada Al Mahdud yakni SESUATU yang BERBATAS dan BERADA di atas arsy

Rasulullah telah mengabarkan atau memberitakan secara sharih atau jelas dan terang (lafadz yang tidak memerlukan penjelasan lagi) bahwa sesuatu yang BERBATAS dan BERADA di atas Arsy adalah kitab Lauh Mahfudz.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menentukan nasib manusia, Ia menulis di kitab-Nya yang BERADA di sisi-Nya DI ATAS Arsy. Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (Musnad Ahmad 8346 atau HR Bukhari 6999 atau Fathul Bari 7554)

Haditsnya dapat dibaca pada https://hadits.in/ahmad/8346

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani berkomentar

وَالْغَرَضُ مِنْهُ الْإِشَارَةُ إِلَى أَنَّ اللَّوْحَ الْمَحْفُوظَ فَوْقَ الْعَرْشِ

Hadits itu adalah mengisyaratkan bahwa Lauh mahfuzh BERADA di atas (fawqo) Arsy.” (Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz XIII, halaman 526)

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan lebih lanjut, “Tak masalah memahami hadits tersebut secara dzahir (bahwa Lauh mahfuzh benar berada di atas Arasy) sebab sesungguhnya Arasy adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan “di sisi-Nya” adalah di sisi ilmu Allah. Jadi penyebutan sisi di sini bukanlah dalam makna tempat tetapi itu adalah isyarat bagi kesempurnaan Lauh mahfuzh yang tersembunyi dari makhluk dan tinggi terangkat dari batas pengetahuan mereka.”

Begitupula Ibnu Taimiyah sebelum bertaubat mengatakan bahwa,

  • Tuhan BERADA atau BERTEMPAT di atas Arsy, maka keduanya ini memiliki BENTUK dan BATASAN (Muwafaqat Sharih al Ma’qul j.2 h 29)
  • Nabi Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya!” (Majmu Fatawa juz 4, hal.374)

Kedua perkataan atau pendapat Ibnu Taimiyah tersebut dikutip dari tulisan mereka yang sempat diarsip pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2014/02/bentuk-tuhan-mereka.pdf

Contoh kajian PERBEDAAN antara Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal dengan Mazhab Salafi Kontemporer (Salafi masa kini) tentang pengertian Rasulullah kelak didudukan di atas Arsy adalah terkait syafa’at Rasulullah bukan syubhat tempat dan arah bagi Allah Ta’ala dapat disaksikan dalam video pada https://bit.ly/3mVBCBa

Jadi Ibnu Taimiyah TERBUKTI mengikuti firqah MUJASSIMAH yakni Ibnu Taimiyah MENGGANTI kemuliaan dan keagungan sifat ISTAWA Allah dengan sifat makhluk atau benda yakni sifat BERBATAS dengan Arsy.

Firqah MUSYABBIHAH adalah orang-orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya

Sedangkan firqah MUJASSIMAH adalah orang-orang yang men-JISM-kan Allah karena mereka berakidah TAJSIM sehingga mereka mengganti sifat-sifat Allah dengan sifat JISM atau sifat makhluk (benda).

Mereka mensifati Allah atau memaknai sifat Allah secara hissi (indrawi atau fisikal) sehingga mereka mengitsbatkan (menetapkan) arah, tempat, ukuran, BATASAN seperti BERBATAS dengan Arsy dan sifat-sifat fisikal lainnya maupun anggota-anggota badan.

Imam Abu Hanifah (W 150H) dalam kitab Al-Fiqhul-Akbar mengingatkan bahwa Allah Ta’ala tidak boleh disifatkan dengan sifat-sifat benda seperti ukuran, batasan atau berbatas dengan ciptaanNya , sisi-sisi, anggota tubuh yang besar (seperti tangan dan kaki) dan anggota tubuh yang kecil (seperti mata dan lidah) atau diliputi oleh arah penjuru yang enam arah (atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang) seperti halnya makhluk (diliputi oleh arah).

Begitupula Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321H) berkata:

تَعَالَـى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأرْكَانِ وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ

“Maha suci Allah dari batas-batas, batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru, tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam kitab Najm Al-Muhtadi Rajm Al-Mu’tadi menyampaikan NUBUAT dari Imam Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib yang mengatakan bahwa KELAK,

قوم من هذه الأمة عند إقتراب الساعة كفارا يُنكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والأعضاء

“Sebagian golongan dari umat Islam pada akhir zaman akan kembali kafir (maksudnya KUFUR dalam I’TIQOD) karena mereka MENGINGKARI Pencipta mereka dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat JISIM (sifat benda atau makhluk yakni sifat fisikal seperti arah, ukuran, jarak, batasan maupun tempat) dan anggota-anggota badan.”

