Feeds:
Pos
Komentar













Akidah umat Islam pada umumnya Allah ada tanpa tempat maupun arah sebelum maupun sesudah diciptakan Arsy

Mereka “bergembira” atas wafatnya ustadz Tengku Zulkarnain Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015-2020 karena dianggap sebagai ahlul bid’ah dan termasuk firqah Jahmiyah sebagaimana “perbincangan” mereka pada https://facebook.com/story.php?story_fbid=289105092951730&id=100055567253124

Mereka “memperbincangkan” wafatnya ustadz Tengku Zulkarnain sambil bertanya apa dalilnya bahwa Allah ada tanpa tempat sebagaimana status atau tulisan mereka pada https://facebook.com/story.php?story_fbid=481585603021360&id=100035097723963

Salah satu contoh dalil bagi i’tiqod atau akidah umat Islam pada umumnya, Allah ada tanpa tempat maupun arah adalah sabda Rasulullah bahwa Allah ada dan tidak ada sesuatu apapun menyertai-Nya termasuk tempat maupun arah sebelum maupun sesudah diciptakan Arsy.

Rasulullah bersabda,

قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Allah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Dia, sedangkan ‘arsy-Nya di atas air,  (HR. Bukhari 2953)

Haditsnya bisa dibaca secara daring (online) pada https://hadits.in/bukhari/2953

atau matan (redaksi) lainnya

Rasulullah bersabda

قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

‘Allah ada dan tidak ada sesuatu apapun sebelum-Nya, sedangkan arsy-Nya berada di atas air (HR. Bukhari 6868)

Haditsnya bisa dibaca secara daring (online) pada https://hadits.in/bukhari/6868

Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata “Allah ada dan belum ada tempat dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula ada tanpa tempat”

Syaikh Ibnu Athoilah berkata “Allah ada, dan tidak ada sesuatupun besertaNya. Dia kini adalah tetap sebagaimana adanya”

Begitupula Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir” (QS Al Hadiid [57]:3)

Jadi jelaslah bahwa Allah Ta’ala ada sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya.

Allah Ta’ala ada sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya, sebagaimana setelah diciptakan ciptaanNya.

Allah Ta’ala ada sebagaimana sebelum diciptakan ‘Arsy , sebagaimana setelah diciptakan ’Arsy

Jadi Allah Ta’ala ada dan tidak berubah !!! , mustahil disifatkan berubah (huduts)

Imam Syafi’i berkata

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه الـمكان لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته

“Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia menciptakan tempat, sementara Dia tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia ada sebelum Dia menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”. (Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin –Jilid 2-halaman 36).

Jika dikatakan bahwa Tuhan berada di atas Arsy maka berarti tidak ada Tuhan di bawah Arsy.

Begitupula jika dikatakan Allah berada di atas Arsy maka berarti ada Arsy di bawah Allah.

Padahal Rasulullah bersabda bahwa Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertaiNya. Di atasNya tidak ada sesuatu dan di bawahNya tidak ada sesuatu.

Rasulullah bersabda,

قَالَ كَانَ فِيْ عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلىَ الْمَاءِ

“Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertaiNya. Di atasNya tidak ada sesuatu dan di bawahNya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arsy di atas air.” .

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيْعٍ قَالَ يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ الْعَمَاءُ أَيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ

Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, (makna) Ama` adalah (Allah ada) tanpa sesuatu apapun yang menyertaiNya (Sunan at Tirmidzi, 3109)

Sedangkan sabda Rasulullah yang ARTINYA “Lalu Allah menciptakan Arsy di atas air.” MAKNANYA BUKANLAH Allah Ta’ala BERUBAH menjadi di atas ‘Arsy karena Allah Ta’ala tidak boleh disifatkan berubah.

Rasulullah sekedar memberitakan bahwa Allah Ta’ala menciptakan Arsy di atas air.

Rasulullah tidak pernah bersabda bahwa Allah Ta’ala menciptakan Arsy berada di bawahNya.

Imam al-Qadli Badruddin ibn Jama’ah dalam kitab berjudul Idlah ad-Dalil Fî Qath’i Hujaj Ahl at-Ta’thîl, hlm. 106-107 menuliskan

***** awal kutipan *****
Kemudian kata “tsumma” dalam firman-Nya: “Tsumma Istawa” bukan dalam pengertian “tertib atau berkesinambungan” dalam perbuatan-Nya, tetapi untuk memberikan paham tertib atau kesinambungan dalam pemberitaan, bukan dalam perbuatan-Nya.
**** akhir kutipan ***

Al-Imam al-Qurthubi menuliskan: “Allah yang Maha Agung tidak boleh disifati dengan perubahan atau berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dan mustahil Dia disifati dengan sifat berubah atau berpindah. Karena Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah, dan tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Karena sesuatu yang terikat oleh waktu itu adalah sesuatu yang lemah dan makhluk” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 20, h. 55, dalam QS. al-Fajr: 22)

Begitupula ulama yang diakui sebagai mujaddid abad ke 4 hijriah, Imam al Baihaqi (W 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash Shifat, hlm. 506 menjelaskan dalil bahwa Allah ada tanpa tempat maupun arah,

***** awal kutipan ******
واستدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه بقول النبي صلى الله عليه و سلم

Dan telah berdalil sebagian sahabat kami (ahlus sunnah) dalam menafikan tempat bagi Allah dengan sabda Rasululullah shallallahu alaihi wasallam,

أنت الظاهر فليس فوقك شىء, وأنت الباطن فليس دونك شىء

Engkau Adz Dzahir, tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu dan Engkau Al Bathin, tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu. (HR Muslim 4888)

وإذا لم يكن فوقه شىء ولا دونه شىء لم يكن في مكان

“jika tidak ada sesuatu di atas dan di bawahNya itu artinya Allah tidak ada pada tempat”.
***** akhir kutipan *****

Begitupula tidak ada mufassir (ahli tafsir) yang MENTERJEMAHKAN Istawa ARTINYA adalah BERADA.

Para mufassir (ahli tafsir) sepakat menterjemahkan Istawa ARTINYA adalah BERSEMAYAM karena kata BERSEMAYAM serupa dengan ISTAWA mempunyai MAKNA DZAHIR dan MAKNA MAJAZ (makna kiasan).

Jadi kita harus dapat membedakan antara ARTI dan MAKNA Istawa bagi Allah Ta’ala supaya tidak terjerumus KEKUFURAN dalam PERKARA I’TIQOD

Contoh kata BERSEMAYAM yang tidak dapat dimaknai dengan MAKNA DZAHIR, makna duduk atau bertempat dalam sebuah petuah Bung Karno tertanggal 23 Oktober 1946 yakni berbunyi:

Orang tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.

Contoh BERSEMAYAM dalam MAKNA MAJAZ adalah berkuasa, contohnya, “Bapak Drs H. M. Abdullah Msc BERSEMAYAM di SINGGASANA Walikota selama dua periode” bukan bermakna dia BERTEMPAT atau DUDUK di SINGGASANA sepanjang dua periode namun MAKNANYA dia BERKUASA selama dua periode.

Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata,

إنَّ اللهَ خلَقالْعرشإظْهارا لقُدرتهولم يتخذْهمكَانا لذَات

(رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين الفرق/ ص : ٣٣٣)

“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” , diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi (W 429 H) dalam kitab al Farq bayna al Firaq (perbedaan di antara Aliran-aliran), hal. 333)

Para penerus KEBID’AHAN Ibnu Taimiyyah (W 728H) sebelum bertaubat MENTERJEMAHKAN ‘alal ‘arsy istawa dalam MAKNA DZAHIR seperti ISTAQARRA yang artinya BERADA di arah atas secara hissi (inderawi / materi / fisikal) atau BERTEMPAT atau MENETAP TINGGI atau bahkan MELAYANG TINGGI di atas arsy karena ada juga mereka yang mengingkari menempelnya Tuhan dengan makhluk-Nya.

Padahal para ulama terdahulu telah melarang mentakwil ISTAWA dengan MAKNA DZAHIR seperti ISTAQARRA karena akan terjerumus Aashin (durhaka) kepada Allah Ta’ala yakni seolah-olah MEMENJARAKAN Allah Ta’ala BERBATAS dengan Arsy.

Imam Abu Al Hasan Al Asy’ari dalam kitab Al Ibanah menegaskan bahwa istawa Allah di atas Arsy

بلا كيف ولا استقرار

Tanpa kaifa (sifat makhluk/benda) dan bukan dalam MAKNA DZAHIR yakni bukan dalam pengertian ISTIQRAR.

Jadi BUKAN Allah ISTAQARRA yakni BERADA atau BERTEMPAT atau MENETAP atau bahkan MELAYANG TINGGI di atas Arsy.

NAMUN Allah di atas Arsy BILA KAIFA artinya TANPA KAIFA yakni tanpa sifat-sifat makhluk/benda seperti arah (jihah), jarak, ruang, waktu, berbatas (al hadd) dengan arsy sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2021/01/02/bila-kaifa

Sedangkan Salafush Sholeh pada umumnya membiarkan khabar-khabar tersebut yakni membiarkan ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) terkait sifat Allah sebagaimana datangnya maksudnya  MENGITSBATKAN (MENETAPKAN) berdasarkan LAFADZNYA dan menafikan makna secara bahasa artinya tidak menetapkan atau tidak memilih makna dzahir atau makna majaz dan TAFWIDH MAKNA yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala.

Salafush Sholeh mengatakan

قال الوليد بن مسلم : سألت الأوزاعي ومالك بن أنس وسفيان الثوري والليث بن سعد عن الأحاديث فيها الصفات ؟ فكلهم قالوا لي : أمروها كما جاءت بلا تفسير

“Dan Walid bin Muslim berkata: Aku bertanya kepada Auza’iy, Malik bin Anas, Sufyan Tsauri, Laits bin Sa’ad tentang hadits-hadits yang di dalamnya ada sifat-sifat Allah? Maka semuanya berkata kepadaku: “Biarkanlah ia sebagaimana ia datang tanpa tafsir”

Imam Sufyan bin Uyainah radhiyallahu anhu berkata: “Apa yang disifati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang diriNya dalam kitabNya, maka bacaan perkataan tersebut adalah tafsirannya. Tidak boleh seseorang menafsirkannya dengan (makna) bahasa Arab ataupun menafsirkannya dengan (makna) bahasa Farsi (makna bahasa selain Arab / bahasa asing) (Al-Asma’ wa As-Sifat: 314).

Ibnu ‘ Uyainah nama lengkapnya Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran, salah seorang Tabi’i tsiqoh, dilahirkan pada tahun 107 H dan wafat di Makkah pada tahun 198 H.

Jadi boleh bagi orang awam hanya sampai lafadznya seperti Yadullah yang artinya Tangan Allah dan TAFWIDH MAKNA yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala

Begitupula boleh bagi orang awam hanya sampai lafadznya seperti istiwa yang artinya bersemayam yang mempunyai makna dzahir dan makna majaz dan lalu TAFWIDH MAKNA yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala

Para penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyyah (W 728H) sebelum bertaubat terjerumus mengikuti firqah MUJASSIMAH AKIBAT mereka NGEYEL atau KEUKEUH (bersikukuh) atau MEMAKSA MENTERJEMAHKAN dan MEMAHAMI ayat mutasyabihat (banyak makna) terkait sifat Allah secara hissi (inderawi / materi / fisikal) atau SELALU dengam MAKNA DZAHIR dan MENGINGKARI TAKWIL dengan MAKNA MAJAZ

Firqah MUJASSIMAH adalah mereka yang MEN-JISM-KAN Allah Ta’ala yakni mereka mensifatkan Allah Ta’ala dengan sifat-sifat jism atau sifat benda atau makhluk yakni sifat fisikal seperti mengisbatkan (menetapkan) arah atau tempat, ukuran, batasan atau berbatas dengan ciptaanNya dan sifat fisikal lainnya maupun anggota badan

Imam Abu Hanifah dalam kitab Al-Fiqhul-Akbar mengingatkan bahwa Allah Ta’ala tidak boleh disifatkan dengan sifat-sifat benda seperti ukuran, batasan atau berbatas dengan ciptaanNya , sisi-sisi, anggota tubuh yang besar (seperti tangan dan kaki) dan anggota tubuh yang kecil (seperti mata dan lidah) atau diliputi oleh arah penjuru yang enam arah (atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang) seperti halnya makhluk (diliputi oleh arah).

Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam kitab Najm Al-Muhtadi Rajm Al-Mu’tadi menuliskan Imam Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib mengatakan

قوم من هذه الأمة عند إقتراب الساعة كفارا يُنكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والأعضاء

“Sebagian golongan dari umat Islam pada akhir zaman akan kembali kafir (maksudnya KUFUR dalam I’TIQOD) karena mereka MENGINGKARI Pencipta mereka dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat JISIM (sifat benda atau makhluk yakni sifat fisikal seperti arah, ukuran, jarak, batasan maupun tempat) dan anggota-anggota badan.”

Lihat biografi al-Imam Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi dalam ad-Durar al-Kaminah karya al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani, j. 4, h. 198

Begitupula Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Durar Al-Kaminah Fi Aʻyan Al-Mi’ah Al-Thaminah, jilid 1 halaman 155 menyampaikan pandangan para ulama terdahulu terhadap kebid’ahan Ibnu Taimiyyah (W 728 H) sebagaimana yang dinformasikan pada http://as-suhaime.blogspot.com/2014/07/pandangan-al-hafidz-ibnu-hajar-al.html

****** awal kutipan ******
فمنهم من نسبه إلى التجسيم لما ذكر في العقيدة الحموية والواسطية وغيرهما من ذلك كقوله: إن اليد والقدم والساق والوجه صفات حقيقية لله، وأنه مستو على العرش بذاته، فقيل له: يلزم من ذلك التحيز والانقسام. فقال: أنا لا أسلم أن التحيز والانقسام من خواص الأجسام. فالذم بأنه يقول بتحيز في ذات الله.