Begitupula mereka yang merasa atau mengaku-ngaku mengikuti pendapat ulama Salaf yakni ulama yang hidup sebelum 300 hijriah

NAMUN pada kenyataannya mereka mengikuti ulama Salaf tokoh MUJASSIMAH seperti Ad Darimi (W 280H) yang berkata bahwa uluw Allah adalah Allah berada di atas. Artinya, yang naik ke atas LEBIH DEKAT JARAKNYA kepada Allah. Yang berada di langit lebih dekat kepada Allah daripada yang di bumi. Yang berada di langit ketujuh lebih dekat kepada Allah daripada yang berada di langit bawahnya (Syarah kitab at Tauhid min Shahih al Bukhari juz 2 hal 461)

Mereka mengatakan,

***** awal kutipan *****
Apa yang dikatakan oleh Ad Darimi memang begitulah faktanya bahwa memang yang di atas langit LEBIH DEKAT kepada Allah secara hisssi (materi / fisikal) dari pada yang di bumi. Adapun kedekatan kala sujud maka itu adalah kedekatan maknawi”
***** akhir kutipan *****

Ad Darimi yang dimaksud BUKANLAH Ad Darimi ulama besar ahli hadits terkemuka yang telah menulis kitab Sunan ad Darimi yakni Abdullah ibn Abdul Rahman ad-Darimi (w 255H) NAMUN Utsman bin Sa’id Ad-Darimi (w 280 H) sebagaimana contoh info dari https://kajianmedina.blogspot.com/2020/02/akidah-utsman-bin-said-ad-darimi.html

Sedangkan kitab aqidah Utsman Ad Darimi adalah salah satu diantara yang paling direkomendasikan untuk diikuti oleh Ibn Taimiyah dan muridnya Ibn Qayyim al-Jauziyah (w 751 H).

Contohnya Utsman bin Sa’id Ad-Darimi mengatakan “Dan jika Allah benar-benar berkehendak bertempat di atas sayap seekor nyamuk maka dengan sifat kuasa-Nya dan keagungan sifat ketuhanan-Nya Dia mampu untuk melakukan itu, dengan demikian maka terlebih lagi untuk menetap di atas arsy” . (Kitab An-Naqdl, h. 85) sebagaimana yang dikutip pada http://hafizhandasah.blogspot.com/2010/06/siapakah-ad-darimi-al-mujassim.html

Sedangkan Ibnu Taimiyah (W 728H) yang menjadi rujukan bagi paham Wahabi (Wahabisme) yakni ajaran atau pemahaman ulama Najed dari bani Tamim, Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) dalam kitabnya, Naqdzu Ta’sisi Al-Jahmiyah. Juz 1 Hal. 568 menyepakati perkatan Utsman bin Sa’id Ad Darimi,

قَدْ شَاءَ لا سْتَقَرَّ عَلَى ظَهْرِ بَعُوْضَةٍ فَاسْتقَلَّتْ بِهِ بِقُدْرَتِهِ وَلَطْفِ رُبُوْبِيَّتِهِ

Kalau seandainya Allah berkehendak maka Dia akan menempat di atas punggung nyamuk, dan nyamuk itu akan kuat mengangkatnya dengan kekuasaan-Nya dan pengaturan-Nya yang menjadikan nyamuk seperti itu, apalagi Arsy yang begitu Besar

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dalam fatwa nomor 09 tahun 2014 dalam bidang aqidah menetapkan,

A. Mengimani bahwa zat Allah hanya di atas langit / Arasy adalah sesat dan menyesatkan.

B. Mengimani bahwa zat Allah terikat dengan waktu, tempat dan arah (berjihat) adalah sesat dan menyesatkan

C. Mengimani bahwa kalamullah itu berhuruf dan bersuara adalah sesat dan menyesatkan

Fatwa tersebut dapat dibaca secara daring (online) pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2016/02/fatwa-mpu-aceh-nomor-9-tahun-2014-tentang-pemahaman-pemikiran-pengamalan-dan-penyiaran-agama-islam-di-aceh.pdf

Begitupula Ibnu Taimiyah TERBUKTI tidak mengikuti Salafus Sholeh karena Ibnu Taimiyah justru MENGINGKARI TAFWIDH.