Ada sebagian kelompok yang menisbatkan (pemahaman) Ibnu Taimiyyah terhadap tajsim karena apa yang telah ia sebutkan dalam kitab al-Aqidah al-Hamawiyyah dan al-Wasithiyyah dan selainnya, di antaranya:

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Sesungguhnya tangan, telapak kaki, betis dan wajah adalah sifat hakikat bagi Allah, dan sesungguhnya Allah bersitiwa di atas Arsy DENGAN Dzat-Nya. Maka ketika dipersoalkan, hal itu akan melazimkan Allah memiliki BATASAN dan bagian,

MAKA ia menjawab, “ Aku tidak setuju BATASAN dan bagian termasuk kekhushusan jisim (sifat benda /fisikal)

Maka yang dicela adalah bahwa Ibnu Taimiyyah mengatakan BATASAN bagi Dzat Allah.
****** akhir kutipan ******

Begitupula dalam Hasyiyah al-‘Allaamah Ibn Hajar al-Haitami ‘alaa Syarh al-Idhah fii Manasik al-Hajj telah menyampaikan bahwa Ibnu Taimiyyah itu telah MENGHINA atau DURHAKA kepada Allah Ta’ala KARENA mensifatkan Allah Ta’ala dengan sifat benda seperti arah dan tempat maupun mensifatkan Allah Ta’ala dengan anggota-anggota badan seperti tangan, kaki, mata, dan lain sebagainya.

***** awal kutipan *****
Oleh karena terhadap Allah saja dia telah melakukan penghinaan.

Kepada Allah; Ibnu Taimiyah ini telah menetapkan arah, tangan, kaki, mata, dan lain sebagainya dari keburukan-keburukan yang sangat keji. –semoga Allah membalas segala perbuatan dia dengan keadilanNya dan semoga Allah menghinakan para pengikutnya; yaitu mereka yang membela segala apa yang dipalsukan oleh Ibn Taimiyah atas syari’at yang suci ini.”
***** akhir kutipan *****

Dalam kitab yang sama, Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengingatkan bahwa Ibnu Taimiyyah telah dikafirkan oleh banyak ulama terdahulu dalam arti ditetapkan kufur dalam i’tiqod

Contohnya seperti Al ‘Allamah ‘Ala ad-Din al Bukhari al Hanafi (W 841 H). Beliau mengkafirkan yakni menetapkan kufur dalam i’tiqod bagi Ibnu Taimiyah dan orang yang menyebutnya Syaikhul Islam, maksudnya orang yang menyebutnya dengan julukan Syaikhul Islam, sementara ia tahu perkataan dan pendapat-pendapat kufurnya. Hal ini dituturkan oleh Al Hafizh as-Sakhawi dalam Adl-dlau Al Lami’.

Jadi perlu dikaji ulang penggelaran syaikhul Islam kepada Ibnu Taimiyyah (W 728 H) karena begitu besarnya kerusakan dalam perkara i’tiqod akibat orang awam terkelabui dengan label mazhab atau manhaj Salaf

Ibnu Hajar Al-Asqalani yang “membela” ke-Syaikhul Islam-an Ibnu Taimiyyah (W 728 H) MENGINGATKAN bahwa AMBIL YANG BAIK dan TINGGALKAN YANG BURUK dari Ibnu Taimiyyah

***** awal kutipan *****
ومع ذلك فهو بشر يخطئ ويصيب ، فالذي أصاب فيه – وهو الأكثر – يستفاد منه ، ويترحم عليه بسببه ، والذي أخطأ فيه لا يقلد فيه

“Meskipun demikian, beliau (Ibnu Taimiyyah) adalah manusia yang terkadang keliru dan terkadang benar. Kebenaran yang berasal dari beliau –dan kebanyakan pendapat beliau mencocoki kebenaran- maka kita ambil dan kita doakan beliau dengan rahmat. Ketika beliau keliru, maka tidak boleh diikuti pendapatnya”.
***** akhir kutipan ****

Begitupula permasalahan ini bukanlah perkara furu’iyyah karena Ibnu Taimiyyah dipenjara oleh keputusan atau fatwa Qodhi empat mazhab dengan menghadirkan kitab aqidahnya Ibnu Taimiyyah seperti Al-Wasithiyyah dan dibacakan dalam persidangan yang kemudian diputuskan bahwa pemahaman Ibnu Taimiyyah adalah sesat dan menyesatkan.

Sultan Muhammad bin Qolaawuun memenjarakan Ibnu Taimiyyah di salah satu menara Benteng Damascus di Syria berdasarkan Fatwa Qodhi Empat Madzhab, yaitu :

1. Mufti Hanafi Qodhi Muhammad bin Hariri Al-Anshori rhm.

2. Mufti Maliki Qodhi Muhammad bin Abi Bakar rhm.

3. Mufti Syafi’i Qodhi Muhammad bin Ibrahim rhm.

4. Mufti Hanbali Qodhi Ahmad bin Umar Al-Maqdisi rhm.

Bahkan Syeikhul Islam Imam Taqiyuddin As-Subki rhm dalam kitab “Fataawaa As-Subki” juz 2 halaman 210 menegaskan :

“وحبس بإحماع العلماء وولاة الأمور”.

“Dia (Ibnu Taimiyyah) dipenjara dengan Ijma’ Ulama dan Umara.”

Selain qodhi empat mazhab, masih banyak ulama lainnya yang hidupnya semasa dengan Ibnu Taimiyah (W 728 H) dan berdebat dengannya atau yang hidup setelahnya dan membantah serta membuat tulisan-tulisan untuk menjelaskan tentang kesesatan Ibnu Taimiyyah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2021/02/07/ulama-bantah-ibnu-taimiyyah/

Contohnya Al-Imam Ibn Jahbal (W 733 H) dalam risalah Fi Nafy al-Jihah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 9, h. 47. memuat bantahan keras terhadap Ibn Taimiyah (W 728 H) yang mengatakan bahwa Allah berada atau bertempat di atas arsy.

****** awal kutipan ******
… bila dikatakan dalam bahasa Arab: “al-Khalifah Fawq as-Sulthan wa as-Sulthan Fawq al-Amir”, maka artinya: “Khalifah lebih tinggi kedudukannya di atas raja, dan raja lebih tinggi kedudukannya di atas panglima”, atau bila dikatakan: “Jalasa Fulan Fawq Fulan”, maka artinya: “Si fulan yang pertama kedudukannya di atas si fulan yang kedua”, atau bila dikatakan: “al-‘Ilmu Fawq al-‘Amal” maka artinya: “Ilmu kedudukannya di atas amal”.

Contoh makna ini dalam firman Allah: “Wa Rafa’na Ba’dlahum Fawqo Ba’dlin Darajat” (QS. Az-Zukhruf: 32), artinya Allah meninggikan derajat dan kedudukan sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain. Makna ayat ini sama sekali bukan dalam pengertian Allah menjadikan sebagian makhluk-Nya berada di atas pundak sebagian yang lain.
****** akhir kutipan ******

Al-Imam Badruddin ibn Jama’ah berkata

***** awal kutipan *****
Makna فوق fawqo bukanlah dalam pengertian tempat karena adanya tempat dan arah bagi Allah adalah sesuatu yang batil, maka pemaknaan fawqo pada hak Allah pasti dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan-Nya, Maha Menguasai dan Maha Menundukkan para hambaNya seperti dalam firman Allah Ta’ala , wa huwa al-qaahiru fawqo ‘ibaadihi

Jika yang dimaksud fawqo dalam pengertian tempat dan arah maka sama sekali tidak memberikan indikasi kemuliaan dan keistimewaan karena sangat banyak pembantu atau hamba sahaya yang bertempat tinggal di atas atau lebih tinggi dari tempat tuannya – Apakah itu menunjukan bahwa pembantu dan hamba sahaya tersebut lebih mulia dari majikannya sendiri ?
***** akhir kutipan ******

Al-Imâm al-Hâfizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an menuliskan tentang pemahaman fawq pada hak Allah, sebagai berikut:

“…antara lain sifat fawqiyyah, seperti dalam firman-Nya: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqo ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), dan firman-Nya: “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Makna fawqo dalam ayat ini bukan dalam pengertian arah atas. Makna fawqo dalam ayat tersebut sama dengan makna fawqo dalam firman Allah yang lain tentang perkataan Fir’aun: “Wa Inna Fawqohum Qahirun” (QS. Al-A’raf: 127), bahwa pengertiannya bukan berarti Fir’aun berada di atas pundak Bani Isra’il, tapi dalam pengertian ia menguasai Bani Isra’il”.

Pembesar Mazhab Hambali, Imam Ibn al Jawzi, ketika menjelaskan kekeliruan firqah MUJASSIMAH yang menyimpulkan bahwa secara indrawi Allah berada di arah atas berdalilkan firman Allah Ta’ala, “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadihi” (QS. Al-An’am: 61)

***** awal kutipan ****
Dalam bahasa Arab biasa dipakai ungkapan:

فلان فوق فلان

Fulan fawqa Fulan artinya  derajat si fulan (A) lebih tinggi dibanding si fulan (B)

Ungkapan ini BUKAN bermaksud bahwa si fulan (A) berada di atas pundak si fulan (B)

Mereka lupa bahwa pengertian FAWQA dalam makna indrawi (makna dzahir) hanya berlaku bagi setiap jawhar dan benda saja.

Mereka meninggalkan makna “fawq” dalam pengertian,

علوّ المرتبة

Uluww al-Martabah artinya derajat yang tinggi
******* akhir kutipan *******

Begutupula dalam bahasa Arab Fiis Sama’i arti sebenarnya HANYALAH “di langit” BUKANLAH  “(BERADA) di (ATAS) langit”

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar telah menerangkan dalam Kitab at-Tauhid;

***** awal kutipan *****
“Al Kirmani berkata, مَنْ فِى السَّمَاءِ makna dzâhir- nya jelas bukan yang dimaksudkan, sebab Allah Maha Suci dari bertempat di sebuah tempat, akan tetapi, karena sisi atas adalah sisi termulia dibanding sisi-sisi lainnya, maka ia disandarkan kepada-Nya sebagai isyarat akan ketinggian dalam arti kemuliaan atau keagungan Dzat dan sifat-Nya.“
****** akhir kutipan ******

Begitupula pembesar mazhab Hambali, Al Imam Ibn al Jawzi yang MEMBERSIHKAN fitnah-fitnah terhadap Imam Ahmad bin Hanbal dengan kitabnya yang berjudul  Daf’u syubah at-tasybih bi-akaffi at-tanzih mencontohkan KEKELIRUAN firqah MUJASSIMAH dalam memahami firman Allah

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

aamintum man fiis samaa-i (QS Al Mulk [67]:16)

***** awal kutipan ******
Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna dzahirnya karena dasar kata fis sama’ dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”, padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun.

Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit.

Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.
***** akhir kutipan *****

Jadi UNGKAPAN seperti “serahkan sama Yang di langit” atau “serahkan sama Yang di atas” BUKAN dalam pengertian ARAH, BATASAN, JARAK ataupun TEMPAT NAMUN maksudnya adalah,

علوّ المرتبة

Uluww al-Martabah artinya
derajat yang tinggi.

Oleh karenanya terhadap firmanNya pada (QS Al Mulk [67]:16) para mufassir (ahli tafsir) telah sepakat menyisipkan kata “berkuasa” agar tidak dipahami dan disisipkan kata  “berada” atau “bertempat” sehingga menafsirkannya menjadi,

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?

Berikut kutipan dari tafsir Jalalain penerbit Sinar Baru Algensindo buku ke 2 hal 1129, juz 29, Al Mulk [67]:16

***** awal kutipan ******
a-amintum, (Apakah kalian merasa aman) dapat dibaca secara tahqiq dan dapat pula dibaca secara tashil

man fiis samaa-i, (terhadap kekuasaan Allah yang di langit) yakni pengaruh dan kekuasaan-Nya yang di langit

an yakhsifa, (bahwa Dia akan menjungkir balikkan) berkedudukan menjadi badal dari lafaz man

bikumul ardha fa-idzaa hiya tamuuru, (bumi bersama kalian, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang) menjadi gempa dan menindih kalian
****** akhir kutipan ******

Tafsir Jalalain dapat dibaca secara daring (online) pada https://ibnothman.com/quran/surat-al-mulk-dengan-terjemahan-dan-tafsir/2

FITNAH terhadap Salafush Sholeh timbul AKIBAT Ibnu Taimiyyah (W 728 H) MENISBATKAN atau tepatnya MELABELKAN MAZHABNYA atau metode pemahamannya selalu dengan MAKNA DZAHIR sebagai mazhab atau manhaj salaf sebagaimana fatwanya dalam Majmu Fatawa 4/149

***** awal kutipan *****
Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan mazhab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena MAZHAB SALAF itu PASTI BENAR
***** akhir kutipan *****

Bahkan disebarluaskan dongeng atau tepatnya fitnah bahwa Imam Asy’ari melalui 3 marhalah kehidupan atau 3 fase pemikiran yakni fase ketiga / terakhir adalah SERUPA dengan MAZHABNYA Ibnu Taimiyyah (W 728 yang DILABELI mazhab atau manhaj Salaf.

Ibnu Taimiyyah dikabarkan masih sempat bertaubat kepada Allah Ta’ala sebelum Beliau wafat dipenjara sehingga Beliau belum sempat menulis kitab-kitab untuk mengkoreksi kekeliruannya akibat MAZHAB atau METODE PEMAHAMAN Ibnu Taimiyyah dalam memahami apa yang telah Allah Ta’ala sifatkan untuk diri-Nya dalam ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) SELALU dengan MAKNA DZAHIR dan mengingkari makna majaz (Ma’alim Ushulil Fiqh hal. 114-115).