Ibnu Taimiyah sebelum bertaubat berkata,

أن قول أهل التفويض الذين يزعمون أنهم متبعون للسنة والسلف من شر أقوال أهل البدع والإلحاد

“Maka menjadi jelaslah bahwa ucapan para penganut Tafwidh yang menyangka dirinya mengikuti sunnah, adalah merupakan sejelek-jelek ucapan ahli bid’ah dan ahli ilhad.” (Dar’ut Ta’arudhil Aqli Wan Naqli : 1/115)

Salafus Sholeh mayoritas atau pada umumnya dalam menghadapi ayat-ayat mutasyabihat yakni ayat dengan banyak makna terkait sifat-sifat Allah adalah mereka memilih TANPA TAFSIR alias TAFWIDH MAKNA.

Contoh Salaf sebelum abad 2 Hijriah, Imam Sufyan bin Uyainah rahimahullah nama lengkapnya Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran, salah seorang Tabi’i tsiqoh, dilahirkan pada tahun 107 H dan wafat di Makkah pada tahun 198 H berkata:

“Apa yang disifati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang diriNya dalam kitabNya, maka bacaan perkataan tersebut adalah tafsirannya. Tidak boleh seseorang menafsirkannya dengan (makna) bahasa Arab ataupun menafsirkannya dengan (makna) bahasa Farsi (makna bahasa selain Arab / bahasa asing) (Al-Asma’ wa As-Sifat: 314).

Contoh lainnya

قال الوليد بن مسلم : سألت الأوزاعي ومالك بن أنس وسفيان الثوري والليث بن سعد عن الأحاديث فيها الصفات ؟

Dari Walid bin Muslim berkata: Aku bertanya kepada Auza’iy, Malik bin Anas, Sufyan Tsauri, Laits bin Sa’ad tentang hadits-hadits yang di dalamnya ada sifat-sifat Allah?

فكلهم قالوا لي

Maka semuanya berkata dan memerintahkan kepadaku:

أمروها كما جاءت بلا تفسير

“Biarkanlah ia sebagaimana ia datang TANPA TAFSIR”

TANPA TAFSIR itulah TAFWIDH MAKNA yakni MENGITSBATKAN atau MENETAPKAN dengan MEMBIARKAN sebagaimana TEKS atau LAFADZNYA (itsbat lafadz) BUKAN berdasarkan MAKNANYA secara bahasa artinya mereka MEMALINGKAN teks atau lafadznya dari makna dzahir maupun makna majaz secara keseluruhan atau global (IJMALI) dan lalu TAFWIDH MAKNA yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala yang disebut juga TAKWIL IJMALI.

Para ulama terdahulu menjelaskan bahwa memang sesungguhnya pada awalnya teks-teks atau lafadz-lafadz yakni ayat mutasyabihat terkait sifat Allah itu HARUS DIPAHAMI dalam MAKNA DZAHIRNYA.

NAMUN kemudian gunakanlah AKAL bahwa JIKA dipahami dengan MAKNA DZAHIR akan terjerumus mensifatkan Allah Ta’ala dengan sifat yang tidak layak (tidak patut) bagi-Nya maka dapat DIPASTIKAN BUKAN dalam MAKNA DZAHIR.

Salafus Sholeh tentu bukan tidak mengetahui makna dzahirnya NAMUN JIKA dipaksakan DIMAKNAI dengan MAKNA DZAHIR akan TERJERUMUS memaknai sifat Allah dengan sifat makhluk (benda) atau mensifatkan Allah Ta’ala dengan sifat yang tidak patut (tidak layak) bagi Allah Ta’ala MAKA ulama Salaf maupun ulama Khalaf telah SEPAKAT MEYAKININYA BUKAN dalam makna dzahirnya dan MEMALINGKAN lafadz mutasyabihat (banyak makna) terkait sifat-sifat Allah Ta’ala dari makna dzahirnya.

Perbedaan keduanya hanya terjadi pada masalah apakah diberikan maknanya sesuai kaidah-kaidah bahasa Arab ataupun tidak diberi makna tetapi diserahkan maknanya kepada Allah Ta`ala sendiri.

Sedangkan para ulama khalaf, dikarenakan pada masa mereka sudah berkembang ahli bid’ah yang mensifati Allah dengan sifat makhluk atau benda, maka mereka menakwilkan atau memaknai nash mutasyabihat tersebut dengan makna yang layak bagi Allah yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab atau tata bahasa Arab atau ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’) karena “bacaan Al Qur’an dalam bahasa Arab” (QS Fush shilat [41]:3) yang disebut dengan TAKWIL TAFSHILI.