Begitupula Ibnu Taimiyyah dalam Al Iman hal 94 berkata,

***** awal kutipan *****
“maka ini adalah dengan prakiraan adanya bentuk metafor (majaz) dalam bahasa. Sementara dalam al-Qur’an tidak ada bentuk metafor.

Bahkan pembagian bahasa kepada hakekat dan metafor adalah pembagian bid’ah, perkara baharu yang tidak pernah diungkapkan oleh para ulama Salaf.
***** akhir kutipan ****

Bahkan Ibnu Qoyyim al Jauziyah (w 751 H) murid dari Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa MAJAZ adalah THAGHUT yang KETIGA (Ath thaghut Ats Tsalits), karena menurut Beliau dengan adanya MAJAZ, akan membuka pintu bagi ahlu tahrif untuk menafsirkan ayat dan hadist dengan makna yang menyimpang (As Showa’iqul Mursalah 2/632)

Jadi timbulnya KERUSAKAN seperti TERJERUMUS  KEKUFURAN dalam PERKARA I’TIQOD  akibat orang awam TERKELABUI dengan LABEL mazhab atau manhaj Salaf dan penisbatan atau tepatnya PELABELAN Salafi maupun Atsari

Mereka membeli atau memiliki kitab-kitab hadits dan mereka membaca hadits-hadits dimana dalam hadits tercantum sanad hadits yakni nama para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in lalu dikatakan oleh mereka bahwa mereka mengikuti PEMAHAMAN Salafush Sholeh dan DILABELI MAZHAB SALAF atau MANHAJ SALAF

Apa yang disampaikan dari hadits-hadits yang dibaca oleh mereka adalah PEMAHAMAN MEREKA sendiri BUKAN PEMAHAMAN Salafush Sholeh.

Sumbernya memang hadits tersebut tapi apa yang mereka sampaikan semata lahir dari kepala mereka sendiri yakni PEMAHAMAN MEREKA SENDIRI dengan MAZHAB atau METODE PEMAHAMAN mereka SELALU dengan MAKNA DZAHIR.

Begitupula pengertian ahlussunnah versi mereka adalah ahli (membaca) sunnah yakni ahli (membaca) hadits secara shahafi (otodidak) menurut akal pikiran mereka sendiri dan TAQLID mengikuti MAZHAB atau METODE PEMAHAMAN Ibnu Taimiyyah (W 728H) sebelum bertaubat SELALU dengan MAKNA DZAHIR dan MENOLAK atau MELARANG TAKWIL dengan MAKNA MAJAZ.

Ada seseorang bertanya kepada Albani: “Apakah anda ahli hadits (muhaddits)?”
Albani menjawab: “Ya!”
Ia bertanya: “Tolong riwayatkan 10 hadits kepada saya beserta sanadnya!”
Albani menjawab: “Saya bukan ahli hadits penghafal, saya ahli hadits kitab.”
Orang tadi berkata: “Saya juga bisa kalau menyampaikan hadits ada kitabnya.”
Lalu Albani terdiam
(dari Syaikh Abdullah al-Harari dalam Tabyin Dlalalat Albani 6)

Ahli (membaca) hadits, Albani mengakui bahwa Beliau adalah ahli hadits kitab bukan penghafal hadits.

Dalam ilmu Musthalah Hadits jika ada perawi yang kualitas hafalannya buruk (sayyi’ al-hifdzi) maka status haditsnya adalah dlaif, bukan perawi sahih

Demikian juga hasil takhrij yang dilakukan oleh ahli (membaca) hadits Albani yang tidak didasari dengan ‘Dlabit’ (akurasi hafalan seperti yang dimiliki oleh para al-Hafidz dalam ilmu hadits) juga sudah pasti lemah dan banyak kesalahan.

Jadi yang dimaksud oleh mereka dengan julukan atau pengakuan sebagai “ahli hadits” adalah ahli (membaca) hadits secara shahafi (otodidak).

Sedangkan ahli hadits sesungguhnya menerima dan menghafal hadits dari ahli hadits sebelumnya secara turun temurun sehingga tersambung kepada para perawi hadits yang meriwayatkan hadits dari lisannya Rasulullah.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami mencontohkan hadits yang dapat menyesatkan bagi ahli (membaca) hadits adalah hadits Nuzul yakni,

“Rabb Tabaraka wa Ta’la turun ke langit dunia pada setiap malam, yakni saat sepertiga malam terakhir seraya berfirman, ‘Siapa yang berdo’a kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu niscaya akan Aku berikan dan siapa yang memohon ampun kepadaKu, niscaya akan Aku ampuni.” (HR Muslim 1261)

Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan bahwa,

ولا يعرف معنى هذه إلا الفقهاء بخلاف من لايعرف إلا مجرد الحديث ، فإنه يضل فيه كما وقع لبعض متقدمي الحديث . بل ومتأخريهم ، كابن تيمية وأتباعه

“tidak ada yang memahami makna hadits itu kecuali para ahli fiqih. Berbeda dengan mereka yang hanya mengerti hadits saja, mereka tersesat dalam memahaminya, sebagaimana sebagian ahli hadits zaman dahulu, bahkan di zaman belakangan seperti Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya.

Berikut kutipan contoh pendapat atau pemahaman Ibnu Taimiyyah (W 728 H) sebelum bertaubat ketika membaca hadits Nuzul sebagaimana yang disampaikan oleh ulama mereka, Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam tulisannya berjudul “100 Pelajaran dari Kitab Aqidah Wasithiyah” (kitab karya Ibnu Taimiyyah)

**** awal kutipan ****
Ibnu Taimyah berkata dalam Risalah al ‘Arsiyyah : “ Sesungguhnya turunnya Allah tidak menjadikan ‘arsy-Nya KOSONG, karena dalil yang menunjukkan istiwa’-Nya Allah di atas ‘arsy adalah dalil yang muhkam (dalil yang umum dan sudah jelas maknanya) , demikian pula hadist tentang turun-Nya Allah juga muhkam.
***** akhir kutipan *****

Ibnu Taimiyyah terjerumus MENG-KAIFA-KAN atau MEMBAGAIMANAKAN nuzul dengan mengatakan bahwa

“Sesungguhnya turunnya Allah tidak menjadikan ‘arsy-Nya KOSONG”

Begitupula ini adalah sebuah contoh KEBID’AHAN Ibnu Taimiyyah dalam perkara i’tiqod karena tidak pernah disabdakan Rasulullah maupun diriwayatkan oleh Salafush Sholeh.