Jadi TAFWIDH MAKNA (TAKWIL IJMALI) dan TAKWIL TAFSHILI hanyalah SEBUAH PILIHAN bukan BERTENTANGAN atau KONTRADIKSI.

Berikut cara mudah memahami TAFWIDH MAKNA (TAKWIL IJMALI) dan TAKWIL TAFSHILI.

Bagi si A, gadis itu cantik bagaikan bulan.

Si A berkata “sore itu bulan masuk ke warung makan” .

TAFWIDH MAKNA atau TAKWIL IJMALI, “Saya percaya dengan kata-kata Si A bahwa si A mengatakan “Bulan masuk ke warung makan” tetapi makna kata bulan tersebut bukanlah makna dzahir yakni bulan yang mengambang di waktu malam karena mustahil masuk warung makan. Oleh karenanya saya serahkan makna sebenarnya perkataan bulan tersebut kepada si A, karena dialah yang mengetahuinya

TAKWIL TAFSHILI, “Saya percaya dengan kata-kata Si A bahwa si A mengatakan “Bulan masuk ke warung makan” tapi makna kata bulan tersebut bukanlah makna dzahir yakni bulan yang mengambang di waktu malam karena mustahil masuk warung makan, tentulah ada makna lain yang sesuai dengan kaidah atau tata bahasa.

Jadi boleh bagi orang yang tidak memiliki kompetensi (orang awam) hanya sampai teks atau lafadznya seperti Yadullah yang artinya Tangan Allah dan TAFWIDH MAKNA yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala.

Begitupula boleh bagi orang awam hanya sampai teks atau lafadznya seperti istiwa yang artinya bersemayam yang mempunyai makna dzahir dan makna majaz dan lalu TAFWIDH MAKNA yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala.

Ad Dzahabi dalam kitab Mukhtashar Al Uluw mengatakan,

***** awal kutipan *****
Sufyan Ats Tsauriy mengatakan bahwa ia pernah suatu saat berada di sisi Robi’ah bin Abi ‘Abdirrahman kemudian ada seseorang yang bertanya pada beliau,

الرحمن على العرش استوى كيف استوى

“Ar Rahman (yaitu Allah) beristiwa’ atas ‘Arsy, lalu bagaimana Allah beristiwa’?”

Robi’ah menjawab,

الإستواء غير مجهول والكيف غير معقول ومن الله الرسالة وعلى الرسول البلاغ وعلينا التصديق

“Istiwa’ itu telah diketahui (disebutkan dalam Al Qur’an), Al Kaifu ghairu maquul (Al Kaifa yakni sifat makhluk atau benda tidak masuk akal ditujukan bagi istiwa Allah) Risalah (wahyu) dari Allah, tugas Rasul hanya menyampaikan, sedangkan kita wajib membenarkan (dengan MEMBIARKAN sebagaimana teks atau lafadznya).”
***** akhir kutipan *****

Adz Dzahabi menjelaskan pengertian TAFWIDH adalah,

فَقَولُنَا فِي ذَلِكَ وَبَابِهِ: الإِقرَارُ، وَالإِمْرَارُ، وَتَفْويضُ مَعْنَاهُ إِلَى قَائِلِه الصَّادِقِ المَعْصُومِ

“Pendapat kami dalam masalah dan bab ini adalah: mengakuinya dan membiarkannya (sebagaimana teks atau lafadznya) dan TAFWIDH MAKNA (mengembalikan maknanya) kepada pengucapnya ash Shadiq al Ma’shum (yakni Rasulullah)” (Siyaru alaminubala Adz Dzahabi 8/105)

TIDAK ADA satupun mufassir (ahli tafsir) yang menterjemahkan firman Allah Ta’ala, “arrahmanu ‘alal’ arsy Istawa” (QS Thaha [20] : 5) artinya BERADA dan BERBATAS di atas Arsy.

Jumhur ulama telah sepakat bahwa Istawa Allah atas arsy bukanlah dalam pengertian tempat maupun arah.