Tidak ada satupun ulama yang mengaitkan hadits nuzul dengan syubhat tempat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jumhur ulama telah sepakat bahwa hadits nuzul dalam pengertian bahwa Allah mengaruniakan dan mengabulkan segala permintaan yang dimintakan kepada-Nya pada saat itu. Oleh karenanya, waktu sepertiga akhir malam adalah waktu yang sangat mustajab untuk meminta kepada Allah.

Ibnu Taimiyyah sebelum bertaubat mengatakan bahwa Nabi Muhammad DIDUDUKAN oleh Allah di atas Arsy bersama-Nya (Majmu Fatawa juz 4, hal.374) dan contoh kajiannya dalam video pada https://youtu.be/XKdvshNOcow

Begitupula Ibnu Taimiyyah sebelum bertaubat juga berkata,

– Tuhan BERTEMPAT di atas Arsy, maka keduanya ini memiliki BENTUK dan BATASAN (Muwafaqat Sharih al Ma’qul j.2 h 29)

– Tuhan BERTEMPAT di langit dan dia diliputi dan DIBATASI oleh langit (Muwafaqat Sharih al Ma’qul j.2 h 30) sebagaimana contoh tulisan mereka yang sempat diarsip pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2014/02/bentuk-tuhan-mereka.pdf

Contoh kabar pertaubatan Ibnu Taimiyyah pada https://www.dutaislam.com/2016/07/ini-proses-persidangan-taubatnya-ibnu-taimiyah-yang-berbelit-belit.html

Begitupula sifat keterpisahan bagi Allah Ta’ala dengan makhluk BUKANLAH menjauh secara hissi (materi / fisikal) dalam pengertian batasan, arah, jarak maupun tempat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmu al-Fatawa, juz 2, hal.126.

Para ulama terdahulu seperti  Syekh Ibnu Khaldun (808 H) dalam kitab Târîkh-nya menjelaskan

***** awal kutipan ******
وأمّا المعنى الآخر للمباينة، فهو المغايرة والمخالفة

Adapun makna keterpisahan (mubayanah) bagi Allah Ta’ala dengan makhluk adalah perbedaan dan ketidaksamaan

فيقال: البارئ مباين لمخلوقاته في ذاته وهويّته ووجوده وصفاته

Maka dikatakan bahwa Allah berbeda dari makhluk-makhluk-Nya dalam hal Dzat, hakikat, keberadaan dan sifat-sifatnya.
***** akhir kutipan *****

Jadi pengertian keterpisahan (mubayanah) bagi Allah Ta’ala dengan makhluk adalah Allah ba’in ‘an al-khalq yakni Allah Ta’ala TERPISAH dalam makna BERBEDA dari makhluk-makhluk-Nya

Contohnya kalau makhlukNya seperti manusia itu dekat BERSENTUH dan jauh BERJARAK, sedangkan Allah Ta’ala itu dekat TIDAK BERSENTUH dan jauh TIDAK BERJARAK sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya  “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat (QS Al Baqarah [2] : 186)

Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam “Maqalatul Islamiyin” jilid I hal 281 dengan JELAS dan TEGAS menuliskan apa yang telah disepakati oleh para ahlus sunnah,

أنهم يقولون: إن البارىء ليس بجسم ولا محدود ولا ذي نهاية

Mereka (ahlus sunnah) berkata, “Sesungguhnya Allah bukan jism, tidak berhadd (TIDAK TERBATAS) dan TIDAK BERJARAK”

Begitupula Imam Abul Wahid At Tamimi (W 410 H)  ulama yang paling dekat zamannya dengan Imam Ahmad membawakan riwayat Imam Ahmad di dalam kitab Beliau “I’tiqad Imam Al Munabbal Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal hal 38;

والله تعالى لم يلحقه تغير ولا تبدل ولا يلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش

“Dan Allah Ta’ala tidak mengalami perubahan dan TIDAK TERBATAS oleh hadd, baik sebelum Allah menciptakan Arsy, maupun setelah Allah menciptakan Arsy”.

Imam Sayyidina Ali karamallahu wajhah berkata

من زعمأن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود

”Barang siapa menganggap bahwa Tuhan kita mahdud (TERBATAS) maka ia telah JAHIL yakni TIDAK MENGENAL Tuhan Sang Pencipta.” (Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73)

Jadi orang-orang yang MENG-KAIFA-KAN atau MEMBAGAIMANAKAN ISTAWA Allah sebagai ISTAQARRA yang artinya BERADA atau BERTEMPAT atau MENETAP TINGGI atau bahkan MELAYANG TINGGI di atas Arsy sehingga mereka terjerumus ‘Aashin (durhaka) kepada Allah yakni mereka seolah-olah MEMENJARAKAN Allah Ta’ala BERBATAS dengan Arsy adalah mereka yang JAHIL yakni BELUM MENGENAL Allah (makrifatullah) dengan sebenar keagungan-Nya.

Oleh karenanya perkara aqidah sebaiknya didahulukan karena tidak sah ibadah jika belum mengenal Allah (makrifatullah)

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali berkata:

لا تصح العبادة إلا بعد معرفة المعبود

“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang wajib disembah”.

“Awaluddin makrifatullah, akhiruddin makrifatullah” artinya, awal beragama adalah mengenal Allah (makrifatullah) dan tujuan akhir beragama adalah menyaksikan Allah (makrifatullah) dengan hati (ain bashirah)

Oleh karenanya SEJAK DINI sebaiknya disampaikan tentang aqidatul khomsin (lima puluh aqidah) dimana di dalamnya diuraikan tentang 20 sifat wajib bagi Allah sebagai SARANA untuk MENGENAL Allah yang merupakan hasil istiqro (telaah) para ulama yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2021/02/12/20-sifat-beserta-dalilnya/

Begitupula 20 sifat wajib bagi Allah dipergunakan sebagai pedoman dan batasan-batasan untuk dapat memahami ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) tentang sifat-sifat Allah.

Para ulama terdahulu telah mengingatkan bahwa orang-orang yang KELIRU dalam berijtihad dan beristinbat karena MAZHAB atau METODE PEMAHAMAN mereka SELALU dengan MAKNA DZAHIR akan berakibat dua macam KEKUFURAN yakni,

1. KEKUFURAN dalam PERKARA FIQIH yakni mereka yang melarang (mengharamkan) yang tidak dilarang (diharamkan) oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah atau SEBALIKNYA mereka mewajibkan yang tidak diwajibkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2021/02/28/mereka-melarang-bermazhab/

2. KEKUFURAN dalam PERKARA I’TIQOD atau AKIDAH seperti para PENERUS KEBID’AHAN Ibnu Taimiyyah (W 728H) yang menjadi rujukan bagi paham Wahabi (WAHABISME) yakni ajaran atau pemahaman ulama Najed dari bani Tamim, Muhammad bin Abdul Wahhab (W 1206H) sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2021/02/27/kekufuran-dalam-perkara-itiqod/

KEKUFURAN dalam perkara I’TIQOD bukan kafir dalam arti membatalkan keislaman namun terkait dengan tingkat keimanan.