Contohnya Syaikh Abdul Qadir Al Jilani dalam Al Ghunyah Juz 1 hal 121 – 125 menjelaskan bahwa Istawa Allah atas arsy bukanlah dalam pengertian tempat maupun arah karena Allah bukanlah JISM dan tidak juga berupa sesuatu yang mempunyai BATASAN (mahdud) dan dapat dibaca pada https://al-maktaba.org/book/33369/113#p3

***** awal kutipan *****

ليس بجسم فيمس، ولا بجوهر فيحس، ولا عرض فيقضى، ولا ذي تركيب أو آلة وتأليف، أو ماهية وتحديد

“Allah BUKANLAH JISM sehingga tidak bisa disentuh, bukan pula JAUHAR sehingga tidak bisa diindera, bukan ‘ARADH sehingga bisa ditentukan, tidak juga berupa sesuatu yang mempunyai susunan, alat (organ), rangkaian, MATERI atau juga BATASAN”.
***** akhir kutipan *****

Begitupula Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam “Maqalatul Islamiyin” jilid I hal 281 dengan JELAS dan TEGAS menuliskan apa yang telah disepakati oleh para ahlus sunnah,

أنهم يقولون: إن البارىء ليس بجسم ولا محدود ولا ذي نهاية

Mereka (ahlus sunnah) berkata, “Sesungguhnya Allah BUKAN JISM, tidak mempunyai BATASAN (MAHDUD) dan TIDAK BERJARAK (NIHAYAH) “

Begitupula Al Imam al Hafidzh al Baihaqi (W 458 H) dalam al-Asmâ’ wa as-Shifât, juz 2, halaman 308 menegaskan bahwa Allah Ta’ala TIDAK MENYENTUH dan TIDAK BERJARAK atau TIDAK TERPISAH (LA MUBAYANAH) dari Arsy.

وَالْقَدِيمُ سُبْحَانَهُ عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ لَا قَاعِدٌ وَلَا قَائِمٌ وَلَا مُمَاسٌّ وَلَا مُبَايَنٌ عَنِ الْعَرْشِ

“Allah Yang Maha Qadim, Tinggi di atas Arsy, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERDIRI, TIDAK MENYENTUH dan TIDAK BERJARAK atau TIDAK TERPISAH (LA MUBAYANAH) dari Arsy.

Syekh Ibnu Khaldun (808 H) menjelaskan bahwa pengertian MUBAYANAH yang telah disepakati oleh jumhur ulama Salaf maupun Khalaf

وأمّا المعنى الآخر للمباينة، فهو المغايرة والمخالفة

Adapun makna keterpisahan (mubayanah) bagi Allah Ta’ala dengan makhluk adalah perbedaan dan ketidaksamaan

فيقال: البارئ مباين لمخلوقاته في ذاته وهويّته ووجوده وصفاته

Maka dikatakan bahwa Allah berbeda dari makhluk-makhluk-Nya dalam hal Dzat, hakikat, keberadaan dan sifat-sifatnya.

Jadi pengertian KETERPISAHAN (MUBAYANAH) bagi Allah Ta’ala dengan makhluk yang telah disepakati oleh jumhur ulama ADALAH,

Allah ba’in ‘an al-khalq yakni Allah Ta’ala TERPISAH dalam pengertian atau makna BERBEDA atau TIDAK SERUPA dari makhluk-makhluk-Nya dari sisi apapun sebagaimana firman Allah Ta’ala “Laisa Kamitslihi Syaiun” (QS. Asy Syura [42] : 11).

Contohnya kalau manusia itu DEKAT BERSENTUH dan JAUH BERJARAK.

Sedangkan Allah Ta’ala itu DEKAT TIDAK BERSENTUH dan JAUH TIDAK BERJARAK.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat (QS Al Baqarah [2] : 186)

Imam Sayyidina Ali karamallahu wajhah berkata

من زعمأن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود

”Barang siapa menganggap bahwa Tuhan kita mempunyai BATASAN (mahdud) maka dia telah JAHIL yakni TIDAK MENGENAL Sang Pencipta (Al Khaliq) yang berhak disembah” (Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73)

Oleh karenanya perkara aqidah sebaiknya didahulukan karena tidak sah ibadah jika belum mengenal Allah (makrifatullah)

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali berkata:

لا تصح العبادة إلا بعد معرفة المعبود

“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang berhak disembah”.

Oleh karenanya SEJAK DINI sebaiknya disampaikan tentang aqidatul khomsin (lima puluh aqidah) dimana di dalamnya diuraikan tentang 20 sifat wajib Allah yang merupakan hasil istiqro (telaah) para ulama bersumber dari Al Qur’an dan Hadits yang dapat DIGUNAKAN sebagai SARANA untuk MENGENAL Allah dan sebagai PEDOMAN dan BATASAN untuk dapat memahami ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) terkait sifat-sifat Allah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2021/02/12/20-sifat-beserta-dalilnya/

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830