Syekh Nawawi al Bantani (W 1314 H) dalam kitab Kasyifah as-Saja Fi Syarhi Safinah an-Naja menjelaskan ada lima tingkatan iman.

Pertama, iman taqlid yaitu mantap dan percaya dengan ucapan orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Orang yang memiliki tingkatan keimanan ini dianggap sah keimanannya. Tetapi berdosa karena meninggalkan upaya mencari dalil apabila orang tersebut mampu untuk menemukannya.

Kedua, iman ilmi yaitu mengetahui akidah-akidah beserta dalil-dalilnya. Tingkatan keimanan ini disebut ilmu yaqin. 

Menurut Syekh Nawawi Al Bantani, orang yang memiliki keimanan tingkat pertama dan kedua termasuk orang yang masih terhalang jauh dari Allah Ta’ala.

Ketiga, iman irfan yaitu mengetahui Allah dengan pengawasan hati. Oleh karena itu Allah tidak hilang dari hati sekedip mata pun karena rasa takut kepada-Nya selalu ada di hati.  Sehingga seolah-olah orang yang memiliki tingkatan keimanan ini melihat Allah di maqom muroqobah atau derajat pengawasan hati. Tingkat keimanan ini disebut dengan ainul yaqin.

Keempat, iman haq yaitu melihat Allah dengan hati. Tingkatan keimanan ini seperti yang disampaikan para ulama, yakni orang yang makrifat.  Tingkat keimanan ini berada di maqom musyahadah dan disebut dengan haq al-yaqiin. Orang yang memiliki tingkatan keimanan ini adalah orang yang terhalang jauh dari selain Allah.

Kelima, iman hakikat yaitu sirna bersama Allah dan mabuk karena cinta kepada-Nya. Oleh karena itu, orang yang memiliki tingkatan keimanan ini hanya melihat Allah seperti orang yang tenggelam di dalam lautan dan tidak melihat adanya tepi pantai sama sekali.

Syaikh Ibnu Athaillah berkata dalam Al Hikam bahwa “Tuhanmu tidak terhijab. Yang terhijab adalah pandanganmu sehingga engkau tidak dapat memandang-Nya. Kalau Dia terhijab berarti Dia tertutupi oleh sesuatu. Jika Dia tertutup sesuatu, berarti wujud-Nya terbatas. Segala yang terbatas adalah lemah, sedang Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Manusia terhalang atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat menyaksikan Allah dengan hatinya adalah karena dosa mereka.

Rasulullah bersabda, “Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit” (HR Ahmad)

Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.

Firman Allah Ta’ala yang artinya,

“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)

Jadi tidak semua manusia dapat memandang Allah dengan hatinya

Orang kafir itu tidak dapat memandang Allah Ta’ala dengan hatinya karena TERHIJAB atau tertutup dari cahaya hidayah oleh KEGELAPAN sesat.

Ahli maksiat tidak dapat memandang Allah Ta’ala dengan hatinya karena TERHIJAB atau tertutup dari cahaya taqwa oleh KEGELAPAN alpa

Ahli Ibadahpun boleh terjadi tidak dapat memandang Allah dengan hatinya karena TERHIJAB atau tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh KEGELAPAN memandang ibadahnya.

Begitupula orang-orang yang mengatakan atau berkeyakinan bahwa Allah Ta’ala BERBATAS dengan Arsy AKIBAT MENTAKWIL ISTAWA dengan ISTAQARRA yang artinya BERTEMPAT atau MENETAP TINGGI di atas Arsy atau BERADA di arah atas secara hissi (inderawi / materi / fisikal) menurut Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam Misykat Al Anwar ADALAH orang-orang yang belum dapat memandang Allah Ta’ala dengan hatinya (ain bashirah) AKIBAT mereka TERHIJAB oleh cahaya yang bercampur dengan KEGELAPAN KHAYALI

***** awal kutipan *****
Sebab, kata mereka sesuatu yang tidak dinisbahkan ke suatu arah dan tidak dapat dilukiskan sebagai “di luar alam dunia” atau “di dalamnya”, menurut mereka, sama saja dengan “tidak ada” karena tidak dapat dikhayalkan.

Orang-orang seperti ini tidak mengetahui bahwa persyaratan dasar sesuatu yang ma’qûl (dapat dicerna oleh akal) ialah kemungkinannya untuk melampaui segenap arah dan ruang.
***** akhir kutipan *****

Mereka memang ada juga yang berkeyakinan bahwa Tuhan tidak bertempat NAMUN berada di arah atas karena menurut mereka tempat itu masih alam sedangkan Tuhan itu di luar alam.

Berikut kutipan tulisan mereka,

****** awal kutipan ******
Tidak betul, sudah dijelaskan para ulama salaf bahwa memang zat Allah itu di arah atas, tapi mereka memang tidak menamakan itu semua tempat karena Allah itu di luar alam sehingga tak berlaku lagi tempat di luar alam karena tempat itu masih alam.
***** akhir kutipan ******

Jadi mereka berkeyakinan Tuhan berada di arah atas dan di atas Arsy ada yang namanya “bukan tempat”.

Adapula yang lain menamakannya makan ‘adami dan kalau diartikan adalah “tempat ketiadaan”

Ironisnya keyakinan (i’tiqod/akidah) mereka tentang adanya “bukan tempat” atau “tempat ketiadaan” (makan ‘adami) dinisbatkan atau dilabeli sebagai keyakinan ulama salaf

Padahal istilah “bukan tempat” atau makan ‘adami (tempat ketiadaan) tidak pernah diriwayatkan oleh Salafush Sholeh karena tidak ada dalam Al Qur’an maupun Hadits.

Imam Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi asy-Syaf’i (W 465 H) atau yang dikenal dengan Imam Al Qusyairi dalam Lata’if al-Isyarat mengingatkan bahwa,

Langit maupun arsy dalam makna dzahir atau secara hissi (materi/fisikal) arah atas (jihah) adalah kiblat bagi doa seluruh makhluk

Sedangkan langit, arsy dalam makna majaz atau secara maknawi adalah terkait melihat Al-Haq, Yang Maha Tinggi.

Allah Ta’ala memudahkan siapa yang dikehendakiNya untuk dapat melihat Allah dengan hatinya (ain bashirah).

Rasulullah melihat Allah dengan hatinya (ain bashirah).

قَالَ رَأَى مُحَمَّدٌ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِقَلْبِهِ

Ibnu Abbas radhiyallhuanhu berkata; Muhammad melihat Rabb-nya ‘Azza wa Jalla dengan hatinya (HR Muslim 257 atau Syarh Shahih Muslim 176, HR Tirmidzi 3203)

Malaikat Jibril ketika menampakkan sebagai seseorang berpakaian putih bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah IHSAN itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (makrifatullah), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)

Jadi jika seseorang bermakrifat yakni dapat melihat Allah dengan hatinya (ain bashirah) atau pengawasan Allah tertanam di hatinya karena BERKEYAKINAN bahwa “Allah Ta’ala itu dekat tidak bersentuh dan jauh tidak berjarak” maka setiap akan bersikap atau berbuat sesuatu ia selalu mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar.

Sikap dan perilaku seperti itulah yang membentuk menjadi muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh atau muslim yang IHSAN.

Langkah-langkah agar berahlak baik adalah untuk membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs) yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (TAHALLI) sampai titik hitam (dosa) pada hati menghilang berganti bintik cahaya, sehingga tidak ada yang menghijabi antara diri dengan Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla dekat dan dapat disaksikan (dipandang) dengan hati sehingga tercapailah muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin/sholihin) maka diperolehlah kenyataan Tuhan (TAJALLI).

Tajalliyat adalah tersingkapnya hijab yang membatasi manusia dengan Allah, sehingga nyata dan terang cahaya dan kebesaran Allah dalam jiwa. Dengan mudah jiwa akan menerima nur ilahi berupa hidayah dan ma’unah dari Allah untuk senantiasa bersikap terpuji dan berakhlak mulia dalam hidup sehari-hari.

Para ulama Allah mengatakan bahwa salah satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain tidak kelihatan, bagaimana dia bisa menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh)

Oleh karenanya orang-orang yang BERAKHLAK BURUK seperti mereka yang terjerumus KESOMBONGAN dan MENOLAK kebenaran BERKAITAN dengan akhlak buruk mereka kepada Allah Ta’ala yakni orang-orang yang ‘Aashin (DURHAKA) kepada Allah karena mereka “menjauhkan” Allah Ta’ala  dengan menetapkan arah (jihah) atau tempat bagi Allah di atas Arsy AKIBAT mereka belum dapat memandang Allah dengan hatinya (ain bashirah).

Jadi mereka yang “menjauhkan” Allah adalah orang-orang yang BERTAMBAH ILMUNYA namun SEMAKIN JAUH dari Allah Ta’ala karena mereka TERJERUMUS KESOMBONGAN dan MENOLAK KEBENARAN

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“

Rasulullah bersabda , “Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)

Syekh Ihsan Jampes (W 1952 M) dalam kitabnya Siraj al-Talibin syarh atas kitab Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali (W 1111 M) menjelaskan bahwa melihat Allah tidak hanya kelak di akhirat saja namun para kekasih Allah (wali Allah) juga dapat melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia. Hal ini disebut karamah (keistemewaan para Wali Allah).

Karamah para Wali Allah melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati mereka (ain bashirah) di dunia dapat dialami oleh mereka dalam kondisi terjaga maupun tidak.

Jadi melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati mereka (ain bashirah) di dunia tidak dapat dialami oleh semua orang. Hanya orang-orang pilihan yang dikehendakiNya yang dapat melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia.

Syekh Ihsan Jampes menjelaskan bahwa pengertian wahdah al wujud atau wahdatul wujud bukanlah bersatunya wujud Tuhan dan manusia namun para wali Allah yang berhadapan dan menyaksikan Allah dengan hati mereka menyampaikan bahwa mereka tidak menyaksikan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala itu wujud.

Para ulama Allah menyebutnya maqom Musyahadah artinya ruang kesaksian. Inilah keadaan bukan sekedar mengucapkan syahadat namun sebenar-benarnya menyaksikan bahwa, “tiada tuhan selain Allah” atau dengan kata lain “Selain Allah Ta’ala itu tiada” .

Syekh Ihsan Jampes menjelaskan bahwa wujud Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat dzati (bukan disebabkan sesuatu) dan tanpa kecacatan. Sedangkan wujud kita merupakan atas fi’il Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala ada, dan tidak diwujudkan oleh atau suatu sebab.

Sedangkan makhluk yang ada karena disebabkan sesuatu. Seperti manusia yang ada karena dilahirkan oleh seorang ibu. Inilah yang kemudian disebut wujud yang tidak bersifat dzati.

Begitupula Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320 H/ 820-935 M) ketika menjelaskan tentang maqamat al-walayah (derajat kedekatan para kekasih Allah atau Wali Allah) menyampaikan bahwa para wali Allah yang mengalami kenaikan peringkat dari maqamat al-muwahhidun, al-shaddiqun, al-shiddiqun, hingga al-muqarrabun telah sempurna tingkat kewalian mereka.

Hanya saja Allah mengangkat salah seorang mereka pada puncak kewalian tertinggi yang disebut dengan malak al-malak dan menempatkan wali itu pada posisi bayn yadayhi (di hadapan-Nya).

Pada saat seperti itu ia sibuk dengan Allah dan lupa kepada sesuatu selain Allah.

Seorang wali yang mencapai puncak kewalian tertinggi ini berada pada maqam munfaridin atau posisi malak al-fardaniyah, yaitu merasakan kemanunggalan dengan Allah.

Al-Hakim al-Tirmidzi menggunakan istilah liyufrida (agar manunggal / merasakan kemanunggalan) dan tidak menggunakan istilah ittihad seperti Abu Yazid al-Busthami (w.261H-875M) atau hulul seperti al-Hallaj, atau wahdatul wujud seperti yang “dinisbatkan” kepada Ibn ‘Arabi (w.638H/1240M) dalam menjelaskan persatuan seorang wali dengan Allah atau ketiadaan (ke-fana-an) sesorang wali Allah dihadapan Allah Ta’ala.

Sedangkan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di dalam kitab sir al-asrar menyampaikan bahwa orang yang sampai pada tahapan mendapatkan kesadaran dan cinta sepenuhnya dari Allah, sehingga akhlaknya adalah akhlakNya. Dan segala tindak tanduknya bersesuaian dengan kehendakNya.

Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah berkata: “jika Aku sudah MENCINTAINYA, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. (HR Bukhari 6021)

Syekh Abdul Qadir Jailani menjelaskan lebih lanjut bahwa setelah orang yang mendapatkan kesadaran dan cinta sepenuhnya dari Allah Ta’ala, mereka fana’ di dalam kebesaran Allah, yaitu pengosongan dan penghapusan segala macam sifat-sifat manusia dengan menyatakan keabadian sifat-sifat Allah.

Terlepas diri dari makhluk dan kedirianya serta sesuai dengan kehendak-Nya.

Jika sudah demikian, maka ke-fana’-an manusia akan abadi (baqa’) bersama Tuhannya dan keridhaan-Nya.

Syekh Abdul Qadir Jailani berhati-hati untuk mengungkapkanya agar tidak disalah pahami menjelaskan bahwa keabadian manusia bersama Tuhannya adalah disebabkan amal kebaikannya atau amal salehnya, sebagaimana yang disinggung oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فِلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُوْلَئِكَ هُوَ يَبُورُ (سورة فاطر: ١٠)

Artinya: “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS. Fathir:10)

Jadi dengan amal kebaikanlah para kekasih Allah (wali Allah) memperjalankan diri mereka hingga sampai (wushul) kepada Allah Ta’ala yakni bertemu, berhadapan dan menyaksikan Allah dengan hati mereka.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830